INICIAR SESIÓNSakit.Arinka dapat merasakan ngilu pada seluruh tubuhnya. Sebab Dean memang melakukan semua yang sudah dia katakan sebelumnya. Tentang dia yang tidak akan membiarkan Arinka berjalan. Terbukti dengan tubuh Arinka yang bahkan kini terass ngilu di seluruh tubuh akibat aktivitas seksnya bersama Dean. Membuatnya kini hanya bisa berbaring lemas di atas ranjang dengan selimut yang membungkus tubuhnya."Lain kali jangan coba-coba berbohong padaku. Masih untung aku bisa mengendalikan diri, kalau tidak kau mungkin sama sekali tidak bisa bergerak," ucap Dean yang saat ini sudah terduduk di tepi ranjang. Hanya mengenakan celananya pendeknya.Lantas Arinka berusaha mengubah posisinya hingga berbaring menyamping sembari menahan rasa ngilu di bagian pusatnya. Dia menatap Dean dengan sorot matanya yang sayu."Kau marah sekali, ya?" tanya Arinka lirih.Dean sama sekali tak menoleh pada wanita itu. Dia justru malah bangkit dari posisi duduknya. "Kau pikir saja. Aku tidak suka kau berbohong," ucapnya k
"Aku buka ya pakaiannya?" Arinka menggelengkan kepalanya setelah mendengar pertanyaan tersebut dari Dean. Sebuah penolakan yang dia tunjukan dengan jelas, dengan tangan yang mulai menahan tangan Dean agar tidak melepas pakaiannya seperti apa yang pria itu katakan. "Kenapa, Love? Hm? Memangnya kau tidak merindukan aku?" tanya Dean sekali lagi. Berusaha membujuk Arinka yang masih menahan tangannya. Arinka mengatur nafasnya yang sempat terengah akibat ciuman yang mereka lakukan beberapa saat yang lalu. Kepalanya dekali lagi menggeleng dengan perlahan. "Jangan di sini, mereka bisa melihat kita." "Terus? Apa yang jadi masalah? Memangnya kenapa kalau mereka melihat kita, hm?" tanya Dean tanpa beban sama sekali. Hal yang membuat Arinka menatap pria itu dengan lekat, dengan kedua tangan yang sudah dia ulurkan untuk menyentuh pipi sang kakak, mengusapnya pelan. "Memangnya kau mau kalau mereka melihat tubuh kita berdua?" tanya Arinka sekali lagi. Namun, Dean malah tersenyum miring dibuat
"Jika kau memang benar-benar berada di posisi Dean, apa kau akan tetap mengusir wanita jalang yang menjadi parasit ini, Tuan Lucas?" "Kenapa hanya diam? Tidak bisa menjawab? Mulai menyesali ucapanmu sebelumnya, Lucas?" tanya Arinka sekali lagi setelah melihat keterdiaman Lucas di sana. Wanita itu tersenyum, penuh kemenangan. Dia benar-benar puas melihat respon Lucas yang seperti itu. Setidaknya, dia bisa melihat Lucas yang tak lagi membantah dan menyombongkan diri seakan dia ada di atas segalanya hingga bisa merendahkan Arinka seperti sebelumnya. "A–apa maksudmu tent—" "Bicara lagi nanti. Sudah terlanjur malas membahas soal ini denganmu," potong Arinka cepat sebelum Lucas menyelesaikan ucapannya. Arinka berniat melangkahkan kakinya di sana. Namun, baru saja melewati pria itu, tangannya sudah kembali ditarik. Dengan pergerakak cepat, Lucas menarik Arinka dan menyudutkan tubuh wanita itu pada meja makan. Tak peduli dengan kursi yang tersenggol hingga akhirnya terguling denga
Rasa takut.Sepertinya Arinka mulai merasakan jika rasa takut itu semakin nyata. Rasa takut yang membuat hatinya terasa tak nyaman dan juga tidak tenang. Rasa takut yang selalu membuatnya was was. Apalagi, jika dia memikirkan bagaimana keadaan sang ibu yang sekarang sudah jauh darinya. Sang ibu yang masih menyandang status sebagai istri dari seorang Arthur, si brengsek yang hampir melecehkannya.Tidak hanya itu saja, Arinka juga menakuti hal lainnya. Tentang dirinya yang sekarang mulai terlibat dengan dunianya Dean. Dunia sang kakak tiri yang terlihat semakin gelap dan benar-benar menakutkan. Sampai Arinka harus dikurung di mansion besar itu bersama orang-orang yang ada di sana. Dengan Arinka yang belakangan ini terus diajarkan bagaimana caranya menembak dan membela diri jika saja seseorang akan menyakitinya suatu saat nanti."Ayo, Nona Arinka. Sudah waktunya berlatih lagi."Seorang pria baru saja menghampiri Arinka yang sedang terduduk di kursi dapur. Dia baru saja menyelesaikan sara
"Kau kira aku akan begitu saja percaya pada apa yang kau ucapkan?"Dean mendecih. Dia juga tersenyum menatap Lucas, sebuah senyum yang meremehkan. Apalagi, saat dia melihat Lucas yang juga masih terduduk dengan bagian lengan yang sudah terluka. Karena kenyataannya, lengannya itu terkena tembakan Dean. Sampai dia begitu saja terduduk dengan pistol yang terjatuh begitu saja.Ya, Dean tidak mengenai titik vital Lucas. Dia hanya menembak lengan pria itu demi menyingkirkan ancaman yang Lucas berikan sebelumnya.Tidak mungkin juga Dean membunuh Lucas begitu saja."Kau bisa memeriksa data perusahaan ayahmu. Kau mungkin akan menemukan petunjuk yang mengarah ke sana," ucap Lucas kemudian.Kali ini dia terlihat semakin serius dari sebelumnya. Meski rasa nyeri sedang dia rasakan pada lengannya.Bagaimanapun, luka tembak itu memang menyakitkan. Apalagi saat darah itu terus menetes dari lukanya. Membuat Lucas semakin lama juga bisa merasa lemas karena kehilangan cukup banyak darah."Kita ke rumah
"Ayahmu melecehkanku!"Hening.Ruangan yang sempat memanas akibat pergumulan Arinka dan Dean itu menjadi hening tatkala suara Arinka terdengar di sana. Sebuah pernyataan yang sempat tercekat di leher sang wanita. Sebuah pernyataan yang selama ini dia sembunyikan dari pria itu, pria yang merupakan anak dari pria yang melecehkannya. Anak dari pria yang menyebutkan dirinya sebagai 'Ayah tiri' tapi bersikap layaknya bajingan."Tuan Arthur, ayahmu itu melecehkanku. Itu alasanku ingin pergi dari rumah dan ikut bersamamu. Hari itu, dia benar-benar membuatku takut. Dia menyentuhku dengan—""Brengsek!"Teriakan Dean terdengar.Dia hendak melangkahkan kakinya keluar setelah berpamitan pada Arinka beberapa saat yang lalu untuk menemui Lucas di seberang sana. Namun, siapa sangka jika begitu dia membuka pintu, suara Arinka menahan langkahnya. Suara yang membuat darahnya mendidih dengan pernyataannya."Kenapa kau tidak bilang padaku, hah?!" Tegas Dean yang pada akhirnya telah menoleh ke arah Arinka
"oh, shit! Kepalaku!" Arinka memegang kepalanya, ketika dia merasakan pening yang luar biasa begitu dia terbangun dari tidurnya. Kali ini dia sudah benar-benar terbangun dan mendapatkan kembali kesadarannya meski harus dibarengi dengan rasa pening dan juga sedikit rasa tak nyaman pada perutnya. Ya
"Huh? Aku mau dibawa kemana?" Arinka bertanya saat Nyonya Wylon tiba-tiba saja menuntutnya untuk bangun dan berjalan menjauhi keramaian di dalam club tersebut. Masih dengan ketidaksadarannya, Arinka berjalan sempoyongan dalam tuntunan Nyonya Wylon. Ditambah dengan Arinka yang terus meracau dan ber
"Fuck! Sialan!" Teriakan itu menggelegar bersamaan dengan satu gelas yang sudah terlempar hingga pecah dan berserakan. Tak dapat dipungkiri, jika hal itu juga membuat wanita yang tengah terduduk di tepi ranjang menunduk dan meremat pakaian yang dia kenakan dengan cukup erat. Jelas dia merasa taku
"Love, aku harus pergi dulu. Kau diam di sini dan jangan kemana-mana. Hubungi aku kalau ada apa-apa, biar aku suruh salah satu orangku untuk datang ke sini dan menjagamu. Oke?"Satu kecupan didaratkan oleh Dean tepat pada kening Arinka setelah pria itu berkata demikian pada wanita yang masih bernar







