LOGINMentari kabur dari majikannya karena ternyata dia akan dijual menjadi wanita malam. Tempat yang tidak sengaja menjadi persembunyiannya, sebuah gudang darurat di atap mal, justru menjadi tempat tinggal Mentari. Mentari memberanikan diri melamar menjadi pegawai mal dengan menyamar menjadi Sofi. Mentari terpaksa menjadi Sofi, demi keamanan identitasnya. Leon, anak pemilik mal, mendapat misi dari sang ayah untuk menjadi pegawai magang sebelum akhirnya dia akan meneruskan kepemimpinan sang ayah. Karena itu Leon menyamar menjadi pegawai bernama Agus. Mentari dan Leon berkenalan dan bekerja bersama. Tidak lama cinta hadir di hati mereka. Namun, di saat semua mulai manis, Mentari mendapati Leon punya rahasia yang bisa membahayakan hidup Mentari. Apa rahasia itu? Apakah itu berhubungan dengan pelarian Mentari selama ini? Ikuti kisah seru dan manis Mentari dan Leon.
View MoreSetiap detik dalam enam bulan terakhir terasa seperti penantian tak berujung bagi Naira. Setelah enam bulan tanpa sentuhan hangat Aditya, malam ini, semua penantian itu akan terbayar. Naira menyiapkan sebuah kejutan, pelukan hangat sambil membisikkan kata mesra.
“Selamat ulang tahun, Mas.” Mendengar derit pintu dibuka, jantungnya berdebar kencang, bukan karena lelah setelah perjalanan panjang, tapi karena rasa gugup yang membuncah di dadanya. Dengan senyum tipis di bibirnya, Naira segera menyalakan lilin yang berdiri tegak di atas kue ulang tahun. Di tangannya, kotak kue cokelat favorit Aditya, ia membayangkan senyum terkejut Aditya, pelukan erat yang akan menyambutnya, dan bagaimana semua kerinduan ini akan terobati dalam satu malam. Namun, belum sempat Naira melangkah keluar dari dapur, telinganya menangkap suara kecapan basah yang menjijikkan, disusul lenguhan manja yang membuat bulu kuduk Naira meremang. Itu bukan suara yang seharusnya ia dengar di apartemennya sendiri, bukan suara yang seharusnya keluar dari bibir suaminya. “Mainnya jangan kasar seperti biasanya, kasihan anak kita.” Sebuah kalimat yang mengoyak gendang telinga Naira, merobek kebahagiaan yang baru saja ia rasakan. Hingga membuat perutnya bergejolak, mual yang tak tertahankan, seolah ingin memuntahkan semua harapan yang telah ia telan. “Perutku sudah makin gede.” “Tenang saja, anak kita kuat, meski tiap malam ditengok bapaknya.” Aditya membalas dengan tawa renyahnya, tawa yang dulu selalu Naira rindukan, kini terdengar asing dan keji. Naira membeku, seolah seluruh darah dalam tubuhnya berhenti mengalir. Nampan di tangannya bergetar hebat, lilin di atas kue bergoyang-goyangan, nyaris padam, seperti harapan yang kini di ambang kematian. Dengan langkah gontai, Naira menyeret tubuhnya menuju ruang tengah. Dan di sanalah, di tengah cahaya temaram lampu ruang tamu, dunia Naira runtuh. Aditya berdiri memeluk seorang perempuan dari belakang. Tangan laki-laki itu, tangan yang dulu selalu membelainya dengan lembut, kini membelai perut yang membuncit. Suara-suara manja dan tawa renyah mereka mengoyak hati Naira. Yang lebih mengejutkan dan menyakitkan, saat perempuan itu menoleh, wajah Kirana, sepupunya sendiri, tersenyum penuh kemenangan, seolah menertawakan kebodohan Naira. Kirana menyandarkan kepalanya di dada Aditya, manja, seolah itu adalah tempatnya yang sah. Tangannya menggenggam tangan laki-laki itu yang masih mengusap perutnya. “Mau hadiah ulang tahun apa?” “Aku sudah pengen, Ki,” bisik Aditya dengan suara serak, mengecup