Share

Bab 5

Author: Raka Nandaka
Charista langsung tertegun. Dia menutup pipinya dengan tangan, lalu menatap Darian dengan wajah penuh keluhan. Darian sangat kesal, lalu berkata dengan suara rendah, "Keluar."

Baru saat itu Charista tersadar. Wanita di hadapannya adalah sosok yang tidak mampu dia singgung. Dengan mata berkaca-kaca, dia pun segera keluar dengan patuh.

"Bu Diana, maaf. Dia hanya dokter magang. Nanti akan kuberi pelajaran." Darian segera merendahkan diri dan meminta maaf kepada Diana.

Wajah Diana tampak muram dan dia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Rhea mengangkat sedikit rok Cindy dan memeriksanya dengan teliti. Setelah itu, dia berbalik dan bertanya kepada Sahrul, "Kamu yakin sudah dilakukan USG?"

Sahrul mengangguk dengan serius. "Sudah dilakukan. Bukan hamil."

Rhea mengernyit dan berpikir sejenak, lalu berkata kepada Diana, "Bu Diana, jangan khawatir. Rumah Sakit Prima akan berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan putri Ibu. Sekarang aku akan mengumpulkan semua dokter terbaik untuk melakukan konsultasi bersama. Beri aku sepuluh menit."

Meskipun kondisi tubuh Rhea sangat buruk, dia tetap berkata kepada Sahrul, "Cepat kumpulkan semua orang untuk konsultasi."

"Nggak perlu dikumpulkan lagi. Kalau terlambat sepuluh menit lagi, gadis ini nggak akan tertolong."

Pada saat itu, sebuah suara terdengar dari sudut ruangan.

Semua orang menoleh.

Orang yang berbicara adalah Alfan. Dia berdiri di sudut dengan kedua tangan disilangkan di dada. Kepalanya sedikit dimiringkan dan sudut bibirnya terangkat. Penampilannya tampak santai dan tidak acuh.

Rhea menatapnya tajam, memberi isyarat agar dia diam.

Namun, Alfan sama sekali mengabaikan tatapannya dan kembali berkata, "Sekarang hanya ada waktu sepuluh menit untuk menyelamatkannya. Kalau melewatkan waktu ini, gadis ini benar-benar nggak akan bisa diselamatkan."

Begitu kata-katanya diucapkan, hampir semua orang terkejut, lalu mulai berbisik satu sama lain.

"Anak ini siapa? Berani sekali bicara seperti itu!"

"Kalian mungkin belum tahu. Namanya Alfan, dokter magang di Rumah Sakit Prima."

"Seorang dokter magang berani bicara seperti ini di depan semua orang? Ini benar-benar cari masalah."

"Alfan, kamu jangan bicara sembarangan. Kamu bukan dokter kandungan, kamu tahu apa!"

Rhea sampai menggertakkan gigi karena kesal. Dia bahkan ingin menendang Alfan beberapa kali. Sebelum datang, dia sudah menyuruh Alfan untuk tidak banyak bicara, tapi sekarang dia malah berbicara seenaknya.

"Bu Rhea, biarkan aku yang menyelamatkannya. Selain aku, nggak ada satu pun dari kalian yang bisa menyelamatkannya."

Dengan senyum tipis di wajahnya, Alfan berjalan mendekat dengan santai.

Rhea benar-benar marah dalam hati. Awalnya, dia berpikir Alfan masih punya sedikit sikap baik. Namun tak disangka, Alfan ternyata begitu sombong dan tidak tahu diri.

Di sisi lain, Darian memperlihatkan senyum licik di sudut bibirnya.

'Apa kamu punya kemampuan itu? Cuma dokter magang saja, berani sekali berlagak hebat.'

Kesempatan datang terlalu cepat. Dia mendekat ke Diana dan berkata dengan suara pelan, "Bu Diana, setahuku dokter muda bernama Alfan ini sangat berbakat. Meskipun dia masih muda, kemampuan medisnya sangat tinggi. Gimana kalau kita biarkan dia mencoba?"

Putri Diana sudah koma selama tiga hari. Mereka sudah pergi ke berbagai rumah sakit besar di Negara Madrino, tetapi tidak ada yang bisa mengobatinya. Baru kemudian mereka datang ke Rumah Sakit Prima di kota sendiri.

Awalnya dia sudah tidak memiliki banyak harapan. Namun, ketika tiba-tiba ada seorang pemuda yang berdiri dan mengatakan bisa menyelamatkan putrinya, secercah harapan langsung muncul.

Orang yang panik akan mencoba segala cara.

Terlepas dari reputasinya atau tidak, selama masih ada sedikit harapan, Diana tidak ingin melewatkannya. Dia segera berkata, "Kalau begitu cepat selamatkan putriku."

Darian sangat tahu bahwa kemungkinan Alfan bisa menyembuhkan Cindy hampir tidak ada.

