Ternyata Mencintai Anak Pemilik Mal

Ternyata Mencintai Anak Pemilik Mal

last updateTerakhir Diperbarui : 2023-04-04
Oleh:  Ayunina SharlynTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
4 Peringkat. 4 Ulasan-ulasan
125Bab
7.4KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Mentari kabur dari majikannya karena ternyata dia akan dijual menjadi wanita malam. Tempat yang tidak sengaja menjadi persembunyiannya, sebuah gudang darurat di atap mal, justru menjadi tempat tinggal Mentari. Mentari memberanikan diri melamar menjadi pegawai mal dengan menyamar menjadi Sofi. Mentari terpaksa menjadi Sofi, demi keamanan identitasnya. Leon, anak pemilik mal, mendapat misi dari sang ayah untuk menjadi pegawai magang sebelum akhirnya dia akan meneruskan kepemimpinan sang ayah. Karena itu Leon menyamar menjadi pegawai bernama Agus. Mentari dan Leon berkenalan dan bekerja bersama. Tidak lama cinta hadir di hati mereka. Namun, di saat semua mulai manis, Mentari mendapati Leon punya rahasia yang bisa membahayakan hidup Mentari. Apa rahasia itu? Apakah itu berhubungan dengan pelarian Mentari selama ini? Ikuti kisah seru dan manis Mentari dan Leon.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1 - Pelarian

Sudut pandang Valerie:

Jadwal menstruasiku tidak pernah akurat. Namun, tetap saja ... seharusnya aku tahu.

Mual, lemas, dan perubahan selera makan. Kamu pikir gejala-gejala itu sudah sangat jelas, tetapi hingga bukti terpampang nyata di depanmu, kamu baru akan sadar berapa banyak petunjuk yang kamu lewatkan.

Sama seperti aku yang melewatkan tanda-tanda tegas bahwa pria yang menikahiku tidak akan pernah membalas cintaku, tidak peduli seberapa keras usahaku.

Aku datang memeriksakan diri sambil berpikir, hal terburuk apa yang bisa terjadi? Jika aku mengidap kanker, aku bisa mengatasinya. Namun, untuk satu hal ini ... aku tidak berdaya.

Seorang bayi. Hal terbaik yang datang di saat terburuk.

Aku tidak tahu kapan aku akan merasakan kasih sayang keibuan yang pernah kudengar. Namun, aku bisa menebak reaksinya. Marcel Tanzil pasti akan membenci bayi ini.

Mungkin akan lebih baik kalau aku mengidap kanker. Setidaknya hal itu bisa membuat salah satu dari kami senang.

Aku duduk sendirian di lobi lantai obstetri yang sibuk, mencoba menyerap informasi ini. Usahaku sia-sia. Mataku tiba-tiba berkaca-kaca, iri melihat para pasangan penuh cinta dan bahagia yang duduk di dekatku.

Aku tinggal di rumah mewah, memiliki seorang suami triliuner dan bayinya di rahimku. Namun, justru merekalah yang bahagia. Aku bersedia menukar semuanya dengan apa yang mereka miliki, yakni seorang pria yang peduli padaku.

'Kamu datang di saat yang sangat nggak tepat, Sayang,' batinku dengan getir sambil menyentuh perutku yang masih rata. 'Kenapa kamu datang saat Ibu mencintai pria yang salah? Apa yang harus Ibu lakukan denganmu?'

Ponselku berdering, memperingatkanku bahwa aku tidak bisa sembunyi selamanya dari realita. Aku menatap nama penelepon di layar, merasa suaraku tersangkut di tenggorokan.

Aku menempelkan ponselku ke telinga, tidak bicara. Butuh semenit baginya untuk sadar bahwa panggilan sudah tersambung. Suara teriakannya langsung menghantam gendang telingaku.

"Val, di mana kamu? Kamu bilang jam 9!" seru Marcel, terdengar lebih jengkel dari biasanya.

Aku melirik layar ponsel. Sekarang baru pukul 9.07 pagi. Hanya sejauh itu kesabaran yang bisa diberikan suamiku tercinta. Hanya 7 menit.

"Bisa kita tunda ke lain waktu?" tanyaku sembari memejamkan mata. Aku bahkan terlalu lelah untuk memikirkan jadwal kami. "A ... aku nggak enak badan hari ini."

