Mag-log in“Pernah melakukannya di ketinggian 36.000 kaki?” Bisikan itu mampir di telinga Mahesa, lebih tipis dari udara di luar kokpit, namun cukup untuk membuat fokusnya buyar. “Be–belum, Nyonya…” “Mau mencobanya bersamaku?” Emma Laurent melepas kancing teratas kemejanya, membiarkan profesionalisme Mahesa luruh bersama gravitasi. Karir Mahesa hancur dalam semalam akibat skandal video palsu. Satu-satunya jalan kembali ke langit adalah menjadi pilot pribadi Emma Laurent, sang dewi layar lebar yang haus kendali. Namun, kokpit jet mewah itu menjadi godaan berbahaya ketika Rose, putri Emma yang pemberontak, mulai ikut campur. Kini, Mahes terjebak dalam turbulensi antara dua wanita yang bisa memulihkan namanya atau justru menjatuhkannya ke titik terendah tanpa parasut.
view more“Semoga hari ini adalah hari yang membawa keberuntungan untukku,” gumam Mahes pelan saat pesawat yang ia kemudikan akhirnya mendarat mulus di Bandara Soekarno-Hatta.
Sebulan penuh ia bertugas di Amsterdam. Jarak, waktu, dan jadwal penerbangan yang padat membuatnya menahan rindu pada Veronica, istrinya. Rindu yang menumpuk, hasrat yang tertahan.
Sepanjang perjalanan pulang, bayangan istrinya terus memenuhi pikirannya. Senyum Veronica, sentuhannya, malam yang seharusnya mereka habiskan bersama setelah lama terpisah.
Dengan seragam putih dan jas hitam yang masih membungkus tubuhnya, Mahes keluar dari kokpit dengan langkah sedikit tergesa. “Huh, penerbangan yang melelahkan,” gumamnya pelan. Bukan hanya tubuhnya yang letih, pikirannya pun terasa berat oleh rindu yang belum juga terlampiaskan.
Namun, langkah Mahes terhenti ketika ponselnya bergetar di saku jas. Sebuah pesan masuk dari sekretaris kantor pusat maskapai.
Pak Mahes diminta segera menghadap pimpinan begitu tiba di kantor.
Alis Mahes mengernyit. Biasanya urusan administrasi bisa menunggu. Namun pesan itu terasa berbeda. Ada sesuatu yang tidak beres.
Tampak seorang lelaki berperawakan indo dengan rambut sebagian sudah memutih telah menunggunya di meja kerja. Ekspresinya datar saat mempersilakan Mahes duduk.
“Aku tidak tahu cara yang tepat untuk memberitahu kamu,” ucap sang pimpinan dengan suara dingin, “karena sebenarnya aku mengenal kamu sebagai pekerja keras dan salah satu pilot terbaik di maskapai ini.”
Detik itu juga, dada Mahes terasa menghangat oleh firasat buruk.
“Pak Mahes,” lanjut lelaki itu, “mulai hari ini, atas keputusan pihak direksi, kamu mendapat grounded dalam waktu yang belum ditentukan.”
“Hah?” Mahes terpaku. “Apa maksud Bapak?”
“Alasannya cuma satu,” jawabnya singkat. “Demi menjaga citra dan nama baik maskapai.”
Napas Mahes terasa berat. “Apa salah saya, Pak?”
Tanpa menjawab, lelaki itu menggeser beberapa berkas ke atas meja. “Buktinya sudah aku kirim ke ponselmu. Ini surat pembebasan tugasanmu. Sekarang, silakan meninggalkan ruangan ini.”
Mahes tak mampu berkata apa-apa. Dengan langkah gontai, ia keluar dari ruangan itu dan berjalan menyusuri lorong kantor yang terasa sepi dan dingin. Tangannya bergetar saat membuka pesan yang masuk di ponselnya.
HAH…? GILA…!
Sebuah video mesum berdurasi 35 detik terputar di layar. Seorang lelaki bertubuh tegap dengan perut sixpack membuka pakaian dalam seorang wanita, lalu bergerak maju mundur di hadapan tubuh wanita itu. Wajah sang wanita tidak terlihat sama sekali. Namun di akhir video, wajah lelaki itu tampak jelas.
Wajah yang sangat mirip dengannya.
APA…?
Mahes menatap layar ponselnya dengan mata membelalak. Ia memutar ulang video itu sekali lagi. 99 persen wajah lelaki dalam video itu serupa dengannya.
“Sial… seseorang telah menjatuhkan reputasiku,” gumamnya pelan.
Hari itu seharusnya menjadi hari kepulangannya sebagai suami. Namun justru berubah menjadi penerbangan terakhirnya di maskapai Holy Airways.
Dengan hati yang berat, Mahes melangkah pulang. Ia memilih tidak memberi kabar pada Veronica bahwa dirinya sudah mendarat. Rindu yang sejak awal membuncah kini bercampur dengan amarah dan kebingungan. Ia hanya ingin melihat istrinya. Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman baginya saat ini.
