Share

Bab 4

Author: Wangsa
"Aku membiarkannya tinggal di sini, karena Ibu takut dia akan terus meratapi kesedihan kalau sendirian di rumah. Apalagi dia pasti akan teringat mendiang adikku. Aku nggak bisa menolaknya."

"Kita sudah melewati sepuluh tahun bersama, apa kamu masih belum mengerti perasaanku? Sekarang aku sedang terjepit di tengah-tengah, apa kamu bisa sedikit memahamiku?"

"Jangan membuang waktu lagi, aku antar kamu ke rumah sakit dulu. Setelah ini, aku masih ada urusan yang harus diselesaikan."

Melihatku hendak bicara lagi, dia memilih untuk berpaling. Dia hanya meninggalkan kalimat singkat, "Istirahatlah dengan baik," lalu bergegas pergi meninggalkan rumah sakit.

Dulu, demi menikahiku, dia rela memutuskan hubungan dengan keluarganya. Bahkan ketika keluarganya menekannya hingga dia kesulitan mencari kerja dan tidak bisa lagi bermain piano, dia tetap teguh menikahiku tanpa ragu sedikit pun.

Hal sesulit itu sanggup dia lakukan. Namun sekarang, saat ibu mertua memintanya merawat janda adiknya seumur hidup, dia justru bilang tidak bisa menolak.

Setiap kali Lina dalam bahaya, dia akan mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan wanita itu. Dia bahkan membiarkan anakku masuk ke dalam kehidupan wanita itu, tetapi Bobby justru mengabaikan aku yang sama-sama membutuhkannya.

Mengaku bahwa hatimu telah berubah, apakah sesulit itu?

Sepertinya memang sulit. Bagaimanapun juga, mencintai istri dari mendiang adik sendiri bukanlah sesuatu yang pantas didengar jika tersebar luas.

Dia mengantarku ke rumah sakit dan mengurus pendaftaranku, tetapi sepanjang waktu dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Sebelum pergi, dia hanya mengulang kalimat yang sama, "Istirahatlah dengan baik," lalu melangkah pergi tanpa menoleh.

Bobby pergi begitu saja, meninggalkan punggung yang terasa sangat dingin.

Tiba-tiba, rasa sakit yang hebat menyerang tubuhku. Namun seiring dengan rasa sakit itu, sebagian besar ingatanku seolah ikut melesat pergi dengan cepat. Anehnya, rasa sakit di hatiku justru ikut memudar begitu saja.

Dengan sisa tenaga yang ada, aku memaksakan diri pulang dari rumah sakit. Aku berbaring di tempat tidur dengan perasaan lelah yang amat sangat, memejamkan mata, dan jatuh tertidur lelap.

Namun, tak lama kemudian, suara teriakan panik dari luar membangunkanku.

Aku berusaha bangkit untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata, semak mawar di taman entah bagaimana telah terbakar hebat. Kepala pelayan sedang memimpin para tukang kebun untuk berupaya memadamkan api.

Samuel dan Lina berdiri di samping dengan wajah bingung dan tak berdaya.

Melihat kemunculanku, Lina berlari mendekat dengan mata berkaca-kaca.

"Kak, maafkan aku. Tadi Kak Bobby menyuruhku untuk membiasakan diri dengan lingkungan di sini. Saat sedang bermain di taman, aku nggak sengaja membakar semak mawar ini."

Lina berdiri di sana, air matanya hampir jatuh.

"Maafkan aku, Kak. Kamu boleh menghukumku apa saja."

Mendengar itu, Samuel ikut berlari mendekat. Melihat Lina menangis, dia segera memohon padaku.

"Ibu, jangan salahkan Tante Lina. Aku yang merengek menyuruhnya mempraktikkan sulap, makanya semak mawarnya nggak sengaja terbakar."

Kesadaranku belum pulih sepenuhnya. Aku hanya menatap kosong ke arah bunga mawar yang masih berkobar itu.

Mawar-mawar itu ditanam sendiri oleh Bobby pada tahun Samuel lahir.

Dia pernah bilang, bunga-bunga ini melambangkan cintanya kepadaku. Sejak saat itu, sesering apa pun taman direnovasi, area mawar ini sama sekali tidak boleh disentuh.

Kini, semuanya telah berubah menjadi abu.

Kepalaku terasa pening. Bibirku yang pucat bergerak sedikit.

