Share

Bab 32

Author: Ipak Munthe
last update Last Updated: 2025-12-26 08:54:24
“Kak… kamu kenapa sih?” suaranya melemah, lebih bingung daripada marah.

“Aku cinta sama kamu,” papar Aran tenang, seolah itu jawaban paling masuk akal di dunia.

Deg.

Jantung Lala berdegup keras. Bukan karena bahagia—melainkan karena ngeri.

“Cinta?” Lala terkekeh pelan, getir. “Kamu nggak pernah cinta sama aku, kalau cinta kenapa nggak nikahin aku, kenapa menikahi Sarah?”

“Itu tidak perlu dibahas!” potong Aran tegas.

Nada suaranya dingin, seolah topik itu memang tidak pernah layak ada.

Lala menatapnya lama, campuran marah, kecewa, dan takut berkelindan di matanya.

“Justru itu yang paling perlu dibahas,” balas Lala, suaranya berusaha tetap stabil. “Kamu punya istri, Kak. Kamu nggak bisa seenaknya ngomong cinta ke aku seolah aku barang.”

Aran menghela napas pendek, lalu tersenyum tipis—senyum yang tidak mengandung penyesalan.

“Kamu terlalu banyak berpikir,” katanya. “Aku cuma minta kamu tetap di sisiku. Itu saja.”

“Itu saja?” Lala tertawa pendek, getir. “Kamu bukan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 69

    “Bagaimana caranya aku melepaskan orang yang aku cintai?” tanya Aran putus asa. Suaranya pecah, tak lagi menyisakan ketegasan. “Kenapa bukan dari dulu?” balas Lala bingung dan kecewa. “Kenapa baru sekarang kamu mengatakan semua ini—setelah kamu menikah?” Aran menunduk. “Karena aku pikir… kita tidak sepadan.” Kalimat itu menusuk. “Apakah aku terlihat seperti perempuan gila harta?” tanya Lala lirih, matanya berkaca-kaca. “Bukan begitu,” Aran menggeleng cepat. “Aku pikir kamu hanya tertarik padaku. Selebihnya… aku pikir kamu punya seseorang di luar sana. Dan keluargamu—mereka terlalu baik padaku. Aku tidak sanggup menghancurkan kebaikan itu.” “Omong kosong,” sanggah Lala tegas. “Kamu tidak melindungi siapa pun. Kamu hanya takut.” Aran terdiam sejenak, lalu mengangkat wajahnya. “Kamu tahu kenapa sekarang aku memutuskan menerima warisan keluarga ibuku?” tanyanya. Lala diam. Ia bahkan tak pernah tahu soal warisan itu. “Agar kita seimbang,” lanjut Aran, pahit. “Agar aku

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 68

    Sepanjang perjalanan pulang, tangan Hani gemetar di setang motor. Angin malam terasa menusuk, bukan karena dingin, tapi karena perasaan bersalah yang makin menekan dadanya. Ia beberapa kali menoleh ke belakang, seolah berharap melihat Lala menyusul. Namun jalanan tetap kosong. “Ya Allah…” gumamnya lirih. “Aku bener-bener keterlaluan.” Bayangan wajah Lala yang pucat terus terlintas di benaknya. Cara Lala memaksakan senyum, cara ia menenangkan Hani—padahal jelas-jelas Lala sendiri yang sedang butuh perlindungan. Sesampainya di rumah, suasana sudah jauh lebih sepi. Beberapa lampu masih menyala, sisa-sisa pesta belum sepenuhnya dibereskan. “Hani?” suara Bu Nining terdengar dari ruang tengah. “Kok sendiri? Lala mana?” Hani menelan ludah. “La… Lala nganter pasien rujukan ke kota, Bu,” jawabnya pelan, persis seperti yang Aran minta. “Ke kota?” Bu Nining tampak heran. “Jam segini?” “Iya, Bu. Katanya darurat,” Hani menunduk, menghindari tatapan Bu Nining. Bu Nining mengangg

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 67

    Sore itu, pesta akhirnya selesai. Lampu-lampu tenda mulai dipadamkan, tawa dan musik yang sempat riuh kini hanya menyisakan gema samar. Di balik senyum dan sapaan hangat, Lala menyimpan luka yang tak terlihat oleh siapa pun—rahasia dan berat, hanya dirinya yang memikulnya. “Oma, langsung balik ke kota, ya,” ucap Oma, tersenyum hangat namun penuh kelelahan. Lala mengangguk pelan, menahan diri agar air mata tak jatuh. Ia melambaikan tangan, menatap mobil yang perlahan menjauh. Perlahan, suara mesin dan deru jalan menyatu dengan sunyi hatinya. Begitu mobil hilang dari pandangan, Lala menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Meski pesta telah selesai, pertarungan batin dan rahasia yang ia simpan… baru saja dimulai. Setelah itu, Lala pun kembali masuk ke dalam rumah bersama yang lainnya. Langkahnya pelan, wajahnya masih terlihat letih. “Bu… Lala mau langsung tidur, ya. Capek banget,” ucapnya sambil menunduk sedikit, mencoba tersenyum walau terasa berat. “Iya, istira

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 66

    Tok. Tok. Suara ketukan pintu terdengar. Lala tersentak. Ia cepat-cepat menatap bayangannya di cermin, mengusap air mata yang masih membekas di pipi. Ia menarik napas dalam-dalam, menata wajahnya sebaik mungkin. Sesaat kemudian, ia membuka pintu. Namun baru saja terbuka, pintu itu didorong dari luar. Aran masuk dengan cepat, lalu seketika menutup pintu di belakangnya. Lala mematung. Ia sama sekali tak menyangka orang yang mengetuk pintu itu adalah Aran. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Lala lalu menetralkan dirinya, mencoba melangkah untuk keluar. Sayang, Aran sudah berdiri tepat di depan pintu, menghalangi jalan. “Kak, buka,” kata Lala panik. “Aku mau keluar. Kalau ada yang lihat kita di sini gimana?” “Sejak kemarin kamu terus menghindari aku,” desak Aran. “Jawab dulu pertanyaanku.” “Pertanyaan apa? Minggir!” Lala makin gelisah. “Kalau kamu mau menghancurkan hari ini, silakan,” ucap Aran dingin. “Itu terlalu mudah. Ada banyak tamu di l

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 65

    Suasana kamar perlahan kembali tenang. Bu Nining membereskan mangkuk bubur yang sudah dingin, sementara Oma duduk di sisi ranjang, masih menggenggam tangan Lala seolah takut melepasnya. “Kamu istirahat saja dulu. Jangan ikut ke luar,” ujar Oma lembut. Lala mengangguk. “Iya, Oma.” Di ambang pintu, Aran masih berdiri. Tatapannya berat, penuh sesuatu yang tak terucap. Namun Lala memilih memejamkan mata, pura-pura tertidur, menolak pertemuan mata yang bisa meruntuhkan pertahanannya. “Besok pagi kamu nggak usah bangun cepat,” kata Oma lagi. “Biar Oma yang bangunin kalau perlu.” Sarah melirik ke arah ranjang sekilas. Senyum tipis tersungging di bibirnya—bukan khawatir, melainkan canggung yang samar. “Oh… kalau cuma maag, istirahat saja,” katanya ringan, lalu berbalik pergi. Pintu kamar tertutup. Hanya tersisa Hani dan Lala. Begitu benar-benar sepi, Hani mendekat dan berbisik, “Kamu hampir ketahuan tadi.” Lala membuka mata perlahan. Ada air yang menggenang, tapi tak jatuh

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 64

    Lala dan Hani tiba di rumah hampir bersamaan dengan matahari yang mulai condong ke barat. Begitu melewati pagar, pandangan Lala langsung tertuju ke halaman. Tenda putih sudah terpasang penuh, kain dekorasi bergelombang tertiup angin sore, bunga-bunga segar berjajar rapi. Kursi tamu tersusun, panggung kecil berdiri anggun di bagian depan. Resepsi Aran dan Sarah. Besok pagi. Langkah Lala mendadak terhenti sejenak, tapi seakan tak ingin larut dalam luka yang semakin dalam ia pun kembali melanjutkan langkah kakinya. Begitu pintu dibuka, Lala langsung berhenti melangkah. Tubuhnya terasa limbung. Ia memegang kusen pintu, napasnya tertahan. Wajahnya pucat, keringat dingin muncul di pelipis. “Lala?” Hani refleks menahan lengannya. “Kamu kenapa?” “Gapapa…” jawab Lala pelan, meski suaranya sama sekali tidak meyakinkan. Hani menuntunnya masuk dan mendudukkannya di kursi terdekat. Lala menunduk, kedua tangannya gemetar halus. “Kamu baik-baik aja?” kata Hani, jelas cemas.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status