bahu Kirana. Di sana, di tempat yang dulu sering Aditya kecup juga. Naira menggigit bibirnya hingga terasa anyir, berusaha menahan isak yang mendesak keluar dari tenggorokannya. Tawa Aditya dan Kirana bersatu, menggema di antara dinding apartemen yang dulu dibangun dengan cinta. Tapi kini, ruangan itu menjadi tempat yang mengubur semua impian dan masa depan Naira. Naira tak sanggup lagi. Air matanya jatuh tanpa suara. Satu demi satu, jatuh ke atas kue cokelat yang kini hancur bersama hatinya. Ia tidak bisa berteriak, tidak bisa marah. Lidahnya kelu, tenggorokannya panas, seolah semua kemarahannya lenyap, digantikan kehampaan yang mematikan. Dan saat Aditya dengan santainya menggendong Kirana, membawanya ke kamar tanpa menutup pintu, Naira merasa tubuhnya mati seketika. Ia menyaksikan suami dan sepupunya bergumul panas penuh gairah. Kedua tumit Kirana bergantung di bahu Aditya. Jeritan-jeritan manja mengiringi tubuh Aditya yang terus bergerak mengisi tubuhnya. Naira tidak tahan, kamar yang dulu tempat ia dan Aditya berbagi tawa, berbagi mimpi, kini jadi tempat perselingkuhan yang terang-terangan. Tanpa rasa berdosa, tanpa rasa bersalah. Dengan tangan gemetar, Naira menaruh kue di meja. Ia mengambil kopernya, menyeret pelan sambil menyeka wajahnya yang basah. Tak ada teriakan, hanya kehancuran yang membungkam segalanya. Beberapa jam lalu, ia datang ke kota ini dengan harapan. Kini, ia ingin pergi secepatnya, sebelum seluruh dirinya runtuh di tempat yang sama. Lorong apartemen itu sepi. Lampu-lampunya redup. Hanya suara roda koper yang berdecit kecil di antara langkah cepat Naira yang nyaris berlari. Dadanya sesak, napasnya tercekat, luka seperti mengepungnya dari segala arah. Mata Naira masih basah. Langkahnya terhuyung, hampir jatuh. Luka di hatinya terlalu dalam, membuatnya ingin pergi, segera dan tak ingin melihat ke belakang. Namun, saat Naira berbelok ke ujung lorong menuju lift, tubuhnya justru membentur seseorang. Tubuh laki-laki tinggi, beraroma alkohol dan parfum maskulin yang menyengat. Naira tersentak, terhuyung mundur. “Maaf...” lirih Naira, suaranya nyaris tak terdengar, tak sempat menatap siapa yang ia tabrak. Pikirannya masih dipenuhi kehancuran. Tapi langkahnya terhenti saat suara berat itu membalas, bukan dengan kata, tapi dengan geraman rendah penuh emosi, seperti binatang buas yang terluka. “Maaf?” Suara pria itu parau dan serak. Pria itu terkekeh pendek, bukan tawa kegembiraan, melainkan sebuah keputusasaan yang sangat, yang membuat bulu kuduk Naira meremang. Naira menoleh pelan. Pria itu berdiri sambil mencengkeram dinding, tubuhnya bergetar ringan seolah ada energi berlebih yang tak terkendali di dalam dirinya. Keringat dingin membasahi pelipis dan lehernya, sementara pupil matanya membesar tidak wajar menutupi hampir seluruh iris. Wajah tampan itu terlihat kacau, rahang mengeras, urat lehernya menonjol, dan matanya merah, seperti sedang berjuang melawan tubuhnya sendiri. Alex, lelaki asing dengan jas mahal dan rambut acak-acakan. Dadanya naik turun tak karuan, napasnya terdengar berat dan terengah-engah, diselingi desahan tertahan yang aneh. Alex terlihat seperti binatang buas yang terpojok dan kehilangan akal. Aura gelap dan mengancam memancar darinya, membuat Naira yang sudah rapuh semakin ketakutan. Naira melangkah mundur, berusaha menjauh. Tapi sebelum sempat menjauh, tangan laki-laki itu menarik pergelangan tangannya