MasukDulu, Lala sama sekali tidak tahu apa istimewanya Aran.
Ia hanya mengenalnya sebagai pria berkacamata yang terlalu sopan untuk memotong pembicaraan, terlalu tenang untuk marah, dan terlalu dingin untuk dipahami. Keduanya pertama kali bertemu di ruang kerja Bima—sebuah ruangan penuh kertas bertumpuk dan pekat aroma kopi basi yang sudah menyerah pada nasib. Lala baru pulang dari luar kota. Bima sedang sibuk. Seperti biasa. Jadi ketika pintu terbuka dan Aran muncul, membawa setumpuk berkas sambil mengangguk pelan, Lala hanya melirik tanpa peduli. “Hm,” gumamnya. Aran tidak mengangkat wajah. “Selamat sore,” ucapnya singkat. Tak ada yang terasa spesial—setidaknya sebelum Aran membuka mulut lagi. “Maaf… tapi berkas di meja Anda hampir jatuh.” Lala menunduk dan baru sadar laptop, map, dan pulpen miliknya sudah hampir ambruk ke lantai. “Hah?!” Refleks, ia menahan benda-benda itu. Sementara Aran dengan tenang yang menyebalkan, mengulurkan tangan untuk membantu. Ia menyusun semua tanpa suara, tanpa komentar, seolah kekacauan itu adalah hal biasa yang bisa ia rapikan dalam hitungan detik. Tidak ada sentuhan dramatis. Tidak ada senyum menggoda seperti di drama. Hanya rapi. Tepat. Dan selesai. Begitu saja. “Terima kasih,” Lala berkata dengan suara yang entah kenapa terdengar terlalu kecil. “Sama-sama.” Aran menarik diri, kembali pada pekerjaannya. Saat itu Lala hanya memandang punggungnya dan merasa ada sesuatu yang diam-diam berubah. Bukan cinta pada pandangan pertama. Terlalu berisik untuk disebut cinta. Terlalu tenang untuk disebut suka. Lebih seperti… rasa penasaran yang tumbuh tanpa izin. Satu benih kecil yang menyelinap dan berakar, lalu menunggu hari ketika ia akan menjadi masalah besar. Sore itu, di bawah lampu kuning ruang kerja yang redup, Lala menatap Aran dan bertanya pada diri sendiri: Kenapa seseorang bisa sesederhana itu… tapi justru membuatku ingin tahu lebih? Ia tidak menemukan jawaban. Yang ia tahu hanya satu: Sejak hari itu, kedua matanya selalu mencari Aran. Meski lelaki itu tak pernah benar-benar melihatnya. *** Hari itu malam merayap semakin dalam, membawa dingin yang menempel pelan di kulit. Lala baru saja pulang dari rumah sakit; bau antiseptik masih menempel samar pada bajunya, seperti bayangan yang enggan pergi. Begitu kakinya menginjak teras, langkahnya berhenti. Di depan pintu, ibunya sudah berdiri, tidak bergerak, seolah telah menunggunya lama. Tatapan Lala tetap tenang, namun ia tahu betul, kehadiran perempuan itu bukan untuk menyambut kepulangannya. Tidak pernah untuk itu. Cahaya lampu teras jatuh di wajah ibunya, menajamkan garis-garis yang biasanya tersembunyi oleh kosmetik mahal. Ada dingin yang tidak bisa didefinisikan, dingin yang bukan berasal dari udara malam. Sejenak, tidak ada yang bicara. Hanya hening yang terasa lebih berat daripada kantung obat di tangan Lala. Ia menarik napas pelan, menyiapkan diri, bukan untuk masuk rumah, tapi untuk menghadapi apa yang selalu menunggunya setiap kali pulang, Ibunya, dan segala kehadiran yang lebih sering terasa seperti beban ketimbang keluarga. “Untuk apa kau pulang ke rumah ini?!” Suara itu meluncur tajam, bahkan sebelum Lala sempat menyentuh gagang pintu. Ibunya berdiri dengan tangan terlipat di dada, seperti seseorang yang sudah menyiapkan amarah jauh sebelum lawannya tiba. Beberapa hari lalu, pertengkaran hebat meledak di antara mereka, kata-kata yang seharusnya tidak pernah terucap terlanjur terlempar, menyisakan luka yang terlalu dalam untuk dibalut permintaan maaf. Setelah itu, Lala memutuskan pergi. Tidak menoleh. Tidak memberi kabar. Yang ia pikir, kepergiannya akan membuat ibunya resah. Nyatanya… justru sebaliknya. Seolah ketidakhadiran Lala adalah kelegaan, bukan kehilangan. Seolah rumah ini lebih damai tanpa dirinya. Dan kini, melihat ibunya memandangnya seakan ia hanyalah orang asing yang melangkah terlalu jauh ke wilayah terlarang, Lala tahu, pulang mungkin adalah kesalahan pertama yang ia lakukan malam ini. “Aku yang memintanya pulang!” Suara lain menyusup dari dalam rumah—serak, namun tegas. Seorang perempuan tua muncul perlahan, langkahnya dibantu sebatang tongkat kayu yang tampak setia menopangnya selama bertahun-tahun. Oma. Usianya sudah delapan puluh, namun sorot matanya masih tajam, tidak goyah sedikit pun. Kehadirannya seketika membuat dua pasang mata di depan pintu itu menoleh—Lala dan ibunya. “Lala adalah cucuku,” ucap Oma tegas, menatap menantunya tanpa berkedip. “Akulah yang memintanya pulang ke rumah ini.” Nada suaranya tidak perlu ditinggikan, ketenangan itu sendiri sudah menjadi perintah. Raut wajah ibu Lala mengeras sejenak—jelas ia tidak menyukai keputusan itu. Namun rasa tidak suka itu hanya berani muncul sebatas mimik. Tidak ada bantahan, tidak ada protes. Sebab ia tahu, Oma bukan sekadar orang tua dalam rumah ini, dialah penguasa sesungguhnya. Kata-katanya adalah hukum. Dan menentangnya… sama saja menggali liang sendiri. “Lala, masuk.” Suara Oma terdengar pelan, namun tak ada seorang pun di rumah itu yang berani mengabaikannya. Lala mengangguk tanpa kata. Ia melewati ibunya tanpa menoleh, lalu melangkah masuk ke dalam rumah tempat yang seharusnya menjadi ruang pulang, namun selalu terasa asing baginya. Lorong rumah itu belum berubah. Aroma kayu tua dan wangi kamboja di vas dekat tangga menyambutnya, seolah berusaha membuat semuanya tampak biasa saja. Tapi hatinya tidak pernah merasa begitu. Langkahnya ringan, tapi ada sesuatu yang berat menempel di dadanya. Dia tahu, jika bukan karena panggilan Oma… ia mungkin tak akan pernah kembali. Bagi Lala, pintu rumah ini bukan tempat pulang lebih mirip gerbang yang selalu mengingatkan bahwa ia tidak diinginkan. Dan malam itu, langkahnya menuju kamar terasa seperti kembali menapaki luka yang belum benar-benar sembuh.Rasa bersalah Sarah tak bisa dipungkiri lagi, meskipun hari masih begitu pagi tapi ia langsung menuju rumah sakit. Semuanya kini terasa menyakitkan rasa bersalah yang membuatnya menjadi seperti ini. Sarah menatap tangan Lala, terasa begitu rapuh di tangannya. “La… aku beneran minta maaf sama kamu. Kamu mau maafin aku?” tanyanya lirih. Tak ada jawaban. Sarah sudah tahu itu. Hening memenuhi ruangan ICU, hanya suara monitor yang berdetak pelan. “Sekarang… aku udah cerai sama Aran. Tolong bangun dari tidur panjangmu ini, La… supaya kalian bisa hidup bersama dan bahagia,” ucap Sarah pelan, menahan haru. Ia menarik napas, menatap tangan Lala lebih lama lagi sebelum melanjutkan. “Dari kamu, aku belajar, La… belajar mengerti apa itu cinta sejati,” ucap Sarah pelan, matanya menatap tangan Lala yang masih diam. Ia tersenyum tipis, seakan membiarkan semua rasa dan masa lalu yang berat berlalu begitu saja. “Saling mencintai itu… terasa sangat indah. Beda banget sama memaksakan k
Sarah melangkah turun dari mobil. Tak menoleh lagi, kendaraan itu pun melaju pergi, meninggalkan keheningan di halaman rumah. Baru saja kakinya menginjak teras, suara Bu Nining sudah terdengar. “Sarah, kamu pulang sama siapa tadi?” tanyanya penasaran. Sarah berhenti. Bahunya turun, seolah semua tenaga mendadak habis. “Itu… kakaknya Lala, Bu,” jawabnya lirih. “Namanya Firman.” Ia mengusap pipinya yang basah. “Sejak beberapa hari ini dia terus ngejar Sarah. Katanya mau minta penjelasan, kenapa Sarah sering ke rumah sakit, kenapa selalu lihat Lala dari jauh.” Suara Sarah bergetar. “Dia pikir Sarah mau melenyapkan Lala, Bu.” Air matanya jatuh lagi. “Apa mungkin muka Sarah kelihatan sejahat itu, Bu?” tanyanya pelan, nyaris tak terdengar. Bu Nining langsung mendekat. Tanpa banyak tanya, ia menarik Sarah ke dalam pelukannya. “Ah, nak…” suaranya lembut, penuh iba. “Bukan begitu.” Tangan Bu Nining mengusap punggung Sarah pelan, menenangkan. “Kamu itu kelihatan capek
