Share

Bab 183

Author: Joker Sarjana
last update publish date: 2026-02-28 20:20:48

Radit tiba di rumah dengan pikiran yang kacau setelah pertemuan dengan Rara. Tangannya masih gemetar saat membuka pintu.

Dinda duduk di ruang tamu, menatap televisi yang menyala tapi tidak ditonton. Saat mendengar Radit masuk, dia tidak menoleh.

"Kamu telat," katanya dengan nada datar.

"Maaf. Ada... ada urusan di yayasan."

Radit masuk ke kamar tamu, menutup pintu, lalu langsung membuka ponselnya dengan tangan yang gemetar.

Dia harus block Alya. Sekarang.

Tapi sebelum jarinya menyentuh tombol bl
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Godaan Mama Muda   Bab 269

    Radit memarkir mobil di pinggir taman kecil dekat sekolah Kara. Jam menunjukkan setengah empat sore, waktu jemput biasa. Tapi hari ini ia datang lebih awal, duduk di bangku kayu sambil pura-pura baca berita di ponsel. Angin sore membawa bau tanah basah setelah hujan siang tadi.Ia melihat Kara dari kejauhan, tas ranselnya bergoyang-goyang saat berlari kecil ke arah ayunan. Tapi bukan Maya yang menunggu di sana.Mira sudah duduk di bangku sebelah ayunan, memegang dua es krim cone. Satu ia serahkan ke Kara begitu anak itu mendekat. Kara menerimanya dengan senyum lebar, lalu duduk di samping Mira sambil bercerita sesuatu tentang gurunya yang lucu.Radit bangkit pelan, tangannya terkepal di saku. Ia mendekat tanpa suara dulu, cukup dekat untuk mendengar."...terus Papa bilang itu cuma mimpi," kata Kara sambil menjilat es krim cokelatnya. "Tapi aku suka cerita Arka. Dia pasti suka main bola sama aku."Mira tertawa pelan, suaranya hangat. "Pasti. Adik laki-laki biasanya suka gitu. Kamu mau

  • Godaan Mama Muda   Bab 268

    Radit duduk di tepi tempat tidur Kara, memandangi kertas yang sudah ia remas tadi malam. Tulisan tangan itu rapi sekali, huruf-hurufnya miring elegan, seolah ditulis dengan tenang. "Arka menunggu kakaknya pulang. Jangan biarkan Papa menyembunyikan kami lagi. -Mira."Ia mendengar suara Maya di dapur, sedang menyiapkan bekal sekolah Kara. Biasanya suara itu menenangkan, tapi pagi ini terasa seperti pengingat bahwa rumah ini sedang retak pelan-pelan."Papa, kenapa diam aja?" Kara muncul dari balik selimut, rambutnya acak-acakan. Ia meraih tangan Radit. "Kamu lagi sakit lagi ya? Kayak waktu di rumah sakit dulu."Radit memaksakan senyum dan menyimpan kertas itu ke saku celananya. "Enggak, Sayang. Papa cuma mikir kerjaan. Kamu sudah mandi belum? Nanti telat."Kara mengangguk, tapi matanya masih penasaran. "Mira bilang Arka itu adik aku yang hilang. Katanya Papa tahu kok. Beneran ada ya?"Pertanyaan polos itu seperti jarum kecil yang menusuk. Radit mengusap kepala putrinya. "Itu cuma cerita

  • Godaan Mama Muda   Bab 267

    Radit sedang menuang kopi, tiba-tiba bel pintu berbunyi. Suaranya pendek, dua kali, seperti orang yang sudah hafal rumah ini. Jam baru menunjukkan pukul delapan pagi. Terlalu pagi untuk tamu biasa.Maya mengangkat alis dari balik meja makan, sendoknya berhenti di udara. "Kamu pesan apa?""Enggak." Radit meletakkan teko kopi, tangannya agak licin. "Mungkin kurir."Tapi ketika ia membuka pintu, yang berdiri di depan bukan kurir.Alya tersenyum tipis, rambutnya terikat rapi, membawa kotak kue pastel yang kelihatan mahal. Di sampingnya, seorang perempuan lebih muda, mungkin awal dua puluhan, berdiri dengan sikap santai, tangan di saku jaket denimnya. Rambut hitam panjangnya sedikit berantakan karena angin pagi, tapi matanya tajam, seolah sudah menilai seluruh ruangan sebelum masuk."Pagi," kata Alya ringan. "Maaf datang mendadak. Aku bawa sarapan. Ini Mira, temanku. Dia baru pindah ke sini dan aku pikir... ya, kenalan dulu lah."Mira mengangguk kecil, senyumnya sopan tapi tidak berlebihan