mengejutkan. Cengkeramannya terasa dingin dan kuat, seolah belenggu yang tak bisa dilepaskan. “Kenapa... semua perempuan seperti ini?” desis Alex, suaranya kini lebih dalam, hampir seperti gumaman, penuh kepahitan. “Datang menggoda, lalu pergi minta maaf tanpa rasa bersalah.” Naira menegang. Ketakutan merayapi setiap inci kulitnya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi, mengapa pria ini begitu marah padanya. Ia hanya ingin pergi. “Maaf, saya tidak tahu, saya harus segera pergi.” Naira mencoba menarik tangannya, tapi Alex mencengkeramnya makin erat. Rasa sakit menjalar di pergelangan tangannya, namun rasa takut jauh lebih besar. “Lepas!” teriak Naira panik, suaranya bergetar. Refleks, tangan Naira yang bebas melayang, menampar wajah Alex. Plak! Hening. Hanya suara napas Naira yang terengah-engah dan detak jantungnya yang bergemuruh di telinganya. Alex menoleh perlahan, kepala miring. Napasnya mengembus keras, seperti hembusan panas dari binatang yang terluka dan kehilangan akal, matanya yang merah menatap Naira dengan tatapan kosong namun penuh amarah. “Jangan bikin aku tambah gila malam ini…” suaranya terdengar semakin berat, mengancam. Sebelum Naira bisa lari, tubuhnya terangkat begitu saja. Ia meronta, memukul-mukul punggung Alex, menendang-nendang kakinya, namun tenaga Alex terlalu besar. “Lepas! Lepaskan aku!” teriak Naira, suaranya serak karena ketakutan dan keputusasaan. Air mata kembali mengalir deras, membasahi pipinya. Alex tidak menghiraukan teriakan Naira, terus melangkah menuju kamarnya. Pintu apartemen terbuka, gelap, seperti mulut gua yang siap menelan. Tak lama kemudian suara pintu tertutup mengunci tak hanya dirinya, tapi juga segala harapan dan masa depan Naira. Di kamar mewah yang temaram itu, di tengah keheningan yang memekakkan, tak ada yang mendengar, tak ada yang peduli dengan teriakan dan isak tangis Naira yang tertelan. Alex menyentuh Naira dengan paksa, melakukan penyatuan dan menghentakkan tubuhnya dengan beringas. Bukan hanya menghancurkan raganya, tapi juga mengoyak-ngoyak jiwanya, mencabik-cabik sisa-sisa harga dirinya. Malam ini, bukan hanya penuh kejutan yang menghancurkan, tapi juga penuh luka yang tak akan pernah terhapus dari ingatan seorang wanita bernama Naira. Pada saat suaminya sedang berbagi peluh penuh gairah dengan sepupunya, Naira harus kehilangan kehormatannya di bawah keberingasan pria asing yang menggagahinya dengan brutal"Mama! Lihat!" Suara kecil dan ceria itu memaksa Mentari mengangkat wajah ke depan. Bocah tiga tahun itu menunjukkan sebuah mainan robot di tangannya. Wajahnya sumringah, tampak gembira. Dia berhasil membuat mainan robot dari lego. "Keren, Juni! Merah warnanya, robot kamu pasti hebat!" Mentari bertepuk tangan. "Papa yang ajari. Aku mau buat robot lain, yang biru dan kuning!" ujar bocah itu riang. "Oke. Mama mau ambil minuman. Juni mau?" Mentari berdiri. "Iya, jus jeruk aku suka, Mama!" kata Junior semangat. "Sebentar, ya?" Mentari melangkah ke meja di dekat gudang dan menuangkan jus jeruk dalam gelas, lalu dia bawa kepada anaknya yang kembali sibuk dengan lego. "Makasih, Mama," kata Junior. Dengan cepat gelas berisi jus jeruk itu berkurang tinggal setengah. "Ahh ... segar sekali, hehehe ..." Senyum lebar muncul di bibir mungil Junior. Dia memberikan lagi gelas pada Mentari dan mengusap kasar bibirnya karena sisi jus menetes hingga ke dagunya. "Good boy. Lanjutkan main, ya?"
Dada Leon semakin menderu, bergejolak, berdetak cepat, dan entah apa lagi yang dia rasa. Tiba di depan ruangan Mentari, Leon makin tidak karuan. Leon cepat masuk ke ruangan itu. Di dalam ada dokter dan dua perawat yang membantu Mentari. Lusia juga ada di situ. "Dokter!" Leon memanggil dokter. Dokter wanita usia empat puluhan itu berbalik dan melihat Leon. "Nah, ini Pak Leon sudah datang. Sini, Pak, temani istrinya." Suara dokter itu tenang dan lembut. Leon seperti merasa ada aliran air menumpahi kepala hingga ke seluruh tubuh. Semua gerah dan panas tiba-tiba menjadi sejuk. "Bagaimana Mentari, Dok?" Leon mendekat ke samping dokter. Lusia sudah pindah ke sebelah Leon agak di belakang. Di ranjang Mentari berbaring lemah dengan wajah pucat dan tampak kesakitan. Leon maju lagi tiga langkah, memegang tangan kiri Mentari. Tangan kanan sudah dipasang infus. "Apa yang terjadi, Sayang?" Leon mendekatkan wajahnya, bertanya dengan nada cemas. "Maaf, aku ga bisa jaga diri. Aku berjalan ga ha
Mentari membuka mata. Entah berapa lama dia tertidur. Badan rasanya sakit semua. Mentari menoleh ke sisinya. Leon masih terlelap dengan posisi meringkuk. Sebelah tangan Leon memeluk pinggang Mentari. "Astaga ... udah kejadian, " kata Mentari pelan. Dadanya kembali berdegup kencang. Ingatan Mentari balik cepat ke sore hari saat tiba di hotel. Tanpa bisa dihalangi, begitu saja, Mentari membiarkan Leon merengkuh dirinya, utuh. Mentari juga tidak tahu bagaimana bisa dia punya keberanian itu. Semua trauma dan rasa takut disentuh pria tiba-tiba saja lenyap. Sebaliknya, dia ingin suami tercinta tidak melepaskan dirinya. "Ohh, malu sekali," ucap Mentari lirih. Rasa panas kembali menjalar di wajahnya. Perut seperti digelitik, susah dia gambarkan. "Hmm ... Sayang ..." Leon bergerak. Dia membuka mata dan melihat Mentari sedang memandang padanya. "Bangun?" Mentari menaikkan selimut untuk menutupi tubuhnya. "Kenapa mau selimutan? Ga usah." Leon menarik Mentari kembali merapat padanya. "Mas
"Uffhhh!!" Leon meletkakkan pantatnya di kursi pesawat dengan penuh rasa lega. Tinggal beberapa menit pesawat mengudara, Leon dan Mentari akhirnya bisa juga masuk pesawat. Mentari memegang dadanya, masih berusaha mentralkan napasnya yang terengah-engah. "Thank God, ga telat," kata Leon. Matanya memandang ke sekitarnya. Di depan pramugari mulai memberi aba-aba, menolong penumpang bersiap tinggal landas. Mentari memegang tangan Leon kuat-kuat. Ini pengalaman dia pertama kali masuk pesawat dan akan terbang di udara. Campur aduk rasa di dada Mentari. Kejutan pernikahan belum juga mereda. Semalam tegang sekali di hotel berdua dengan Leon. Tiba-tiba mendengar Leon menyebut dalam doa akan mengajak Mentari ke Spanyol. Dan di pagi hari kejar-kejaran tidak karuan demi tiba tepat waktu di bandara. Benar-benar luar biasa! "Kamu takut?" tanya Leon sambil mencermati wajah Mentari. "Aku baru ini naik pesawat. Ngeri ga, sih?" tanya Mentari dengan wajah melas. "Nggak, aman. Ada aku, tenang saj
Lusia mendekati mamanya. Dia harus mencegah Asterita bertindak terlalu jauh. Lusia bisa paham tujuan mamanya baik sekalipun aneh yang dia lakukan. Tetapi jika akan membuat masalah lain, buat apa? "Kenapa kamar Leon?" tanya Lusia. Asterita menyeringai. Dia sangat tahu yang Lusia maksudkan. "Aku ini m
Asterita melirik Lusia. Bagaimana Asterita bisa lupa kalau Lusia juga jatuh cinta pada Mentari? Dia sangat menyukai kekasih Leon yang belum bisa Asterita terima dengan lapang hati. "Tentu saja dia mengganggu." Asterita memajukan wajahnya, menatap tajam pada Lusia. "Berapa juta yang kakakmu habiskan
"Well, kalian akhirnya ada di sini. Thank you sudah mau datang!" Asterita menyambut kedua wanita yang sedang bersitegang saling menatap dengan kesal. Sapaan Asterita membuat mereka mengalihkan pandangan pada ibu pria yang sama-sama mereka kejar. "Jadi, Tante Aster juga mengundang wanita tua ini ke s
Detak jantung Mentari makin jadi ketika semakin dekat dengan kediaman mewah keluarga Alvarez. Apa yang diinginkan Asterita? Kenapa dia tidak minta Leon saja yang mengajak Mentari bertemu dengannya? Jika dengan Leon, Mentari tidak akan terlalu gugup. Mentari takut bertindak bodoh di depan calon mertu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews