LOGINMaya masih memegang ponselnya, layarnya sudah gelap lagi, tapi jarinya tetap di pinggir casing seolah takut pesan itu akan muncul kembali.Radit berdiri di sebelah sofa, tangannya di saku celana, mencoba terlihat tenang meski dadanya terasa sesak."Apa isinya?" tanya Radit pelan.Maya membuka layar sekali lagi, membaca cepat. "Cuma ‘Halo Maya, ini Lena. Mira kasih nomor kamu. Boleh bicara sebentar? Ada yang penting soal Kara.’ Pendek. Tapi sudah cukup."Radit mengangguk, rahangnya mengeras. "Dia langsung ke kamu. Bukan lewat aku. Mira pasti kasih nomor ini pagi ini juga."Maya meletakkan ponsel di meja dengan gerakan pelan, seperti meletakkan sesuatu yang panas. "Aku nggak langsung balas. Nanti dulu. Aku mau ketemu Alya dulu, dengar dia bicara apa soal Mira. Baru kita putuskan bareng."Radit melihat Maya berdiri, merapikan blus putihnya di depan cermin kecil dekat pintu masuk. Rambutnya masih agak lembab, tapi ia sudah terlihat siap, tenang di luar, tapi Radit tahu di dalam pasti berg
Radit duduk di sofa ruang tamu, laptop terbuka di pangkuannya, tapi layarnya masih gelap. Ia mendengar suara shower Maya dari kamar mandi utama, air mengalir stabil, sesekali berhenti sebentar saat Maya mengambil sabun atau sampo.Ia mencoba membuka email kerja, tapi pikirannya melayang ke gambar Kara yang sekarang tersimpan di laci. Figur Lena di pojok itu. Chat malam-malam dari Mira. Arka yang tertawa di ayunan. Semuanya berputar pelan, seperti roda yang mulai bergerak tanpa bisa dihentikan.Ponselnya bergetar di meja kopi. Nomor Mira.Radit melirik ke arah kamar mandi. Suara shower masih berlangsung. Ia mengangkat telepon dengan suara rendah."Halo.""Om Radit," suara Mira terdengar santai, hampir ceria. "Alya baru telepon aku. Katanya kamu marah soal chat sama Kara. Maaf ya, aku kelewatan."Radit berdiri, berjalan pelan ke jendela depan. "Ini bukan soal marah, Mira. Ini soal batas. Kara masih kecil. Kamu nggak boleh cerita apa pun tentang Lena, tentang Victor, atau tentang ‘rahasi
Radit menutup pintu depan dengan pelan. Maya sudah duduk di kursi makan, tangannya memegang gelas air yang belum disentuh.Gambar Kara dengan figur Tante Lena masih tergeletak di tengah meja, warna-warnanya kontras dengan suasana pagi yang mulai terasa berat."Kamu ketemu Alya di mana?" tanya Maya tanpa basa-basi, suaranya rendah."Di kafe dekat rumahnya," jawab Radit sambil menarik kursi di depan Maya. Ia duduk dan meletakkan kunci mobil di meja. "Aku bilang langsung soal chat Mira sama Kara. Alya bilang dia akan tegur Mira. Dia juga janji pertemuan tetap boleh, tapi cerita-cerita itu harus lewat kita dulu."Maya mengangguk pelan, matanya tidak lepas dari gambar itu. "Bagus. Tapi aku nggak yakin Alya bisa kendalikan Mira sepenuhnya. Mira kelihatan seperti orang yang sudah punya rencana sendiri."Radit mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Aku juga ngerasa gitu. Dia terlalu santai tadi di telepon. Seolah dia sudah siap kalau kita marah."Maya mengambil gambar Kara, memandanginya seb
Radit berdiri di ambang dapur, masih memegang ponsel yang layarnya sudah gelap. Suara Kara yang bernyanyi pelan dari koridor terdengar semakin jelas saat ia keluar dari kamar sambil memakai sepatu sekolah."Ma, sepatu aku yang pink mana?" tanya Kara sambil melongok ke dapur. "Yang ada gambar kupu-kupunya."Maya berbalik dari wastafel, senyumnya cepat dipasang. "Di rak sepatu depan, Sayang. Ayo, Mama antar sekarang biar nggak telat."Kara mengangguk riang, tapi matanya melirik Radit sebentar. "Papa ikut nggak hari ini?"Radit menggeleng pelan. "Papa ada urusan sebentar. Nanti sore Papa jemput ya.""Oke!" Kara meraih tas ranselnya yang sudah Maya siapkan. Sebelum berjalan ke pintu, ia berhenti dan memeluk pinggang Radit sebentar. "Jangan lupa ya, Pa. Nanti cerita soal Tante Lena boleh? Aku penasaran."Radit mengusap punggung putrinya, berusaha agar suaranya tetap biasa. "Kita bicarain pelan-pelan. Sekarang buruan ke sekolah dulu."
Radit masih memandangi gambar di tangan Kara, jarinya tanpa sadar menekan kertas itu lebih kuat. Warna-warna cerah yang digambar putrinya tiba-tiba terasa terlalu terang, hampir menyilaukan."Lena?" ulangnya, suaranya lebih pelan dari yang ia inginkan. "Kak Mira cerita apa lagi tentang Tante Lena?"Kara menggigit roti selainya dengan santai, remah-remah jatuh ke meja. "Katanya Tante Lena itu saudara kita juga. Mirip Kak Mira, tapi lebih galak. Dia suka cerita yang seru-seru. Katanya nanti dia datang bawa hadiah buat aku dan Arka."Maya meletakkan gelas susu Kara di meja dengan gerakan yang terlalu hati-hati. Wajahnya tetap tenang, tapi Radit melihat otot di rahangnya menegang. "Kara, Sayang… Tante Lena ini siapa sebenarnya? Kak Mira ceritain kapan?""Tadi malam, pas chat," jawab Kara polos. Ia mengambil pensil warna dari tas sekolahnya yang masih tergeletak di kursi. "Kak Mira kirim foto lama. Ada Tante Lena di situ, lagi pegang bayi. Katanya itu
Dua hari kemudian, pertemuan kedua berlangsung di rumah Radit dan Maya. Bukan ide Radit, tapi Kara yang memohon-mohon sampai Maya akhirnya mengalah. "Cuma main sebentar, Ma. Arka bilang dia mau lihat kamar aku."Mira dan Alya datang pukul empat sore, kali ini Arka membawa tas kecil berisi mobil-mobilan. Begitu masuk, Arka langsung mencari Kara dengan mata berbinar. "Kakak! Aku bawa mobil polisi, kita main kejar-kejaran ya?"Kara menarik tangannya tanpa ragu. "Ayo ke kamar aku! Ada trek mobil di lantai."Kedua anak itu menghilang ke koridor, suara tawa mereka bergema pelan. Ruang tamu mendadak terasa lebih luas dan lebih sepi bagi orang dewasa.Maya menyajikan teh dan kue kering yang ia beli tadi pagi. "Silakan. Maaf rumah agak berantakan."Alya mengambil secangkir teh. "Rumah kalian nyaman. Aku iri."Mira duduk di sofa, kakinya disilang. Ia tidak banyak bicara hari ini, hanya mengamati. Radit merasa tatapannya seperti sedang mengukur sesuatu."Arka tidur nyenyak setelah pertemuan kema
Sebuah mobil sedan putih berhenti di sampingku. Jendela turun, dan wajah Bu Siska muncul dari balik kemudi."Radit? Kenapa masih di sini?" tanyanya."Bu Siska? Bukannya Ibu sudah pulang tadi?""Aku balik lagi. Ketinggalan dompet di ruangan." Ia menatap motorku. "Motormu kenapa?""Mogok, Bu. Gak mau
Cahaya matahari pagi menembus kaca depan mobil, jatuh tepat ke wajahku. Hangatnya membuatku terbangun perlahan.Aku mengerjap beberapa kali, kepalaku terasa berat, sementara leherku pegal karena semalaman tertahan dalam posisi duduk."Hah... pagi?" gumamku lirih, masih setengah sadar.Pandangan mat
"Impoten?" gumamku pelan. Suaraku nyaris tak terdengar, tapi ternyata tetap sampai ke telinganya. "Iya, Dit," jawab Mama Jessica lirih. Aku menatapnya, dahi mengernyit. "Mama tau dari mana?" tanyaku hati-hati. "Papa yang bilang, atau gimana?" Mama Jessica menggeleng pelan. "Papa nggak pernah b
Minggu kedua bekerja berlalu dengan cepat. Rutinitas mulai terbentuk. Berangkat pagi, pulang sore, sesekali lembur karena ada trouble shooting yang harus diselesaikan.Bu Siska masih sering menghubungiku, kadang untuk urusan kantor, kadang hanya untuk membicarakan hal yang menurutku sama sekali tid







