Home / Urban / Godaan Pilot Perkasa: Terjebak Janda Cantik dan Anaknya / Bab 2. Di Bawah Kekuasaan Nyonya Laurent

Share

Bab 2. Di Bawah Kekuasaan Nyonya Laurent

last update Last Updated: 2025-12-30 07:19:07

Keesokan pagi, Mahes bergegas menuju sebuah hanggar yang dekat dengan bandara Soekarno Hatta.

Di hanggar itu ada beragam jet pribadi yang sangat ia kenal, bahkan merupakan impian para pilot untuk bisa berkesempatan untuk menerbangkannya.

Ada HondaJet HA-420, Embraer Phenom 100EV, bahkan Pilatus PC-24 yang harganya bisa belasan juta dolar!

“Dengan Pak Mahesa?”

Saat Mahes masih mengagumi jet-jet kecil namun mewah itu, tiba-tiba seorang pria dengan tuxedo mewah menepuk pundaknya.

“Be-benar, saya sendiri…”

“Pak Mahes, ayo ikut saya ke ruang tunggu, boss saya ingin bertemu dengan Bapak terlebih dahulu sebelum penerbangan,” ucap pria itu, saat Mahes masih mengagumi betapa megahnya hanggar tersebut.

Robert, sebuah papan nama menempel di dada kiri pria itu.

“Oke, siap!”

Sebelum keluar Mahes mematut diri di depan cermin, selalu memastikan penampilannya rapi dan enak dipandang mata. Terlebih lagi untuk pertama kalinya bertemu dengan majikan barunya, ia harus memberi kesan yang baik serta menarik padanya.

Saat dipersilakan masuk di ruang tunggu private, tampak di dalam ruangan berukuran sederhana itu sedang duduk seorang gadis bertubuh langsing dengan rambut panjang terurai hingga sebahu, saat menoleh karena kehadiran Mahes, tampak terlihat gadis itu berwajah oval, berhidung mancung, bibir tipis, dan memiliki sepasang mata bulat dengan bulu matanya yang lentik, ia tampak cantik meskipun tanpa make up tebal.

“Nona Rose, perkenalkan ini Kapten Mahesa Prawira, yang sementara waktu akan menggantikan Kapten Mursi,” ucap Robert memperkenalkan Mahes pada gadis itu.

Mata Rose yang bulat dengan ekor matanya memandang dari bawah hingga ke atas tubuh Mahes, “Nah, kalau cari pilot yang muda begini Pak Robert, kalau muda pasti tenaganya kuat,” ucap Rose sambil tersenyum.

Robert pun menjelaskan pada Mahes kalau Rose adalah anak tunggal dari keluarga Laurent. 

“Maaf Nona, Ibu kemana ya?” tanya Robert memastikan karena di ruangan itu hanya ada Rose sendirian.

“Sedang ke toilet, sebentar lagi juga datang,” jawab Rose sambil menekan-nekan gawai di tangannya. “Duduklah,” ucapnya saat melirik pada Mahes yang masih berdiri.

“I-iya, Nona, terima kasih,” jawab Mahes sambil membungkukan sedikit badannya lalu ia duduk di seberang tempat duduk Rose, berselang satu kursi dengannya. Sedangkan Robert memilih untuk menunggu bossnya di luar ruangan.

“Sebelum ini Pak Kapten kerja di mana?” tanya Rose memulai obrolan dengan Mahes.

“Maskapai Holy Airways, Nona,” jawab Mahes.

“Wah, pilot internasional dong! Pasti gajinya besar ya!”

“Ya lumayanlah, Nona.”

Obrolan Rose dan Mahes pun berlanjut dengan hal-hal personal yang ditanyakan Rose, mulai dari riwayat pendidikannya hingga status pernikahannya. Pada pertemuan pertama itu, tampak Rose memiliki ketertarikan pada Mahes, beberapa kali ia mencuri pandang ke wajah Mahes, sehingga tatapan keduanya bertemu, diakhiri dengan saling melempar senyum.

“Ganteng juga Pak Pilot ini,” batin Rose sambil tertunduk dan tersenyum sendiri.

Dalam hati Mahes juga mengakui kalau Rose memiliki daya tarik yang sangat kuat, siapa saja yang dekat dengannya akan mudah terpikat.

Krekkk…!

