“Non… nona—” Aran sudah terhimpit, tapi Lala terus saja mendekat. Tangan Lala menyentuh bibirnya, kemudian turun ke dada, jari-jarinya perlahan membuka kancing kemeja Aran satu per satu. “Aku capek, tahu?” suara Lala bergetar, terdengar putus asa. “Ketemu cowok yang nggak setia terus. Kayaknya cuma kamu deh yang tulus.” Dalam hitungan detik, kemeja Aran sudah terbuka. Tangan Lala menyentuh dada bidang pria itu, lalu bibirnya menempel lembut. Aran langsung menegang, napasnya tertahan. Dengan cepat ia menangkap tangan Lala dan menahannya. Lala mendongak. Ada senyum samar—setengah manja, setengah menantang—di bibirnya. “Nona, jangan seperti ini. Aku mohon,” suara Aran terdengar kecil, hampir putus. “Kenapa?” tanya Lala, matanya tak melepaskan tatapan. “Kenapa Anda seperti ini? Bukankah hidup Anda jauh lebih berharga?” tanya Aran, suaranya terdengar bingung dan cemas. Lala tersenyum samar. Ia berjinjit, lalu melingkarkan kedua tangannya di tengkuk Aran, seakan tak memb
Last Updated : 2025-11-22 Read more