Mag-log inDi tengah kota yang dipenuhi dengan kejahatan dan korupsi, Rafael Santoro, seorang pemuda yang awalnya menghadapi kehidupan biasa saja, terpaksa terlibat dalam dunia mafia untuk membalas dendam. Ketika ayahnya, seorang mantan anggota mafia, dibunuh dalam perseteruan antar geng, Rafael bertekad untuk membalas dendam dan mengambil alih kekuasaan yang hilang. Saat menjalankan misinya, dia bertemu dengan Sofia, seorang wanita kuat dan cerdas yang memiliki dendamnya sendiri terhadap mafia tersebut, yang membuat keduanya terpaksa bekerja dalam misi. Akahkan misi merrka berhasil?
view moreA BABY FOR BILLIONAIRE KNOX
(THE CLUMSY MERMAID)
EPISODE ONE
THEME: Saved by a good human
IN THE HUMAN WORLD
Ryan Scott was playing football with some other boys he met on the beach. And when minutes clicked by, they all got tired of playing football. Ryan walked back to his elder brother Oliver Scott.
"Game over?" Oliver asked.
"Yes..let us go home, I am so tired.” Ryan answered.
Oliver stood up and packed their stuffs into a picnic bag and they walked back to the car. But then Ryan felt like he needed to ease himself. "Hey Bro, I want to pee.” Ryan said.
Oliver rolled his eyes. “Can you hold it till we get home?” He teased.
“Come on Olly, you always tell me that it is not good to let pee stay in ones bladder for too long.” Ryan countered .
“But why now?” Oliver smirked.
“Blame it on the junks you bought for me.” Ryan replied.
Oliver eyes searched the area for possible place Ryan could pee. “Then you should have turned everything down when I offered it.” He said.
“How can I?” Ryan stomped his feet.
Oliver chuckled. “Over there.” He pointed towards a place not too far from where they stood. “You can pee over there, behind the rock.” He said.
"Okay.” Ryan raced off.
And while Ryan was doing his thing, he noticed something. He suddenly saw a hand but the rest of the body was covered up in the heap of sand. He looked closely to be sure and it was indeed a hand.
“What?! A ghost -“ His brain processed then Ryan screamed and ran as fast as his legs could carry him. He was scared!
"Hey what is wrong?" Oliver asked with a confused look on his face when he saw his brother running towards him.
"I..I..I saw a ghost..no..no.. no a dead body -" Ryan stuttered as he explained to Oliver.
“hey…relax your mind.” Oliver said and Ryan gasped out for breathes.
Oliver didn’t waste much time, he spun on his heel towards the direction. When Oliver got there, he saw a human hand but the body wasn’t in view and he wondered who had buried a human on the beach. His impulse told him to search for his phone and report the incident to the police but another look at the hand it looks so pale but still in a good condition.
“The person is dead, I suggest we call the police.” Ryan said as panic filled him.
“You are right. We should call the cops.” And just when Oliver and Ryan were about stepping backward the fingers twitched. Oliver exchanged glances with his little brother.
"I think the person is alive.” Oliver muttered, and he took a step forward.
“Yes we should save the person!” Ryan added.
And they started putting the sand away until they found the body but they both gasped out in shock on seeing the full view of the body buried in the sea sand. Oliver quickly placed his hands on Ryan's face. “You..you..shouldn’t… see…this…” Oliver stammered.
“You shouldn’t see this..as a little boy.” Oliver said, Ryan stood up and turned away.
They found the body of a beautiful woman in sand, her upper side was covered with strange clothes while from her belly button to her legs was unclad.
"Get the towel in the car.” Oliver instructed his brother as he also looked away from the nearly naked body.
“Okay.” Ryan rushed back to the car and he came back seconds later with a towel.
Oliver closed his eyes as he wrapped the towel around the woman’s body. He checked her pulse and found out she was breathing fine. And then Oliver lifted her up in bridal style in his arms.
"Who is she?" Ryan asked.
Oliver looked down at his little brother with a raised eyebrows. "How can you ask me such a question when you found her. I don't know her.” Oliver answered with a shrug.
"So why are you carrying her away?” Ryan asked.
Oliver breathed out heavily. “She is breathing.” He answered.
“So what are you going to do with her?" Ryan asked.
"Where else? I am taking her to our home.” Oliver answered.
"What?! Our home? Why do you want to bring a stranger to our home?!" Ryan asked with a wide eye.
"To help her regain consciousness.” Oliver peered down at his brother.
"Why not take her to the hospital?" Ryan asked as he opened the car door and Oliver placed the body gently in the backseat.
Oliver chuckled. "Yeah you are right bro and I was only joking about taking her to our home.” He replied.
Ryan rolled his eyes. “You always tease me at every chance you get.” They entered the car. Oliver started the car and drove down to the hospital where he worked as a surgeon.
Mobil meluncur cepat di jalanan gelap, menghindari lampu-lampu kota yang berkilauan. Rafael merasakan ketegangan di dalam dirinya. Mereka berhasil melarikan diri dari tempat penyimpanan, tetapi ancaman Marco dan kelompok musuh masih membayangi mereka. Dalam perjalanan kembali ke bar, Rafael berusaha mencerna semua informasi yang baru saja didengarnya. Setibanya di bar, suasana terasa mencekam. Para anggota mafia lainnya menunggu, wajah-wajah mereka penuh kecemasan. Vincenzo berdiri di tengah, matanya tajam menatap Rafael dan kelompoknya. “Apakah kalian berhasil mendapatkan bukti?” tanya Vincenzo, suaranya dalam dan berwibawa. Rafael menggelengkan kepala. “Kami tidak mendapatkan bukti konkret, tetapi kami mendengar percakapan tentang rencana Marco. Dia sedang merencanakan serangan besar.” “Serangan besar? Apa yang dimaksud dengan itu?” Vincenzo bertanya, suaranya penuh perhatian. “Dia bekerja sama dengan kelompok musuh. Mereka merencanakan sesuatu yang bisa menghancurkan kita,” j
“Luis, kau bisa menjelaskan di sini,” Vincenzo berkata, mempersilakan Luis untuk berbicara setelah mereka kembali ke bar. Luis tampak cemas, tetapi dia tahu bahwa inilah saatnya untuk mengungkapkan semua yang dia ketahui. “Saya mendengar bahwa Marco sedang merencanakan sesuatu yang besar. Dia bertemu dengan kelompok musuh di tempat penyimpanan di pinggir kota. Mereka berbicara tentang serangan besar.” Mendengar ini, Rafael merasakan kebingungan. “Kenapa dia melakukan ini? Dia seharusnya menjadi bagian dari kita,” katanya, suaranya penuh kebingungan. Vincenzo memandang Rafael dengan serius. “Di dunia ini, loyalitas bisa dibeli dengan mudah. Marco mungkin berpikir bahwa dia bisa mendapatkan lebih banyak kekuasaan dengan beralih ke pihak lain.” Rafael merasa hatinya bergetar. Dia tidak ingin percaya bahwa Marco, yang pernah menjadi teman dan pelindung ayahnya, kini berkhianat. “Kita harus menghentikannya sebelum terlambat,” katanya, berusaha menahan emosi yang meluap. “Setuju
Suasana di bar terasa tegang, saat Rafael dan informan itu masuk. Semua mata segera tertuju pada mereka, dan Rafael merasakan beratnya tatapan para anggota mafia yang mengelilinginya. Rafael melangkah ke sebuah ruangan. Di sudut ruangan, Vincenzo sedang duduk menunggu kedatantannya, ekspresinya sulit dibaca oleh Rafael. Rafael tahu bahwa ini adalah momen penting—dia harus menunjukkan bahwa dia pantas berada diposisi yang sekarang. “Rafael!” Vincenzo memanggilnya, suaranya dalam dan menggelegar di antara bisikan para pengunjung bar. “Kau berhasil membawa informan itu?” Rafael mengangguk, berusaha menahan ketegangan dihatinya. “Ya, dia di sini. Dia punya informan penting yang sedang kita cari.” Vincenzo melangkah maju, matanya mengamati informan yang tampak ketakutan. “Siapa namamu?” tanyanya tajam. “Luis,” jawab informan itu, suaranya bergetar. “Saya... saya hanya ingin hidup.” Vincenzo tersenyum sinis. “Kau akan hidup, Luis, jika kau memberi kami informasi yang kami butuhk
Rafael mengikuti Vincenzo ke ruangan yang dalam di bar, di mana dapat dilihatnya beberapa anggota mafia lain berkumpul. Suasana di dalam ruangan agak tegang; semua orang tampak serius, mereka berbicara dalam yang bisikan rendah. Rafael melihat sekeliling, merasakan aura kekuasaan yang menyelimuti tempat itu. Dia tidak bisa membantu tetapi merasa tertekan oleh realitas baru yang dihadapinya. “Duduk,” kata Vincenzo, menunjuk ke sebuah kursi di tengah ruangan. Rafael mengangguk dan mengambil tempa duduk itu. Anggota mafia lainnya menatapnya dengan rasa curiga. Dia menyadari bahwa dia harus membuktikan dirinya di hadapan mereka. Vincenzo berdiri di depan semua orang, menarik perhatian mereka. “Teman-teman, ini Rafael Santoro. Dia ingin bergabung dengan kita. Namun, sebelum kita membuat keputusan, dia harus melewati ujian.” “Ujian?” tanya salah satu anggota, seorang pria besar dengan tato ular yang melilit pedang di lengan. “Apa yang bisa dia lakukan?” Vincenzo tersenyum sinis. “Ki
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.