Share

Godaan Pilot Perkasa: Terjebak Janda Cantik dan Anaknya
Godaan Pilot Perkasa: Terjebak Janda Cantik dan Anaknya
Author: Langit Berawan

Bab 1. Skandal Video Syur

last update Last Updated: 2025-12-30 07:13:35

“Semoga hari ini adalah hari yang membawa keberuntungan untukku,” gumam Mahes pelan saat pesawat yang ia kemudikan akhirnya mendarat mulus di Bandara Soekarno-Hatta.

Sebulan penuh ia bertugas di Amsterdam. Jarak, waktu, dan jadwal penerbangan yang padat membuatnya menahan rindu pada Veronica, istrinya. Rindu yang menumpuk, hasrat yang tertahan.

Sepanjang perjalanan pulang, bayangan istrinya terus memenuhi pikirannya. Senyum Veronica, sentuhannya, malam yang seharusnya mereka habiskan bersama setelah lama terpisah.

Dengan seragam putih dan jas hitam yang masih membungkus tubuhnya, Mahes keluar dari kokpit dengan langkah sedikit tergesa. “Huh, penerbangan yang melelahkan,” gumamnya pelan. Bukan hanya tubuhnya yang letih, pikirannya pun terasa berat oleh rindu yang belum juga terlampiaskan.

Namun, langkah Mahes terhenti ketika ponselnya bergetar di saku jas. Sebuah pesan masuk dari sekretaris kantor pusat maskapai.

Pak Mahes diminta segera menghadap pimpinan begitu tiba di kantor.

Alis Mahes mengernyit. Biasanya urusan administrasi bisa menunggu. Namun pesan itu terasa berbeda. Ada sesuatu yang tidak beres.

Tampak seorang lelaki berperawakan indo dengan rambut sebagian sudah memutih telah menunggunya di meja kerja. Ekspresinya datar saat mempersilakan Mahes duduk.

“Aku tidak tahu cara yang tepat untuk memberitahu kamu,” ucap sang pimpinan dengan suara dingin, “karena sebenarnya aku mengenal kamu sebagai pekerja keras dan salah satu pilot terbaik di maskapai ini.”

Detik itu juga, dada Mahes terasa menghangat oleh firasat buruk.

“Pak Mahes,” lanjut lelaki itu, “mulai hari ini, atas keputusan pihak direksi, kamu mendapat grounded dalam waktu yang belum ditentukan.”

“Hah?” Mahes terpaku. “Apa maksud Bapak?”

“Alasannya cuma satu,” jawabnya singkat. “Demi menjaga citra dan nama baik maskapai.”

Napas Mahes terasa berat. “Apa salah saya, Pak?”

Tanpa menjawab, lelaki itu menggeser beberapa berkas ke atas meja. “Buktinya sudah aku kirim ke ponselmu. Ini surat pembebasan tugasanmu. Sekarang, silakan meninggalkan ruangan ini.”

Mahes tak mampu berkata apa-apa. Dengan langkah gontai, ia keluar dari ruangan itu dan berjalan menyusuri lorong kantor yang terasa sepi dan dingin. Tangannya bergetar saat membuka pesan yang masuk di ponselnya.

HAH…? GILA…!

Sebuah video mesum berdurasi 35 detik terputar di layar. Seorang lelaki bertubuh tegap dengan perut sixpack membuka pakaian dalam seorang wanita, lalu bergerak maju mundur di hadapan tubuh wanita itu. Wajah sang wanita tidak terlihat sama sekali. Namun di akhir video, wajah lelaki itu tampak jelas.

Wajah yang sangat mirip dengannya.

APA…?

Mahes menatap layar ponselnya dengan mata membelalak. Ia memutar ulang video itu sekali lagi. 99 persen wajah lelaki dalam video itu serupa dengannya.

“Sial… seseorang telah menjatuhkan reputasiku,” gumamnya pelan.

Hari itu seharusnya menjadi hari kepulangannya sebagai suami. Namun justru berubah menjadi penerbangan terakhirnya di maskapai Holy Airways.

Dengan hati yang berat, Mahes melangkah pulang. Ia memilih tidak memberi kabar pada Veronica bahwa dirinya sudah mendarat. Rindu yang sejak awal membuncah kini bercampur dengan amarah dan kebingungan. Ia hanya ingin melihat istrinya. Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman baginya saat ini.

Namun dari kejauhan, langkah Mahes terhenti.