Pintu ruangan itu pun terbuka, seorang wanita yang menutup tubuhnya dengan jaket dihiasi bulu-bulu halus berwarna cokelat pada kedua lengan dan kerahnya itu masuk ke dalam ruangan, diikuti Robert muncul di belakangnya…

“Hai…,” sapa wanita itu dengan penuh keramahan pada Mahes, “Wah, ini ya Pak Pilotnya itu?” ucapnya sambil mendekat ke arah Mahes.

Mahes yang menyadari kehadiran majikan barunya datang langsung berdiri lalu mengiyakan ucapan wanita itu.

Detik itu untuk pertama kalinya Mahes  melihat secara langsung wajah artis yang selama ini hanya dilihatnya melalui layar televisi, “Ternyata lebih cantik aslinya,” gumamnya dalam hati.

“Perkenalkan, aku Emma Laurent, dan ini putriku Rose Laurent,” ucap wanita itu dengan lemah lembut memperkenalkan diri di depan Mahes. Rose tampak bergeming menekan-nekan gawai di tangannya, seolah tak mempedulikan ucapan mamanya.

“Salam kenal Nyonya,” balas Mahes menangkupkan kedua tangan sambil tersenyum ramah  pada majikan barunya itu.

“Mahesa Prawira. Wah, bagus sekali namamu. Kesannya gagah namamu itu, seperti orangnya,” puji Emma saat membaca papan nama di dada Mahes.

“Jadi mulai hari ini Kapten Mahes sudah bersedia menjadi pilot pribadi keluarga Laurent?” tanya Emma sambil menatap bulat-bulat wajah Mahes di depannya. Sebagai lelaki kamu sangat sempurna Mahes, batin Emma langsung terpana pada kegagahan dan ketampanan Mahes pada pandangan pertama.

“Iya Nyonya Emma, aku bersedia mulai  bekerja hari ini,” jawab Mahes coba meyakinkan disertai anggukkan kepala.

Rose yang masih duduk di sofa, menyadari kalau mamanya memandang Mahes dengan penuh ketertarikan, “Seperti tidak pernah bertemu lelaki saja,” umpat Rose dalam hati.

“Maaf Nyonya, sementara ini Mahes hanya pilot pengganti saja,” bisik Robert yang sejak tadi berada di belakang majikannya itu.

“Kok gitu?”

“Pak Mursi masih tetap bertugas, Nyonya.”

“Dibalik saja, Mursi yang pilot cadangan, Mahes yang jadi pilot utama. Kamu tahu sendirikan Mursi itu selalu saja ada alasan kalau sedang dibutuhkan,” ujar Emma memberi perintah pada Robert.

Mahes yang mendengar dengan jelas ucapan Emma, kian bersemangat untuk menjalankan pekerjaan barunya bersama seorang artis terkenal yang memiliki jutaan peminat.

“Pak Mahes, sekarang kita harus melakukan pengecekan pada pesawat, mengingat waktu take off sudah dekat, mari kita pergi,” ucap Robert memberitahu Mahes.

“Nyonya Emma, Nona Rose, aku izin keluar dulu,” ucap Mahes saat akan meninggalkan ruang tunggu itu.

“Oke, Pak Kapten… Sampai ketemu di pesawat yaaa…” balas Emma sambil melambaikan jemarinya yang lentik ke arah Mahes.

Rose yang menyaksikan tingkah laku mamanya mulai merasa kesal, “Mengapa genit sekali sih wanita satu ini…” umpatnya dalam hati.

Sejurus keluar dari ruang tunggu, “Pak Robert, suami Nyonya Emma apa akan ikut penerbangan ini juga?” tanya Mahes sekadar memastikan.

“Suami Nyonya Emma, Mr. Laurent, sebenarnya sudah meninggal, kira-kira setahun yang lalu karena serangan jantung.”

“Oh, maaf, Pak. Aku tidak tahu.”

“Memang banyak yang tidak tahu kalau sekarang Nyonya Emma berstatus seorang janda.”

Mendengar ucapan Robert, Mahes jadi berangan-angan, "Sepertinya sangat menyenangkan bisa menikahi seorang janda kaya raya yang hartanya tidak akan habis tujuh turunan, pasti hidup bersamanya akan sangat menyenangkan."

Namun, ada yang mengganjal di hati Mahes. "Mengapa Emma Laurent mau menerimaku sebagai pilot pribadinya, sedangkan video-ku sudah beredar luas. Tidak mungkin dia tidak mengetahuinya?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Godaan Pilot Perkasa: Terjebak Janda Cantik dan Anaknya   Bab 10. Menjual Kehormatan

    Penerbangan telah berlangsung selama 6 jam, tanpa terasa hari sudah mendekati tengah malam. Di dalam kokpit, kopilot Anton mulai mengantuk, beberapa kali dia terdengar menguap. “Kalau sudah ngantuk, istirahat dulu saja, Pak,” ucap Mahes yang sedang duduk dengan tenang dan nyaman di kursinya tanpa ada sembarang gangguan.“Saya ke belakang sebentar, Pak, mau ambil kopi, sekalian ke toilet,” jawab Anton, kemudian ia beranjak dari kursinya di sebelah kanan Mahes.Saat Anton masuk dalam kabin, rupanya lampu di ruang itu sudah redup, tampak Robert sedang duduk sambil bersandar di kursinya dengan mata terpejam, Ritha terlihat masih terjaga di tempat duduknya, ia dengan santai sedang membuka-buka gawai di tangannya, “Iya ada apa, Pak Anton?” tanyanya saat meyadari lelaki itu datang mendekatinya.“Tolong buatkan aku kopi ya,” jawab Anton.“Baik Pak, apalagi? Mungkin Pak Anton mau camilan atau mau aku buatkan mie rebus?”“Oh iya, camilan boleh tuh. Aku mau ke toilet dulu ya…” tambah Anton, lalu

  • Godaan Pilot Perkasa: Terjebak Janda Cantik dan Anaknya   Bab 9. Tidurlah Pengganggu!

    Emma menatap nyalang ke arah Rose, saat melihat putrinya itu sengaja mempertontonkan kemesraan dengan menggandeng tangan Mahes di hadapannya. Mahes yang menyadari sedang diperhatikan oleh Emma merasakan dalam situasi tidak nyaman. “Ayo Pak Mahes mau makan apa?” tanya Rose saat duduk di depan meja makan bersama Mahes. Mahes menoleh ke arah Ritha yang berdiri di dekatnya, “Kalau Pak Anton tadi makan apa ya?” tanyanya memastikan.“Oh, tadi Pak Anton makan pasta, Pa,” jawab Ritha.“Kalau begitu berikan aku makanan selain pasta saja,” jelas Mahes.“Kenapa harus beda dari Pak Anton?” Rose menegasi.“SOP penerbangan seperti itu, Nona. Dalam penerbangan antara Pilot dan Kopilot tidak boleh makan makanan yang sama, untuk menghindari sakit perut atau keracunan pada makanan.”“Oh iya… aku paham.”Rose pun memesan makanan yang sama dengan Mahes, lalu menemani sang pilot makan malam. “Nyonya Emma, mari sekalian makan, Nyonya?” ucap Mahes pada Emma setelah Ritha menyiapkan makanan di atas me

  • Godaan Pilot Perkasa: Terjebak Janda Cantik dan Anaknya   Bab 8. Bersitegang Dalam Kokpit

    “Mama… apa-apaan sih?” ucap Rose dengan tatapan penuh kecurigaan pada ibunya. Sesaat keduanya saling mengunci pandang, menciptakan segitiga kekuasaan yang kejam di dalam kokpit di ketinggian 36.000 kaki, dan Mahes seolah tengah dikepung oleh daya tarik menarik keduanya, ia menyadari bahaya sejatinya bukan lagi cuaca buruk atau kegagalan mesin, melainkan berada di tengah intrik dua wanita keluarga Laurent yang kini memegang kendali penuh atas nasibnya.“Kenapa, kamu?” balas Emma dengan gerakan sedikit menjauhkan diri dari Mahes.“Seharusnya aku yang bertanya, kenapa Mamah mengganggu orang yang sedang bekerja?”“Mengganggu? Jangan asal bicara, Rose,” tegas Emma. “Terus kamu mau apa ke sini?” tanyanya.“Aku mau memastikan agar tidak mati konyol karena kelalaian orang yang hanya menuruti keinginan hatinya sendiri, tanpa kenal situasi,” ucap Rose menyindir Emma.Ucapan kedua wanita itu membuat ruangan kokpit terasa menyempit dan menghimpit, hingga Mahes susah bernapas dibuatnya.“Nona Rose

  • Godaan Pilot Perkasa: Terjebak Janda Cantik dan Anaknya   Bab 7. Sentuhan di Ketinggian 36 Ribu Kaki

    “Selamat malam, Nyonya Emma…” sapa Mahes saat menyadari majikannya masuk ke dalam kokpit. Seketika di dalam ruangan berukuran sederhana itu tercium aroma parfum yang sulit digambarkan tapi mampu melenakan orang yang menciumnya. “Malam juga Mahes... bagaimana penerbangan kita sejauh ini, aman-aman saja, kan?” balas Emma sambil berdiri di sisi kanan Mahes yang sedang duduk di kursi kendalinya. “Siap, Nyonya, semua lancar dan terkendali,” jelas Mahes untuk meyakinkan majikannya.Emma kemudian mengamati panel dan tombol-tombol yang berada di depan Mahes, “Dari dulu aku tuh kagum dengan pekerjaan sebagai pilot, bisa mengendalikan dan mengontrol tombol-tombol kecil dan rumit seperti ini,” ungkapnya.“Pilot memang salah satu pekerjaan paling menantang, Nyonya, diperlukan komitmen yang kuat dalam menjalani profesinya,” ucap Mahes menimpali.“Jujur, setiap ketemu pilot itu aku merasa kepo, makan apa sih mereka kok sampai bisa cerdas dan hebat begitu?” ujar Emma membuat Mahes tertawa kecil.

  • Godaan Pilot Perkasa: Terjebak Janda Cantik dan Anaknya   Bab 6. Permainan Batas Kontrol

    Detik yang ditunggu, tiba saatnya penerbangan perdana Kapten Mahesa sebagai pilot pribadi seorang artis kenamaan, Emma Laurent. Sebelum lepas landas sang pilot memberikan informasi keselamatan pada para crew dan penumpang di dalam pesawat: "Selamat sore para penumpang Super Midsize Jets Dassault Falcon 50. Ini adalah kapten Anda yang berbicara. Nama saya Mahesa Prawira, dan saya dengan senang hati menyambut Anda di penerbangan kami menuju Paris, Kota Cahaya. Waktu penerbangan kita hari ini diperkirakan sekitar 11 hingga 12 jam. Saya akan memberikan informasi terbaru selama penerbangan mengenai perkiraan waktu tiba dan cuaca selama perjalanan. Silakan duduk, rileks, dan nikmati penerbangan Anda ke Kota Paris." Senyum Emma mengembang mendengar suara pilot pribadinya, kharismatik, tenang, dan menyejukan hati setiap orang yang mendengar, “Penantianku selama setahun sebagai wanita single akhirnya berbuah manis,” gumamnya sambil duduk memandang keluar jendela, tampak sunset mulai terbentu

  • Godaan Pilot Perkasa: Terjebak Janda Cantik dan Anaknya   Bab 5. Sesal di Hati Vero

    Mahes sedang berdiri di luar sebuah toko pastry, menunggu Rose yang sedang memilih roti cokelat kesukaannya. Tiba-tiba pandangan Mahes tertuju pada seorang wanita berpakaian pramugari dan seorang lelaki yang berseragam pilot, keduanya tampak berjalan beriringan keluar dari pintu kedatangan, “Veronica dan Aldo?” gumamnya. Tidak ingin melepaskan keduanya begitu saja, Mahes segera mengejar mereka.“Vero…!” panggil Mahes saat mendekat.Wanita bertubuh tinggi dan ramping itu menoleh ke arah Mahes, “Mahes?” ucapnya terkejut mendapati kehadiran Mahes di depannya dengan mengenakan seragam seorang pilot. “Mau apa kamu di sini? Bukannya kamu sudah dipecat dari maskapai Holy Airways? Atau… kamu sedang mengemis pekerjaan dengan seragammu ini?”“Karirmu sudah tamat, Mahes! Tidak akan ada maskapai manapun yang mau menerimamu, gara-gara video mesummu itu. Kasihan sekali kamu, Mahes… tidak lama lagi kamu pasti jatuh miskin!” Aldo di samping Veronica angkat bicara penuh hinaan.“Diam kamu, Do! Aku t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status