  • Godaan Mama Muda   Bab 266

    Pagi itu dapur dipenuhi aroma roti panggang dan kopi yang baru diseduh. Radit berdiri di depan kompor, membalik telur dengan gerakan yang terlalu lambat, seolah takut api kecil itu bisa membakar sesuatu yang lebih besar.Maya menuang susu untuk Kara, senyumnya tetap tenang meski matanya sesekali melirik ke arah meja makan.Kara duduk di kursi tinggi, kakinya bergoyang-goyang. Di depannya tergeletak amplop kecil yang sama seperti kemarin, tapi kali ini stikernya bergambar dinosaurus biru. Mira duduk di sebelahnya, rambut panjangnya diikat sederhana, tangannya memegang gelas air dengan tenang.“Papa, ini surat baru dari Arka,” kata Kara sambil mendorong amplop itu ke depan Radit. Suaranya ceria, seolah sedang membagikan hadiah. “Kak Mira bilang Arka sudah mulai bergerak. Dia bilang dia mau lahir sebentar lagi.”Radit mengambil amplop itu dengan tangan yang terasa berat. Ia membukanya di depan semua orang, tidak lagi menyembunyikan. Di dalamnya ada selembar kertas kecil, tulisan tangan K

  • Godaan Mama Muda   Bab 265

    Pagi itu, Radit menuang kopi untuk dirinya sendiri, gerakannya lambat, seolah takut suara sendok yang menyentuh cangkir bisa membangunkan sesuatu yang lebih besar.Di meja makan, Kara sedang menggambar dengan krayon merah lagi. Mira duduk di sebelahnya, dagunya bertumpu di tangan, tersenyum melihat adik kecilnya bekerja. Maya berdiri di depan kompor, membalik telur, tapi matanya sesekali melirik ke arah meja.Kara mengangkat gambarnya tinggi-tinggi dengan bangga.“Papa, lihat! Ini surat dari Arka!”Radit hampir menumpahkan kopinya. Ia mendekat dan mengambil kertas itu. Di atas gambar bayi kecil yang tersenyum, ada tulisan tangan Kara yang masih agak miring, tapi jelas.“Untuk Papa, Aku sudah hampir lahir. Aku mau lihat rumah kita. Aku mau main dinosaurus sama Kak Kara. Jangan takut lagi ya, Papa. Aku sayang Papa. -Arka”Radit menatap tulisan itu lama. Huruf-hurufnya polos, tapi kata-katanya terlalu dewasa untuk Kara yang baru tujuh tahun.Maya mendekat, membaca dari atas bahu Radit. S

  • Godaan Mama Muda   Bab 264

    Radit berdiri di dapur, menuang kopi untuk dirinya sendiri. Bau kopi hitam yang pekat sedikit menenangkan sarafnya yang tegang. Di meja makan, Kara dan Mira sudah duduk bersama, kepala mereka hampir bersentuhan sambil melihat buku gambar.Kara menunjuk salah satu halaman dengan jari kecilnya. “Kak Mira, ini Arka yang kamu gambar. Lucu ya? Rambutnya keriting seperti Papa.”Mira tersenyum lembut, tangannya mengusap rambut Kara. “Iya. Arka mirip Papa. Matanya juga. Dia bilang dia sudah tidak sabar ingin lahir supaya bisa main dinosaurus sama kita.”Radit meletakkan cangkir kopi di meja dengan pelan. Suaranya tetap tenang meski dadanya bergolak.“Mira, kita perlu bicara. Arka bukan nama yang kami pilih. Dia hanya ada dalam mimpi burukku. Bagaimana kamu bisa tahu nama itu?”Mira mengangkat wajahnya. Matanya jernih, tidak ada rasa bersalah di dalamnya.“Aku juga mimpi tentang Arka sejak kecil. Dalam mimpi itu, dia lahir setelah Papa dan Mama saling memaafkan. Dia bayi yang ceria, suka terta

  • Godaan Mama Muda   Bab 34

    Aku berdiri kaku di ruang tamu, tidak berani bergerak sedikit pun.Di hadapanku, Mama Jessica menatapku tanpa berkedip, seolah menunggu satu kata dariku untuk menentukan segalanya. Air mata masih menggenang di pelupuk matanya, membuat dadaku terasa semakin sesak."Ma, aku bisa jelasin..." ucapku pe

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Godaan Mama Muda   Bab 30

    Sebuah mobil sedan putih berhenti di sampingku. Jendela turun, dan wajah Bu Siska muncul dari balik kemudi."Radit? Kenapa masih di sini?" tanyanya."Bu Siska? Bukannya Ibu sudah pulang tadi?""Aku balik lagi. Ketinggalan dompet di ruangan." Ia menatap motorku. "Motormu kenapa?""Mogok, Bu. Gak mau

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Godaan Mama Muda   Bab 31

    Cahaya matahari pagi menembus kaca depan mobil, jatuh tepat ke wajahku. Hangatnya membuatku terbangun perlahan.Aku mengerjap beberapa kali, kepalaku terasa berat, sementara leherku pegal karena semalaman tertahan dalam posisi duduk."Hah... pagi?" gumamku lirih, masih setengah sadar.Pandangan mat

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Godaan Mama Muda   Bab 26

    "Impoten?" gumamku pelan. Suaraku nyaris tak terdengar, tapi ternyata tetap sampai ke telinganya. "Iya, Dit," jawab Mama Jessica lirih. Aku menatapnya, dahi mengernyit. "Mama tau dari mana?" tanyaku hati-hati. "Papa yang bilang, atau gimana?" Mama Jessica menggeleng pelan. "Papa nggak pernah b

    last updateLast Updated : 2026-03-18
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status