Sebuah sedan hitam terparkir di depan rumahnya. Ia melihat Veronica keluar dengan langkah ringan. Seorang lelaki berkemeja hitam membuka pintu mobil, lalu mencium pipi istrinya sebelum Veronica masuk ke dalam.

“Pria itu…” Mahes terpaku. Dadanya terasa sesak. Lelaki itu… ia seperti mengenalnya.

Dengan rasa penasaran bercampur amarah, Mahes mengikuti mobil itu hingga berhenti di depan sebuah club malam. Keduanya keluar dari mobil sambil bergandengan tangan, berjalan mesra layaknya sepasang kekasih.

SIAL…!

Mahes tidak bisa lagi menahan diri. Ia keluar dari mobil dan melangkah cepat ke arah mereka.

“Vero!” teriaknya lantang.

Veronica menoleh, wajahnya seketika berubah pucat.

“Aldo?” Mahes menggeram saat menyadari lelaki di samping istrinya adalah mantan rekan kerjanya di maskapai nasional tempat ia bekerja dulu.

“Bangsat kamu, Do!” Mahes mengepalkan tangan. “Berani-beraninya kamu selingkuhin istri temanmu sendiri!”

Aldo tersenyum sinis. “Jangan salahin aku. Salahin diri kamu sendiri. Kenapa sekarang Vero lebih memilih aku?”

Pukulan Mahes mendarat telak, membuat Aldo terjatuh. Namun Veronica segera berteriak.

“Mahes! Hentikan!”

“Vero, ini urusanku dengan dia!” bentaknya. “Urusan kita nanti di rumah!”

Namun Veronica justru menatapnya dingin. “Apa yang Aldo katakan itu benar. Dia tidak bersalah. Kamulah yang bersalah.”

“Apa?” Mahes terdiam.

“Jangan sok suci, Mahes,” lanjut Veronica sambil mengeluarkan ponsel. Sebuah video diputar. Video yang sama. Video mesum itu.

“Kamu bisa selingkuh, kenapa aku tidak?” katanya dingin.

“Sumpah, Vero, itu bukan aku!”

“Masih menyangkal?”

“Ayo pulang,” suara Mahes melemah. “Kita bicarakan baik-baik.”

“Aku tidak akan pulang bersamamu,” potong Veronica. “Dan mulai detik ini, kamu juga tidak bisa pulang ke rumah itu.”

“Sesuai perjanjian pra nikah,” lanjutnya tanpa ragu, “kalau kita berpisah, semua harta yang kamu miliki menjadi milikku.”

“Sudah selingkuh, viral, sekarang tanpa tahu malu minta istrinya kembali?! Dasar laki-laki gak tahu diri kamu, Mahes!” ucap Aldo seraya menarik pinggang Veronica.

Mahes berdiri kaku. Dadanya sesak, seolah udara mendadak menipis. Dalam satu hari, semua yang ia bangun susah payah lenyap begitu saja.

Malam itu Mahes akhirnya memutuskan bermalam di sebuah hotel. Tubuhnya terhempas di atas kasur empuk, namun matanya tetap terbuka menatap langit-langit kamar. Keheningan justru membuat pikirannya semakin gaduh. Wajah Veronica, suara Aldo, dan video itu terus berputar di kepalanya tanpa henti.

Ponsel Mahes tiba-tiba berdering di tengah keheningan kamar. Nomor tak dikenal.

Mahes mengernyit sejenak, lalu mengangkat panggilan itu.

“Halo?”

“Selamat malam, apakah saya sedang berbicara dengan Pak Mahesa?” suara di seberang terdengar tenang dan profesional.

“Ya, saya sendiri.”

“Saya menelepon terkait lamaran pekerjaan yang pernah Bapak kirimkan. Kami tertarik dengan rekam jejak Bapak sebagai pilot.”

Mahes terdiam sesaat. Ia sama sekali tidak mengingat pernah mengirim lamaran pekerjaan. Namun sebelum sempat bertanya, suara itu kembali terdengar.

“Kami membutuhkan pilot pribadi secepatnya. Jika Bapak bersedia, besok pagi kami minta Bapak datang langsung ke hanggar pribadi di bandara.”

“Hanggar pribadi?” ulang Mahes pelan.

“Betul, Pak. Detail selebihnya akan kami jelaskan di sana.”

Mahes menatap lurus ke depan. Dalam kondisi seperti sekarang, ia tidak punya ruang untuk memilih.

“Saya akan datang,” jawabnya akhirnya.

“Baik. Kami tunggu.”

Sambungan hampir terputus ketika suara itu kembali terdengar.

“Oh iya, Pak Mahesa,” ucapnya seolah mengingat sesuatu.

“Orang yang membutuhkan jasa Bapak ini punya kebiasaan tertentu dengan setiap pilot pribadinya.”

Hening sejenak, lalu ia melanjutkan, “Dan dari pengalaman Bapak… sepertinya beliau akan menyukai Bapak.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Godaan Pilot Perkasa: Terjebak Janda Cantik dan Anaknya   Bab 10. Menjual Kehormatan

    Penerbangan telah berlangsung selama 6 jam, tanpa terasa hari sudah mendekati tengah malam. Di dalam kokpit, kopilot Anton mulai mengantuk, beberapa kali dia terdengar menguap. “Kalau sudah ngantuk, istirahat dulu saja, Pak,” ucap Mahes yang sedang duduk dengan tenang dan nyaman di kursinya tanpa ada sembarang gangguan.“Saya ke belakang sebentar, Pak, mau ambil kopi, sekalian ke toilet,” jawab Anton, kemudian ia beranjak dari kursinya di sebelah kanan Mahes.Saat Anton masuk dalam kabin, rupanya lampu di ruang itu sudah redup, tampak Robert sedang duduk sambil bersandar di kursinya dengan mata terpejam, Ritha terlihat masih terjaga di tempat duduknya, ia dengan santai sedang membuka-buka gawai di tangannya, “Iya ada apa, Pak Anton?” tanyanya saat meyadari lelaki itu datang mendekatinya.“Tolong buatkan aku kopi ya,” jawab Anton.“Baik Pak, apalagi? Mungkin Pak Anton mau camilan atau mau aku buatkan mie rebus?”“Oh iya, camilan boleh tuh. Aku mau ke toilet dulu ya…” tambah Anton, lalu

  • Godaan Pilot Perkasa: Terjebak Janda Cantik dan Anaknya   Bab 9. Tidurlah Pengganggu!

    Emma menatap nyalang ke arah Rose, saat melihat putrinya itu sengaja mempertontonkan kemesraan dengan menggandeng tangan Mahes di hadapannya. Mahes yang menyadari sedang diperhatikan oleh Emma merasakan dalam situasi tidak nyaman. “Ayo Pak Mahes mau makan apa?” tanya Rose saat duduk di depan meja makan bersama Mahes. Mahes menoleh ke arah Ritha yang berdiri di dekatnya, “Kalau Pak Anton tadi makan apa ya?” tanyanya memastikan.“Oh, tadi Pak Anton makan pasta, Pa,” jawab Ritha.“Kalau begitu berikan aku makanan selain pasta saja,” jelas Mahes.“Kenapa harus beda dari Pak Anton?” Rose menegasi.“SOP penerbangan seperti itu, Nona. Dalam penerbangan antara Pilot dan Kopilot tidak boleh makan makanan yang sama, untuk menghindari sakit perut atau keracunan pada makanan.”“Oh iya… aku paham.”Rose pun memesan makanan yang sama dengan Mahes, lalu menemani sang pilot makan malam. “Nyonya Emma, mari sekalian makan, Nyonya?” ucap Mahes pada Emma setelah Ritha menyiapkan makanan di atas me

  • Godaan Pilot Perkasa: Terjebak Janda Cantik dan Anaknya   Bab 8. Bersitegang Dalam Kokpit

    “Mama… apa-apaan sih?” ucap Rose dengan tatapan penuh kecurigaan pada ibunya. Sesaat keduanya saling mengunci pandang, menciptakan segitiga kekuasaan yang kejam di dalam kokpit di ketinggian 36.000 kaki, dan Mahes seolah tengah dikepung oleh daya tarik menarik keduanya, ia menyadari bahaya sejatinya bukan lagi cuaca buruk atau kegagalan mesin, melainkan berada di tengah intrik dua wanita keluarga Laurent yang kini memegang kendali penuh atas nasibnya.“Kenapa, kamu?” balas Emma dengan gerakan sedikit menjauhkan diri dari Mahes.“Seharusnya aku yang bertanya, kenapa Mamah mengganggu orang yang sedang bekerja?”“Mengganggu? Jangan asal bicara, Rose,” tegas Emma. “Terus kamu mau apa ke sini?” tanyanya.“Aku mau memastikan agar tidak mati konyol karena kelalaian orang yang hanya menuruti keinginan hatinya sendiri, tanpa kenal situasi,” ucap Rose menyindir Emma.Ucapan kedua wanita itu membuat ruangan kokpit terasa menyempit dan menghimpit, hingga Mahes susah bernapas dibuatnya.“Nona Rose

  • Godaan Pilot Perkasa: Terjebak Janda Cantik dan Anaknya   Bab 7. Sentuhan di Ketinggian 36 Ribu Kaki

    “Selamat malam, Nyonya Emma…” sapa Mahes saat menyadari majikannya masuk ke dalam kokpit. Seketika di dalam ruangan berukuran sederhana itu tercium aroma parfum yang sulit digambarkan tapi mampu melenakan orang yang menciumnya. “Malam juga Mahes... bagaimana penerbangan kita sejauh ini, aman-aman saja, kan?” balas Emma sambil berdiri di sisi kanan Mahes yang sedang duduk di kursi kendalinya. “Siap, Nyonya, semua lancar dan terkendali,” jelas Mahes untuk meyakinkan majikannya.Emma kemudian mengamati panel dan tombol-tombol yang berada di depan Mahes, “Dari dulu aku tuh kagum dengan pekerjaan sebagai pilot, bisa mengendalikan dan mengontrol tombol-tombol kecil dan rumit seperti ini,” ungkapnya.“Pilot memang salah satu pekerjaan paling menantang, Nyonya, diperlukan komitmen yang kuat dalam menjalani profesinya,” ucap Mahes menimpali.“Jujur, setiap ketemu pilot itu aku merasa kepo, makan apa sih mereka kok sampai bisa cerdas dan hebat begitu?” ujar Emma membuat Mahes tertawa kecil.

  • Godaan Pilot Perkasa: Terjebak Janda Cantik dan Anaknya   Bab 6. Permainan Batas Kontrol

    Detik yang ditunggu, tiba saatnya penerbangan perdana Kapten Mahesa sebagai pilot pribadi seorang artis kenamaan, Emma Laurent. Sebelum lepas landas sang pilot memberikan informasi keselamatan pada para crew dan penumpang di dalam pesawat: "Selamat sore para penumpang Super Midsize Jets Dassault Falcon 50. Ini adalah kapten Anda yang berbicara. Nama saya Mahesa Prawira, dan saya dengan senang hati menyambut Anda di penerbangan kami menuju Paris, Kota Cahaya. Waktu penerbangan kita hari ini diperkirakan sekitar 11 hingga 12 jam. Saya akan memberikan informasi terbaru selama penerbangan mengenai perkiraan waktu tiba dan cuaca selama perjalanan. Silakan duduk, rileks, dan nikmati penerbangan Anda ke Kota Paris." Senyum Emma mengembang mendengar suara pilot pribadinya, kharismatik, tenang, dan menyejukan hati setiap orang yang mendengar, “Penantianku selama setahun sebagai wanita single akhirnya berbuah manis,” gumamnya sambil duduk memandang keluar jendela, tampak sunset mulai terbentu

  • Godaan Pilot Perkasa: Terjebak Janda Cantik dan Anaknya   Bab 5. Sesal di Hati Vero

    Mahes sedang berdiri di luar sebuah toko pastry, menunggu Rose yang sedang memilih roti cokelat kesukaannya. Tiba-tiba pandangan Mahes tertuju pada seorang wanita berpakaian pramugari dan seorang lelaki yang berseragam pilot, keduanya tampak berjalan beriringan keluar dari pintu kedatangan, “Veronica dan Aldo?” gumamnya. Tidak ingin melepaskan keduanya begitu saja, Mahes segera mengejar mereka.“Vero…!” panggil Mahes saat mendekat.Wanita bertubuh tinggi dan ramping itu menoleh ke arah Mahes, “Mahes?” ucapnya terkejut mendapati kehadiran Mahes di depannya dengan mengenakan seragam seorang pilot. “Mau apa kamu di sini? Bukannya kamu sudah dipecat dari maskapai Holy Airways? Atau… kamu sedang mengemis pekerjaan dengan seragammu ini?”“Karirmu sudah tamat, Mahes! Tidak akan ada maskapai manapun yang mau menerimamu, gara-gara video mesummu itu. Kasihan sekali kamu, Mahes… tidak lama lagi kamu pasti jatuh miskin!” Aldo di samping Veronica angkat bicara penuh hinaan.“Diam kamu, Do! Aku t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status