Share

Part 7 Hasil Pemeriksaan

Wati menunggui Humaira di Rumah Sakit bersama bu Gita. Lintang harus bekerja seperti biasanya jadi dia tidak bisa menunggui Humaira. Sudah tiga hari Humaira di rawat di Rumah Sakit. Wajah gadis kecil itu semakin pucat. Jaka sampai sekarang belum muncul di hadapan Humaira. Wati menggenggam erat tangan Humaira. 

"Bunda, kenapa ayah belum datang juga? Apa ayah marah pada Humaira?" Tanya Humaira sedih. 

"Ma'afkan ayah sayang. Ayah sedang sibuk." Jawab Wati sekenanya. 

"Ayah tidak sayang lagi kan pada Humaira?"

"Ayah sangat sayang Humaira. Ayah harus menyelesaikan pekerjaan ayah sayang."

"Sampai kapan Humaira harus menunggu ayah?" Humaira mulai menangis. Wati pun tak sanggup menahan air matanya. Tiba-tiba darah keluar dari hidung Humaira. Buru-buru Wati mengambil tisu untuk membersihkan darah yang keluar. 

"Bu, Humaira mimisan." Ucap Wati sedikit panik. 

"Iya, dari hari pertama sudah begitu Wati. Dan kemarin Humaira melakukan beberapa tes. Hari ini mungkin akan diberitahukan hasilnya." Ucap bu Gita. 

"Bu, semua baik-baik sajakan?" Wati sangat khawatir. Bu Gita mengangguk menahan tangis. 

"Humaira kenapa Bunda?" Humaira bingung. 

"Ngga apa-apa sayang. Sekarang Humaira tidur ya." Wati mengecup kening Humaira. 

Wati keluar ruangan bersama ibu Gita. Wati benar-benar khawatir dengan kondisi Humaira. 

"Bu, dokter bilang apa?"

"Sebenarnya dokter khawatir Humaira bukan demam biasa. Sebelum demam dia sempat flu dan batuk. Saat panas tinggi dia mimisan."

"Apa hari ini hasil tesnya akan keluar Bu?" Wati benar-benar khawatir. 

"Kata perawat begitu. Ibu cuma bisa berdo'a semoga Humaira baik-baik saja." Bu Gita menangis. Wati memeluk bu Gita. 

*****

Wati menghadap dokter yang memeriksa Humaira. Dokter ingin memberitahukan hasilnya. Wati mewakili Lintang, karena Lintang belum pulang dari bekerja. 

"Ma'af, Ibu dengan pasien hubungannya apa?"

"Saya Ibu sambungnya dok." Jawab Wati. 

"Dimana ibu kandung pasien?"

"Sedang bekerja dok. Saya diminta mewakilinya."

"Tapi, hasil tes ini sangat serius Bu. Sebaiknya ibu kandungnya mendengar langsung."

"Apa terjadi sesuatu dengan Humaira dok?" Wati panik. Dokter mengangguk. 

"Bisakah ibu hubungi ibu kandungnya agar bisa menemui Saya?"

"Baik dok." Wati pun keluar ruangan mencoba menghubungi Lintang. 

Satu jam kemudian barulah Lintang sampai ke Rumah Sakit. 

"Ada apa Wati? Kenapa dokter tidak mengatakannya langsung?" Lintang terlihat panik. 

"Dokter minta Kamu mendengar dari dokter langsung, bukan dariku Lintang." Lintang kemudian langsung berjalan ke ruang dokter ditemani Wati. 

"Permisi dok, Saya ibu kandung Humaira." Ucap Lintang. 

"Silakan duduk Bu!" Lintang dan Wati duduk di kursi di hadapan dokter. "Mohon ma'af sebelumnya Bu. Saya harus memberitahukan kabar buruk tentang kondisi anak Ibu."

"Maksud dokter?" Lintang terlihat cemas. Wati menggenggam tangan Lintang. 

"Dari hasil beberepa pemeriksaan yang dilakukan, Humaira anak Ibu positif leukimia." Lintang dan Wati mematung mendengar ucapan dokter. Mereka seperti disambar petir. "Humaira harus melakukan kemoterapi untuk bisa bertahan. Saya harap Ibu bisa tabah menerima hasil ini." Tangis Lintang dan Wati pecah. 

"Dok, Humaira bisa sembuhkan?" Tanya Lintang sambil terisak. 