Jika Cindy meninggal, semua tanggung jawab akan ditimpakan kepada Alfan. Dengan kekuatan Keluarga Sudarso, bahkan jika Alfan tidak mati sekalipun, hidupnya sudah pasti akan hancur.

Tentu saja, jika Alfan benar-benar bisa menyelamatkan Cindy, dia juga bisa mengklaim dirinya sebagai orang yang merekomendasikannya.

"Nggak boleh. Jangan biarkan dia menangani pasien. Dia hanya dokter magang, dia nggak punya kemampuan itu." Meskipun Rhea sangat marah, dia tetap tidak ingin Alfan dijadikan kambing hitam oleh Keluarga Sudarso.

"Kalau nggak segera ditangani sekarang, benar-benar nggak ada waktu lagi."

Alfan tahu Rhea berniat baik untuknya, tetapi dia sudah tidak punya waktu untuk menjelaskan kepada wanita itu. Jika dia tidak segera bertindak, gadis di atas ranjang itu benar-benar akan kehilangan nyawanya.

Semua orang yang hadir menatap dengan penuh keraguan pada dokter magang yang tampak biasa itu.

Saat dia berjalan mendekat, tanpa sadar semua orang memberi jalan untuknya.

"Alfan, kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan? Kamu tahu siapa yang terbaring di sana?" Tanpa memedulikan banyaknya orang di sekitar, Rhea langsung meraih pergelangan tangan Alfan.

Di wajah Alfan muncul senyum polos.

"Bu Rhea, percayalah padaku. Kalau aku berhasil menyembuhkan gadis ini, ingat ya, kamu harus memberiku hadiah."

Melihat dia masih bisa bercanda di depan banyak orang, Rhea panik dan segera melepaskan tangannya. Saat dia tersadar kembali, Alfan sudah berada di sisi Cindy. Dia mengangkat sedikit rok pasien, lalu menatap serius ke bagian bawah perutnya dan meneliti dengan saksama.

Melihat pemandangan itu, orang-orang di sekitar kembali mengeluarkan suara gumaman pelan.

Punggung Rhea terasa dingin dan dalam hati dia berkata, 'Habis sudah. Anak ini malah menatap ke bagian bawah perut pasien seperti itu, ini benar-benar nggak pantas!'

Ini jelas seperti mencari masalah sendiri.

Darian malah merasa senang dalam hati. 'Alfan, lihat saja bakal gimana kamu hancur!'
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 50

    Alfan mengernyit, menerima kartu bank itu, lalu membolak-balikkannya beberapa kali."Kamu kasih aku hadiah? Sepertinya nggak masuk akal, 'kan?"Alfan merasa sangat heran. Hari pertama masuk kerja sudah ada yang memberinya uang? Ini jelas tidak masuk akal."Dua miliar ini kamu terima. Mulai hari ini, jangan lagi mengobati Cindy."Alfan langsung mengerti. Ternyata begitu. Dia mendorong kembali kartu bank itu dengan pelan ke arah wanita itu."Cantik, jangan lupa, aku ini dokter. Tugasku adalah menyembuhkan dan menyelamatkan orang. Aku mengobati Cindy adalah hal yang wajar. Kenapa harus menghalangiku?""Nggak perlu alasan. Kalau kamu berhenti mengobati Cindy, kamu dapat 2 miliar, ayah angkatku dapat 20 miliar. Kita sama-sama untung. Kalau kamu menolak dan tetap bersikeras mengobati Cindy, di kota ini nggak akan ada tempat untukmu. Masalah ini bahkan bisa menyeret keluargamu."Punggung Alfan terasa dingin. Bukan karena dia takut pada ancaman wanita ini, melainkan dia samar-samar merasa bahw

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 49

    Rhea langsung tercengang. Dia agak tidak percaya dengan perkataan Alfan."Yang benar saja? Kamu cuma berdiri sebentar di depan pintu, tapi sudah bisa melihatnya?""Ya, aku melihatnya.""Dia gila ya? Masuk ke kantorku buat pasang kamera?""Tujuannya memang untuk mengincarmu dan aku. Kalau jejak hubungan kita berdua tertangkap olehnya, dia akan merekam video kita bersama. Dia sekongkol dengan suamimu. Kemarin mereka gagal menangkap basah kita. Mereka pasti nggak akan menyerah begitu saja."Mendengar penjelasan Alfan, wajah Rhea berubah karena marah."Orang tua itu benar-benar keterlaluan. Untung kamu menemukannya. Kalau sampai terekam, bukankah bakal jadi masalah besar?"Alfan mengangkat bahu. Wajahnya sedikit menunjukkan kekecewaan. "Ya, kalau di ruangan itu nggak ada kamera, kita bisa bermesraan kapan saja dan di mana saja."Rhea langsung mencubit keras pinggangnya. "Alfan, bisa nggak kamu lebih menahan diri? Gimana sekarang? Apa perlu aku lapor polisi?""Jangan lapor polisi dulu. Bebe

