LOGINKetika kakaknya kabur di hari pernikahan, Aruna dipaksa menggantikan posisi itu demi menyelamatkan nama baik keluarga. Tanpa cinta, tanpa restu, dan tanpa tahu bahwa pria yang akan dinikahinya — Revan, pewaris keluarga kaya — menyimpan rahasia yang jauh lebih besar dari sekadar pernikahan ini. Pernikahan itu hanya di atas kertas. Tapi setiap hari, Revan memperlakukan Aruna dengan dingin, seolah ingin membuatnya menyesal. Namun, seiring waktu, perlahan-lahan kebencian itu mulai berubah… tapi cinta yang datang terlambat bisa jadi hukuman paling pahit, apalagi saat sang kakak kembali dengan membawa kebenaran yang menghancurkan segalanya.
View More"Maaf, Anda tidak lolos. Silahkan keluar."
Sebuah kalimat yang mulai akrab dengan Kalla, tapi ternyata masih saja terdengar menyakitkan. Gadis 23 tahun itu membuang napas kasar, sambil melempar tatapan sebal sebelum berjalan keluar dari ruangan interview dengan perasaan luar biasa dongkol.
Kalla menarik napas panjang dan menguatkan diri sekali lagi ketika ingat ucapan CEO perusahaan yang baru saja meng-interview-nya. Begitu blak-blakan dan menyentil hingga dia tidak bisa lagi menahan emosi.
"Memang dia pikir dirinya siapa? Jangan mentang-mentang CEO jadi seenaknya ngatain orang. Hah!"
Gadis itu melamar sebagai sekretaris CEO, menyesuaikan bidang perkuliahannya yang lulus satu tahun lalu. Baginya bisa sampai ke tahap interview adalah hal yang membanggakan di perusahaan besar sekelas Ganesha Group.
Terlebih ketika melihat tampang CEO-nya secara langsung begitu masuk ruang interview. Dia jadi tahu definisi tampan yang sesungguhnya. Nyaris semua kesempurnaan ada pada pria dengan potongan rambut curly back side, tapi agak panjang itu.
Kalla tidak menyangka jika CEO Ganesha Group jenis CEO wanna be yang sering dia lihat di dracin-dracin pendek kesukaannya. Seketika kepalanya berimajinasi liar, mengundang kikikan kecil tak tahu malu.
Mata Kalla sampai tak berkedip saat melihat pria itu melempar senyum tipis padanya. Dadanya pun tanpa bisa dicegah langsung berdebar kencang. Bahkan dia sempat terserang grogi ketika dua interviewer lain menanyainya, sebelum akhirnya CEO tampan itu mengeluarkan suara yang mematikan.
"Saya tidak butuh sekretaris fresh graduated non experience. Yang bahkan pengalaman berorganisasi pun tidak ada. Saya butuh fresh graduated cerdas dan cekatan, bukan fresh graduated yang berotak kosong dan manja seperti saudari."
Padat, jelas, dan nyelekit.
Pangkal alis Kalla kontan menyatu mendengar ucapan bernada sinis itu. Senyum yang dia kembangkan sejak masuk ruang interview perlahan raib.
Dia tidak percaya ada manusia bertampang malaikat tapi mulutnya pedas seperti setan. Otak kosong dan manja, pria itu bilang? Hah!
Darimana pria itu bisa menyimpulkan seperti itu hanya dengan interview singkat begini?
Selama ikut beberapa wawancara kerja, baru kali ini Kalla mendapat hinaan secara langsung seperti ini. Hatinya jelas tidak terima.
Persetan dengan muka tampan dan pekerjaan! Dia mendongak, menatap lurus wajah malaikat iblis itu. Lalu, ucapan yang seharusnya tidak terlontar pun meluncur dari mulutnya.
"Mungkin saya berotak kosong, tapi setidaknya saya punya attitude dan manner yang bahkan seorang CEO seperti Anda tidak punya."
Kalla puas ketika melihat wajah tampan itu berubah kecut. Pria itu pasti tidak menyangka bahwa gadis cukup punya nyali untuk menyerang balik.
"Saya memang butuh kerjaan. Tapi sepertinya saya terlalu berharga untuk menjadi sekretaris CEO akhlakless seperti Anda," lanjut Kalla lantang tanpa peduli resiko yang akan dia dapat. Toh sudah pasti dirinya tidak lolos.