"Walau pun harapannya kecil, tapi tidak ada yang tidak mungkin Bu."

"Tolong sembuhkan anak Saya dok. Saya mohon!" Pinta Lintang. 

"Bu, Kami hanya bisa berusaha memberikan pengobatan yang terbaik, itu pun harus didukung penuh oleh Ibu sekeluarga. Yang menentukan dan memberikan kesembuhan hanya Allah Bu."

Wati tak bisa berkata apa-apa, air matanya terus mengalir. Dia sangat terpukul mendengar hasil pemeriksaan Humaira. Baru beberapa hari yang lalu dia lepas dari penyakit HIV, dan hari ini dia harus mendapat kabar gadis kecilnya memiliki penyakit leukimia. 

"Ya Allah, kenapa gadis kecil tak berdosa itu harus Engkau berikan penyakit seberat itu?" Bathin Wati. Lintang memeluk erat Wati yang mematung. 

"Aku harus bagaimana Wati? Katakan padaku!" Lintang menangis sejadi-jadinya. Wati tetap mematung. 

"Bu, sebaiknya pengobatan dilakukan secepatnya sebelum terlambat."

"Pasti dok." Ucap Wati. 

Wati dan Lintang ke luar ruangan dokter menuju ruang perawatan Humaira. 

"Lintang, hapus air matamu! Kita harus tegar! Aku tidak ingin Humaira melihat kita menangis." Ucap Wati sambil menghapus air matanya. Dia menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya. 

"Aku di luar saja Wati. Aku perlu waktu menata hatiku. Aku tidak sanggup melihat penderitaan anakku."

"Aku pun sungguh tidak sanggup Lintang. Bagaimana ini Lintang?" Tangis Wati kembali pecah. 

Bu Gita cemas menunggu Lintang dan Wati yang tak kunjung kembali. 

"Nek, kenapa bunda lama sekali?"

"Humaira tunggu sini ya, biar nenek keluar sebentar." Humaira mengangguk. Bu Gita keluar ruangan. Dia melihat Lintang dan Wati yang sedang menangis sesenggukan di depan ruangan. Bu Gita jadi semakin cemas. Lintang langsung memeluk erat ibunya. 

"Humaira Bu." Ucap Lintang. 

"Ada apa? Apa kata dokter?" Tanya bu Gita penasaran. 

"Aku tidak sanggup mengatakannya Bu."

"Lalu, bagaimana Ibu bisa tau? Wati, apa yang terjadi?" Bu Gita sangat cemas. Wati menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ibu mohon, kasih tau Ibu!"

"Humaira... Positif..." Lintang tak sanggup melanjutkan. 

"Positif apa Lintang?"

"Leukimia." Ucap Wati singkat. 

"Apa itu Lintang? Berbahayakah untuk Humaira?" Bu Gita bingung. 

"Kanker Bu. Humaira kena kanker sel darah putih." Ucap Lintang sambil terus menangis. 

"A... Apa kanker? Tapi dia masih terlalu kecil punya penyakit seperti itu Lintang. Pasti pemeriksaannya salah kan?" Bu Gita tidak bisa terima. Tangis beliau pecah. 

"Aku tidak tau Bu harus bagaimana." Ucap Lintang. 

"Lintang masuklah! Kasian Humaira sendirian di dalam." Pinta bu Gita. 

"Aku tidak sanggup Bu. Aku tidak kuat."

"Biar Wati saja Bu yang menemani Humaira." Sekali lagi Wati menghapus air matanya, menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Berusaha menahan kesedihannya. Berusaha mengukir senyuman dari bibirnya. Wati masuk ke dalam ruangan. 

"Bunda kenapa lama?" Tanya Humaira. 

"Bunda ke kantin sayang." Jawab Wati. 

"Kata nenek bunda menemui dokter. Kapan Humaira bisa pulang Bunda?" Wati langsung terdiam. Matanya mulai basah. Dia kembali menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Mencoba tetap tersenyum. "Bunda kenapa?"

"Tidak apa sayang. Humaira harus benar-benar sehat dulu kata dokter, baru Humaira bisa pulang." Jawab Wati sambil menahan tangis. 

*****

Mohon votenya ya readers

Mohon kritik dan sarannya

Terima kasih sdh mau mampir untuk membaca

Happy reading

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status