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 48

    Di dalam ruang rawat, Dexton duduk di atas ranjang. Wajahnya suram dan tatapannya penuh kebencian.Ketika mendengar bahwa satu-satunya buah zakar yang tersisa pun tidak bisa diselamatkan, dia hampir putus asa.Charista membawa semangkuk bubur dan mendekat. "Sayang, makan sedikit ya, aku suapi."Dia menyendok sesendok bubur dan menyuapkannya ke mulut Dexton.Dexton tiba-tiba mengangkat tangan dan menepis mangkuk itu dengan keras hingga jatuh ke lantai. Mangkuk porselen putih langsung pecah berkeping-keping dan bubur pun tercecer di mana-mana."Perempuan jalang, kamu pembawa sial! Kalau bukan karena kamu, apa aku akan jadi seperti ini?""Sayang, kamu nggak bisa menyalahkanku. Aku setia padamu. Masa kamu nggak tahu perasaanku padamu?"Mata Charista memerah. Dengan perasaan terhina, dia membungkuk, memunguti pecahan porselen di lantai."Pergi dari sini! Sejauh mungkin! Aku nggak mau melihatmu!"Pintu kamar terbuka. Darian masuk dengan mengenakan topi."Dexton, ngapain kamu mengamuk? Kondis

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 47

    Hati Alfan berbunga-bunga. Dia menggoda, "Belum tentu, aku keras di mana-mana."Setelah berkata begitu, dia berbalik dan mematikan lampu, lalu langsung memeluk Rhea."Bajingan, mau apa sih? Kenapa terburu-buru? Malam ini masih panjang, nggak bisa biarkan aku istirahat dulu?""Kita istirahat bersama."....Satu malam akhirnya berlalu. Dalam sekejap, sudah keesokan harinya. Di luar masih remang-remang, cahaya belum terang.Lampu kamar masih menyala. Alfan berbaring di ranjang dan yang terbaring di sampingnya adalah Rhea.Semalam mereka hampir tidak tidur. Alfan benar-benar merasakan kelembutan Rhea, Rhea juga benar-benar merasakan kejantanan Alfan.Yang paling penting, dalam semalam Alfan menyerap sangat banyak energi negatif. Energi negatif yang dia serap malam ini saja, jika tidak digunakan dalam beberapa hari ke depan, sudah cukup untuk menghilangkan Kutukan Gadis Suci di tubuh Cindy.Melihat Rhea yang terbaring di sampingnya, hati Alfan agak kacau. Dia tidak tahu bagaimana harus meng

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 46

    Melihat pesan yang dikirim oleh Rhea, Alfan agak tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.[ Yang benar saja? Kebahagiaan datang secepat ini? ][ Aku sudah bilang kirim alamat, kamu mau kirim atau nggak? Kuberi waktu satu menit. Kalau kamu kirim, aku akan datang mencarimu. Kalau nggak kirim, aku nggak jadi datang. ]Rhea segera membalas lagi.Alfan tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan wanita ini, tetapi tetap mengirimkan alamat hotel dan nomor kamar kepadanya dengan cepat.Setelah mengirimnya, dia segera masuk ke kamar mandi untuk mandi, bahkan menyemprotkan sedikit parfum ke tubuhnya.Dengan balutan handuk putih bersih, dia berbaring di tempat tidur dan menunggu dengan tenang.Waktu berlalu detik demi detik. Dalam sekejap, sudah lebih dari setengah jam. Namun, di luar sama sekali tidak ada pergerakan apa pun.Saat itu, Alfan mulai merasa Rhea hanya sedang mempermainkannya. Wanita ini murni seperti air. Malam itu, mereka bisa melakukan hal seperti itu karena Rhea dikendalikan o

  • Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi   Bab 45

    Rhea mengetuk dahi Alfan. "Bocah berengsek, kukira orang desa itu semuanya jujur. Ternyata kamu licik sekali. Katakan yang sebenarnya, dengan cara seperti ini, sudah berapa gadis yang kamu tipu?"Alfan tersenyum pahit tanpa berkata apa-apa. Awalnya dia hanya ingin mengarahkan pembicaraan ke Teknik Sembilan Niskala. Namun, dia sama sekali tidak menyangka wanita ini akan salah paham, mengira dia sedang menggunakan cara lain untuk merayunya tidur bersama.Alfan menggaruk bagian belakang kepalanya. "Bu Rhea yang terhormat, jujur saja, kamu wanita pertamaku. Sebelum bertemu denganmu, aku masih perjaka.""Siapa yang percaya? Kamu pacaran lima tahun dengan Charista dan kamu bilang masih perjaka? Mau nipu siapa?"Alfan mengerutkan kening. "Kamu nikah dua tahun dengan suamimu, bukankah kamu juga tetap perawan?"Rhea tersenyum pahit, lalu menenggak habis anggur di gelasnya."Sudahlah. Malam ini kamu tetap harus pergi. Aku kasih kamu uang. Kamu cari hotel untuk nginap. Jangan tinggal di sini lagi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status