LOGIN(21+)Joko adalah pemuda tampan bertubuh gagah yang bekerja sebagai tukang ojek di sebuah desa. Wajahnya yang rupawan, tubuh atletis, dan sikapnya yang penuh percaya diri membuat banyak wanita terpikat padanya ~ mulai dari gadis muda hingga wanita yang sudah bersuami. Di balik pekerjaannya yang sederhana, Joko tahu betul bagaimana memanfaatkan pesonanya. Dengan senyum nakal dan kata-kata manis, ia sering membuat para wanita luluh. Banyak dari mereka yang dengan sukarela memberinya uang, barang, bahkan perhatian yang lebih dari sekadar penumpang biasa. Bagi Joko, ketampanan adalah modal. Ia menikmati bagaimana para wanita memandangnya dengan penuh hasrat, sementara dirinya perlahan mengambil keuntungan dari setiap godaan, rayuan, dan kedekatan yang tercipta di antara mereka. Desa itu pun dipenuhi bisik-bisik tentang Joko ~ tukang ojek tampan yang selalu dikelilingi wanita dan cerita-cerita panas di baliknya.
View More"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"
Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian.
Usianya dua puluh lima tahun. Ia memiliki wajah tampan dengan garis tegas, tubuh kekar hasil kebiasaannya berolahraga, serta pembawaan santai yang memancarkan pesona alami. Senyumnya mudah membuat orang merasa nyaman, sementara sikapnya yang sederhana justru membuatnya tampak menarik di mata banyak wanita. Banyak wanita menganggap Joko hanya pemuda tampan dengan pesona sederhana. Namun, jika mereka mengetahui sisi lain dari dirinya, sesuatu yang jauh lebih menarik dari sekadar penampilan, mungkin mereka akan benar-benar tergila-gila padanya. ==== Di jalanan pedesaan, Joko terlihat mengendarai motor tuanya dengan kecepatan sedang. Angin sore berembus pelan menerpa wajah pria itu tampak lesu tak ada semangat sama sekali. "Huh... sampai sore begini baru dapet dua penumpang! pada ke mana yah... kok sepi banget sih," gerutu Joko dengan nada mengeluh. Ia menghela napas panjang. Namun beberapa saat kemudian, ekspresi wajahnya berubah, seolah mencoba membangkitkan kembali semangatnya yang hampir padam. "Joko, kamu gak boleh ngeluh! harus tetap semangat, demi masa depan yang cerah!" dia menasihati dirinya sendiri. Walaupun ia sekarang hanya sekedar tukang ojek di desa, Joko menyimpan impian besar di hatinya. Ia ingin sukses, hidup berkecukupan, bergelimang harta, seperti orang-orang sukses di luar sana. "Biar lebih semangat, mending ngopi dulu ahh, di warung Bu Sinta, yang cantik itu," ucap Joko sambil menyunggingkan senyuman nakal. Joko melajukan motornya ke lokasi warung yang ia maksud. Tak lama kemudian, Joko tiba di tempat tujuan. Begitu ia berhenti dan turun dari motor, seorang wanita dewasa cantik menyambutnya dengan senyum hangat dari balik meja warung "Eh, Joko...udah dapet berapa penumpang, hari ini?" ucap Bu Sinta dengan nada hangat. "Lagi sepi bu..." balas Joko dengan nada penuh keluhan. "Gak apa-apa, namanya kerja ~ seperti itu...kadang rame, kadang juga enggak...yang penting kamu tetap semangat!" Bu Sinta menasihati. "Kalo itu, selalu bu!" balas Joko dengan pasti. "Si tampan ini akan tetap semangat, sampai kapanpun!" lanjutnya sambil menepuk-nepuk dadanya ~ tampak meyakinkan. Tatapan wanita itu tertuju pada Joko dengan sorot penuh kekaguman, disertai percikan panas yang sulit disembunyikan. Ia mengagumi Joko yang selalu tampak bersemangat dan ceria, meski hidupnya tidak mudah. Namun, di balik kekaguman itu, terselip pula gairah halus saat ia memandang pria tersebut ~ ketampanan wajah dan kegagahan tubuh Joko seakan memiliki daya tarik yang sulit diabaikan olehnya. "Bu... aku mau kopi hitam!" ucap Joko dengan nada riang. "Jangan pakai gula... soalnya udah manis kalau ngopinya sambil lihat Bu Sinta, hehe," Joko tertawa kecil. "Ah, bisa aja..." Bu Sinta pura-pura tersipu. "Jangan godain aku! aku ini istri orang lho..." Bu Sinta mengingatkan dengan nada main-main. Joko hanya terkekeh, tak berkata apapun lagi. Tapi matanya terus menatap Bu Sinta yang sedang membuatkan kopi untuknya. Wanita itu memiliki wajah yang sangat cantik dengan kulit putih mulus yang tampak bersinar diterpa cahaya sore. Parasnya lembut, namun ada terselip sedikit kegenitan di sorot matanya, menciptakan pesona godaan yang begitu alami. Tubuhnya matang dan menggoda. Lekuk tubuhnya terbentuk sempurna, dengan payudara besar 38E+ dan pinggul montok yang berayun anggun setiap kali ia bergerak. Posturnya memancarkan pesona kewanitaan yang sangat menggairahkan, yang membuatnya lebih menonjol di pandangan para pria. "Bu Sinta, begitu cantik dan menarik, tapi sayangnya ~ punya suami yang bejat!" gumam Joko di dalam hati. Wanita secantik Bu Sinta seolah tidak beruntung dalam urusan rumah tangga. Ia harus menjalani kehidupan bersama seorang suami yang dikenal sebagai pemabuk, gemar berjudi, dan sering bersikap kasar kepadanya. Kehidupan yang seharusnya penuh kebahagiaan justru berubah menjadi beban yang harus ia pikul setiap hari. Namun, Bu Sinta tidak jauh berbeda dengan Joko ~ ia sangat pandai menyembunyikan kesulitannya. Setiap hari ia selalu tampak ceria, menebarkan senyum hangat kepada siapa pun yang datang. Tak ada yang menyangka, di balik keceriaan itu tersimpan kepedihan dan beban berat yang diam-diam terus ia pikul seorang diri. Saat Bu Sinta selesai membuat kopi, Joko buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Nih....sudah jadi!" ucap Bu Sinta sambil menyajikan segelas kopi itu di hadapan Joko. Setelah itu ia duduk menghadap ke arah Joko. Joko mengeluarkan sebungkus rokok dari kantung celananya, mengambil satu batang, lalu menyalakannya. Joko menghembuskan asap rokok, lalu meraih cangkir kopi di hadapannya dan menyeruputnya. "Ahh...memang paling nikmat kalau ngerokok sambil ngopi, apalagi kopinya di buatkan Bu Sinta," ucap Joko dengan nada setengah bercanda. "Kamu... sangat bermulut manis," ujar Bu Sinta sambil menyunggingkan senyuman tipis. Joko terkekeh pelan. Saat Bu Sinta sedang menatap Joko ~ tiba-tiba sebuah ide yang mungkin bisa membantu usaha Joko terlintas di benaknya. “Joko… aku punya saran untukmu,” ucap Bu Sinta dengan nada lebih serius dari biasanya. “Saran apa tuh?” tanya Joko santai sambil meletakkan cangkir kopinya. “Daripada kamu terus berkeliling mencari penumpang atau hanya mengandalkan yang memanggilmu, mending kamu mangkal saja di satu tempat,” ujar Bu Sinta. "Tapi kamu harus mangkal di tempat yang memiliki potensi besar untuk dapat penumpang." Joko menghela napas panjang. Saran Bu Sinta sebenarnya sudah pernah terlintas di pikirannya. “Aku juga pernah berpikir begitu… tapi sampai sekarang belum menemukan lokasi yang cocok,” ucap Joko dengan nada berat. Bu Sinta tersenyum tipis, lalu menunjuk ke arah sisi warungnya. “Kenapa kamu gak mangkal saja di samping warung ini? Tempatnya cukup strategis untuk mencari penumpang. Warga di kawasan sini, biasanya suka menunggu ojek lewat di sini, dan ada juga SMA, saat jam pulang sekolah ~ sangat banyak siswa yang gak bawa kendaraan, butuh ojek untuk pulang,” Bu Sinta menjelaskan dengan sabar. "Tapi...di sekitar sini sudah banyak tukang ojek," ucap Joko ragu. "Pangkalan ojeknya juga gak jauh dari sini, kalau anak SMA pulang sekolah, pasti ~ banyak ojek yang datang mencari penumpang." Bu Sinta baru ingat di sini memang banyak tukang ojek. Namun, sebuah ide kembali terlintas di benaknya. "Joko... kamu gak perlu takut kalah saing dengan ojek yang lain! kamu memiliki wajah tampan, tubuh gagah, dan sikap yang gampang bergaul, kamu bisa pakai itu menjadi modal untuk menarik penumpang," ucap Bu Sinta dengan nada serius. "Apa lagi... penumpang wanita! pasti kamu sangat di minati mereka," ucap Bu Sinta dengan nada pelan namun terdengar menggoda. Joko memikirkan kata-kata wanita itu. Meskipun terdengar seperti lelucon, ia tahu ucapan tersebut bukanlah lelucon dan sangat masuk akal. Seketika, sorot matanya berbinar. Sebuah harapan baru tampak terpantul di kedua matanya. “Ide Bu Sinta ~ sepertinya layak di uji!” ucap Joko penuh semangat. Senyum cerah pun langsung menghiasi wajahnya. Melihat Joko menerima sarannya, hati Bu Sinta ikut terasa senang. “Kalau begitu, mulai besok kamu mangkal di sini saja,” ujar Bu Sinta tegas, namun dengan nada hangat. Joko mengangguk mantap, seolah telah menemukan secercah harapan untuk masa depannya. “Aku yakin… dengan ketampananmu itu, kamu bisa menarik banyak penumpang wanita, apalagi para siswi SMA ~ soalnya mereka sangat pemilih,” lanjut Bu Sinta sambil tersenyum menggoda. "Dan Ingat, kamu harus membuat penumpang nyaman... kalau mereka nyaman, mungkin bisa jadi langganan nantinya!" "Oke siap! aku akan melakukannya!" balas Joko tegas dan penuh semangat. Joko sudah memiliki ide agar dia bisa menarik para penumpang. Mata Joko memandang ke arah Bu Sinta dengan sorot menggoda. “Bu Sinta, aku rasa… Bu Sinta perhatian banget sama aku. Jangan-jangan Bu Sinta suka yah ~ sama aku?” tanya Joko dengan nada main-main. Bu Sinta langsung terkejut dan salah tingkah. “E-eh, enggak gitu! Kamu ini ada-ada saja. Aku sudah punya suami, mana mungkin berpikir kayak gitu!" ucapnya kaku sambil memalingkan wajah. Ekspresi Joko semakin nakal saat melihat reaksinya, ia mengambil keputusan untuk mengambil langkah lebih berani lagi, lalu ia berkata dengan suara pelan penuh godaan. "Serius nih...? kalau suka bilang aja! gak usah malu-malu gitu. Aku tahu kok! Bu Sinta sangat kesepian ~ Suami Bu Sinta hanya fokus berjudi, jarang sekali menemuimu, kalau Bu Sinta benar kesepian... aku bisa kok..." Joko menghentikan ucapannya. Matanya menatap Bu Sinta semakin dalam dan panas. Namun, maksud ucapan Joko sudah cukup bisa di mengerti dengan jelas oleh Bu Sinta. "Bocah ini... mulai berani menggodaku terang-terangan! apa aku layani saja, yah? lagipula, yang di katakannya memang benar!" gumam Bu Sinta di dalam hati. Ia tak terlihat kesal ataupun marah, sebaliknya ada rasa senang dan gairah yang mulai menyala. Bu Sinta menarik napas, lalu menatap Joko lagi, kali ini dengan senyum tipis yang beraniDari kejauhan, seorang murid pria menatap Joko dengan sorot mata tajam, penuh permusuhan. Sosok itu adalah Reza ~ mantan kekasih Mia, yang kemarin menyewa preman untuk menghajar Joko."Sial, kenapa dia baik-baik saja? Apa preman-preman itu gak melakukan tugasnya?" ucap Reza di dalam hati dengan penuh amarah."Kalau preman itu kalah... mana mungkin! Mereka sangat pandai bertarung, mana mungkin kalah sama tukang ojek sialan itu," ucapnya kembali.Setelah menenangkan amarahnya, Reza kembali berpikir. "Pulang sekolah, aku harus temui para preman itu! Ini gak bisa di biarkan, aku sudah membayar mahal, tapi tukang ojek itu masih baik-baik saja."Bukan hanya Reza yang merasa marah saat melihat Joko masih baik-baik saja. Tukang ojek yang memberikan nomor Darto ke Reza pun merasa begitu."Sial... apa bocah itu gak jadi sewa Si Darto?" gumam tukang ojek itu di dalam hati.====Ketika Joko sampai di warung Bu Sinta, seperti biasa w
"Oh iya. Bu kalau butuh pijatan, aku datang saja kepadaku," Joko menawarkan jasa pijatnya ke wanita itu. "Emangnya kamu bisa?" tanya Bu Tika, dia merasa sedikit ragu. "Bisa dong. Pijatanku enak, lho," ucap Joko dengan nada bangga. "Kalau Ibu menyewa jasa pijat ku, bisa sekalian melanjutkan yang tadi," lanjut Joko dengan nada main-main. "Itu mau mu saja!" tegur Bu Tika, sambil memukul pelan punggung Joko. Joko terkekeh pelan. Tak lama kemudian, Bu Tika kembali berkata. "Tapi boleh juga. Nanti malam, aku akan menyewa jasa pijat mu." Mendengar itu, Joko sangat bersemangat. "Ibu serius?" "Iya. Tapi aku gak janji, yah! Soalnya aku gak bisa mastiin punya kesempatan keluar dari rumah atau tidak nanti malam," balas Bu Tika. "Jadi, Ibu mau pijat di rumahku?" tanya Joko. "Ya iya lah. Kalau di rumahku, gak mungkin bisa, suamiku ada di sana," balas Bu Tika. "Haha, oke kalau gitu." Beberapa saat kemudian, mereka sampai di tempat tujuan. Bu Tika turun dari motor, mengambil belanjaan,
"Bu, apa kamu serius?" tanya Joko. Kilatan panas, tampak jelas di sorot matanya. "Serius lah, tapi hanya menyentuh, yah... gak boleh yang lain," balas Bu Tika, sambil membusungkan dadanya, dan meletakkan satu tangannya di dada Joko. Dalam pose seperti itu, dadanya yang berukuran sangat besar itu, tampak lebih menjulang tinggi. GLUKK! Joko menelan ludah dengan kasar, saat melihat pemandangan dada wanita itu. "Bu... kalau gitu, aku gak sungkan, yah," ucap Joko sambil meletakkan kedua tangannya di dada wanita itu. Bu Tika secara refleks mendesah lembut, saat Joko mulai memberikan remasan di gunung besarnya itu."Ahhh... ahh..."Joko bisa jelas merasakan seberapa besar dan seberapa padat gundukan kenyal itu. Di bandingkan dengan milik Bu Sinta, Joko bisa memastikan kalau milik Bu Tika sedikit lebih besar. Hanya saja, bentuknya dan kepadatannya masih kalah dari milik Bu Sinta."Bu... milikmu ini... sangat besar masih sangat padat lagi," ucap Joko dengan nada main-main.Bu Tika menyun
"Kalau itu terjadi... bagaimana?" tanya Bu Maya dengan nada menggoda. "Kalau terjadi... aku gak keberatan sih..." balas Joko dengan ringan. "Joko... kamu nakal juga, yah.." tegur Bu Maya dengan nada genit, sambil meninju pelan punggung Joko. Joko hanya terkekeh, tak berkata kembali. Bu Maya memperhatikannya sisi wajah Joko. Terlintas sinar cahaya panas di pupil matanya. "Apa yang di katakannya tadi... serius?" gumam Bu Maya di dalam hatinya. "Dan... dari kapan? Bocah ini begitu berani melontarkan godaan-godaan seperti itu kepadaku." Walau mereka sudah sangat lama saling mengenal. Namun, baru kali ini Bu Maya di goda seperti itu oleh Joko. Setelah hening sejenak, Joko berkata. "Oh iya. Bu, kalau Ibu ingin di pijat, kabari aku, yah!" "Pijat? Kamu emangnya bisa memijat?" tanya Bu Maya, dengan nada heran. "Bisa dong Bu. Pijatanku... sangat enak, lho," balas Joko dengan nada bangga. "Pijat apa nih? Pijat plus-plus gak?" tanya Bu Maya dengan nada menggoda. Jelas, wani
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.