Share

HARGA PENGKHIANATAN
HARGA PENGKHIANATAN
Автор: TnaBook's

Bab 1 Titik Balik

Aвтор: TnaBook's
last update Последнее обновление: 2025-11-23 11:54:13

Kanya (28), seorang Corporate Lawyer muda yang ambisius, fokusnya hanya pada karir.

SKYLITE Bistro, sebuah restoran fine dining di lantai 45 gedung perkantoran mewah di kawasan Sudirman, Jakarta, pada pukul 20:30 WIB. Hujan deras baru saja berhenti, meninggalkan pantulan lampu kota yang dramatis di jendela kaca.

Dentuman jazz yang melankolis dari pianis di sudut ruangan terasa tenggelam oleh desahan kecil Kanya saat ia melempar pulpen emasnya ke atas meja marmer putih. Napasnya terembus kasar, menguapkan sisa aroma Earl Grey yang sudah mendingin di cangkirnya. Di luar, Jakarta malam berpendar dengan jutaan titik cahaya; sebuah mahakarya listrik yang ironisnya hanya menambah rasa hampa di dada Kanya.

“Gugatan itu konyol, Mas. Benar-benar konyol. Mereka meminta ganti rugi $5 juta hanya karena klausul force majeure yang sudah jelas-jelas kita lampirkan dalam kontrak,” ujarnya tajam pada layar laptop yang menampilkan dokumen berwarna hijau.

Di seberang meja, yang seharusnya diisi oleh rekan kencan atau teman makan malam, hanya ada tumpukan dokumen kasus merger PT. Adiyasa. Malam Jumat di lantai 45, di mana para profesional kelas atas merayakan akhir pekan mereka dengan cocktail mahal, Kanya justru memilih untuk merayakan produktivitas. Umurnya 28 tahun, dan ia tahu betul bahwa menjadi partner termuda di firma hukum top Jakarta butuh pengorbanan, termasuk mengorbankan setiap malam pribadinya.

Ia menarik napas dalam, merapikan blazer custom-made miliknya, lalu memaksakan seulas senyum profesional saat seorang pelayan mendekat.

“Nyonya Kanya, saya harap makan malamnya menyenangkan. Apakah Anda ingin mencoba dessert tiramisu kami?”

“Tidak, terima kasih. Tagihannya saja,” jawab Kanya, cepat dan efisien.

Saat pelayan itu beranjak, Kanya merasakan ada yang mengganjal. Bukan karena pekerjaannya, tapi karena pandangan-pandangan yang mengikutinya. Ia melirik ke sekeliling. Beberapa pasangan menatapnya, bukan dengan sinis, melainkan dengan tatapan iba, seorang wanita cantik dan sukses, tetapi sendirian di tengah keramaian.

Ia benci tatapan itu. Itu membuatnya merasa seperti kegagalan dalam aspek yang tidak pernah ia prioritaskan, Cinta.

Tepat ketika Kanya menutup laptopnya, ingin segera melarikan diri dari panggung kesendiriannya, ia mendengar suara berat dan tenang dari belakangnya, tepat di dekat piring porselennya yang kosong.

“Maaf, Nona. Apakah Anda keberatan jika saya menukar sebotol Pinot Noir ini dengan, mungkin, sepuluh menit waktu Anda?”

Kanya membeku. Suara itu begitu dekat, bernada rendah dan percaya diri, namun tidak agresif. Ia berbalik, jantungnya berdebar, siap meluncurkan tanggapan sinis yang sudah ia persiapkan untuk para pria sok akrab.

Namun, di sana berdiri seorang pria, tinggi, dengan setelan jas abu-abu tua yang terlihat pas dan mahal. Wajahnya tegas dengan rahang kuat dan mata tajam yang sedikit menyeringai. Di tangannya, sebotol anggur merah yang harganya mungkin setara dengan gaji bulanan asistennya.

“Saya tahu ini klise,” pria itu melanjutkan, tatapannya menyapu seluruh meja Kanya, dari laptop, dokumen, hingga pulpen emasnya,

“tapi melihat Anda tenggelam di antara kertas-kertas itu di malam Jumat, saya merasa kasihan pada Pinot Noir yang tidak punya teman minum.” lanjutnya ucapan pria itu.

Kanya menahan napas. Pria itu tidak terintimidasi oleh suasana profesionalnya. Justru, ia menggunakan suasana itu sebagai bahan ejekan yang lembut.

“Dan siapa Anda?” tanya Kanya, mengukur pria itu dari ujung sepatu leather mengkilap hingga ujung rambutnya yang ditata rapi.

“Nama saya Adrian. Dan saya adalah orang yang baru saja mempertaruhkan harga diri saya untuk menyelamatkan Anda dari malam yang didominasi oleh klausul hukum dan force majeure.”

Adrian meletakkan botol anggur itu di meja, suaranya kini terdangkat menjadi bisikan yang privat.

“Bagaimana, Nona Lawyer? Kesepakatan?”

Kanya mencondongkan tubuhnya sedikit, membiarkan ujung blazernya bersentuhan dengan botol anggur yang diletakkan Adrian di meja. Matanya menyipit, menganalisis pria itu, gestur tubuh yang santai namun berwibawa, arloji yang melingkar di pergelangan tangannya bukan sekadar penunjuk waktu, tapi pernyataan. Adrian bukan tipe pria yang iseng.

“Adrian,” Kanya mengulang nama itu, meresapi nadanya. “Anda tampaknya tahu betul tentang force majeure. Apakah Anda seorang pengacara, atau mantan klien yang bangkrut karena klausul tersebut?” Tanya kanya.

Adrian tertawa kecil, suara baritonnya bergetar ringan. Itu bukan tawa terbahak-bahak, melainkan tawa pria yang terbiasa menangani situasi tanpa perlu banyak usaha. “Saya bukan keduanya. Saya hanya… seorang pengamat yang beruntung. Dan malam ini, saya mengamati seorang wanita yang terlalu berharga untuk menghabiskan malam Jumatnya dengan mendebat kompensasi.”

“Saya dibayar mahal untuk mendebat kompensasi,” balas Kanya dingin. Ia mengambil pulpen emasnya dan mengetuk-ngetukkannya pelan di atas dokumen, menegaskan kembali tembok profesionalnya.

“Saya yakin Anda dibayar sangat mahal. Namun, saya berani bertaruh, sebotol anggur ini bisa memberikan Anda nilai hiburan yang lebih tinggi daripada satu jam tambahan yang Anda habiskan untuk dokumen itu,” tantang Adrian,

pandangan matanya tertuju langsung pada Kanya, tidak berkedip.

“Jangan khawatir, saya tidak akan meminta Anda untuk mendiskusikan force majeure. Kita bisa bicara tentang hal-hal yang lebih menarik. Misalnya, apa yang membuat Kanya, sang Corporate Lawyer yang sukses, memutuskan untuk menghabiskan malamnya sendirian di sini?”

Pertanyaan itu menusuk Kanya, tepat pada titik rentannya. Itu bukan tentang pekerjaan, tapi tentang kesendirian yang ia paksakan. Kanya membuang napas panjang. Mungkin ia memang butuh jeda, atau setidaknya, perlu membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia masih bisa menarik perhatian di luar ruang sidang.

“Duduklah, Adrian,” kata Kanya, akhirnya menyerah, namun suaranya masih mengandung peringatan.

“Sepuluh menit, tidak lebih. Dan anggurnya harus benar-benar enak.” Lanjutnya.

Adrian tersenyum lebar. Senyum itu menghilangkan ketegasan di wajahnya, menggantinya dengan pesona yang halus. Ia menarik kursi di seberang Kanya dengan gerakan elegan, memberi isyarat kepada pelayan untuk membuka botol Pinot Noir yang ia bawa—labelnya menunjukkan tahun yang sangat langka.

“Tentu saja, Kanya. Hanya sepuluh menit. Saya punya banyak hal untuk dipertaruhkan, jadi saya tidak akan membuang waktu Anda,” ujar Adrian, menuangkan cairan merah gelap itu ke dalam dua gelas kristal.

“Jadi, mari kita mulai,” Kanya menyesap sedikit anggurnya. Rasanya kaya, dalam, dan benar-benar memanjakan. Ia harus mengakui, pilihan anggur Adrian sempurna.

“Anda bilang Anda bukan pengacara. Lalu apa yang Anda lakukan di gedung pencakar langit ini di malam hari?”

Adrian mengangkat gelasnya, menawarkannya pada Kanya untuk sebuah toast. Kanya membalasnya. Cring. Bunyi kristal beradu itu terasa seperti permulaan sebuah babak baru.

“Saya mengamati peluang, Kanya. Ada banyak hal yang terjadi di lantai-lantai di bawah kita. Bisnis yang kolaps, perusahaan yang menjalin aliansi baru, dan beberapa ambisi yang diam-diam dihancurkan,” jelas Adrian, matanya kini berkaca pada pantulan lampu kota di anggurnya.

“Saya mencari tempat untuk berinvestasi. Investasi yang besar, yang akan mengubah peta persaingan.”

“Investor,” gumam Kanya, mengangguk. Setidaknya itu menjelaskan kepercayaan diri dan setelan mahal itu.

“Lalu, kenapa Anda memilih untuk berinvestasi di meja saya? Saya bukan perusahaan.” Lanjut kanya

Adrian meletakkan gelasnya. Pandangannya menjadi intens, seperti seorang negosiator yang siap memberikan penawaran finalnya.

“Anda salah. Anda adalah aset paling berharga yang saya lihat malam ini. Seorang wanita yang bersedia memprioritaskan ambisinya, meskipun harus duduk sendirian. Itu integritas yang langka, dan itu sangat menarik,” bisiknya.

Ia menyandarkan siku ke meja, mempersempit jarak di antara mereka.

“Saya mencari rekan kerja yang tidak kenal lelah. Tapi malam ini, saya mencari teman minum yang bisa membuat saya melupakan angka-angka. Saya ingin tahu, Kanya, apa ambisi Anda yang sebenarnya? Bukan yang tertulis di CV, tapi yang Anda sembunyikan saat melihat ke luar jendela kaca ini.”

Kanya merasakan panas menjalar di wajahnya. Bukan karena anggur, melainkan karena kedekatan dan keberanian Adrian menanyakan sesuatu yang begitu personal.

“Ambisiku…” Kanya terdiam, menatap kilau tajam di mata Adrian.

“Ambisiku adalah punya kehidupan yang tidak hanya berisi dokumen hukum.”

Kanya akhirnya mengakui kerentanannya. Sebuah pengakuan yang terasa asing dan berbahaya. Adrian tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat tangannya, melepaskan arloji mahalnya, dan menyimpannya di saku jas. Gerakan itu terasa final. Itu adalah penghormatan, menanggalkan profesionalisme untuk momen yang lebih intim.

“Kalau begitu, Nona Lawyer, izinkan saya menjadi orang yang membantu Anda memulai ambisi itu.” Adrian mengambil tangan Kanya di atas meja. Jemarinya yang hangat dan kuat membalut tangan Kanya, memutus kontak Kanya dengan pulpen emas dan dokumen hukum. Di luar, lampu Jakarta seolah ikut meredup, membiarkan fokus hanya ada pada dua orang yang baru saja bertemu, terperangkap dalam bisikan janji yang terlalu berbahaya untuk dipercayai. Sepuluh menit sudah berakhir, tapi malam mereka, Kanya rasakan, baru saja dimulai.

Bersambung....

Sekedar info, akan update bab setiap jam 6:00 WIB.

Продолжить чтение
Scan code to download App

Latest chapter

  • HARGA PENGKHIANATAN   Bab 29

    Tengah Malam, di Apartemen Kanya.Apartemen Kanya adalah benteng isolasi total. Semua lampu menyala, dan meja kerjanya dipenuhi laptop yang terhubung ke jaringan aman Adrian dan tumpukan berkas Vanguard Group. Kanya sudah berganti pakaian menjadi hoodie longgar dan celana yoga, tetapi otaknya bekerja dalam mode jas mahal.Adrian menuntut Mareva Injunction diajukan besok pukul 09:00 WIB.Mareva Injunction adalah senjata nuklir dalam hukum perdata. Ini adalah perintah pengadilan yang sangat rahasia untuk membekukan aset tergugat (Daniel) di seluruh yurisdiksi, sebelum kasus itu disidangkan. Untuk mendapatkan perintah ini, Kanya harus membuktikan risiko nyata bahwa Daniel bermaksud menjual asetnya (dissipate assets) untuk menghindari kewajiban hukum."Daniel menjual Vanguard Maritime ke holding Hong Kong. Itu adalah bukti niat yang jelas," gumam Kanya pada dirinya sendiri.Kanya mulai menyusun argumennya, menggunakan data transfer aset Adrian yang terenkripsi sebagai tulang punggung peti

  • HARGA PENGKHIANATAN   Bab 28

    Malam Hari, di Apartemen Kanya.Kanya menyebar semua berkas Yayasan Dharma Bakti di lantai ruang tamunya. Dia tahu dia tidak bisa bersikap terbuka. Jika dia menyatakan bahwa Emerald Global Trust dan Sinar Utara Properti adalah skema pencucian uang Laksmana, ia harus menjelaskan bagaimana ia mengetahui rahasia itu—yang berarti mengungkap pencuriannya di Lantai 42.Kanya harus keluar dari file itu tanpa meninggalkan jejak, sekaligus memastikan Yayasan Dharma Bakti secara permanen memutuskan hubungan dengan rantai kotor Laksmana.Dia mencari celah dalam Akta Pendirian Yayasan, mencari pasal yang paling samar. Akhirnya, dia menemukannya di bagian Governance: Pasal 12, Ayat 3, yang mengatur bahwa jika ada pengalihan tanggung jawab pengawasan dari Partner Pendiri ke Junior Partner, pengalihan tersebut harus disetujui oleh seluruh Dewan Pengawas dalam waktu 72 jam, jika tidak, Junior Partner yang baru wajib mencari 'konflik kepentingan fundamental' dalam operasional Yayasan.Kanya tersenyum.

  • HARGA PENGKHIANATAN   Bab 27 Warisan Rahasia

    Keesokan Harinya, Firma Hukum S.K.P. & Rekan.Berita pengunduran diri Bapak Laksmana menyebar di Lantai 40 secepat api. Alasan resminya adalah masalah jantung—sebuah ironi yang menyedihkan, mengingat hati Kanya yang berdetak paling liar selama showdown mereka. Para Junior Associate berbisik tentang kekosongan kekuasaan yang besar, para Partner terlihat kaku dan tegang. Mereka semua melihat kejatuhan seorang raksasa.Kanya, di tengah semua keributan itu, harus tampak terkejut."Aku tidak percaya," kata Ibu Tika, Partner Finance, di dapur kecil, suaranya dipenuhi rasa kehilangan yang tulus. "Laksmana adalah fondasi firma ini. Siapa yang akan menangani klien-klien offshore besar kita sekarang?"Kanya menggelengkan kepalanya. "Dia terlihat baik-baik saja minggu lalu. Ini sangat mendadak. Semoga beliau segera pulih." Kanya tahu kebohongan itu terasa pahit di lidahnya, tetapi dia harus memoles perisai Partner-masa-depan-yang-penuh-simpati-dan-profesionalisme.Tak lama kemudian, sebuah memo