Namun dari kejauhan, langkah Mahes terhenti.
Sebuah sedan hitam terparkir di depan rumahnya. Ia melihat Veronica keluar dengan langkah ringan. Seorang lelaki berkemeja hitam membuka pintu mobil, lalu mencium pipi istrinya sebelum Veronica masuk ke dalam.
“Pria itu…” Mahes terpaku. Dadanya terasa sesak. Lelaki itu… ia seperti mengenalnya.
Dengan rasa penasaran bercampur amarah, Mahes mengikuti mobil itu hingga berhenti di depan sebuah club malam. Keduanya keluar dari mobil sambil bergandengan tangan, berjalan mesra layaknya sepasang kekasih.
SIAL…!
Mahes tidak bisa lagi menahan diri. Ia keluar dari mobil dan melangkah cepat ke arah mereka.
“Vero!” teriaknya lantang.
Veronica menoleh, wajahnya seketika berubah pucat.
“Aldo?” Mahes menggeram saat menyadari lelaki di samping istrinya adalah mantan rekan kerjanya di maskapai nasional tempat ia bekerja dulu.
“Bangsat kamu, Do!” Mahes mengepalkan tangan. “Berani-beraninya kamu selingkuhin istri temanmu sendiri!”
Aldo tersenyum sinis. “Jangan salahin aku. Salahin diri kamu sendiri. Kenapa sekarang Vero lebih memilih aku?”
Pukulan Mahes mendarat telak, membuat Aldo terjatuh. Namun Veronica segera berteriak.
“Mahes! Hentikan!”
“Vero, ini urusanku dengan dia!” bentaknya. “Urusan kita nanti di rumah!”
Namun Veronica justru menatapnya dingin. “Apa yang Aldo katakan itu benar. Dia tidak bersalah. Kamulah yang bersalah.”
“Apa?” Mahes terdiam.
“Jangan sok suci, Mahes,” lanjut Veronica sambil mengeluarkan ponsel. Sebuah video diputar. Video yang sama. Video mesum itu.
“Kamu bisa selingkuh, kenapa aku tidak?” katanya dingin.
“Sumpah, Vero, itu bukan aku!”
“Masih menyangkal?”
“Ayo pulang,” suara Mahes melemah. “Kita bicarakan baik-baik.”
“Aku tidak akan pulang bersamamu,” potong Veronica. “Dan mulai detik ini, kamu juga tidak bisa pulang ke rumah itu.”
“Sesuai perjanjian pra nikah,” lanjutnya tanpa ragu, “kalau kita berpisah, semua harta yang kamu miliki menjadi milikku.”
“Sudah selingkuh, viral, sekarang tanpa tahu malu minta istrinya kembali?! Dasar laki-laki gak tahu diri kamu, Mahes!” ucap Aldo seraya menarik pinggang Veronica.
Mahes berdiri kaku. Dadanya sesak, seolah udara mendadak menipis. Dalam satu hari, semua yang ia bangun susah payah lenyap begitu saja.
Malam itu Mahes akhirnya memutuskan bermalam di sebuah hotel. Tubuhnya terhempas di atas kasur empuk, namun matanya tetap terbuka menatap langit-langit kamar. Keheningan justru membuat pikirannya semakin gaduh. Wajah Veronica, suara Aldo, dan video itu terus berputar di kepalanya tanpa henti.
Ponsel Mahes tiba-tiba berdering di tengah keheningan kamar. Nomor tak dikenal.
Mahes mengernyit sejenak, lalu mengangkat panggilan itu.
“Halo?”
“Selamat malam, apakah saya sedang berbicara dengan Pak Mahesa?” suara di seberang terdengar tenang dan profesional.
“Ya, saya sendiri.”
“Saya menelepon terkait lamaran pekerjaan yang pernah Bapak kirimkan. Kami tertarik dengan rekam jejak Bapak sebagai pilot.”
Mahes terdiam sesaat. Ia sama sekali tidak mengingat pernah mengirim lamaran pekerjaan. Namun sebelum sempat bertanya, suara itu kembali terdengar.
“Kami membutuhkan pilot pribadi secepatnya. Jika Bapak bersedia, besok pagi kami minta Bapak datang langsung ke hanggar pribadi di bandara.”
“Hanggar pribadi?” ulang Mahes pelan.
“Betul, Pak. Detail selebihnya akan kami jelaskan di sana.”
Mahes menatap lurus ke depan. Dalam kondisi seperti sekarang, ia tidak punya ruang untuk memilih.
“Saya akan datang,” jawabnya akhirnya.
“Baik. Kami tunggu.”
Sambungan hampir terputus ketika suara itu kembali terdengar.
“Oh iya, Pak Mahesa,” ucapnya seolah mengingat sesuatu.
“Orang yang membutuhkan jasa Bapak ini punya kebiasaan tertentu dengan setiap pilot pribadinya.”
Hening sejenak, lalu ia melanjutkan, “Dan dari pengalaman Bapak… sepertinya beliau akan menyukai Bapak.”
Mahes melirik jam dinding di kamar hotel. Sudah hampir tengah malam, namun Rose belum juga kembali. Sampai detik ini Robert pun belum mendapat kabar dari Pierre. Perasaan tidak tenang itu kini berubah menjadi debar jantung yang memburu. Di luar, lampu-lampu di Kota Paris mulai meredup, membuat keindahan Paris terasa kelam di mata Mahes."Tidak bisa. Aku tidak bisa hanya diam menunggu di sini," gumam Mahes sembari menyambar jaketnya.Baru saja ia hendak melangkah ke arah balkon, Robert melihatnya dengan wajah yang jauh lebih tegang dari sebelumnya. Ponselnya pun masih menempel di telinga."Pak Mahes! Pierre akhirnya mengangkat teleponnya, tapi..." Robert menggantung kalimatnya, napasnya memburu."Tapi apa, Pak Robert? Di mana mereka?!" seru Mahes tak sabar."Suaranya sangat gaduh, Pak. Sepertinya mereka tidak sedang berada di diskotik. Pierre hanya berteriak 'Grands Boulevards' dan 'help' sebelum sambungannya terputus. Aku mendengar suara pecahan kaca dan teriakan Nona Rose!"Darah M
Sesampainya di hotel, Anton dan Robert memilin untuk bersantai di balkon kamar hotel melihat pemandangan kota Paris, sambil sesekali menyeruput kopi panas, sebaliknya Mahes di dalam kamar terlihat tidak tenang memikirkan keadaan Nona Rose.“Mengapa aku merisaukan Nona Rose keluar dengan Pierre? Aku percaya dia lelaki yang baik dan bertanggung jawab, tidak akan berbuat macam-macam pada Nona Rose.” Mahes coba menenangkan diri.Namun, beberapa saat kemudian, Mahes tetap merasa tidak tenang, “Ck…, kenapa tiba-tiba aku sangat mencemaskannya? Apa aku merasa sedang tersaingi dengan Pierre? “ Mahes bicara sendiri dengan dirinya. Mahes berusaha mengusir perasaan yang bukan-bukan di dalam dirinya, “Aku tidak sedang cemburu!” ia meyakinkan dirinya.“Apa aku hubungi Nona Rose saja, sekadar untuk mengetahui keadaannya?” pikir Mahes, lalu ia coba menghubungi nomor HP Rose, tapi tidak aktif. Kemudian ia berpikir untuk menelpon Pierre saja, tapi tak memiliki nomor ponselnya. Mahes tambah termenung d
Rose menerima ajakan Pierre.“Where’re we going, Pierre?” “How about going to a nightclub? I have a great recommendation for a nightclub in this city.”“Night club? Sounds interesting.”Pierre ingin mengajak Rose pergi ke sebuah klub malam di pusat kota. Kebetulan sudah cukup lama ia tak pergi ke tempat seperti itu. Beberapa waktu terakhir, hidupnya memang hanya sibuk untuk mengurusi keperluan keluarga, terutama mendampingi sang mama setelah papanya pergi untuk selamanya. Sepertinya, malam ini ia berharap mendapat pengalaman menarik dan menyenangkan dirinya dengan masuk ke dalam tempat hiburan di Paris.“Miss Rose, I have to go home for a while to change clothes. This hotel uniform doesn't suit me when going to the night club.”“Where your home, Pierre?”“Just around here.”Rose pun setuju untuk pergi ke rumah Pierre, sekaligus penasaran seperti apa rumah keluarga pemilik hotel bintang lima itu?Setelah beberapa menit melaju di tengah kota Paris, akhirnya Peugeot Traveller yang dikem
“Miss Rose, how about after eat, I take you to see the beauty of the Seine River at night?” Pierre mengajak Nona Rose untuk melihat-lihat bagian luar studio TF1 yang berdiri megah di samping Sungai Seine. Rose tampak sedang mempertimbangkannya.“Iya, Nona Rose, pergilah melihat pemandangan di luar sana bersama Pierre, biar kami yang menunggu Nyonya Emma di sini,” Robert ikut menyarankan karena melihat suasana hati anak majikannya itu sedang tidak baik. “Okay, Pierre, let's go out…”“Yes, Miss.”Rose bangkit dari tempat duduknya di ruang makan itu, lalu Pierre mengikutinya dari belakang. Namun, setelah di luar studio keduanya berjalan beriringan menuju ke sisi kanan gedung, dari tempat itu tampak pemandangan Sungai Seine yang menawarkan suasana romantis dan menakjubkan dengan ikon Paris seperti Menara Eiffel yang berkilauan di kejauhan. Di atasnya pelayaran malam menyuguhkan pemandangan indah Katedral Notre Dame, Museum Louvre, dan jembatan bersejarah yang menyala di tepian sungai…“M






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu