Share

Bab 3

Author: Wangsa
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Lina tiba-tiba pingsan.

Suamiku dengan mata yang memerah, menggendongnya dan tanpa ragu langsung menuju mobil.

Samuel juga ikut naik ke mobil dengan panik, air mata kecemasan menggenang di matanya.

"Cepat bawa ke rumah sakit! Tante Lina pasti tersedak air!"

Sopir sempat melirikku. "Tapi ...."

Namun baru satu terucap, Bobby langsung memotongnya, "Tunggu apa lagi? Terlambat sedikit saja akan kupotong gajimu! Segera ke rumah sakit!"

Sopir itu pun menelan kembali kata-kata yang ingin diucapkannya. Dia tidak lagi menoleh ke arahku, menginjak pedal gas dalam-dalam, dan mobil itu pun melesat pergi hingga menghilang.

Sedangkan aku tetap diam membisu.

Suami dan anakku sama sekali tidak menyadari keberadaanku, juga tidak melihat tetesan darah yang jatuh dari kakiku.

Ternyata hanya sopir kami yang mengingatku.

Aku terpaku menatap bayangan mobil yang menjauh. Rasa sakit di hatiku seperti diremas dengan kuat, semakin lama semakin menjadi-jadi.

Aku menunduk, tanpa sengaja melihat dua buah kalung tergeletak diam di tanah tak jauh dari sana.

Itu milik Bobby dan Samuel.

Dua tahun lalu, mereka berdua membuat sendiri tiga buah kalung sebagai hadiah ulang tahunku. Di dalam setiap kalung terdapat foto keluarga kami, masing-masing dari kami memakai satu buah kalung.

Waktu itu, Bobby berkata sambil tersenyum bahwa kami harus terus memakainya, agar keluarga kecil kami bisa selalu bersama selamanya.

Namun kini, kedua kalung itu terbaring kesepian di tanah yang ditumbuhi rumput liar ini.

Aku perlahan berjongkok, memungut kalung-kalung itu. Lalu bersama dengan kalung milikku sendiri, aku melemparkannya ke dalam danau.

Terdengar bunyi "plung" yang pelan. Kalung-kalung itu pun perlahan tenggelam ke dasar danau, seolah bagian dari ingatan dalam benakku juga ikut menghilang tanpa jejak.

Aku berpikir, mungkin sebentar lagi aku akan sama seperti ketiga kalung ini, menghilang dari dunia ini secara diam-diam.

Aku dan dia bertemu dan jatuh cinta di Taman Sakura. Siapa sangka, di Taman Sakura ini pula, perasaan kami menemui titik akhirnya.

Aku menunduk menatap luka di kakiku yang tak henti mengeluarkan darah. Segera kugunakan pakaianku untuk membebatnya erat guna menghentikan pendarahan. Lalu dengan mengertakkan gigi menahan perih, aku berjalan pincang dari pinggir kota kembali menuju area perkotaan.

Perjalanan itu memakan waktu berjam-jam.

Akhirnya, Bobby datang dengan mobilnya.

"Sayang, tadi kupikir Lina tersedak air, situasinya sangat darurat, jadi aku terlalu panik."

Dia memelukku dengan kalut, seolah sedang mendekap harta karun yang baru saja ditemukan kembali. "Dea, ini semua salahku, maafkan aku, ya?"

Dahi Bobby penuh dengan keringat dingin yang menetes hingga ke ujung hidungnya, membuatnya tampak sangat kacau.

Aku tidak mengerti. Dengan pelan aku melepaskan diri dari dekapannya dan bertanya, "Kapan kita akan mengurus perceraian?"

Mendengar itu, matanya dipenuhi rasa terkejut.

"Sayang, bicara apa kamu ini? Aku nggak pernah terpikir untuk bercerai. Bukannya kita sudah berjanji untuk menua bersama?"

Dia dengan panik menarik tanganku, dan barulah dia menyadari luka di tangan dan kakiku. Wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut sekaligus pilu.

"Kamu terluka? Ayo, aku bawa ke rumah sakit."

Sambil berbicara, dia hendak menarikku masuk ke mobil. Namun, aku menahan tangannya dengan lembut.

"Kalau kita nggak bercerai, lalu bagaimana dengan Lina?"