  • HARGA PENGKHIANATAN   Bab 26

    Pagi Hari, Firma Hukum S.K.P. & Rekan.Kanya bangun jam lima pagi. Dia tidak tidur, tetapi dia merasa fokus. Dia tidak akan membawa burner phone Adrian, tidak akan ada jejak digital. Senjata satu-satunya adalah dua lembar kertas yang tersimpan di dompet kulitnya: Memo R.V. dan sobekan kertas berharga dari Laksmana.Dia memilih setelan yang paling formal dan mahal, memancarkan kesuksesan yang tak terancam. Rambutnya diikat ketat, memperlihatkan wajah yang dingin dan tanpa emosi. Dia harus menjadi Kanya yang Adrian lihat—kejam dan kalkulatif.Di firmanya, suasananya normal—terlalu normal. Semua orang tersenyum, semua orang bekerja, tidak ada yang tahu bahwa di lantai eksekutif, perang antar-Partner siap meletus.Kanya meminta Dian, asistennya, untuk menjadwalkan pertemuan pribadi dengan Laksmana, dengan alasan membahas 'strategi mitigasi risiko klien Vanguard Group terkait Dana Perwalian Global'. Permintaan itu diterima.Pukul 10:30 WIB.Kanya berjalan kembali ke kantor mewah Laksmana.

  • HARGA PENGKHIANATAN   Bab 25

    Malam Hari, di Penthouse Adrian. Adrian sedang berdiri di depan jendela penthouse, memandang kota yang berkelip, sebuah pemandangan yang selalu membuatnya tampak seperti dewa yang mengendalikan dunia di bawahnya. Kanya telah tiba, membawa serta ketegangan konfrontasi dengan Laksmana dan flash drive berisi bukti curian. "Laksmana tahu kau masuk ke Lantai 42, Kanya," Adrian memecah keheningan, tanpa menoleh. "Dia pasti melihat misalignment pada kotak arsipnya. Atau yang lebih buruk, dia memiliki sensor atau pengawasan tersembunyi." Kanya melempar tas tangannya ke sofa, rasa lelah dan marah akibat tekanan ganda Laksmana dan Adrian mulai menggerogoti perisainya. "Tentu saja dia tahu. Dia bukan Daniel. Dia seorang Partner di firma. Dia menanam jebakan. Dia memberiku berkas Dana Perwalian Global yang kotor, memaksaku untuk membawanya ke pengadilan agar aku ikut terkontaminasi." Adrian akhirnya berbalik. Ekspresinya tidak menunjukkan rasa t

  • HARGA PENGKHIANATAN   Bab 24

    Pagi Hari, di Firma Hukum S.K.P. & Rekan, Lantai 40. Kanya memasuki firma dengan membawa dua beban yang sangat kontras: Kelelahan karena kurang tidur dan adrenalin karena berhasil lolos dari kejahatan. Dia mengenakan setelan pantsuit krem yang rapi dan sepatu stiletto yang memancarkan kepercayaan diri—sebuah perisai sempurna untuk menutupi kejahatan yang baru saja ia lakukan beberapa jam yang lalu. Dia mencoba untuk bertindak normal, menyapa resepsionis, dan bahkan sempat berbasa-basi sebentar dengan Pak Wisnu yang terlihat lebih segar daripada semalam (sebuah detail yang Kanya catat, kenapa Pak Wisnu masih di kantor saat tengah malam?). "Kanya! Kerja yang bagus di kasus Dharma Kencana. Aku dengar mosi penundaan sengketa untuk kasus Vanguard Group juga sudah diajukan pagi ini," sapa Pak Bram, muncul dari kantornya. Ekspresinya jarang sekali menunjukkan pujian, membuat Kanya lebih waspada. "Terima kasih, Pak Bram. Saya harus meng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status