Aku meremas erat tasku. Terdapat dua dokumen di dalamnya. Hasil tes kehamilan dan ... surat cerai kami. Yang satu adalah buah dari kecelakaan hari itu dan satunya lagi ... sudah lama dinanti.

Aku merasa tidak nyaman, tetapi faktanya aku memang sudah lama tidak pernah merasa baik. Aku hanya belum tahu arti kehadiran bayiku dalam semua ini.

Marcel tertawa dingin. Aku menggigit lidah, menelan kembali kata-kataku.

"Kamulah yang minta cerai, Valerie Salim. Kamu bilang akan menyerahkan surat cerai sialan itu pagi ini," cibir Marcel dengan suara dingin.

Aku bisa membayangkan ekspresi jijiknya di benakku. Aku sudah terlalu sering melihat raut wajahnya yang seperti itu selama lima tahun terakhir.

"Apa yang kukatakan padamu waktu itu?" tanyanya.

Aku memejamkan mata, tetapi air mataku terus berlinang.

"Jangan buang waktuku dengan omong kosong ini. Kamu mau uang saku yang lebih besar? Nggak masalah, tapi aku paling nggak suka diancam!" ucap Marcel saat itu.

Marcel pikir aku hanya merajuk dengan mengajukan cerai, seolah-olah hal itu bisa mengancamnya. Sejak kami menikah, harapan terbesarnya adalah agar aku pergi. Sudah lima tahun berlalu. Harapannya yang tidak pernah putus itu pantas untuk kukabulkan.

Sambil mengernyit, aku mengepalkan tangan erat-erat hingga kukuku menusuk telapak tanganku. Aku berkata dengan suara yang kupaksakan tenang, "Kamu benar. Maaf, aku terlambat, aku akan sampai di sana dalam 30 menit."

"Nggak usah repot-repot. Hari ini adalah hari pemeriksaan terakhir Alisa. Aku harus pergi, nggak bisa menunggumu," balas Marcel sambil mendengus. Aku mendengar suara mobil dihidupkan dari seberang telepon.

Ternyata itu alasannya begitu terburu-buru. Lagi-lagi aku menjadi penghalang kebersamaan Marcel dan pujaan hatinya.

Apa katanya tadi? Mungkin ini adalah pemeriksaan kesejuta kalinya Alisa Salim setelah operasi. Selama tiga bulan terakhir, suamiku sibuk bolak-balik dari rumah kami ke rumah sakit.

Aku mengerti mengapa Marcel begitu gelisah. Jika kondisi Alisa sudah membaik, mereka akhirnya bisa bersama.

"Kalau begitu, aku akan mengantarkannya ke rumah sakit," ucapku sambil memejamkan mata. Setelah itu, aku langsung menutup telepon. Marcel mungkin berkata tidak perlu di detik terakhir, tetapi aku sudah tidak peduli.

Aku tidak bisa mengontrol hatiku untuk jatuh cinta padanya, tetapi aku bisa memaksa kakiku untuk meninggalkannya. Segala sesuatu akan membaik seiring berjalannya waktu. Aku yakin itu.

Aku bilang apa tadi? Aku punya rumah mewah dan suami seorang triliuner? Menggelikan. Aku mencuri semua itu. Meskipun aku merendahkan diri untuk bertindak kotor, semuanya tidak pernah benar-benar menjadi milikku.

Selama lima tahun ini, aku dipandang sebagai naga jahat yang penindas, serakah, dan haus harta. Jadi, selama itu pula mereka menghakimi, menghukum, dan menundukkanku.

Namun, aku bukan naga. Aku hanya seekor tupai yang gagal mempertahankan satu-satunya kacang yang kuinginkan.
Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen

user avatar
Me Nana
seru ceritanya . sy suka sy suka !!
2023-06-18 21:58:24
1
user avatar
Rafli123
Keren ceritanya kak, mentari yang hebat.
2023-01-26 21:36:49
1
user avatar
Esi Apresia
selalu menyukai karya kakak top bgt ceritanya keren. Jadi ingat saat dulu. lanjuttt
2023-01-19 11:53:27
1
user avatar
Ayunina Sharlyn
terinspirasi dari salah satu Telenovela, lahirlah cerita ini. Mudah mudahan membawa hal baik buat setiap pembaca. enjoy yaa ......
2022-09-13 21:52:47
2
125 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status