Masuk🔥Wanita yang memuaskan aku selama ini, adalah adikku sendiri?🔥 Dean terkejut saat mengetahui fakta jika wanita yang selalu dia sewa untuk memuaskan hasratnya adalah adik tirinya sendiri. Arinka Marissa. Membuat Dean berniat untuk berhenti menyewa Arinka dan membiarkan Arinka tidak pernah mengetahui identitasnya yang sebenarnya. Namun, pada akhirnya Dean kehilangan kendali sampai memaksa Arinka memuaskannya di dalam rumah yang mereka tinggali. Sampai Arinka tahu siapa Dean sebenarnya. Seorang Tuan muda yang merupakan pelanggan setia, sekaligus Mafia pemilik Klub tempatnya bekerja. Dan Arinka tahu, Dean sangat berbahaya. Kakak tirinya itu, tidak akan melepaskannya dan akan selalu menuntut Arinka memuaskannya di atas ranjang. "Arinka, tubuhmu sudah jadi candu untukku. Buka lebar pahamu, atau kau akan merasakan timah panas ini menembus jantungmu."
Lihat lebih banyak"Wanita itu sudah datang? Wanita yang biasa memuaskan aku?"
Pertanyaan itu diberikan Dean pada seorang wanita berusia awal 40'an yang berdiri di depannya. Itu Nyonya Wylon. Seorang mucikari di dalam klub tersebut. Nyonya Wylon tersenyum pada Dean. Tuan muda nya. Pria yang paling dia hormati, dan tidak pernah dia bantah perintah atau permintaannya. "Tentu saja, Tuan. Seperti biasa, dia sudah menunggu di kamarmu. Dan seperti malam-malam sebelumnya, dia akan memberikan kepuasan untukmu. Dia pasti akan—" Nyonya Wylon tidak dapat menyelesaikan kalimatnya. Sebab pria yang dia ajak bicara tersebut sudah lebih dulu melewatinya begitu saja. Mengabaikan apa yang dia bicarakan. Kalau saja pria lain yang melakukannya, mungkin Nyonya Wylon akan menyuruh penjaga di sana menyeretnya, menghantam kepalanya dan membuatnya tidak lagi mengabaikan seorang Nyonya Wylon. Tapi, sayangnya ini adalah Dean Kyle Giskara. Pria yang tidak dapat di lawan begitu saja. "Kalian berjaga di luar saja. Malam ini jangan ganggu aku. Aku ingin bersenang-senang tanpa gangguan apapun," ucap Dean yang sudah bicara pada dua pria bertubuh kekar yang berdiri di dekat pintu kamar. "Baik, Tuan!" jawab keduanya serentak. Sehingga Dean pada akhirnya membuka pintu kamar tersebut. Kamar yang menjadi tujuannya sejak menginjakkan kaki di dalam klub tersebut Seperti malam-malam sebelumnya, lampu di dalam kamar tersebut cukup remang, nyaris gelap sepenuhnya. Dan di dalam sana, ada seorang wanita berbaring yang membelakangi Dean. Wanita muda dengan lingerie merah, serta topeng yang dia pakai. Tentu saja, itu semua permintaan Dean. Dia tidak ingin wanita yang tidur dengannya itu melihat wajahnya, begitu pula sebaliknya. Sehingga mereka tidak mengetahui satu sama lain, meski sudah beberapa kali bercinta. "Jangan berbalik," ucap Dean cepat saat melihat wanita itu bergerak dan hendak berbalik saat menyadari kehadirannya. Bagaikan budak yang menurut pada tuan nya, wanita itu tetap di tempatnya. Tidak berbalik seperti yang diperintahkan Dean. Hingga akhirnya, Dean berjalan. Mendekat dan berbaring di belakang wanita itu. Tangannya terulur, memeluk pinggang wanita itu dengan bibir yang sudah mengecupi punggung yang terekspos di depannya. Satu Dua Tiga Dean mematikan lampu di kamar tersebut sepenuhnya. Di mana itu menandakan, dia akan memulainya. Bercinta untuk memuaskan gairah panasnya. Gelapnya kondisi ruangan tidak menjadi hambatan untuk Dean menyetubuhi wanita ini. Sebab dia sudah terbiasa melakukannya. Bercinta dalam kegelapan. Segelap gairah yang dia rasakan. Apa yang dilakukan keduanya membuat mereka benar-benar terasa terbang tinggi. Melayang bersama dengan ribuan kupu-kupu uang menari mengitari mereka. Ini terlalu nikmat. Terlalu indah. Dean tidak peduli siapa yang saat ini tengah dia nikmati. Tidak peduli bagaimana wajah wanita dia gauli ini. Selama wanita ini memberikan kenikmatan untuknya, maka dia akan tetap melakukannya. Saling memuaskan. "Tetap di sini. Aku akan tidur di sini malam ini, dan kau tidak boleh pergi kemana pun," ucap Dean dengan nafas yang terengah setelah puncak kenikmatan itu berakhir. Bukan tanpa alasan, karena wanita yang sekarang tidur berdampingan dengannya ini hendak bangkit dari ranjang. Tidak ada jawaban suara, hanya anggukan yang di berikan oleh wanita itu sebelum akhirnya kembali berbaring dengan mata yang dia pejamkan. Menikmati sisa pelepasannya. Keduanya tak mengatakan apapun lagi. Dengan mata yang sama-sama terpejam, keduanya terlalu sibuk menikmati sisa pelepasan mereka masing-masing. Sebelum akhirnya Dean kembali membuka matanya dan menoleh ke sampingnya. Meski yang dia dapati tidak jauh berbeda dengan saat dia memejamkan mata. Gelap. "Kalau dipikirkan lagi, aku benar-benar tidak pernah melihat wajahmu," ucap Dean yang masih menatap kegelapan di sampingnya. Diam. Wanita itu tidak menjawab. "Tidak bisakah kau berbicara? Kau bahkan mendesah kencang tadi, tapi kenapa langsung membisu saat aku mengajakmu berbicara?" ujar Dean dengan decihan yang dia tunjukan. Tapi, sekali lagi wanita itu hanya diam dan tidak menjawab apapun. Membuat Dean memutar bola matanya malas. Bagaimanapun, dia juga tahu kalau ini bagian dari pekerjaan wanita itu. Permintaan Nyonya Wylon agar tidak berbicara apapun saat bersama Dean, atau pelanggan lainnya. "Aku akan membayarmu lima kali lipat dari biasanya, kalau kau membiarkan aku melihat wajahmu. Iya, aku memang tidak peduli dengan wajah wanita yang aku tiduri, hanya saja aku penasaran denganmu. Karena kau satu-satunya yang aku tiduri selama satu bulan terakhir ini," ujar Dean memberikan penawaran. Ya, Dean hanya penasaran. Setidaknya, dia ingin membayangkan wajah wanita ini saat bercinta dengannya lagi nanti. "Aku akan menyalakan lampunya. Buka topengmu dan biarkan aku melihat wajahmu," ujar Dean sekali lagi. "Ah, dan pejamkan matamu. Aku membayar lima kali lipat untuk melihat wajahmu, tapi kau tidak diperbolehkan melihat wajahku," tambahnya. Keterdiaman wanita itu membuat Dean menganggap jika dia setuju. Sehingga akhirnya Dean duduk di atas ranjang demi meraih remote yang berada di laci nakas tepat di sampingnya. Ya, itu adalah remote untuk lampu di dalam ruangan tersebut. Sampai pada hitungan ketiga, Dean menekan tombol power pada remote tersebut. Dan lampu menyala! "Hei! Kenapa topengnya belum dibuka?!" Tegas Dean dengan kekesalannya. Pasalnya, wanita itu masih berbaring dengan topeng yang masih terpasang di wajahnya. Namun, begitu Dean mencoba meraih topeng tersebut, dia tidak mendapati pergerakan apapun. Wanita itu, tertidur. Dean mendecih. "Sialan. Pantas saja kau diam. Baiklah, jangan salahkan aku. Kau sendiri yang memberikan kesempatan ini untukku," ucapnya dengan senyuman miring yang ditunjukan. Perlahan, Dean menyentuh topeng tersebut. Dia juga melepasnya, perlahan. Sampai saat topeng itu terlepas sepenuhnya, Dean malah terdiam. Dean mematung. Matanya nyaris membulat dengan mulut yang terbuka saat menatap wajah wanita itu. Nyatanya, sebuah keputusan yang salah telah dia lakukan. Sebab, "Wanita yang memuaskan aku selama ini, adalah adikku sendiri?"Gila!Hanya kata itu yang terus terngiang di kepala Arinka sekarang.Keadaannya benar-benar gila! Bagaimana mungkin Dean yang merupakan kakak tirinya itu selama ini merupakan pelanggannya? Pria yang selalu dia puaskan di atas ranjang?! Benar-benar gila!"Tapi, tunggu ... Pelangganku? Itu berarti, kau?!"Arinka menutup mulutnya yang terbuka lebar. Kakinya melangkah mundur ke belakang, menatap Dean dengan kedua mata yang sudah membulat sempurna.Sementara di depannya, dengan tanpa rasa bersalah dia malah tersenyum dan menikmati keterkejutan Arinka di sana. Merasa puas melihat respon yang diberikan oleh adik tirinya tersebut."I'am," ujar Dean dengan senyuman miring yang telah dia tunjukan selanjutnya. "Dean Kyle Giskara, alias Tuan D. Pelanggan setiamu, sekaligus pemimpin dari Paradise.Yap. Paradise.Sebuah perkumpulan mafia yang sedikitnya diketahui Arinka sebagai kumpulan mafia yang paling berkuasa dalam banyak bidang.Satu lagi, anggora Paradise dikenal sebagai sekumpulan orang-oran
Melihat kejantanan Dean yang berada di depannya membuat Arinka mematung.Dia diam, terkejut. Benar-benar tidak menyangka kalau Dean akan senekat itu melepas celananya di depan Arinka. Tidak menyangka kalau kakak tirinya itu benar-benar serius memintanya menghisap kejantanannya tersebut.Tapi, di sisi lain Arinka juga merasa terdesak dengan ancaman yang diberikan oleh Dean. Dia takut, dia takut jika pada akhirnya Dean benar-benar akan membongkar rahasianya. Arinka takut kalau apa yang disembunyikannya selama ini diberitahukan pada Ibunya."Apa kau mau terus berdiam diri seperti itu? Menonton kejantananku yang sudah menegang dan meminta dipuaskan ini?" tanya Dean saat dia hanya melihat Arinka terdiam di tempatnya.Arinka ingin berlari, kabur dari situasi yang seperti ini.Tapi, bukannya berjalan menuju pintu untuk melarikan diri dari tempat pria brengsek di depannya, Arinka justru malah melangkahkan kakinya mendekat pada Dean. Perlahan. Membuat senyuman di bibir Dean terlukis karenanya.
"Ahh, Dean hentikan ..."Arinka melenguh. Dia mencoba melepaskan diri dari pria yang sedang memberikan beberapa jilatan dan hisapan pelan pada lehernya tersebut.Tapi sayangnya, yang terjadi adalah Arinka yang tidak bisa meloloskan diri sama sekali. Kedua tangannya dicengkeram oleh Dean dan diposisikan di atas kepalanya sendiri. Membuat Arinka hanya bisa melenguh saat bibir Dean semakin turun, mengecupi belahan dadanya yang menyembul di balik gaun."Dean, please. Hentikan!" Seru Arinka saat Dean menyematkan tanda kemerahan pada dadanya.Ya, Dean menghisapnya cukup kuat sampai meninggalkan tanda tersebut.Namun, kali ini Dean berhenti dan kembali menatap Arinka.Matanya sayu, nafasnya terengah, dan ada sedikit keringat yang muncul di dahinya. Menunjukan jelas jika Dean sedang menginginkan sesuatu."Apa yang sebenarnya kau lakukan? Kenapa kau seperti ini?! Lepaskan aku!" Tegas Arinka yang sudah kembali memberontak.Arinka berusaha kerasa untuk lepas dari Dean, tapi sayangnya tetap saja
Dean duduk dengan kedua kaki yang sudah berada di atas mejanya. Satu tangannya memegang sebatang rokok yang sedang dia nikmati, sementara satu tangan lainnya memegang ponsel yang sudah dia genggam erat. Kekalutan juga nampak dari wajahnya.Dan satu-satunya alasan yang membuatnya harus seperti ini adalah apa yang terjadi semalam. Tentang fakta yang baru saja dia dapati. Jika wanita yang menjadi wanita sewa dan selalu memuaskannya adalah adiknya sendiri.Adik tiri lebih tepatnya. Arinka."Sial! Brengsek!" Kesal Dean saat pikiran itu terus mengganggu kepalanya.Dia bahkan melempar ponselnya ke atas meja dan menjatuhkan rokoknya ke lantai sebelum dia menginjaknya.Bahkan, rokok yang selalu bisa menemani kekalutannya saja kalah oleh kekalutan yang dia rasakan saat ini soal adik tirinya tersebut. Sebab, ini terlalu membuatnya pening."Kau, hubungi Nyonya Wylon dan buat dia mengatakan siapa wanita itu. Kalau bisa, dapatkan datanya. Aku ingin memastikannya lebih dulu," ucap Dean pada seorang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.