LOGIN(21+)Joko adalah pemuda tampan bertubuh gagah yang bekerja sebagai tukang ojek di sebuah desa. Wajahnya yang rupawan, tubuh atletis, dan sikapnya yang penuh percaya diri membuat banyak wanita terpikat padanya ~ mulai dari gadis muda hingga wanita yang sudah bersuami. Di balik pekerjaannya yang sederhana, Joko tahu betul bagaimana memanfaatkan pesonanya. Dengan senyum nakal dan kata-kata manis, ia sering membuat para wanita luluh. Banyak dari mereka yang dengan sukarela memberinya uang, barang, bahkan perhatian yang lebih dari sekadar penumpang biasa. Bagi Joko, ketampanan adalah modal. Ia menikmati bagaimana para wanita memandangnya dengan penuh hasrat, sementara dirinya perlahan mengambil keuntungan dari setiap godaan, rayuan, dan kedekatan yang tercipta di antara mereka. Desa itu pun dipenuhi bisik-bisik tentang Joko ~ tukang ojek tampan yang selalu dikelilingi wanita dan cerita-cerita panas di baliknya.
View Moreครืด! ครืด! เสียงโทรศัพท์ในมือของอัยลดาสั่นเตือนขณะที่เธอกำลังถ่ายรูปอยู่กับเพื่อนในวันรับปริญญา เมื่อรู้ว่าเป็นเบอร์พ่อเธอจึงรีบขอตัว “เราขอตัวไปรับโทรศัพท์แป๊บนึงนะทุกคน” เพื่อน ๆ พยักหน้าให้ อัยลดาจึงรีบวิ่งออกไป
อัยลดากดรับสาย “ค่ะพ่อ”
‘อัยเสร็จยังลูก รีบกลับบ้านตอนนี้เลยได้ไหม’ เสียงปลายสายเอ่ยออกด้วยความร้อนใจ
“เกิดอะไรขึ้นเหรอคะ” ฟังจากน้ำเสียงของพ่ออัยลดาก็ตกใจเช่นกัน
“กลับมาก่อนเถอะเดี๋ยวพ่อเล่าให้ฟัง”
“ค่ะ ๆ” อัยลดากดวางสายแล้วจึงเดินเข้าไปหาเพื่อนสนิทอีกสองคน แล้วเอ่ย “พลอย แก้ม เราขอตัวกลับบ้านก่อนนะ”
“อ้าว ทำไมล่ะอัย” พลอยถามด้วยความสงสัย
“สงสัยที่บ้านมีเรื่องด่วนน่ะ พ่อโทร. มาบอกให้รีบกลับบ้าน” อัยลดารู้สึกเป็นกังวลเพราะเสียงของพ่อฟังดูสั่น ๆ ชอบกล
“เออ ๆ ถ้าอย่างนั้นก็กลับไปก่อนเถอะ อย่าลืมเรื่องนัดสัมภาษณ์งานนะ” กัลยากรย้ำกับเพื่อนอีกครั้ง เพราะพวกเธอเรียนจบปริญญาตรีมาสี่ห้าเดือนแล้ว แต่เธอกับอัยลดายังหางานไม่ได้เลย ส่วนพลอยไพลินนั้นเข้าทำงานในบริษัทของครอบครัวไปแล้ว
“อืม ไม่ลืมหรอก”
อัยลดาเก็บข้าวของ ตุ๊กตา และช่อดอกไม้ที่ทุกคนนำมามามอบให้เมื่อเช้านี้แล้วรีบขึ้นแท็กซี่กลับบ้านทันที อัยลดานั่งรถประมาณสามสิบนาทีจึงมาถึงบ้าน เธอรู้สึกแปลกใจเล็กน้อยที่หน้าบ้านมีชายฉกรรจ์ใบหน้าดุดันยืนอยู่ด้วยสามคน
ร่างบอบบางในชุดครุยก้าวขาออกมาจากรถแท็กซี่ มือข้างหนึ่งถือตุ๊กตาตัวใหญ่ มืออีกข้างหอบดอกไม้หลายช่อลงมาด้วย
“นั่นไงคนที่ต้องรับผิดชอบเรื่องทั้งหมดกลับมาแล้ว” กุสุมาหรือแม่เลี้ยงของเธอเอ่ยขึ้นด้วยความดีใจเมื่อเห็นอัยลดาเดินเข้ามา
อัยลดามีสีหน้างุนงงเดินเข้าไปหาพ่อ “มีอะไรกันเหรอคะพ่อ” ชายแปลกหน้ารูปร่างสูงใหญ่คนหนึ่งมองมาที่เธอตั้งแต่ศีรษะจรดเท้า แววตาบ่งบอกว่ามีความพึงพอใจแฝงอยู่
“เอาของเข้าไปเก็บก่อนเถอะ” จารึกบอกลูกสาว
ให้หลังอัยลดา คนที่เป็นหัวหน้าจึงพูดออก “นั่นคือลูกสาวของคุณที่ระบุไว้ในสัญญาใช่ไหมครับ”
“ครับ” จารึกตอบอย่างนอบน้อม
“เธอรู้เรื่องนี้ไหม”
“วันนี้ผมจะคุยกับลูกเองครับ”
“ถ้าอย่างนั้นผมจะลองกลับไปเจรจากับเสี่ยอีกครั้ง หากเสี่ยยอมตกลงไม่เกินสิบวันคงให้คนมารับ” เพราะลูกหนี้เจ้านี้ยืดเยื้อมานานมากแล้ว
“ขอบคุณมากครับ”
“แต่คุณก็ต้องเผื่อใจไว้บ้าง เพราะเสี่ยไม่เคยเอาลูกหนี้มาทำเมีย” ส่วนมากถ้าเอาบ้านเป็นหลักทรัพย์ค้ำประกันก็จะยึดบ้านทันที แต่สำหรับเคสนี้ในสัญญาระบุไว้สองอย่างคือบุตรสาวคนโตและบ้านหลังนี้ ซึ่งต้องเลือกอย่างใดอย่างหนึ่งเท่านั้น
กุสุมาทำหน้าเศร้าและพูดอ้อนวอน “คุณยศก็ช่วยพูดกับเสี่ยให้หน่อยสิคะ พวกเราลำบากแค่ไหนคุณก็เห็นแล้ว หากเสี่ยยึดบ้านเราไป พวกเราจะไปอยู่ที่ไหนคะ ลูกฉันอีกสองคนก็กำลังเรียนอยู่แท้ ๆ”
“นั่นก็เป็นเรื่องของพวกคุณครับ ไม่ได้เกี่ยวกับผม ผมแค่ทำตามคำสั่งนายเท่านั้น หมดหน้าที่ผมแล้วผมต้องขอตัวกลับก่อนครับ”
คนทวงหนี้กลับไปแล้ว อัยลดาก็เปลี่ยนชุดเสร็จพอดี มีเพียงผมที่มวยไว้เท่านั้นที่เธอยังไม่จัดการ เพราะหากเธออาบน้ำก็ต้องใช้เวลานานพอสมควร
แม่เลี้ยงกับพ่อเดินเข้ามา อัยลดานั่งรออยู่ที่ห้องรับแขกแล้ว จารึกจึงเริ่มพูดเรื่องสำคัญทันที “อัย”
“คะ”
จารึกถอนหายใจยาวเหยียดคล้ายหนักใจหนักหนา “บ้านของเรากำลังจะถูกยึด”
อัยลดาตกใจจนหน้าเผือดสี “พ่อเอาบ้านไปเข้าธนาคารตั้งแต่เมื่อไรคะ”
“ไม่ใช่กับธนาคารหรอก พ่อเอาไปกู้เงินกับเสี่ยศิลามาน่ะ” เป็นเสี่ยที่เพื่อนขับรถมอเตอร์ไซค์รับจ้างด้วยกันแนะนำมาเมื่อหลายปีก่อน
“เท่าไรคะ อีกไม่กี่วันอัยก็จะไปสัมภาษณ์งานแล้ว พ่อบอกให้เขารออีกสักเดือนสองเดือนได้ไหมคะ อัยจะรีบหาเงินไปผ่อนเขาให้ได้ค่ะ”
“ไม่ทันแล้วอัย พ่อเลื่อนนัดเขามาปีกว่าแล้ว”
“แสดงว่าเสี่ยใจดีมากนะคะ” เขาให้เลื่อนมาได้อย่างไรตั้งปีกว่า หากเป็นคนอื่นคงโดนยิงทิ้งไปแล้วกระมัง
“ใช่ สมควรแล้วที่เสี่ยให้คนมายึดบ้านเรา”
“พ่อเป็นหนี้เขาเท่าไรคะ”
“ล้านห้า” เริ่มแรกเขาเป็นหนี้แค่สองแสน ผ่านไปห้าปีเขามีหนี้เป็นล้านเพราะไปกู้เพิ่มเรื่อย ๆ จนหาเงินส่งหนี้ไม่ไหว กระทั่งตอนนี้ทั้งต้นทั้งดอกรวมแล้วก็หนึ่งล้านห้าแสนบาทพอดี
“ล้านห้า” อัยลดาร้องออกมาเสียงสูง “แล้วพ่อจะให้อัยช่วยยังไงคะ”
“อัย… พ่อ…” จารึกมีท่าทางลำบากใจ
Malam sebelum keberangkatan, Sinta mengetuk pintu ruang kerja Joko. Dia masuk membawa segelas kopi, meletakkannya di meja, lalu berdiri diam di sana. Jemarinya meremas ujung kardigannya. "Ada apa, Kak Sinta?" tanya Joko, menutup map data tambang dari Nadya. Sinta menarik napas panjang. "Aku sudah pikirkan dari tadi sore, Sayang. Aku gak ikut pulang." Joko mengangkat alis. Dia bersandar di kursinya, menatap wanita itu lekat-lekat. "Bukannya Kak Sinta yang paling kangen kampung?" "Justru karena aku kenal kampung itu." Sinta tersenyum tipis, getir. "Dua janda dari kampung yang sama, pulang bareng pemuda kaya yang dulu tukang ojek. Satu dulu punya warung tempat kamu mangkal, satu lagi pemilik kebun tempat kamu kerja. Belum sehari, seluruh kampung sudah bergosip. Ibu-ibu di pasar bakal mengarang cerita sampai tujuh turunan." Joko terdiam. Dia tahu Sinta benar. "Dia selalu memikirkan orang lain duluan," batinnya. "Bahkan sekarang, saat dia sendiri yang paling ingin pulang." "Hubunga
