LOGINKetika kembali ke hari saat aku dan kakakku harus memilih calon suami, aku tiba-tiba menyadari bahwa aku bisa mendengar suara hati orang lain. Aku mendengar kakakku berkata dalam hati, 'Kali ini, aku harus memilih suami yang bagus lebih dahulu!' Lalu dia segera menarik pergi pria yang menjadi suamiku di kehidupan sebelumnya, pria yang tampak lembut dan baik. Dan pria yang di kehidupan lalu memukulinya setiap hari, pria kasar itu, dia tinggalkan untukku. Aku tersenyum. Dia benar-benar mengira pria yang dulu kunikahi itu adalah pria baik?
View MoreBibir Jasmine menyatu dengan bibir Xavier. Mereka saling melumat penuh kelembutan dan hasrat yang membara. Degup jantung keduanya begitu kencang, begitu terasa kala tubuh mereka saling berdekatan. Tangan Xavier meremas pelan pinggang Jasmine, memeluknya posesif, seolah tak ingin kehilangan gadis itu.
Tak hanya diam, Jasmine pun mengalungkan tangannya ke leher Xavier. Dia memperdalam ciumannya. Percikan-percikan perasaan yang tak mampu tertahan. Jasmine begitu mendamba sentuhan Xavier yang memabukkan. Membuat tubuhnya bergejolak. Bahkan rasanya Jasmine tidak ingin melepas bibir Xavier yang tengah menjelajahi bibir ranumnya.
“Bibirmu selalu luar biasa, Jasmine. Manis. Rasanya manis. Aku selalu menyukainya,” bisik serak Xavier tepat di depan bibir Jasmine.
Jasmine tersenyum sambil mengelus rahang Xavier. “Bibirmu juga luar biasa, Sayang. Aku menyukainya.”
Xavier menatap Jasmine dengan tatapan lembut, membelai pipi Jasmine. “Aku harus pulang.”
“Kau mau pulang?” Alis Jasmine terangkat, menatap kekasihnya sedikit bingung. “Kau tidak menginap di sini?”
“No, Sayang. Aku tidak bisa. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan,” jawab Xavier sembari mengecup kening Jasmine.
Ya, sudah tiga bulan ini hidup Jasmine benar-benar berwarna. Menjalin hubungan dengan Xavier Coldwell membuatnya sangat bahagia. Berawal berkenalan dari aplikasi kencan, akhirnya mereka memutuskan menjadi sepasang kekasih.
Bagi seorang Jasmine Stevanie Welsh, Xavier Coldwell adalah pelengkap hidupnya. Pria itu selalu membuat Jasmine nyaman. Bahkan pria itu pun selalu mampu membuat Jasmine jatuh hati setiap detiknya. Selama tiga bulan kehidupan mereka sudah seperti suami istri. Ranjang adalah tempat di mana mereka melepas rindu.
Jasmine tidak pernah menyesal menyerahkan dirinya seutuhnya untuk Xavier. Karena dia tahu Xavier adalah pria yang tepat. Jasmine yakin, Xavier begitu mencintainya seperti dirinya yang juga begitu mencintai Xavier.
“Kau ingin pergi ke mana, Sayang?” Jasmine memeluk lengan Xavier, dia tampak enggan membiarkan Xavier pergi.
“Ada urusan pekerjaan,” jawab Xavier sembari mengecup bibir Jasmine. “Kau tidurlah. Ini sudah malam.”
Jasmine mendesah pelan. Tak dipungkiri, dia tidak ingin Xavier pergi. Namun Jasmine pun tidak ingin egois. Hingga terpaksa akhirnya Jasmine menganggukkan kepalanya menuruti keinginan Xavier yang tidak menginap di apartemennya.
“Tapi janji kau harus menghubungi aku kalau sudah di rumah nanti,” pinta Jasmine dengan nada memaksa.
“Tenang saja, aku akan menghubungimu nanti.” Xavier mengecup lembut bibir Jasmine. “Aku pulang dulu.”
“Hati-hati, Xavier,” balas Jasmine hangat.
Xavier mengangguk. Lalu dia melangkah meninggalkan Jasmine yang masih bergeming di tempatnya. Sesaat embusan napas kasar Jasmine terdengar. Raut wajah gadis itu menatap kecewa punggung Xavier yang mulai lenyap dari pandangannya.
Saat sudah lebih dari satu jam Xavier pergi, Jasmine masih belum mendapatkan pesan dari Xavier. Raut wajahnya menjadi kesal. Ingin rasanya dia menghubungi kekasihnya itu, namun Jasmine memilih mengurungkan niatnya. Mungkin Xavier sedang sibuk. Itu yang ada di dalam benak Jasmine.
“Lebih baik aku tidur saja.” Jasmine kini memilih membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia menarik selimut, menutupi tubuhnya itu. Rasa kantuk mulai menyerang. Nanti pagi pasti Xavier akan memberikan pesan ‘Good Morning’ padanya seperti kebiasaan sang kekasihnya itu.
***
Bunyi alarm di ponsel membuat Jasmine perlahan mulai membuka kedua matanya. Gadis itu itu mengerjapkan mata berberapa kali dan menggeliat kala sinar matahari menembus jendala kamarnya, menyentuh wajahnya.
“Ah, ini sudah pagi,” gumam Jasmine seraya mengambil ponselnya, menatap ke layar—waktu menunjukkan pukul delapan pagi.
Jasmine mulai membuka pesan masuk memastikan pesan dari Xavier. Namun, seketika raut wajah Jasmine berubah kala tidak ada satu pun pesan masuk dari Xavier. Tampak Jasmine menjadi bingung. Tidak biasanya Xavier tidak meninggalkan pesannya.
Jasmine terdiam sejenak. Di detik selanjutnya, dia menghubungi nomor Xavier. Satu, dua, hingga tiga kali dia memanggil tidak ada satu pun jawaban dari sang kekasih. Jasmine mendecakkan lidahnya kesal. Ini yang dia paling benci. Dia tidak suka kalau Xavier tidak menjawab teleponnya.
Jasmine mengatur napasnya. Berusaha meredakan rasa kesalnya. Gadis itu berpikir positive. Mungkin tadi malam Xavier sudah tidur. Itu yang ada di dalam benak Jasmine.
“Aku masak saja hari ini untuknya. Sebelum berangkat kuliah nanti, aku akan mengantarkan ke apartemen Xavier,” gumam Jasmine pelan.
Jasmine Stevanie adalah mahasiswa tingkat akhir. Dia tinggal sendiri di apartemen pribadi miliknya. Sebenarnya keluarganya pun masih tinggal di London, hanya saja Jasmine lebih nyaman untuk tinggal sendiri.
Jasmine melangkah menuju dapur memasak makanan yang Xavier sukai. Meski masih kesal, tetapi Jasmine berusaha untuk mengerti Xavier. Dia tahu, kekasihnya itu selalu sibuk dengan pekerjaannya.
Tak berselang lama ketika makanan yang dibuat oleh Jasmine sudah matang, dan telah diletakkan ke dalam kotak makan—Jasmine segera bersiap-siap untuk pergi ke kampus serta mengantar makanan yang dia buat untuk Xavier.
Sekitar tiga puluh menit Jasmine selesai bersiap-siap—dia langsung menuju ke luar apartemen mencari taksi yang sering lewat di depan lobby apartemennya.
“Nah itu dia taksi.” Jasmine mengangkat tangannya menghentikan taksi. Tepat di saat taksi sudah berhenti di hadapannya; Jasmine segera masuk ke dalam taksi dan menunjukkan alamat apartemen milik Xavier yang terletak di wilayah pusat kota London.
Sepanjang jalan entah kenapa hati Jasmine merasa tidak tenang. Seperti ada yang mengganjal pikirannya. Bahkan sekelebat pikiran buruk pun menyerbu dirinya. Lagi dan lagi, Jasmine menepis segala pikiran negative yang muncul.
Saat tiba di lobby apartemen pribadi milik Xavier, Jasmine segera membayar tarif taksi dan langsung menuju lantai dua puluh delapan—lantai di mana unit apartemen Xavier berada. Sebelumnya Jasmine pernah ke apartemen Xavier, walau baru hanya satu kali.
Saat Jasmine tiba di depan unit apartemen Xavier—dia langsung menekan bel apartemen miliki kekasihnya itu.
“Xavier, ini aku, Sayang,” panggil Jasmine lembut.
“Xavier?” Jasmine kembali memanggil Xavier, tapi masih belum ada juga jawaban. Andai saja dirinya tahu password apartemen Xavier, sudah pasti Jasmine akan langsung masuk.
Ceklek!
Pintu terbuka. Wajah Jasmine langsung sumringah bahagia.
“Xav—”
Perkataan Jasmine terpotong kala melihat seorang wanita paruh baya berpenampilan pakaian pelayan yang membuka pintu untuknya.
“Selamat pagi, Nona. Maaf Anda mencari siapa?” tanya sang pelayan dengan sopan pada Jasmine.
“Pagi, apa Xavier ada di dalam?” Jasmine bertanya dengan lembut.
“Maaf, Nona. Apa Anda temannya Tuan Xavier?” tanya sang pelayan lagi.
“Aku kekasih Xavier,” jawab Jasmine yang membuat raut wajah sang pelayan terlihat bingung.
“Nona kekasih Tuan Xavier?” ulang sang pelayan memastikan.
Jasmine mengangguk. “Iya, aku pacarnya. Xavier ada di mana?”
Sang pelayan tak mengerti. “Nona, tadi malam Tuan Xavier telah berangkat. Apa Nona tidak diberi tahu kalau Tuan Xavier tidak lagi tinggal di London?”
Jasmine terkejut. “Xavier tidak lagi tinggal di London?”
“Benar, Nona. Tapi saya tidak tahu ke mana Tuan Xavier pindah. Yang saya tahu, Tuan Xavier tidak lagi tinggal di sini,” jawab sang pelayan.
“Itu tidak mungkin!” Jasmine menggelengkan kepalanya tegas. Dengan cepat, Jasmine mengeluarkan ponselnya, berusaha menghubungi nomor Xavier. Satu, dua, hingga sepuluh kali gadis itu menghubungi nomor Xavier tetap tidak ada jawaban.
“Nona, tenangkan diri Anda.” Sang pelayan menjadi bingung kala melihat wajah panik Jasmine.
“Xavier tidak mungkin pergi begitu saja. Dia tidak mungkin meninggalkanku!” seru Jasmine dengan mata yang mulai berlinang air mata. Dia kembali berusaha menhubungi nomor Xavier, dan sayangnya hasil tetap sama. Tidak ada jawaban dari Xavier.
“Katakan padaku di mana Xavier!” Jasmine menatap tajam sang pelayan.
“Nona, Tuan Xavier sudah meninggalkan London sejak tadi malam. Beliau telah memutuskan meninggalkan kota London. Untuk kepindahannya, Tuan Xavier memang tidak memberitahukan pada saya, Nona,” ujar sang pelayan membuat Jasmine menangis keras.
Tubuh Jasmine melemah dan nyaris ambruk. Dalam benaknya mengingat tadi malam hubungannya baik-baik saja. Namun sekarang? Jasmine di hadapkan dengan kenyataan Xavier Coldwell meninggalkannya tanpa satu pun pesan.
Jasmine bersimpuh di lantai. Dia menangis keras. “Xavier, kau … jahat!”
Malam itu, Sion pulang.Dia mabuk. Begitu masuk kamar, dia langsung jatuh menimpaku. Kami berdua sampai terjatuh ke lantai.“Kamu mabuk. Aku buatkan sup pereda mabuk dulu.”Aku mencoba mendorongnya, tapi tubuhnya tidak bergerak.Tangannya justru sibuk membuka bajunya sendiri, kedua matanya dipenuhi nafsu dan terus menatapku tajam.Aku langsung sadar, dia tidak benar-benar mabuk.“Sion, sadarlah, kamu ini sedang apa? Hubungan kita hanya kerja sama! Jangan sentuh aku!”Dia menutup mulutku dengan tangan dan berbisik di telingaku, “Bagaimanapun juga, kamu adalah istriku. Aku tetap akan menyentuhmu.”Aku mendorongnya lebih keras.“Nggak mau! Aku ingin cerai! Kamu nggak boleh menyentuhku!”Setelah aku mengatakannya, ruangan langsung hening.Raut wajah Sion menggelap.“Aku sudah tahu kamu ingin meninggalkanku.”Saat mengatakannya, dia melepaskanku. Nada suaranya terdengar terluka.“Nova, kamu wanita yang jahat. Kamu pasti sudah lama melupakanku, ‘kan?”“Maksudmu apa?”Aku mengernyit menatapny
“Aku sudah beri tahu Ibu untuk memasang kamera di seluruh rumah. Saat terlihat William menaruh racun ke dalam minuman, Ibu langsung membuangnya dan menggantinya dengan obat penenang pada minuman mereka.”Kemudian dia merendahkan suaranya, nyaris berbisik.“Tapi kamu sepertinya sangat takut aku mati. Jangan-jangan, kamu jatuh cinta padaku?”Entah kenapa, saat dia mengatakan itu, jantungku berdebar keras.“Nggak. Aku cuma takut kalau kau mati, aku nggak punya siapa pun untuk diandalkan lagi.”Dia tersenyum cerah dan berkata, “Benarkah?”...Setelah Kakak dan William dipenjara di ruang bawah tanah, aku akhirnya bisa bernapas lega.Dua orang yang paling kutakuti sudah tidak ada lagi.Uang yang aku kumpulkan juga sudah cukup. Langkah selanjutnya adalah mengajukan cerai pada Sion.Aku terus menunggu kesempatan, tapi Sion sangat sibuk akhir-akhir ini dan jarang pulang.Aku hanya bisa menunggu kesempatan datang.Suatu hari, para pelayan bilang Kakak dan William memohon untuk menemuiku.Aku per
Begitu mendengarku, William langsung percaya. Karena urusan ‘penyiksaan’ itu hanya diketahui dia dan Kakak.Dia berkata, “Lihat saja nanti bagaimana aku akan membereskannya!”“Kakak Ipar, kalau aku sudah bunuh Sion dan Hera, kamu akan menjadi istriku. Aku akan menanggung hidupmu.”Setelah mengatakannya, lalu dia pergi.Aku hanya tersenyum dingin.'Heh, kamu pikir aku sebodoh itu?''Aku tidak akan pernah menikah denganmu!'Aku segera pergi mencari Sion.Meskipun hidup-matinya sebenarnya tidak terlalu berhubungan denganku, tapi di kehidupan ini, dia sudah banyak membantuku dan membuatku bisa menghasilkan uang.Dia bahkan membagi pengalaman kerjanya dengan sangat teliti.Di kantor, dia terlihat terkejut ketika mendengar ceritaku.“Apa kamu punya bukti bahwa William ingin mencelakaiku?”Aku mengeluarkan alat perekam dan memutarkan percakapan antara aku dan William barusan.Bagian awalnya adalah bagian yang kusengaja untuk permainkan William, bahkan aku sendiri merinding mendengarnya.Aku
Aku langsung bereaksi dan berpikir dia pasti sedang salah paham. Aku melambaikan tanganku dan berkata, “Bukan! Bukan maksudku begitu! Aku hanya menjelaskan kenapa kami bisa bertengkar.”“Nova, kamu pernah terpikir melakukan itu denganku?” tanya Sion pelan sambil menatapku.“Tentu saja nggak pernah.”Aku menjawab dengan cepat, “Aku sudah bilang, aku cuma ingin hidup aman dan berkecukupan.”“Hanya itu?”Aku mengangguk tegas. Sion terdiam, lalu tiba-tiba pergi sambil membanting pintu.Aku tidak tahu, kata-kata mana dari jawabanku yang membuatnya marah.Dan aku tidak mau memikirkannya.Aku hanya ingin menjalankan rencanaku....Besoknya, dia tidak mengajakku pergi bersama ke kantor pusat. Dia menyuruhku langsung mengurus kantor cabang.Jadi aku pun mulai fokus mengelola perusahaan.Targetku sederhana, mengumpulkan 20 miliar lalu berhenti.Setiap hari aku menjalankan proyek dan mendiskusikan kerja sama, sehingga memberikan banyak keuntungan untuk perusahaan.Perusahaan cabang berkembang pes
Aku tahu, dia ingin mempermalukanku.Namun, aku tidak bodoh. Aku tidak akan kabur karena marah seperti dia di kehidupan lalu.Kalau begitu, aku justru akan jadi bahan tertawaan semua orang dan dihina Keluarga Parta.Aku ingat, saat itu semua orang bilang kakak tidak pantas jadi menantu tertua Keluar
Aku hidup kembali tepat di hari aku dan kakakku memilih calon suami.Di seberang meja, duduk dua pria muda dengan usia yang sama. Yang satu adalah Sion Parta, putra sulung Keluarga Parta, punya kepribadian dingin.Satunya lagi adalah William Parta, putra bungsu Keluarga Parta. Anak di luar nikah, p
Aku meminta Sion memposting foto kami berpegangan tangan di Instagram.Dengan tulisan [Happy Wedding.]Tujuannya,. agar semua orang tahu bahwa hubungan kami baik-baik saja.Selain itu, aku juga sadar bahwa Instagram-nya bersih dan tidak ada postingan lain.Hidupnya pasti sangat membosankan.Saat wak
'Sialan, semua gara-gara kamu, aku jadi dimarahi!'William memaki dalam hati. Jarum yang dia pegang menusuk tangan kakakku semakin keras.Di kehidupan sebelumnya, tak lama setelah aku menikah dengannya, dia mulai menyiksaku. Dia bahkan melarangku mengadu ke siapa pun. Aku ingin kabur, tapi tidak pe






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews