Menantu Pengganti

Menantu Pengganti

last updateLast Updated : 2025-12-10
By:  SolaceReinaOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
61Chapters
785views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Ketika kakaknya kabur di hari pernikahan, Aruna dipaksa menggantikan posisi itu demi menyelamatkan nama baik keluarga. Tanpa cinta, tanpa restu, dan tanpa tahu bahwa pria yang akan dinikahinya — Revan, pewaris keluarga kaya — menyimpan rahasia yang jauh lebih besar dari sekadar pernikahan ini. Pernikahan itu hanya di atas kertas. Tapi setiap hari, Revan memperlakukan Aruna dengan dingin, seolah ingin membuatnya menyesal. Namun, seiring waktu, perlahan-lahan kebencian itu mulai berubah… tapi cinta yang datang terlambat bisa jadi hukuman paling pahit, apalagi saat sang kakak kembali dengan membawa kebenaran yang menghancurkan segalanya.

View More

Chapter 1

Bab 1 — Hari yang Tidak Seharusnya Milikku

Angin masuk lewat jendela yang terbuka sedikit, dingin menusuk kulit. Cermin besar di depan memantulkan sosok yang terasa asing—gaun putih terlalu mewah, riasan terlalu tebal untuk wajah yang biasanya polos.

Ini bukan hariku.

Ibu berdiri di belakang, merapikan kerudang pengantin dengan tangan gemetar. Wajahnya pucat, mata sembab karena menangis sejak tadi malam. Tapi bibirnya tetap tersenyum, senyum yang rapuh seperti kaca retak.

"Aruna..." suaranya hampir berbisik. "Ibu tahu ini berat buat kamu. Tapi tolong, Nak. Sekali ini saja."

Kata-kata itu terdengar seperti permohonan terakhir. Seperti nyawa terakhir yang tersisa di tubuhnya.

Dari pantulan cermin, mataku terlihat bengkak. Bibir kering. Tangan gemetar sejak tadi pagi dan belum berhenti sampai sekarang.

Ini harusnya hari Kirana. Harusnya kakakku yang berdiri di sini, bukan diriku.

Tapi semalam, Kirana pergi. Hilang tanpa jejak. Hanya meninggalkan pesan singkat di ponsel Ibu:

"Maaf, Ma. Aku nggak bisa. Aku nggak cinta sama dia."

Dan sekarang... yang berdiri mengenakan gaun ini adalah diriku.

---

Pintu kamar terbuka pelan. Nadira, sepupu dari pihak Ibu, masuk dengan wajah tegang meski berusaha tersenyum.

"Aruna, mobil sudah siap. Mereka nungguin di bawah." Matanya menatapku dari atas sampai bawah, lalu menghela napas pelan. "Kamu... yakin?"

Pertanyaan itu sebenarnya tidak butuh jawaban. Nadira tahu, sama seperti yang kutahu, bahwa tak ada pilihan lain.

Tapi dia tetap bertanya. Mungkin berharap ada keajaiban yang membuat semua ini berhenti.

"Kalau kamu mau kabur, sekarang waktunya," bisiknya lagi, lebih pelan. "Aku bisa bantu."

Mataku melirik Ibu lewat cermin. Tangannya memegang dada, napas pendek-pendek. Jantungnya lemah. Tubuhnya rapuh. Kalau dia tahu aku kabur...

"Nggak usah," jawabku pelan. Suaraku hampir hilang di tenggorokan. "Aku turun sekarang."

Nadira diam beberapa detik, lalu mengangguk kecil. Dia paham.

---

Tangga terasa panjang. Gaun putih berat, menyeret di setiap anak tangga. Suara kain bergesekan dengan lantai marmer terlalu keras di tengah keheningan rumah.

Ayah menunggu di bawah. Wajahnya pucat. Mata merah, mungkin karena menangis atau karena begadang. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh, seperti menahan sesuatu yang ingin meledak.

Begitu aku sampai di dekatnya, tangannya langsung memegang pundakku. Erat. Terlalu erat sampai sedikit sakit.

"Aruna..." suaranya serak, parau. "Ayah tahu ini nggak adil. Tapi keluarga kita... kita nggak punya waktu lagi."

Matanya berkaca-kaca saat menatapku.

"Kalau pernikahan ini batal, mereka bakal ambil rumah ini. Usaha Kakek juga. Bahkan... mungkin Ayah masuk penjara."

Kata-kata itu seperti ditampar langsung di wajah. Keras. Sakit.

Aku tahu keluarga kami punya utang. Tapi tidak tahu sampai sebesar ini. Tidak tahu sampai... hidup kami bergantung pada satu hari ini.

"Revan... dia orang baik, kan, Yah?" tanyaku pelan, hampir berbisik.

Ayah diam lama. Terlalu lama. Lalu tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata.