"Samuel, mawar ini ditanam sendiri oleh Ayahmu pada tahun kamu lahir. Ini bukan hanya untuk merayakan kelahiranmu, tapi juga lambang cinta Ayah pada Ibu. Menurutmu, apa ini sesuatu yang boleh dihancurkan begitu saja?"

Wajah Samuel menampakkan rasa bersalah. Dia hanya menunduk sambil menangis tanpa berkata-kata.

Melihat situasi itu, Lina tiba-tiba berlutut dan berkata dengan lemah, "Kak, kalau Kakak marah, aku akan berlutut dan bersujud padamu sampai kamu merasa puas."

Samuel yang melihat itu langsung menarik tangan Lina, mencoba membantunya berdiri. Dengan suara tersedu dia berteriak, "Ibu, jangan menindas Tante begini."

Tepat saat itu, Bobby baru saja kembali.

Wajahnya berubah drastis saat melihat Lina berlutut di tanah. Dia segera menyuruh Bibi Nirma untuk membawa Lina dan Samuel pergi dari sana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gunung dan Sungai Takkan Bertemu Lagi   Bab 10

    Suara David berteriak minta tolong dengan keras menarik kami keluar dari suasana aneh tersebut. Aku segera menoleh dan melihat David, yang entah sejak kapan telah terjatuh ke dalam danau. Dia sedang berjuang agar tidak tenggelam sambil berteriak, "Ibu!"Insting bertindak mengalahkan pikiran. Dengan cemas aku terjun ke danau, menarik David ke tepi, dan memeriksanya dengan teliti.Aku menoleh dan baru menyadari bahwa Samuel juga sedang berjuang di dalam danau. Namun, tadi mataku hanya tertuju pada David, hingga aku sama sekali tidak menyadari bahwa Samuel juga memanggilku.Bobby saat ini telah menyelamatkan Samuel ke darat.David menarik ujung bajuku dengan takut, dia meminta maaf dengan perasaan bersalah, "Ibu, maafkan aku." Lalu dia menambahkan, "Ibu hebat sekali bisa berenang."Aku mengusap air matanya dengan lembut dan tersenyum. "Nggak apa-apa, kamu ‘kan anak Ibu, sudah seharusnya Ibu melindungimu. Nanti setelah kita pergi dari sini, Ibu akan mengajarimu berenang, oke?"Mata David b

  • Gunung dan Sungai Takkan Bertemu Lagi   Bab 9

    "Dea, aku alergi alkohol. Saat itu negosiasi bisnis yang kualami sangat penting, kamu bilang ingin membantuku. Jadi kamu sendirian menghabiskan semua minuman dalam pertemuan itu dan membuat tujuh atau delapan bos di pihak lawan tumbang. Saat aku membawamu pulang, baru kusadari seluruh tubuhmu bengkak kemerahan. Kamu demam dan muntah-muntah. Dalam kondisi seperti itu pun, kamu masih bilang kamu sanggup minum lagi. Saat itu, aku baru tahu kalau kamu juga punya alergi ringan.""Dulu kamu begitu mencintaiku."Dia bicara sambil menatapku penuh harap. Seolah-olah melalui tindakan menyiksa diri ini, dia bisa membuatku ingat kembali.Jika begitu, dia pasti akan sangat kecewa. Karena pembersihan ingatan yang dilakukan Sistem sangat menyeluruh. Aku tidak bisa mengingat apa pun, aku juga malas untuk mengingatnya."Kamu juga sendiri yang bilang, itu 'dulu'. Sekarang aku jelas-jelas nggak mencintaimu lagi, bahkan nggak mengingatmu."Mendengar itu, air matanya jatuh mengalir semakin deras, bercampur

  • Gunung dan Sungai Takkan Bertemu Lagi   Bab 8

    Sepertinya kata-kataku memicu emosinya. Dia menjadi sangat gelisah, menggelengkan kepala sambil mencengkeram bahuku kuat-kuat. Bibirnya sampai berdarah karena dia gigit sendiri lantaran rasa takut yang amat sangat."Kamu benar-benar nggak ingat padaku?""Kamu bilang aku adalah tokoh pemeran pria kedua yang penuh kasih sayang di dalam novel. Kamu menjalankan misi untuk menaklukkanku, tapi kamu akhirnya benar-benar jatuh cinta padaku. Karena itulah kamu memohon kepada Sistem agar diizinkan tetap tinggal di sini untuk menemaniku.""Kita sudah menikah. Demi kamu, aku melepaskan hak waris atas perusahaan keluargaku. Demi pekerjaanku, kamu bernegosiasi dengan pihak lawan. Kamu minum alkohol sampai seluruh tubuhmu bengkak dan kemerahan. Kamu bahkan menderita demi melahirkan Samuel untukku. Kamu bilang kita akan menua bersama, aku pun menanamkan taman mawar itu untukmu.""Kita jelas-jelas saling mencintai. Ingatan-ingatan ini terus kupikirkan siang dan malam tanpa henti. Kamu begitu mencintaik

