Home / Romansa / HARGA PENGKHIANATAN / Bab 2 Permainan Di Balik Tirai

Share

Bab 2 Permainan Di Balik Tirai

Author: TnaBook's
last update Last Updated: 2025-11-23 12:09:18

Kanya menarik napas dalam saat Adrian melepaskan tangannya, namun kehangatan jejak sentuhan itu masih tertinggal. Ia merasakan sedikit kebodohan karena membiarkan seorang pria yang baru ia temui selama sepuluh menit menembus tembok profesionalismenya.

"Sepuluh menit sudah berakhir, Nona Lawyer. Dan saya tidak ingin didenda karena melewati batas waktu Anda," ujar Adrian, bangkit dari kursinya dengan senyum misterius. Ia tidak menunggu jawaban Kanya, malah segera memberi isyarat kepada pelayan untuk memindahkan tagihan mereka ke konter pembayaran.

Kanya buru-buru mengemasi laptop dan dokumennya, gerakan yang tiba-tiba terasa canggung di bawah pengawasan Adrian. Malam itu, ia merasa dirinya tidak lagi seperti corporate lawyer yang tegas, melainkan hanya seorang wanita muda yang tengah menghadapi pria yang lebih berbahaya dari gugatan hukum mana pun.

Saat mereka berjalan menuju lift kaca yang akan membawa mereka turun dari lantai 45, Kanya akhirnya memecah keheningan..

"Adrian, Anda belum membayar dessert tiramisu saya. Jadi, saya anggap Anda masih berutang pada saya."

Adrian tertawa kecil. "Benar. Tapi saya menawarkan Anda sesuatu yang lebih manis daripada tiramisu, Kanya. Saya menawarkan Anda waktu. Dan jika Anda bersedia menerima tawaran saya, maka kita akan memulai dessert itu sekarang."

Lift turun dengan kecepatan penuh, pemandangan lampu Jakarta menyapu mata mereka seperti meteor yang jatuh. Di dalam kotak kaca itu, hanya ada Kanya, Adrian, dan pantulan diri mereka. Kanya memberanikan diri.

"Oke. Saya ambil tawaran Anda. Tapi saya butuh kepastian. Siapa Anda sebenarnya, Adrian? Kenapa seorang investor sukses menghabiskan malam Jumatnya dengan membujuk seorang pengacara yang sibuk?"

"Saya mencari rekan kerja, Kanya," jawab Adrian, suaranya kembali menjadi bisikan rendah yang privat, seolah seluruh kota di luar sana tidak boleh mendengarnya.

"Saya akan membeli sebuah perusahaan yang akan segera bangkrut karena sengketa lahan. Itu akan jadi investasi terbesar saya tahun ini. Saya butuh pengacara yang cerdas, keras kepala, dan tahu bagaimana membaca celah di dalam kontrak sejelas Anda membaca orang."

Kanya mengerutkan dahi.

"Anda sedang mencari pengacara, bukan kencan. Anda bisa menghubungi kantor saya."

"Saya tidak butuh firma Anda. Saya butuh Anda," Adrian menekankan kata itu, tatapannya menyelimuti Kanya.

"Saya tidak suka birokrasi, Kanya. Saya suka efisiensi. Dan saya tahu, Anda adalah yang terbaik di antara yang terbaik, dan Anda tidak puas hanya menjadi roda penggerak di mesin besar itu. Anda ingin menjadi pembuat keputusan. Benar?"

Lift terbuka di lantai dasar, dan mereka melangkah keluar menuju lobi marmer yang dingin, di mana bau hujan dan knalpot mobil menyambut mereka. Di luar, puluhan mobil mewah berjajar menunggu. Adrian segera menyentuh punggung Kanya, memandunya melewati keramaian.

"Jadi, saya menawarkan Anda sesuatu yang lebih besar dari kenaikan gaji, kebebasan untuk mengambil keputusan. Dan sebagai permulaan, mari kita lanjutkan diskusi ini di tempat yang lebih tenang. Saya harus mengantar Anda pulang." Lanjut Adrian

Adrian memandunya melewati keramaian lobi. Tangan di punggung Kanya adalah sentuhan singkat, namun cukup untuk mengarahkan Kanya ke sebuah sedan hitam mengilap yang sudah menunggu di pintu masuk. Pengemudi segera membuka pintu belakang, seolah sudah tahu betul ke mana bosnya akan pergi.

Saat Kanya duduk, ia merasakan kemewahan jok kulit yang dingin. Di dalam mobil, suasana terasa lebih privat dan intim daripada di lantai 45 tadi. Kaca mobil kedap suara, menciptakan gelembung sunyi di tengah bisingnya klakson Jakarta.

"Tolong antar Nona Kanya ke Apartemen Regent Park," perintah Adrian pada pengemudi tanpa melihat ke belakang. Kemudian, ia berbalik total menghadap Kanya.

"Jadi," Kanya memulai, berusaha mengembalikan kendali.

"Anda bilang Anda membeli perusahaan yang bangkrut karena sengketa lahan. Itu kasus yang sangat kotor, Adrian. Kenapa harus diinvestasikan?"

Adrian menyandarkan bahunya dengan santai.

"Semakin kotor, semakin murah harganya. Dan semakin rumit kasusnya, semakin besar untungnya ketika dibersihkan. Itu prinsip investasi, Kanya. Saya melihat sengketa sebagai peluang, bukan masalah."

"Dan Anda ingin saya membersihkannya?" tanya Kanya, pandangannya tajam.

"Saya ingin Anda menjadi otak hukum di belakang pembersihan itu. Kasus ini membutuhkan seseorang yang tanpa ampun, yang tidak takut melawan pemain lama di Jakarta. Seorang corporate lawyer muda yang ambisius, seseorang seperti Anda."

Adrian mendekatkan wajahnya sedikit, mata tajamnya mencari reaksi Kanya.

"Ini bukan pekerjaan yang bisa Anda diskusikan dengan partner senior Anda, Kanya. Ini adalah kesepakatan yang dibuat di balik tirai."

Kanya merasakan dadanya berdebar. Bukan hanya karena kedekatan Adrian, tetapi juga karena adrenalin dari tawaran itu. Dia memang mendambakan otonomi penuh, tetapi tawaran ini terasa terlalu cepat, terlalu rahasia.

"Dan apa yang saya dapatkan, selain kebebasan yang Anda janjikan? Kompensasi?" Tanya Kanya Sambil mengerutkan dahi

"Tentu saja. Anda akan mendapatkan bagian persentase dari keuntungan, Kanya. Jumlahnya akan jauh lebih besar daripada gaji tahunan Anda di firma. Tapi yang paling penting," Adrian menyela, suaranya melunak, "Anda akan mendapatkan kepuasan. Kepuasan bahwa Anda tidak hanya memenangkan kasus untuk orang lain, tetapi Anda membangun kerajaan Anda sendiri."

Kanya menoleh ke jendela, membiarkan pemandangan jalanan Jakarta yang basah memantul di matanya. Adrian tahu cara memancing ambisinya. Ia tahu cara membuat tawaran yang sulit ditolak.

"Anda sangat persuasif, Adrian. Hampir berbahaya."

Adrian tersenyum, menyentuh tepi rambut Kanya dengan jari telunjuknya.

"Bahaya adalah bagian dari kesenangan, Kanya. Dan bagi saya, corporate lawyer ambisius yang bekerja sendirian di malam hari... itu adalah bahaya yang sangat menarik."

Mobil itu perlahan berhenti di depan lobi mewah apartemen Kanya. Pengemudi membuka pintu.

"Pikirkan tawaran saya. Saya akan menelepon Anda lusa untuk mendengar jawaban Anda," kata Adrian, pandangannya tidak pernah lepas dari mata Kanya. Ia tidak meminta nomor Kanya, ia tahu dia akan mendapatkannya.

Saat Kanya melangkah keluar, ia berbalik.

"Dan tiramisu-nya?"

"Itu adalah janji untuk kencan resmi kita, Nona Lawyer. Pikirkan tawaran saya, dan saya akan memberikan kencan yang layak untuk seorang wanita yang ambisius,"

Adrian berbisik. Dia mengulurkan tangannya, dan Kanya merasakannya menyentuh lembut pipinya. Sentuhan itu sesaat, tapi cukup untuk meninggalkan jejak janji, atau peringatan, yang berlama-lama di kulitnya.

Kanya mengangguk, lalu berbalik, merasakan tatapan Adrian menembus punggungnya. Ia tahu dia baru saja bertemu dengan pria yang akan mengubah seluruh alur hidupnya, bisa menjadi penyelamat terbesar, atau kehancuran paling manis.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • HARGA PENGKHIANATAN   Bab 29

    Tengah Malam, di Apartemen Kanya.Apartemen Kanya adalah benteng isolasi total. Semua lampu menyala, dan meja kerjanya dipenuhi laptop yang terhubung ke jaringan aman Adrian dan tumpukan berkas Vanguard Group. Kanya sudah berganti pakaian menjadi hoodie longgar dan celana yoga, tetapi otaknya bekerja dalam mode jas mahal.Adrian menuntut Mareva Injunction diajukan besok pukul 09:00 WIB.Mareva Injunction adalah senjata nuklir dalam hukum perdata. Ini adalah perintah pengadilan yang sangat rahasia untuk membekukan aset tergugat (Daniel) di seluruh yurisdiksi, sebelum kasus itu disidangkan. Untuk mendapatkan perintah ini, Kanya harus membuktikan risiko nyata bahwa Daniel bermaksud menjual asetnya (dissipate assets) untuk menghindari kewajiban hukum."Daniel menjual Vanguard Maritime ke holding Hong Kong. Itu adalah bukti niat yang jelas," gumam Kanya pada dirinya sendiri.Kanya mulai menyusun argumennya, menggunakan data transfer aset Adrian yang terenkripsi sebagai tulang punggung peti

  • HARGA PENGKHIANATAN   Bab 28

    Malam Hari, di Apartemen Kanya.Kanya menyebar semua berkas Yayasan Dharma Bakti di lantai ruang tamunya. Dia tahu dia tidak bisa bersikap terbuka. Jika dia menyatakan bahwa Emerald Global Trust dan Sinar Utara Properti adalah skema pencucian uang Laksmana, ia harus menjelaskan bagaimana ia mengetahui rahasia itu—yang berarti mengungkap pencuriannya di Lantai 42.Kanya harus keluar dari file itu tanpa meninggalkan jejak, sekaligus memastikan Yayasan Dharma Bakti secara permanen memutuskan hubungan dengan rantai kotor Laksmana.Dia mencari celah dalam Akta Pendirian Yayasan, mencari pasal yang paling samar. Akhirnya, dia menemukannya di bagian Governance: Pasal 12, Ayat 3, yang mengatur bahwa jika ada pengalihan tanggung jawab pengawasan dari Partner Pendiri ke Junior Partner, pengalihan tersebut harus disetujui oleh seluruh Dewan Pengawas dalam waktu 72 jam, jika tidak, Junior Partner yang baru wajib mencari 'konflik kepentingan fundamental' dalam operasional Yayasan.Kanya tersenyum.

  • HARGA PENGKHIANATAN   Bab 27 Warisan Rahasia

    Keesokan Harinya, Firma Hukum S.K.P. & Rekan.Berita pengunduran diri Bapak Laksmana menyebar di Lantai 40 secepat api. Alasan resminya adalah masalah jantung—sebuah ironi yang menyedihkan, mengingat hati Kanya yang berdetak paling liar selama showdown mereka. Para Junior Associate berbisik tentang kekosongan kekuasaan yang besar, para Partner terlihat kaku dan tegang. Mereka semua melihat kejatuhan seorang raksasa.Kanya, di tengah semua keributan itu, harus tampak terkejut."Aku tidak percaya," kata Ibu Tika, Partner Finance, di dapur kecil, suaranya dipenuhi rasa kehilangan yang tulus. "Laksmana adalah fondasi firma ini. Siapa yang akan menangani klien-klien offshore besar kita sekarang?"Kanya menggelengkan kepalanya. "Dia terlihat baik-baik saja minggu lalu. Ini sangat mendadak. Semoga beliau segera pulih." Kanya tahu kebohongan itu terasa pahit di lidahnya, tetapi dia harus memoles perisai Partner-masa-depan-yang-penuh-simpati-dan-profesionalisme.Tak lama kemudian, sebuah memo

  • HARGA PENGKHIANATAN   Bab 26

    Pagi Hari, Firma Hukum S.K.P. & Rekan.Kanya bangun jam lima pagi. Dia tidak tidur, tetapi dia merasa fokus. Dia tidak akan membawa burner phone Adrian, tidak akan ada jejak digital. Senjata satu-satunya adalah dua lembar kertas yang tersimpan di dompet kulitnya: Memo R.V. dan sobekan kertas berharga dari Laksmana.Dia memilih setelan yang paling formal dan mahal, memancarkan kesuksesan yang tak terancam. Rambutnya diikat ketat, memperlihatkan wajah yang dingin dan tanpa emosi. Dia harus menjadi Kanya yang Adrian lihat—kejam dan kalkulatif.Di firmanya, suasananya normal—terlalu normal. Semua orang tersenyum, semua orang bekerja, tidak ada yang tahu bahwa di lantai eksekutif, perang antar-Partner siap meletus.Kanya meminta Dian, asistennya, untuk menjadwalkan pertemuan pribadi dengan Laksmana, dengan alasan membahas 'strategi mitigasi risiko klien Vanguard Group terkait Dana Perwalian Global'. Permintaan itu diterima.Pukul 10:30 WIB.Kanya berjalan kembali ke kantor mewah Laksmana.

  • HARGA PENGKHIANATAN   Bab 25

    Malam Hari, di Penthouse Adrian. Adrian sedang berdiri di depan jendela penthouse, memandang kota yang berkelip, sebuah pemandangan yang selalu membuatnya tampak seperti dewa yang mengendalikan dunia di bawahnya. Kanya telah tiba, membawa serta ketegangan konfrontasi dengan Laksmana dan flash drive berisi bukti curian. "Laksmana tahu kau masuk ke Lantai 42, Kanya," Adrian memecah keheningan, tanpa menoleh. "Dia pasti melihat misalignment pada kotak arsipnya. Atau yang lebih buruk, dia memiliki sensor atau pengawasan tersembunyi." Kanya melempar tas tangannya ke sofa, rasa lelah dan marah akibat tekanan ganda Laksmana dan Adrian mulai menggerogoti perisainya. "Tentu saja dia tahu. Dia bukan Daniel. Dia seorang Partner di firma. Dia menanam jebakan. Dia memberiku berkas Dana Perwalian Global yang kotor, memaksaku untuk membawanya ke pengadilan agar aku ikut terkontaminasi." Adrian akhirnya berbalik. Ekspresinya tidak menunjukkan rasa t

  • HARGA PENGKHIANATAN   Bab 24

    Pagi Hari, di Firma Hukum S.K.P. & Rekan, Lantai 40. Kanya memasuki firma dengan membawa dua beban yang sangat kontras: Kelelahan karena kurang tidur dan adrenalin karena berhasil lolos dari kejahatan. Dia mengenakan setelan pantsuit krem yang rapi dan sepatu stiletto yang memancarkan kepercayaan diri—sebuah perisai sempurna untuk menutupi kejahatan yang baru saja ia lakukan beberapa jam yang lalu. Dia mencoba untuk bertindak normal, menyapa resepsionis, dan bahkan sempat berbasa-basi sebentar dengan Pak Wisnu yang terlihat lebih segar daripada semalam (sebuah detail yang Kanya catat, kenapa Pak Wisnu masih di kantor saat tengah malam?). "Kanya! Kerja yang bagus di kasus Dharma Kencana. Aku dengar mosi penundaan sengketa untuk kasus Vanguard Group juga sudah diajukan pagi ini," sapa Pak Bram, muncul dari kantornya. Ekspresinya jarang sekali menunjukkan pujian, membuat Kanya lebih waspada. "Terima kasih, Pak Bram. Saya harus meng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status