"Semoga," katanya.

Dan jawaban itu sama sekali tidak membuatku tenang.

---

Mobil pengantin berhenti di depan gedung hotel besar. Bunga-bunga putih terpasang rapi di setiap sudut. Tamu mulai berdatangan. Musik lembut mengalir dari dalam.

Tapi di telingaku, semua itu terdengar seperti lonceng kematian.

Turun dari mobil dengan bantuan Nadira, kaki terasa berat. Napas sesak. Setiap langkah seperti menyeret beban yang tidak terlihat.

MC menyapa lewat pengeras suara dengan nada ceria.

"Kita sambut kedatangan mempelai wanita..."

Lampu sorot menyoroti wajah. Semua orang bertepuk tangan. Ibu-ibu tersenyum. Bapak-bapak mengangguk sopan.

Tapi aku tahu, sebagian dari mereka pasti berbisik.

"Kok bukan Kirana?"

"Katanya yang menikah adiknya, ya?"

"Wajahnya mirip sih, tapi... beda."

Senyumku terasa seperti topeng yang retak.

---

Dan kemudian aku melihatnya.

Di ujung pelaminan, berdiri seorang pria berjas hitam. Revan Aditya.

Tinggi. Tegap. Tampan dengan cara yang dingin.

Wajahnya datar, tidak tersenyum, tidak juga marah. Hanya... menatap.

Menatapku.

Tepat saat mataku bertemu dengan matanya, ada sesuatu yang aneh. Seperti dia tahu. Seperti dia sudah tahu dari awal.

Aku bukan Kirana.

---

Berdiri berhadapan di depan penghulu. Suara doa terdengar samar. Tamu-tamu duduk rapi. Ibu menangis di barisan depan, entah karena bahagia atau karena menyesal.

Penghulu membacakan ijab kabul dengan suara khidmat.

"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Revan Aditya Putra, dengan Aruna Prameswari..."

Jantung berhenti sedetik.

Nama itu bukan namaku.

Tapi aku harus menjawab seolah itu namaku.

"...dengan mas kawin seperangkat alat salat, dibayar tunai."

Revan menjawab tegas. "Saya terima nikahnya, Kirana Prameswari, dengan mas kawin tersebut, tunai."

Lalu semua mata mengarah padaku.

Penghulu mengangguk. "Saudari Kirana, apakah Anda menerima?"

Tenggorokan kering. Bibir kaku.

Melirik Ibu. Dia mengangguk pelan, matanya memohon.

Melirik Ayah. Dia menunduk, tangan terkepal.

Lalu menatap Revan. Dan untuk pertama kalinya, ada senyum tipis di bibirnya.

Senyum yang... menakutkan.

"Saya terima," jawabku pelan.

---

Tepuk tangan meledak. Takbir bergema. Ibu memeluk Ayah sambil menangis. Tamu-tamu bersalaman, tersenyum, memberi selamat.

Tapi hanya berdiri di sana, dengan cincin di jari manis yang terasa seperti belenggu.

Revan tidak menatap lagi. Dia hanya berdiri, tersenyum pada tamu, berbicara sopan pada keluarga besar. Tapi tangannya yang menggenggam tanganku terasa dingin.

Dingin dan kuat. Seperti sedang memegang sesuatu yang tidak boleh lepas.

---

Setelah acara selesai dan tamu mulai pulang, duduk berdua di sofa ruang ganti. Hanya berdua. Tanpa siapa-siapa.

Mencoba membuka pembicaraan. "Maaf untuk... semua ini."

Revan tidak menoleh. Hanya menatap lurus ke depan.

"Untuk apa?"

"Untuk... menggantikan Kirana. Aku tahu ini—"

"Aku tahu."

Terdiam.

"Apa?"

Dia akhirnya menoleh. Menatap dengan tatapan yang dalam, tajam, penuh sesuatu yang tidak bisa dibaca.

"Aku tahu kamu bukan Kirana," katanya pelan. "Dari awal."

Dunia seperti berhenti berputar.

Menatapnya, tidak percaya. "Kalau kamu tahu... kenapa kamu diam saja?"

Senyumnya melebar. Dingin, seperti es yang membakar.

"Karena ini justru lebih menarik."

Gemetar. "Apa maksudmu?"

Dia berdiri, berjalan perlahan ke arah pintu, lalu berhenti sebentar.

"Keluargamu sudah mempermainkan keluargaku, Aruna. Sekarang giliranku."

Pintu tertutup pelan.

Dan saat itu aku tahu, aku baru saja masuk ke dalam jebakan yang tidak pernah kubayangkan.

Dari luar pintu, terdengar suara perempuan. Lirih, gemetar, tapi sangat familiar.

"Revan... aku kembali."

Berdiri kaku. Jantung berhenti sedetik.

Suara itu...

Suara Kirana.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
61 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status