Sarah berdiri di depan ruang ICU, menatapnya lama. Lalu ia berbalik, melangkah pergi dengan surat cerai di tangannya. Air matanya jatuh satu per satu, mengiringi keputusannya. Sarah menunduk. Jemarinya mengepal di sisi tubuh, seolah menahan sesuatu agar tak runtuh di tempat itu juga. Ia sadar, masih ada perasaan yang tertinggal untuk Aran. Tapi rasa itu kalah oleh sesuatu yang lebih menyakitkan: rasa bersalah pada Lala yang terus menghantuinya. Setiap kali menutup mata, bayangan Lala muncul—pucat, rapuh, dan terbaring tanpa daya. Dan Sarah tahu, ia bukan hanya pergi meninggalkan Aran. Ia pergi membawa beban yang tak akan selesai hanya dengan satu surat cerai. Langkahnya terus menjauh dari ruang ICU, meski hatinya tertinggal di ambang pintu. Bukan karena cinta yang belum padam, melainkan karena penyesalan yang tak tahu cara pulang. Ia terus melangkah tanpa benar-benar memperhatikan jalan. Pikirannya kosong, dadanya penuh. Saat menyeberang, sebuah kendaraan melaju
Perasaan Aran kini sedikit lebih lega. Lala hampir saja menyerah—nyaris pergi di depan matanya sendiri. Namun nyatanya, ia masih bertahan. Dadanya masih naik turun, meski napas itu harus dibantu oleh peralatan medis yang menempel di tubuhnya. Bagi Aran, itu sudah lebih dari cukup. Selama Lala masih bernapas, harapan—sekecil apa pun—masih ada. “Sayang, aku mohon… jangan pernah tinggalkan aku,” suara Aran bergetar. “Aku nggak bisa tanpa kamu.” Ia duduk di kursi kecil di samping ranjang ICU, menggenggam tangan Lala erat-erat, seolah genggaman itu satu-satunya hal yang menahan Lala tetap di dunia ini. “Aku tahu aku sering salah,” lanjutnya lirih. “Aku keras kepala. Aku sering marah. Tapi satu hal yang harus kamu tahu—aku selalu mencintaimu. Selalu.” Aran menunduk, dahinya menyentuh punggung tangan Lala. “Kamu berjuang ya,” bisiknya. “Jangan takut… aku di sini. Jangan pergi, aku nggak bisa kehilangan kamu.” Ia menarik napas panjang, mencoba menahan isak yang tak mau p
Sarah mengusap air matanya cepat-cepat. Ia tak ingin siapa pun melihatnya dalam keadaan seperti itu. Setelah napasnya sedikit stabil, ia berbalik hendak pergi. Namun langkahnya terhenti. Firman berdiri tepat di depannya. Jantung Sarah berdegup keras. Ia refleks ingin menghindar, mencari jalan lain. Tapi setiap langkah yang ia ambil selalu terhalang oleh tubuh Firman. “Permisi, aku mau lewat,” katanya singkat, menunduk, berusaha melewati sisi Firman. Baru satu langkah, Firman menahan lengannya. Sarah tersentak. “Kenapa pegang-pegang?” tanyanya ketus sambil menghempaskan tangan Firman dengan kasar. Firman tak mundur. Tatapannya justru mengeras, penuh curiga. “Aku tahu kamu,” katanya tajam. “Kamu sering datang diam-diam. Ngintip adik aku.” Sarah terdiam sesaat. “Kamu siapa?” lanjut Firman. “Dan apa maksudmu sebenarnya?!” “Apasih?” Sarah mengelak, suaranya meninggi karena panik. Ia kembali melangkah cepat, berusaha menjauh. Karena ia tidak mengenal orang asing ini
Video itu berakhir. Suara “Mama menyayangimu” masih menggantung di udara, bahkan setelah layar ponsel Firman menghitam. Beberapa detik berlalu. Lalu napas Lala berubah. Tidak banyak—hanya sedikit lebih cepat, sedikit lebih berat. Monitor di samping ranjang kembali menunjukkan irama yang tak lagi sepenuhnya stabil. Firman menahan napas. Air mata Lala kembali mengalir. Kali ini lebih deras, membasahi sisi wajahnya. Alisnya mengernyit samar, seolah tubuhnya sedang berjuang menahan sesuatu yang terlalu berat untuk disadari. Jari-jarinya bergerak lagi. Lebih jelas dari sebelumnya. Pelan… namun nyata. “La…” Firman mendekat, suaranya bergetar. “Kakak di sini.” Kelopak mata Lala bergetar tipis. Tidak terbuka—namun jelas, ia mendengar. Ia merasakan. Firman menggenggam tangan adiknya erat, untuk pertama kalinya tak peduli pada air mata yang jatuh dari wajahnya sendiri. “Kamu nggak sendirian lagi,” bisiknya penuh sesak. “Dari dulu… seharusnya kamu nggak sendirian.” Di