Kening Bobby semakin berkerut. "Sayang, Lina akan tinggal di rumah kita. Adikku sudah meninggal, dia sendirian dan sangat malang. Apa salahnya merawat dia seumur hidup? Lagi pula, ini juga keinginan Ibu."

"Dia itu adik ipar kita. Walaupun aku memberinya perhatian lebih, itu pasti nggak akan melebihi posisimu di hatiku. Kamu selamanya tetap yang nomor satu."

Hanya adik ipar?

Sudut bibirku terangkat membentuk senyum pahit. "Tapi aku nggak suka ada wanita lain di rumah kita, apalagi yang harus tinggal bersama kita seumur hidup."

Sudut bibir Bobby sedikit menurun. "Dea, yang kucintai itu kamu. Kamu selamanya adalah istriku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gunung dan Sungai Takkan Bertemu Lagi   Bab 10

    Suara David berteriak minta tolong dengan keras menarik kami keluar dari suasana aneh tersebut. Aku segera menoleh dan melihat David, yang entah sejak kapan telah terjatuh ke dalam danau. Dia sedang berjuang agar tidak tenggelam sambil berteriak, "Ibu!"Insting bertindak mengalahkan pikiran. Dengan cemas aku terjun ke danau, menarik David ke tepi, dan memeriksanya dengan teliti.Aku menoleh dan baru menyadari bahwa Samuel juga sedang berjuang di dalam danau. Namun, tadi mataku hanya tertuju pada David, hingga aku sama sekali tidak menyadari bahwa Samuel juga memanggilku.Bobby saat ini telah menyelamatkan Samuel ke darat.David menarik ujung bajuku dengan takut, dia meminta maaf dengan perasaan bersalah, "Ibu, maafkan aku." Lalu dia menambahkan, "Ibu hebat sekali bisa berenang."Aku mengusap air matanya dengan lembut dan tersenyum. "Nggak apa-apa, kamu ‘kan anak Ibu, sudah seharusnya Ibu melindungimu. Nanti setelah kita pergi dari sini, Ibu akan mengajarimu berenang, oke?"Mata David b

  • Gunung dan Sungai Takkan Bertemu Lagi   Bab 9

    "Dea, aku alergi alkohol. Saat itu negosiasi bisnis yang kualami sangat penting, kamu bilang ingin membantuku. Jadi kamu sendirian menghabiskan semua minuman dalam pertemuan itu dan membuat tujuh atau delapan bos di pihak lawan tumbang. Saat aku membawamu pulang, baru kusadari seluruh tubuhmu bengkak kemerahan. Kamu demam dan muntah-muntah. Dalam kondisi seperti itu pun, kamu masih bilang kamu sanggup minum lagi. Saat itu, aku baru tahu kalau kamu juga punya alergi ringan.""Dulu kamu begitu mencintaiku."Dia bicara sambil menatapku penuh harap. Seolah-olah melalui tindakan menyiksa diri ini, dia bisa membuatku ingat kembali.Jika begitu, dia pasti akan sangat kecewa. Karena pembersihan ingatan yang dilakukan Sistem sangat menyeluruh. Aku tidak bisa mengingat apa pun, aku juga malas untuk mengingatnya."Kamu juga sendiri yang bilang, itu 'dulu'. Sekarang aku jelas-jelas nggak mencintaimu lagi, bahkan nggak mengingatmu."Mendengar itu, air matanya jatuh mengalir semakin deras, bercampur

  • Gunung dan Sungai Takkan Bertemu Lagi   Bab 8

    Sepertinya kata-kataku memicu emosinya. Dia menjadi sangat gelisah, menggelengkan kepala sambil mencengkeram bahuku kuat-kuat. Bibirnya sampai berdarah karena dia gigit sendiri lantaran rasa takut yang amat sangat."Kamu benar-benar nggak ingat padaku?""Kamu bilang aku adalah tokoh pemeran pria kedua yang penuh kasih sayang di dalam novel. Kamu menjalankan misi untuk menaklukkanku, tapi kamu akhirnya benar-benar jatuh cinta padaku. Karena itulah kamu memohon kepada Sistem agar diizinkan tetap tinggal di sini untuk menemaniku.""Kita sudah menikah. Demi kamu, aku melepaskan hak waris atas perusahaan keluargaku. Demi pekerjaanku, kamu bernegosiasi dengan pihak lawan. Kamu minum alkohol sampai seluruh tubuhmu bengkak dan kemerahan. Kamu bahkan menderita demi melahirkan Samuel untukku. Kamu bilang kita akan menua bersama, aku pun menanamkan taman mawar itu untukmu.""Kita jelas-jelas saling mencintai. Ingatan-ingatan ini terus kupikirkan siang dan malam tanpa henti. Kamu begitu mencintaik