Wajah para interviewer di depannya terlihat syok. Sementara CEO arogan itu tampak merah padam. Lantas kalimat penolakan atas dirinya pun meluncur.
It's OK! Everything's gonna be OK!
Kalla menarik napas panjang, lalu berjalan dengan langkah tegar keluar dari gedung jangkung itu. Dia tidak mau terlihat lemah dan ingin mereka tahu bahwa pekerjaan bukan hanya ada di Ganesha.
Namun ketika jaraknya makin jauh dari gedung itu, ketegaran itu pun perlahan menghilang. Wajah Kalla berubah lusuh dan kehilangan semangat. Dia berjalan dengan bahu meluruh. Sejak hari ini, total sudah ada 20 perusahaan—dari yang bergengsi hingga biasa saja—menolak dirinya.
Sampai Kalla bingung sendiri, sebenarnya apa yang ada pada dirinya? Kenapa bisa memiliki nasib sesial ini?
Perlukah dia mandi kembang tujuh rupa untuk buang sial? Sejak dirinya lulus setahun lalu belum ada satu pun lamarannya yang sukses menembus salah satu perusahaan. Mentok sampai interview saja.
Kalla makin nelangsa saat teringat ibunya. Ibu punya harapan besar padanya, tapi dia selalu mengecewakan. Kalla malu di usia dewasa begini masih saja menjadi beban keluarga.
Masih berada di area yang dikelilingi gedung apartemen dan perkantoran, Kalla menyeret langkah menuju sebuah taman bermain anak yang jadi salah satu fasilitas dari kawasan elit kota ini.
Taman itu sedang sepi dan dia memutuskan duduk di salah satu ayunan yang ada di sana.
Sambil memikirkan langkah selanjutnya, dia mengemut lolipop cokelat yang senantiasa ada di dalam tas.
Kepalanya dia sandarkan di tali ayunan seraya bergoyang pelan. Meski masih ada sedikit tersisa rasa kesal pada CEO sialan itu, hidup tetap harus berjalan kan?
PLUK!
Sebuah bola yang datang entah dari mana mengenai kakinya lalu berhenti tepat di bawahnya. Kalla berhenti berayun dan mengambil bola warna-warni itu. Tatapnya lantas bergulir guna mencari pemilik bola tersebut. Dan tidak jauh dari tempatnya dia melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar tiga atau empat tahunan tengah memandanginya.
Anak laki-laki bermata bulat dengan pipi kemerahan yang menggemaskan. Kulitnya putih dan rambutnya tebal. Baru seupil saja garis ketampanannya sudah kelihatan. Dia benar-benar lucu.
"Halo," sapa Kalla memasang wajah ceria. "Ini bola kamu?" tanyanya tersenyum.
Anak itu terus memandanginya selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.
Kalla mengacungkan bola itu padanya. "Ini ambil," katanya ramah berusaha tidak membuat anak itu takut. Karena sepertinya anak itu sedang bersikap waspada.
Melihat tidak ada reaksi dari anak tersebut, Kalla celingukan, mencari keberadaan seseorang. Bisa saja anak itu datang bersama orang tuanya. Namun, matanya yang mengedar tidak menemukan siapa pun selain dirinya dan anak itu.
Kalla kembali tersenyum. "Kamu sendiri?"
Anak itu kembali mengangguk tapi masih berdiri di tempat sambil memandangi Kalla.
"Mama sama papa kamu mana?"
Kali ini anak itu menggeleng. Sama sekali tidak mengeluarkan suara. Bikin Kalla bingung. Wanita 23 tahun itu berinisiatif mengambil lolipop di tasnya. Lalu mengacungkan benda itu.
"Kamu mau ini?"
Kini tatapan si anak beralih ke lolipop tersebut. Menatap beberapa saat lalu mengangguk malu-malu. Dan Foilaah! Tanpa diperintah anak itu mendekat dengan sendirinya.
Dia mengambil lolipop dari tangan Kalla. "Terima kasih, Onti Cantik," katanya dengan suara yang sangat sopan.
Tak pelak hal itu membuat senyum Kalla mengembang cerah. Anak itu menyebutnya cantik! Anak kecil selalu berkata jujur kan? Mendadak mood Kalla naik seketika hanya mendengar pujian tulus dan ucapan terima kasih dari anak menggemaskan itu.
"Jangan panggil Onti dong. Kakak aja, ya," ucapnya terdengar tak tahu malu. Tapi anak itu mengangguk dan menurut.
"Kakak Cantik."
Ah, dipuji bocil saja Kalla sudah bahagia. Dia lantas membantu anak itu membuka bungkus lolipop. Dan keduanya berakhir duduk bersampingan di atas ayunan.
"Nama kamu siapa?" tanya Kalla saat melihat wajah anak itu yang berubah ceria.
"Kael."
Kalla mengulum senyum. "Nama kita hampir mirip."
Anak itu menoleh, mata bulatnya berbinar indah. "Nama kakak siapa?"
"Namaku Kalla. Kael dan Kalla, mirip kan?"
Kael mengangguk, lalu kembali mengemut lolipopnya. Sepertinya dia bahagia sekali makan loli, seperti baru pertama kali makan.
"Kael, kamu ke sini sendiri?" Saat anak itu mengangguk, Kalla bertanya lagi. "Papa mama kamu mana?"
"Papa kerja, Mama nggak tau."
'Papa kerja' bisa Kalla pahami, tapi kalau 'mama nggak tau' dia kurang paham maksudnya.
"Rumah kamu di mana?" tanya Kalla lagi. Orang tuanya cukup ceroboh juga membiarkan anak sekecil Kael berkeliaran sendirian.
Tanpa Kalla duga, Kael menunjuk salah gedung tinggi yang ada di kawasan itu. Peak Apartemen?!
Wow, ternyata anak itu putra orang tajir. Bisa-bisanya anak balita sultan berkeliaran sendirian di sini tanpa pengawasan. Bagaimana
kalau ada yang menculik? Orang tuanya benar-benar teledor.
"Kakak Cantik, Mau enggak jadi mamaku?"
Eh?!
Perahu penyelamat kecil itu melaju kencang, membelah ombak Selat Malaka yang mulai bergejolak. Aruna mengarahkan perahu itu menjauh dari rute Night Rider menuju Batam, bergerak ke arah utara, menuju lautan terbuka.Dia sendirian. Hanya dirinya, ombak yang berderu, dan flash drive Kirana yang dipegangnya erat-erat.Aruna menatap arlojinya. Sepuluh menit. Itu adalah waktu yang dibutuhkan sinyal flash drive untuk menarik perhatian Revan dan meyakinkannya bahwa ini adalah target utama.Air laut memercik ke wajahnya, terasa pedih di luka bahunya. Aruna harus tetap fokus. Dia menatap cakrawala di belakangnya, mencari tanda-tanda pengejaran.Lima belas menit berlalu. Tidak ada.Aruna mulai ragu. Apakah rencananya gagal? Apakah Revan tidak lagi tertarik pada data A-17?Tiba-tiba, dia mendengar suara yang dia kenali dan benci—suara mesin kapal cepat yang membelah air, semakin dekat dari kejauhan. Bukan kapal patroli militer.Kapal pemburu cepat milik Ares. Dua titik hitam muncul di cakrawala.
Aruna berhasil menarik dirinya kembali ke dek kapal Night Rider. Bahunya berdarah lagi, dan lututnya sakit luar biasa setelah melompat. Nadira segera memeluknya, wajahnya lega sekaligus panik."Kau berhasil!" desis Nadira. "Kau memberikannya pada Dian?"Aruna mengangguk, terengah-engah. Dia merasakan perahu mulai melaju kencang lagi, meninggalkan Kapal Vigilance di kejauhan."Ya. Hard drive Johan ada di tangannya," kata Aruna. "Sekarang, nasib kita ada di tangan Dian. Dia harus menerbitkannya."Tono, yang berada di ruang kemudi, berteriak melalui intercom. "Kita sudah aman! Mereka sudah melewati perairan batas! Tujuan selanjutnya Singapura!"Aruna berjalan pincang menuju ruang kargo, diikuti Nadira. Johan masih terbaring lemah.Aruna segera menuju Bima. Kondisinya memburuk dengan cepat. Wajahnya semakin cekung, dan napasnya dangkal.Paramedis Kiara tampak putus asa. "Waktunya habis, Nyonya Aruna. Paling lama tiga jam. Kita harus mendarat di fasilitas medis berskala besar, atau dia tid
Kapal Vigilance milik Dian melaju mendekat, membelah ombak dengan elegan. Sementara itu, jet tempur militer itu memutar, bersiap untuk penerbangan pengintaian kedua di atas perairan perbatasan.Aruna menatap hard drive Johan. Ini adalah momen kebenaran, hasil dari semua penderitaan dan pelarian."Tono! Bagaimana respons Dian?" tanya Aruna, mencengkeram pegangan dek kapal.Tono memegang ponsel satelit, wajahnya pucat. "Dia setuju. Lima menit, di samping kapal. Tapi dia menuntut agar kita hanya mengirim satu orang untuk melakukan transfer."Aruna mengangguk. "Aku yang akan pergi.""Tidak, Aruna! Kau terluka parah!" seru Nadira. "Biarkan aku yang pergi!""Tidak," potong Aruna. "Dian harus melihat bukti itu di tanganku. Dia harus melihat siapa yang melawannya. Dan hard drive ini sangat sensitif. Hanya aku yang tahu cara kerjanya jika Revan memasang jebakan."Kapal Night Rider dan Vigilance bergerak sejajar di laut terbuka. Jarak mereka hanya beberapa meter, terpisah oleh ombak yang ganas.
Kapal kargo cepat Night Rider membelah ombak Laut Jawa. Kecepatan kapal membuat guncangan terasa di ruang kargo yang sempit dan berisik. Di luar, langit sudah benar-benar gelap.Aruna bersandar di dinding baja, bahunya yang terluka berdenyut nyeri. Dia menyentuh hard drive Johan yang ia sembunyikan di dalam lipatan jaketnya. Bukti itu kini aman, tapi Bima tidak.Tim medis Kiara bekerja di bawah cahaya redup. Mereka memberikan cairan infus dan obat penghilang rasa sakit dosis tinggi untuk Bima."Kami sudah melakukan semua yang kami bisa di laut," kata salah satu paramedis kepada Aruna. "Jika dia tidak dioperasi dalam dua belas jam ke depan, kami harus bersiap untuk yang terburuk."Johan, yang kini sudah diberikan pertolongan pertama oleh Nadira, duduk di sudut ruangan, wajahnya masih memar."Terima kasih, Nyonya Aruna," kata Johan, suaranya lemah. "Saya pikir saya sudah mati di tangan Revan.""Kenapa kau merekamnya, Johan?" tanya Aruna, mendekati Johan. "Kau tahu risikonya."Johan mena
Aruna tidak bisa berjalan. Dia harus merangkak menaiki tangga. Itu adalah kenyataan yang kejam. Jika dia tertangkap Revan, dia akan mati. Jika dia membiarkan Revan mendapatkan hard drive Johan, dunia akan mati."Nadira! Kau harus membawanya keluar sekarang!" desak Aruna, suaranya parau."Tidak, Aru
Bima pingsan di dek. Aruna berlutut di sampingnya, tangan berlumuran darah. Kapal kargo itu berderak, ombak menghantam lambungnya. Udara dingin dan asin menerpa mereka. "Nadira, cari air bersih. Cepat. Luka ini harus dibersihkan, atau dia infeksi," perintah Aruna, suaranya tegang. Dia menggunaka
Aruna tergantung di udara. Kapal kargo itu bergerak maju. Pergelangan kakinya menghantam lambung kapal yang berkarat. RASANYA AKI ARUNA MAU COPOT. Dia menjerit, tapi suaranya tertelan oleh deru mesin kapal dan ombak. Di bawah, lampu sorot dari dermaga menyusul. Tim Keamanan Ares masih menembakka
"Mereka bukan polisi," kata Pak Herman, suaranya pelan dan tajam. "Itu tim keamanan swasta. Pembunuh." Van suplai tua itu terhenti mendadak. Di depan, dua SUV hitam memblokir jalan. Beberapa pria berpakaian hitam, membawa senjata, keluar dari mobil. "Kita tidak bisa berbalik. Kita harus lari," d












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.