LOGINMaya berdiri di tengah kamar seperti patung es yang retak. Air mata mengalir deras di pipinya, tapi matanya membara amarah yang lebih panas dari api. Ponsel masih di tangannya, suara Bima yang dingin dan penuh kemenangan masih bergema di telinganya. Radit berlutut di depannya, tangannya terulur ingin menyentuh, tapi Maya mundur selangkah seolah sentuhan itu bisa membakarnya.
“Kau… tidur dengan dia lagi?” suara Maya pecah, tapi tajam seperti pisau. “Setelah semua yang kita lalui? SeteRadit membeku di tempat tidur. Ponsel di tangannya terasa panas seperti bara. Suara Alya di seberang garis masih bergema, lemah, tapi penuh tekad yang dingin."Aku hamil, Radit. Malam di hotel… atau mungkin malam di vila Sentosa saat kita bertiga. Tes DNA akan buktikan. Kali ini bukan bohong. Organisasi masih punya sisa anggota yang ingin Kara. Kalau kau ingin aku bantu hentikan mereka selamanya… datang ke Bali sendirian.”Maya bergeser dalam pelukannya, napas hangatnya menyentuh dada Radit yang telanjang. Tadi malam mereka mencoba intim lagi, pelan, penuh keraguan, tanpa rahasia. Radit memasuki kewanitaannya Maya dengan gerakan hati-hati, menghunjam lembut sambil berbisik “Aku mencintaimu” berulang kali. Maya mendesah di lehernya, bukit kembarnya menekan dada Radit, mahkotanya yang basah menggigit kejantanannya dengan ketat yang penuh emosi.Mereka mencapai puncak bersama, pelan dan getir, bukan ledakan gairah liar seperti dulu. Setelah itu, mer
Radit dan Maya menerobos gudang lama di Jurong Industrial Estate dengan napas tersengal. Bau karat dan darah bercampur di udara lembab. Alya tergeletak di lantai beton dingin, gaun putihnya robek dan bernoda merah gelap di lengan.Tusukan pisau kecil menggores dalam, bukan mematikan, tapi cukup untuk membuatnya lemah dan pucat. Matanya setengah terbuka, napasnya pendek.“Kara…” desis Alya saat melihat mereka. “Mereka ambil… mobil hitam… aku coba halangi… tapi pria itu… bilang Kara milik mereka.”Maya berlutut di samping Alya, tangannya menekan luka untuk menghentikan darah. “Siapa mereka? Kenapa Kara?!”Alya tersenyum lemah, darah menetes dari sudut bibirnya. “USB… di tanganku. Buka… rahasianya ada di sana. Ayah kandung Kara… bukan Bima. DNA tes lama yang Bima sembunyikan. Salah satu mitra kartel… pria bernama Victor Lang, bos organisasi ini. Mereka ingin Kara karena darahnya… untuk kendali masa depan. Warisan, suap, atau alat bargaining.”
Ruangan rawat inap rumah sakit Singapura terasa sesak meski AC dingin menyala. Radit terbaring dengan bahu diperban tebal, wajahnya pucat karena kehilangan darah. Maya duduk di sisi ranjang, tangannya menggenggam jari Radit rapuh seperti kaca yang siap pecah.Kara berdiri di depan mereka, tubuh kecilnya masih memakai baju tidur bergambar dinosaurus yang sudah kusut. Ponsel kecil di tangannya menyala samar bukti rekaman diam-diam yang ia ambil malam itu di gudang.“Mama… Papa…” suara Kara kecil tapi tajam, seperti pisau yang menusuk tepat di hati. “Kenapa Tante Alya bilang dia pernah tidur dengan Papa… dan juga dengan Mama? Apa itu artinya aku punya dua mama sekarang? Atau… Papa dan Mama bohong lagi?”Hening. Hanya suara monitor jantung Radit yang berdetak pelan. Maya merasa dunia berputar. Air mata yang sudah kering tiba-tiba menggenang lagi. Radit mencoba bangkit, tapi rasa perih di bahu membuatnya meringis.“Kara… sayang… itu rumit. Papa dan Mam
Di Singapura, Radit seperti orang gila. Ia membongkar seluruh apartemen, mencari petunjuk. Catatan kecil di kamar Kara itu bukan tulisan anak tujuh tahun. Hurufnya terlalu rapi, tinta hitam mengkilap.“Papa, aku takut. Ada tante yang bilang Mama lagi sama Papa baru.” Tante? Alya?Ponsel Radit berdering. Nomor tak dikenal. Ia angkat dengan tangan gemetar.Suara Alya, manja tapi tajam seperti pisau: “Kara aman… untuk sekarang. Bima hanya ingin main-main. Tapi aku yang pegang kendali sebenarnya. Organisasi ingin server yayasanmu dibuka penuh malam ini. Kalau tidak, video kau menghunjamku di hotel akan jadi headline besok. Dan Kara… akan bermain lebih lama dengan Bima.”Radit menggeram. “Kalau kau sentuh Kara, aku bunuh kau, Alya.”Alya tertawa lembut. “Masih galak ya? Dulu kau suka saat aku galak di atas kejantananmu. Ingat? Aku naik turun liar sampai kau menyembur banjir di dalam rahimku. Sekarang, datang ke gudang lama di Jurong Industrial
Maya berdiri di tengah kamar seperti patung es yang retak. Air mata mengalir deras di pipinya, tapi matanya membara amarah yang lebih panas dari api. Ponsel masih di tangannya, suara Bima yang dingin dan penuh kemenangan masih bergema di telinganya. Radit berlutut di depannya, tangannya terulur ingin menyentuh, tapi Maya mundur selangkah seolah sentuhan itu bisa membakarnya.“Kau… tidur dengan dia lagi?” suara Maya pecah, tapi tajam seperti pisau. “Setelah semua yang kita lalui? Setelah terapi, setelah janji di depan hakim, setelah aku buka kakiku setiap malam dan biarkan kau isi kewanitaanku dengan kejantananmu yang katanya hanya untuk aku?”Radit menunduk, suaranya parau. “Maya… aku terjebak. Alya dan Priska punya video kita. Mereka ancam hancurkan yayasan, hancurkan kita. Aku lakukan itu untuk melindungi kita...”“Melindungi?” Maya tertawa pahit, tangannya merobek amplop di meja hingga foto-foto Radit dan Alya berhamburan. Di salah satu foto, Alya sedan
Radit merasa darahnya membeku saat Priska duduk di depannya dengan anggun, kaki jenjangnya menyilang sempurna di bawah meja kafe.Alya tersenyum tipis di sampingnya, gaun hitam ketatnya menempel di tubuh seperti kulit kedua, memperlihatkan lekuk bukit kembarnya yang masih kencang dan menggoda. Bau parfum Alya yang mahal bercampur aroma kopi pahit, membuat Radit sulit bernapas.Priska meletakkan tablet tipis di meja. “Kau terlihat pucat, Radit. Apakah karena semalam kau menghunjam Maya begitu dalam sampai ia menjerit namamu? Kamera kecil di lampu tidur kalian bekerja sangat baik.”Radit mengepalkan tangan di bawah meja. “Apa maumu? Kalian berdua sekarang bekerja sama?”Alya mencondongkan tubuh ke depan, suaranya rendah dan menggoda. “Bukan bekerja sama, sayang. Kami punya musuh yang sama, Bima. Tapi organisasi di belakangku ingin lebih. Mereka ingin kau, Radit. Sebagai kunci untuk membuka pintu yayasanmu yang masih menyimpan jejak kotor.”Priska memutar tablet. Video mulai berputar, re
"Radit," bisik Alya pelan. "Kamu... kamu menyesal?"Radit tidak langsung menjawab.Karena dia tidak tahu jawabannya.Apakah dia menyesal?Secara moral... iya. Sangat menyesal.Tapi secara emosional... dia merasa sesuatu yang sudah lama tidak dia rasakan.Dicintai. Diinginkan. Dihargai."Aku gak tah
Hari ketiga setelah operasi.Dinda sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Luka operasinya sembuh secara fisik, jahitan rapi di perut bagian bawah yang akan menjadi bekas luka permanen. Tapi luka lain, yang tidak terlihat, yang jauh lebih dalam, tidak menunjukkan tanda-tanda akan sembuh.Dia ha
Dua minggu kemudian...Radit berdiri di depan cermin kamar mandi, merapikan kerah kemejanya sambil menatap wajahnya sendiri. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas. Wajahnya terlihat lebih tirus dari biasanya.Tapi yang paling mengganggu bukan penampilannya.Yang mengganggu adalah, dia mula
Dunia seolah berhenti berputar.Radit menatap Alya dengan mata terbelalak."Apa?""Aku serius, Radit," kata Alya dengan nada yang tegas tapi lembut. "Aku dokter kandungan. Aku tahu prosedurnya. Aku tahu risikonya. Dan aku... aku mau bantuin kamu punya anak."Radit tidak bisa bicara.Pikirannya blan