  • Gunung dan Sungai Takkan Bertemu Lagi   Bab 7

    Anak itu menerjang ke arahku, tetapi David menghalanginya dengan kokoh.David menatapnya dengan tajam dan bertanya, "Ini ibuku, kamu mau apa?"Menghadapi pertanyaan David, anak itu tidak peduli. Dia justru melompat-lompat di belakang David sambil melambai padaku dan berteriak keras, "Ibu, Samuel tahu Ibu belum mati! Ibu pasti kembali karena nggak tega meninggalkan Samuel!"David tetap menghalanginya, tidak membiarkannya mendekatiku. Wajah anak yang mengaku sebagai Samuel itu memerah karena marah. Dengan kalut, dia mendorong David dengan keras."Siapa kamu? Kenapa kamu menghalangiku memeluk Ibu?"David terhuyung karena dorongan itu. Aku segera memeganginya dan menariknya ke belakangku. Melihat tindakanku, anak di depanku itu gemetar dengan air mata yang mengalir deras. Dia berkata, "Ibu, bagaimana bisa Ibu melindungi dia? Aku yang anak kandung Ibu!"Aku mengernyitkan dahi. Anak yang aneh sekali, kenapa tiba-tiba memanggilku ibu? Aku bahkan tidak mengenalnya."Nak, kalau ibumu tahu kamu

  • Gunung dan Sungai Takkan Bertemu Lagi   Bab 6

    Setelah kematianku, Sistem tidak langsung membawaku pulang, melainkan membiarkanku melayang di udara untuk menonton kelanjutannya.Tak lama setelah aku tiada, Bibi Nirma memanggil Bobby dan Samuel.Bobby masih mengenakan setelan tuxedo yang mewah, tetapi dia tidak lagi memedulikan citranya. Dia langsung jatuh berlutut di hadapanku, tangannya gemetar saat mencoba memeriksa napasku. Kemudian dia mendekap jasadku dan menangis sejadi-jadinya."Sayang! Bagaimana mungkin kamu mati seperti ini? Ternyata kamu nggak bohong padaku ...."Samuel juga ketakutan hingga menangis kencang. Dia berlutut di sampingku sambil mengguncang-guncang tubuhku, berteriak-teriak, "Ibu, Bibi Nirma bilang Ibu sudah mati, aku nggak percaya! Bangun, Bu, Samuel takut!"Suara tangisan dan teriakan itu bercampur aduk, sungguh bising. Pikiranku perlahan melayang menjauh bersama sisa-sisa ingatan yang ada, hingga akhirnya semuanya menjadi kosong.Saat aku membuka mata kembali, yang kulihat adalah dinding rumah sakit yang p

  • Gunung dan Sungai Takkan Bertemu Lagi   Bab 5

    Bobby melangkah ke hadapanku, menatapku dari atas dan berkata dengan nada dingin, "Bukannya ini hanya bunga mawar? Kalau habis terbakar, tinggal tanam lagi. Apa perlu kamu membesar-besarkan masalah seperti ini?"Hatiku bergetar sedikit. Setelah beberapa saat, aku memaksakan tubuhku yang sakit luar biasa untuk bicara dengan suara serak."Mawar-mawar ini kamu datangkan khusus dari luar negeri dan kamu tanam sendiri satu per satu. Walaupun tanganmu sebagai pianis yang berharga itu tertusuk duri hingga berdarah, kamu tetap tersenyum dan bilang nggak apa-apa, karena dengan begitu kamu bisa mengekspresikan cintamu padaku.""Bobby yang dulu nggak akan menganggap bunga-bunga ini sebagai barang sepele, dan nggak akan bilang 'tinggal tanam lagi' kalau mawar-mawar ini hilang."Bobby tampak terusik oleh perkataanku. Wajahnya seketika pucat pasi, matanya menghindari tatapanku."Tapi bunganya sudah terlanjur terbakar. Apa kamu benar-benar ingin Lina berlutut menebus dosa hanya demi beberapa kuntum b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status