Masuk“Miss Rose, how about after eat, I take you to see the beauty of the Seine River at night?” Pierre mengajak Nona Rose untuk melihat-lihat bagian luar studio TF1 yang berdiri megah di samping Sungai Seine. Rose tampak sedang mempertimbangkannya.“Iya, Nona Rose, pergilah melihat pemandangan di luar sana bersama Pierre, biar kami yang menunggu Nyonya Emma di sini,” Robert ikut menyarankan karena melihat suasana hati anak majikannya itu sedang tidak baik. “Okay, Pierre, let's go out…”“Yes, Miss.”Rose bangkit dari tempat duduknya di ruang makan itu, lalu Pierre mengikutinya dari belakang. Namun, setelah di luar studio keduanya berjalan beriringan menuju ke sisi kanan gedung, dari tempat itu tampak pemandangan Sungai Seine yang menawarkan suasana romantis dan menakjubkan dengan ikon Paris seperti Menara Eiffel yang berkilauan di kejauhan. Di atasnya pelayaran malam menyuguhkan pemandangan indah Katedral Notre Dame, Museum Louvre, dan jembatan bersejarah yang menyala di tepian sungai…“
“Is the news that you will be acting in a film in France already known to your fans?” Emma akhirnya mendapat giliran diwawancarai oleh presenter setelah program talk show itu dimulai.“Yes, of course, everyone in my country supports me playing in this film.” Emma mengiyakan semua orang mendukungnya go internasional.“So, what is your biggest hope for this film?”“This is my chance to show my acting skills, which I have gained over 30 years in this industry. I hope everyone in the world will accept this film, especially my role in this film, as an independent woman, I hope it can have a positive impact for everyone. Thank you...”Semua orang bertepuk tangan mendengar ucapan Emma yang jelas dan penuh percaya diri. Tidak bisa disangkal pada malam itu Emma menjadi bintang yang paling bersinar dari penampilan dan ucapannya selama wawancara berlangsung.Detik itu tanpa terasa Rose merasa terharu sampai menitiskan air mata, ia tidak bisa memungkiri memiliki seorang mama yang begitu hebat, ter
Hari mulai gelap saat mobil yang dikendarai Pierre mulai bergerak menuju pinggiran kota Paris. Pada musim dingin, matahari terbenam lebih cepat seawal jam 5 sore. Perjalanan yang akan mereka tempuh selama 20 menit menuju menara studio TF1, tempat pertemuan dengan crew film yang akan dihadiri Emma.Selama perjalanan, Rose tampak menunjukkan keakraban berbicara dengan Pierre, rasa keingintahuannya mengenai berbagai hal di kota Paris. Sedangkan di kursi penumpang bagian belakang hanya kesunyian yang terlihat. Masing-masing sibuk dengan gawai di tangannya, hanya sesekali Emma terdengar bertanya sesuatu pada Robert, lalu dijawabnya dengan singkat dan anggukan kepala. Demikian pula Mahes, memilih diam, baru bicara jika Emma bertanya padanya. “Sorry, miss, what does the Indonesian say for ‘we have arrived’?” tanya Pierre pada Rose ketika mobil yang ia kendarai sudah sampai di depan menara yang berbentuk silinder berwarna kebiruan. “Kita sudah sampai,” jelas Rose.Pierre pun mengulangi ucapa
Nona Rose dan Ritha sudah keluar dari kamarnya, lalu keduanya berjalan menuju ke depan pintu kamar sebelah, kemudian Ritha yang mengetuk daun pintu…Krek!Tidak lama menunggu, daun pintu terbuka, tersembul wajah seorang pria bermata sipit dan berkulit putih, “Sudah siap Pak Anton?” sapa Ritha padanya.“Sudah, kok, sebentar aku panggil Pak Mahes dulu,” Anton berjalan masuk memberitahu Mahes kalau mereka sudah dijemput dua orang wanita cantik.“Nona Rose dan Ritha sudah menunggu di depan, Pak,” ucap Anton sambil menyemprotkan minyak wangi ke seluruh tubuhnya, buihnya terlihat berhamburan ke udara.“Oke Pak, aku tinggal pakai sepatu saja,” Mahes lantas duduk di kursi mengenakan sepasang sepatu kets berwarna putih, dipadukan dengan celana blue jeans dan hem berwarna gelap, tidak lupa ia membawa jaket berwarna hitam, penampilannya tampak terlihat santai. Sementara Anton mengenakan sweater berwarna krim dengan celana jeans berwarna hitam, serta mengenakan sepatu sneakers berwarna gelap, jug
Rupanya Kopilot Anton baru saja kembali, “Dari mana saja, Pak?” tanya Mahes yang membukakan pintu untuknya.“Habis mengantar Nona Rose berbelanja, hanya pergi di sekitar pertokoan dekat hotel ini saja kok, Pak,” jawab Anton lalu menutup pintu kamar itu kembali. “Bagaimana lukanya itu, Pak, apa cukup serius?” tanyanya saat melihat perban melingkar di tangan kiri Mahes.“Luka ringan saja, sepertinya besok juga akan sembuh, tidak akan berpengaruh pada penerbangan kita,” jelas Mahes, lalu ia kembali berbaring di atas tempat tidurnya sambil berusaha memejamkan mata, namun bayang-bayang tubuh Nyonya Emma terus saja menghantuinya hingga terbawa mimpi…Dalam mimpinya, Mahes melihat Emma duduk santai di sebuah pantai mengenakan bikini berwarna merah. Pasir di pantai itu begitu putih dan lembut. Di sisi-sisinya tumbuh subur pohon-pohon kelapa. Ia berjalan mendekati majikannya itu hanya mengenakan celana pendek serta bertelanjang dada.“Sini duduklah, Mahes…” ucap Emma saat menyadari kehadiran Ma
“Take this tip for you, Pierre,” ucap Emma pada Pierre sambil memberikan beberapa lembar uang euro pada sopir yang telah mengantarnya, selain itu karena lelaki bule itu juga telah menolong Mahes saat perkelahian melawan pencuri.“Thank you, so much, Madam…” Pierre menerima uang itu dari tangan Emma dengan gembira, tergambar dari guratan senyum di bibirnya.“I owe you my life, because you helped me from the thieves. Thank you very much, Pierre,” Mahes pun mengucapkan terima kasih yang tulus pada Pierre karena telah menolongnya sambil menyalami lelaki bule yang baik hati itu.“You're welcome,” balas Pierre ramah.Emma dan Mahes kemudian meninggalkan Pierre di depan hotel, lalu keduanya masuk ke dalam lobi dan langsung menuju ke kamar hotel, “Antar aku dulu ke atas ya, Mahes,” pinta Emma saat di dalam lift, lalu Mahes menekan angka 8. Detik itu, Mahes mulai berpikiran mesum. “Setelah sampai di atas, pasti Emma akan mengajaknya masuk ke dalam kamar, lalu sambil menunggu Robert datang, ia p







