Masuk"Radit? Oh... anak itu. Biarkan masuk. Aku mau lihat... apa yang dia mau."Suaranya dari intercom terdengar dingin, berat, dan penuh kuasa. Sebuah nada yang membuat bulu kudukku meremang.Security di samping gerbang menatapku dengan wajah terkejut. Ia seperti tidak percaya bahwa pemilik rumah sebesar ini benar-benar mengenalku."B-baik, Pak," jawabnya cepat, lalu ia menutup intercom dan menekan tombol di panel.Gerbang besi raksasa itu bergerak perlahan. Bunyinya terdengar halus, tapi justru membuat suasana makin mencekam."Masuk. Tapi jangan bikin masalah ya," ucap security itu setengah berbisik namun tegas, seolah tahu bahwa apa pun yang terjadi setelah ini, bukan urusannya lagi."Iya. Terima kasih."Aku kembali menyalakan motor dan melewatinya. Jalan masuk menuju rumah itu panjang, dihiasi pohon-pohon tinggi yang tertata simetris, seperti menyambut tamu penting, terasa seperti mengantarkan seseorang menuju ruang interogasi.Di ujung sana, bangunan rumah keluarga Kiara berdiri megah
Perjalanan memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Cukup lama, karena kawasan Citra Garden memang lumayan jauh dari kantor.Tapi jarak bukan satu-satunya yang membuat perjalanannya terasa panjang. Rasanya, setiap kilometer yang kulalui seperti sedang menuntunku memasuki dunia yang bukan milikku.Jalanan mulai berubah pelan-pelan. Dari jalan perkotaan biasa yang padat dan ramai, tiba-tiba melebar menjadi jalan raya yang lebar dengan pepohonan tinggi di kiri-kanan.Rumah-rumah yang tadinya sederhana berganti menjadi hunian besar bergaya Eropa, lalu semakin lama semakin mewah, seperti deretan villa milik pejabat atau pengusaha besar.Dan ketika aku memasuki kawasan Citra Garden 5, aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa.Ini bukan perumahan. Ini adalah kawasan kerajaan.Rumah-rumahnya bukan sekadar besar. Megah, menjulang seolah berlomba menunjukkan siapa yang paling kaya. Halamannya seperti taman kota dengan air mancur, kolam ikan, bahkan beberapa rumah terlihat memiliki lapangan ke
"Nggak. Kiara gak pernah cerita jelas, kita juga belum sempat bahas. Gak nyangka kalau situasinya bakal jadi begini."Mas Budi terdiam. Ia menyandarkan tubuhnya, memikirkan sesuatu dengan cepat. Aku bisa melihat betapa wajahnya dipenuhi rasa kasihan dan kekesalan.Lalu tiba-tiba ia menepuk meja pelan."Yaudah. Kamu coba tanya ke HRD. Alamat karyawan pasti ada di database mereka.""Iya. Aku ke sana sekarang."Aku bangkit, tapi Pak Hendra tiba-tiba muncul dari ruangannya."Radit! Kamu... astaga, wajahmu kenapa?!" Ia menghampiri dengan wajah khawatir."Pak... saya... ada masalah pribadi. Tapi saya baik-baik aja."Pak Hendra tidak langsung percaya. Ia menatapku lama, sangat lama, seperti sedang mengukur seberapa dalam luka yang sebenarnya tidak terlihat oleh mata."Radit," katanya dengan suara lebih lembut dari biasanya, "kamu anak baik, rajin, gak pernah buat masalah. Jadi kalau kamu datang dengan kondisi kayak gini… itu artinya kamu lagi ada masalah."Aku menunduk sedikit. Kata-katanya
Senin pagi terasa jauh lebih berat dari biasanya.Saat membuka mata, seluruh tubuhku seperti menolak untuk bangun. Otot-otot masih kaku, memar di pinggang dan rusuk seperti ditarik setiap kali aku berusaha bernapas.Luka-luka akibat tendangan Adrian masih terasa menghujam, bukan sekadar sakit fisik, tapi juga mengingatkan ku pada betapa tak berdayanya aku di hadapan semua masalah ini.Namun, yang paling menyiksa bukanlah rasa nyeri itu.Melainkan perasaan hancur yang menumpuk di dada.Aku berjalan pelan ke kamar mandi, menyalakan lampu yang langsung menyorot wajahku di cermin.Ada memar samar di bawah mata, sedikit bengkak di pipi dan tatapan yang terlihat kosong karena semalaman aku tidak benar-benar tidur.Pikiran terus berputar memikirkan Kiara, bagaimana hidupnya bisa berubah hanya karena tekanan dari keluarganya sendiri."Pasti ada cara," gumamku sambil membasuh wajah dengan air dingin.Setelah bersiap, aku turun ke bawah dengan langkah pelan. Aroma nasi goreng tercium dari dapur
Papa Kiara menarik lengan Kiara dengan kasar begitu ia sampai di mobil."Akhirnya kamu sadar juga," ucapnya dingin."Papa... pliss... jangan jodohin aku sama Adrian..." Kiara masih mencoba memohon, suaranya terdengar lemah."Itu sudah keputusan. Minggu depan... kamu akan nikah. Dan selesai.""Papa...""Masuk mobil. Sekarang."Papa Kiara membuka pintu belakang dan mendorong Kiara masuk dengan cara yang agak kasar.Kiara sempat menatapku dari dalam mobil, tatapannya penuh air mata dan permohonan."RADIT!" teriaknya dari dalam mobil.Aku melangkah maju, ingin menghampiri, tapi Adrian menghalangi."Jangan harap kamu bisa deket-deket sama dia lagi," ucap Adrian sambil menyeringai. "Dia sebentar lagi akan jadi istriku. Dan kamu... akan jadi kenangan buruk yang dia lupakan.""Dia gak akan pernah jadi istrimu," ucapku dengan suara rendah, penuh amarah."Oh ya? Kita liat aja." Adrian mendekat, berbisik di telingaku. "Dan... aku akan pastikan, malam pertama kami sangat... berkesan."Deg!Ucapan
Jantungku serasa berhenti sejenak."Bukan cuma dipecat," lanjutnya kembali dengan santai. "Aku bisa bikin kamu gak dapat kerjaan di mana-mana. Aku punya daftar hitam di berbagai perusahaan. Sekali aku masukin nama kamu di sana... selesai. Kamu gak akan bisa kerja di kota ini lagi.""Papa, pliss jangan..." Kiara berusaha memohon."DIAM!" bentak Papa Kiara tanpa menatap Kiara, matanya tetap fokus padaku. "Dan bukan cuma itu. Aku juga bisa lapor polisi. Bilang kamu menculik anak aku. Menyekapnya. Mungkin juga... memperkosanya.""APA?!" aku dan Kiara berteriak bersamaan."Tapi itu bohong!" protesku keras."Bohong?" Papa Kiara tertawa meremehkan. "Siapa yang akan percaya? Kamu cuma anak miskin yang gak punya koneksi dimana-mana. Dan aku... pengusaha sukses dengan pengacara terbaik."Aku terdiam, tidak bisa menjawab. Karena dia benar.Di dunia ini, uang dan kekuasaan bisa membeli segalanya. Termasuk... keadilan."Jadi..." Papa Kiara melipat tangan di dada. "Kamu punya dua pilihan. Satu, kam