  • Gunung dan Sungai Takkan Bertemu Lagi   Bab 7

    Anak itu menerjang ke arahku, tetapi David menghalanginya dengan kokoh.David menatapnya dengan tajam dan bertanya, "Ini ibuku, kamu mau apa?"Menghadapi pertanyaan David, anak itu tidak peduli. Dia justru melompat-lompat di belakang David sambil melambai padaku dan berteriak keras, "Ibu, Samuel tahu Ibu belum mati! Ibu pasti kembali karena nggak tega meninggalkan Samuel!"David tetap menghalanginya, tidak membiarkannya mendekatiku. Wajah anak yang mengaku sebagai Samuel itu memerah karena marah. Dengan kalut, dia mendorong David dengan keras."Siapa kamu? Kenapa kamu menghalangiku memeluk Ibu?"David terhuyung karena dorongan itu. Aku segera memeganginya dan menariknya ke belakangku. Melihat tindakanku, anak di depanku itu gemetar dengan air mata yang mengalir deras. Dia berkata, "Ibu, bagaimana bisa Ibu melindungi dia? Aku yang anak kandung Ibu!"Aku mengernyitkan dahi. Anak yang aneh sekali, kenapa tiba-tiba memanggilku ibu? Aku bahkan tidak mengenalnya."Nak, kalau ibumu tahu kamu

  • Gunung dan Sungai Takkan Bertemu Lagi   Bab 6

    Setelah kematianku, Sistem tidak langsung membawaku pulang, melainkan membiarkanku melayang di udara untuk menonton kelanjutannya.Tak lama setelah aku tiada, Bibi Nirma memanggil Bobby dan Samuel.Bobby masih mengenakan setelan tuxedo yang mewah, tetapi dia tidak lagi memedulikan citranya. Dia langsung jatuh berlutut di hadapanku, tangannya gemetar saat mencoba memeriksa napasku. Kemudian dia mendekap jasadku dan menangis sejadi-jadinya."Sayang! Bagaimana mungkin kamu mati seperti ini? Ternyata kamu nggak bohong padaku ...."Samuel juga ketakutan hingga menangis kencang. Dia berlutut di sampingku sambil mengguncang-guncang tubuhku, berteriak-teriak, "Ibu, Bibi Nirma bilang Ibu sudah mati, aku nggak percaya! Bangun, Bu, Samuel takut!"Suara tangisan dan teriakan itu bercampur aduk, sungguh bising. Pikiranku perlahan melayang menjauh bersama sisa-sisa ingatan yang ada, hingga akhirnya semuanya menjadi kosong.Saat aku membuka mata kembali, yang kulihat adalah dinding rumah sakit yang p

  • Gunung dan Sungai Takkan Bertemu Lagi   Bab 5

    Bobby melangkah ke hadapanku, menatapku dari atas dan berkata dengan nada dingin, "Bukannya ini hanya bunga mawar? Kalau habis terbakar, tinggal tanam lagi. Apa perlu kamu membesar-besarkan masalah seperti ini?"Hatiku bergetar sedikit. Setelah beberapa saat, aku memaksakan tubuhku yang sakit luar biasa untuk bicara dengan suara serak."Mawar-mawar ini kamu datangkan khusus dari luar negeri dan kamu tanam sendiri satu per satu. Walaupun tanganmu sebagai pianis yang berharga itu tertusuk duri hingga berdarah, kamu tetap tersenyum dan bilang nggak apa-apa, karena dengan begitu kamu bisa mengekspresikan cintamu padaku.""Bobby yang dulu nggak akan menganggap bunga-bunga ini sebagai barang sepele, dan nggak akan bilang 'tinggal tanam lagi' kalau mawar-mawar ini hilang."Bobby tampak terusik oleh perkataanku. Wajahnya seketika pucat pasi, matanya menghindari tatapanku."Tapi bunganya sudah terlanjur terbakar. Apa kamu benar-benar ingin Lina berlutut menebus dosa hanya demi beberapa kuntum b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status