Seminggu setelah malam di kediaman Jery, ruang tamu Vila Bintang berubah menjadi gudang. Parsel buah, keranjang anggur impor, kotak teh mahal, guci keramik, bahkan sebuah lukisan besar berbingkai emas berjajar di sepanjang dinding. Semuanya datang dengan kartu ucapan dari keluarga-keluarga yang namanya bahkan belum pernah Joko dengar. Mona berdiri di tengah ruangan dengan tangan di pinggang, menatap tumpukan itu dengan wajah masam. "Sayang, ini mau ditaruh di mana lagi?" tanyanya, mengangkat sebuah kartu. "'Keluarga Prawiro mengucapkan selamat atas keberhasilan Tuan Muda Joko.' Selamat apa? Kamu gak ulang tahun." Joko yang duduk di sofa sambil membaca laporan Bintang Farma hanya tertawa. "Bagikan ke tetangga, ke anak buah Darto, ke panti asuhan. Sisakan anggurnya buat kita." "Anggurnya sudah diambil Bella duluan," gerutu Mona. Dari dapur, terdengar suara Bella menyahut santai, "Aku cuma mengama
Lorong basemen Lintang Medika remang. Lampu darurat berkedip di ujungnya. Satpam berbadan gemuk berdiri di depan ruang jenazah, wajahnya pucat. Saat melihat Dokter Clara datang bersama Joko, dia langsung membungkuk berkali-kali. "Saya cuma ke toilet lima menit, Dokter. Waktu balik, pintunya sudah terbuka. Gak ada yang lewat pos saya, sumpah." "Kamu gak salah," ucap Clara, menepuk lengannya singkat. "Tunggu di sini." Joko masuk lebih dulu. Udara di dalam ruangan itu dingin, jauh lebih dingin dari yang seharusnya. Laci pendingin nomor empat setengah terbuka. Jasad Tuan Besar Jery masih terbaring di dalamnya, utuh, kainnya tak bergeser sedikit pun. Clara memiringkan kepala jasad itu dengan tangan gemetar. Lalu dia menarik napas tajam. Di pangkal tengkuknya, tepat di bawah bekas jarum Joko, ada sayatan kecil. Rapi, bersih, nyaris tanpa darah. Seperti hasil pisau bedah di tangan orang
Punggung Dokter Clara menempel di pintu. Napasnya pendek-pendek. Joko tidak langsung menciumnya. Dia menatap wajah wanita itu dari jarak sejengkal, memperhatikan bulu matanya yang bergetar dan bibirnya yang setengah terbuka. "Detak jantungmu berapa sekarang, Dokter?" bisiknya. Dokter Clara menelan ludah. Lalu dia mengangkat dagu, berusaha tetap terdengar tenang. "Seratus sepuluh. Kurang lebih." "Kurang lebih?" Joko tersenyum nakal, lalu menyentuhkan dua jarinya di leher wanita itu, tepat di nadinya. "Dokter jenius kok gak akurat." "Karena ada orang yang terlalu dekat dan bikin aku gak bisa menghitung," balas Dokter Clara ketus. Joko tertawa pelan. Lalu dia menunduk dan menciumnya. Kali ini tidak ada canggung. Dokter Clara membuka bibirnya, dan lidah mereka saling melilit, pelan lalu semakin dalam. Tangannya mencengkeram kaus Joko, menariknya lebih dekat, seolah takut pria itu ber
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore