Home / Sci-Fi / Hacker Jenius Sang Penakluk / 1. Kematian sang ayah

Share

Hacker Jenius Sang Penakluk
Hacker Jenius Sang Penakluk
Author: mic.assekop

1. Kematian sang ayah

Author: mic.assekop
last update publish date: 2026-09-21 15:54:28

“Apa? Ayah meninggal?”

Aden terhenyak kaget. Berkas pendaftaran masuk perguruan tinggi di tangannya sontak jatuh ke lantai.

Ibunya, Siti Aminah, memastikan bahwa kabar tersebut memang benar adanya. “Ya, Nak, Ayahmu meninggal sebelum sempat dibawa ke rumah sakit. Barusan paman mu yang memberi kabar.”

Dada Aden bergemuruh, sementara mulutnya kelu dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Begitu sampai di Rumah Sakit Umum tepatnya di IGD, Aden tak bisa menahan tangis saat melihat jenazah ayahnya tergeletak kaku. Dengan mata kepalanya dia menyaksikan masih ada darah di sekujur tubuh ayahnya.

“Ayaahhh….” Aden memeluk ayahnya dengan sangat erat. Tangisnya benar-benar pecah.

Tidak mungkin. Aden masih tidak percaya atas apa yang terjadi. Ini seperti di dalam mimpi.

“Ayaaah, bukankah engkau ingin melihat putra tunggal mu ini menjadi sarjana?” Aden meronta dan tidak mampu mengontrol emosinya.

Ibunya juga tidak bisa menahan tangis. Sebagai seorang istri yang sudah menjalani kehidupan bersama hampir dua puluh tahun, Siti Aminah tidak bisa menahan kesedihan dan kepedihan yang begitu mendalam.

Meski begitu, yang paling merasa kehilangan tentu saja adalah Aden.

Tadi pagi ayah dan anak itu bercerita tentang rencana Aden menjadi seorang mahasiswa, tentang impian untuk melihat sangat anak kelak menjadi seorang sarjana, dan tentang masa depan serta cita-cita.

Namun, siang hari ini semua cerita itu sirna. Tidak ada lagi harapan. Tidak ada lagi kisah yang lalu maupun hari esok. Dan tidak ada lagi kehangatan antara ayah dan anak.

“Ayah, engkau pergi terlalu cepat. Jangan tinggalkan Aden, Ayah!”

Ibunya, pamannya, dan kerabatnya di sana mencoba merasakan apa yang Aden rasakan saat ini.

Meski Aden sudah cukup dewasa dan bisa menjalani kehidupan secara mandiri, namun dia tetap butuh bimbingan, dan tentu saja cinta dari sang ayah.

Aden masih butuh banyak belajar dari ayahnya. Dia ingin terus mempunyai sosok yang selalu mendengarkan ceritanya atau pun menjadi pendengar di saat sang ayah memberikan nasehat.

Pria memang dasarnya kuat, tetapi begitu kehilangan sosok yang sangat berarti dalam hidup, pria itu akan bisa rapuh dengan air mata kesedihan yang begitu menyakitkan.

Cinta adalah takut kehilangan. Dan saat rasa kehilangan itu membuncah maka cinta itu akan semakin terasa. Aden sangat merasa kehilangan sang ayah.

Keesokan harinya di lokasi pemakaman umum.

Untuk kali terakhir Aden melihat wajah sang ayah di dunia. Dengan belajar ikhlas sambil memanjatkan doa agar ayahnya mendapat kebahagiaan di alam sana.

Kemudian Aden memandangi batu nisan yang bertuliskan Raden Umar di sana. Nama yang tidak akan pernah hilang dalam ingatannya.

Hari itu tampak cerah. Tapi suasana hati Aden tidak. Hatinya diselimuti kesedihan dan tentu saja ….

Dendam!

Setelah proses pemakaman selesai, Aden menuju kantor polisi, bermaksud menggali informasi lebih dalam tentang kematian ayahnya.

Di sebuah ruangan yang cukup tertutup Aden berbicara dengan seorang inspektur yang mengurus kasus tersebut.

“Seperti yang sudah kami sampaikan bahwa ayahmu adalah korban tabrak lari,” beber polisi tersebut.

Kemarin siang di Jalan Sudirman Palembang tidak begitu padat. Ceritanya adalah Raden Umar baru pulang dari bank mengambil uang gaji dan tabungannya lalu menuju rumah.

Tiba-tiba saja mobil sedan melaju sangat kencang dari belakang dan menabrak sepeda motor yang dikendarai oleh Raden Umar.

Lantas Raden Umar terpental jauh dan kepalanya membentur trotoar. Belum sempat dilarikan ke rumah sakit beliau meninggal di tempat.

Sopir sedan tersebut rupanya anggota dari sindikat siber kelas dunia The Carbon. Pria itu sedang berada dalam kejaran polisi.

“Dia sepertinya tidak sengaja menabrak ayah mu agar bisa lari dari kejaran petugas.”

Aden menyeringai geram. “Di mana sekarang pelakunya, Pak?”

Polisi tersebut menunduk pasrah. “Dia berhasil kabur. Tapi hingga saat ini kami terus melakukan pencarian.”

Tidak banyak informasi yang Aden terima sebab si pelaku rupanya seorang peretas hebat yang tentu saja bisa menghilangkan jejak dengan cara apa pun.

Polisi itu tidak mau mematahkan semangat Aden meskipun upaya mereka tidak akan pernah berhasil. Anggota The Carbon adalah incaran NSA dan interpol. Jika mereka saja tidak sanggup, bagaimana dengan polisi di negeri ini?

“Laporan sudah kami naikkan. Semoga tim kami bisa menemukan pelaku secepat mungkin,” pungkas sang aparat meyakinkan Aden.

Aden pulang dengan membawa informasi yang sama persis seperti yang disampaikan oleh pamannya kemarin.

Aden termenung dalam. Kepergian ayahnya membuat jalan hidupnya berubah drastis. Lupakan soal kuliah sebab uang peninggalan ayahnya bakal digunakan untuk membayar hutang dan keperluan sehari-hari ibunya di rumah.

Satu-satunya ide di dalam kepalanya saat ini tentang bagaimana caranya dia mendapatkan banyak informasi tentang pelaku tersebut adalah : Menjadi seorang peretas!

Untuk memburu singa, sepertinya Aden juga harus menjadi singa!

Untuk memburu seorang peretas, tentu saja dia harus juga menjadi seorang peretas!

Maka seusai menyimpan semua berkas pendaftaran masuk kuliah, Aden menuju sebuah warnet yang tidak begitu jauh dari rumahnya, sebuah tempat yang menemani masa kecil dan remajanya.

Hari itu dia mulai bekerja sebagai penjaga warnet. Bukan cuma buat mencari uang tak seberapa, melainkan lebih dari itu, yakni dia ingin belajar secara otodidak apa pun tentang komputer, IT, ethical hacking, hingga AI.

Operator dan kasir cuma status karena sejatinya dia cuma numpang memakai PC gratis lantaran tidak punya uang untuk beli semua perangkat.

Dua tahun berlalu sangat cepat. Namun Aden masih kesusahan mencari jejak si pelaku walaupun dia sudah menguasai berbagai keahlian dunia peretasan.

Suatu ketika dia menemukan sebuah pesan rahasia di darknet. Isinya adalah mengarahkan Aden untuk mengunjungi sebuah tempat tersembunyi di tengah kota, lebih tepatnya di sebuah gudang tua di Pasar Enam Belas Ilir.

Malam hari yang sunyi di antara toko-toko Aden pun menyusuri jalanan mencari lokasi tersebut. Begitu sudah sampai, dia tidak melihat ada sesuatu hal ajaib apa pun di sana. Hanya gudang tua biasa saja.

“Benda itu sangat kecil,” bisik Aden pada dirinya sendiri. “Bagaimana aku bisa menemukannya?”

Bermodalkan senter dari HP Nokia jadul miliknya Aden menerangi tumpukan-tumpukan barang elektronik tak terpakai seperti TV, monitor, keyboard, HP dan banyak lagi.

“Seperti mencari koin di dasar laut….”

Aden menggeser, membongkar, dan menyingkirkan apa pun.

Setelah lebih dari tiga jam, akhirnya dia melihat ada dua benda yang aneh dari lainnya.

Jam tangan plastik berbentuk badut dan satu lagi sebuah Chip seukuran kuningan simcard.

Jelas jam tangan ini tidak berguna. Semua orang pasti akan mengabaikannya. Akan tetapi Aden punya ide. Dia masukkan Chip itu ke dalam jam tangan tersebut.

Lalu……

Lampunya menyala dan mengeluarkan suara :

“Terimakasih, Bosku!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hacker Jenius Sang Penakluk   10. Balasan untuk si pemula

    ===== [THE CARBON - BOUNTY BOARD :: TIER BRONZE] MISSION ID : #BRZ-8809-PLM TARGET : Devy [K-AI Corp - Lead Product Manager] VECTOR : Physical Reconnaissance & Local Sniffing LOCATION : Palembang, Indonesia (Local Coordinates Attached) ----------------- OBJECTIVE : 1. Deploy local Bluetooth ARP Spoofing / Wi-Fi MitM at target's proximity. 2. Intercept & exfiltrate local authentication tokens from target's device. 3. DO NOT ENGAGE SPEECH OR PHYSICAL CONTACT. REWARD : 0.05 BTC (~$3,200 USD) STATUS : CLAIMED BY [USER: BRONZE_BLUEX] ======= Aden kembali masuk ke rombongan. Riko tak henti ketawa sampai memegangi perut. “Astaga! Den, Den. Apa pula kau ini? Ada-ada aja! Rupanya kau ya anak kecil yang suka berdiri di pinggir jalan sambil teriak ‘Om Telolet Om’. Hahaha.” Seseorang menimpali. “Memang badut. Seperti jam tangannya. Lucu.” Seperti biasa, ketika terpojok dan tertekan, Aden berusaha tidak ambil hati. Sakit, tapi tetap dibawa hepi. Dia malah berdiri di samping Devy

  • Hacker Jenius Sang Penakluk   9. Bertemu Devy

    Dan waktu itu pun tiba. Sabtu malam di pelataran Benteng Kuto Besak. Sebuah kawasan yang ramai kalau tiba libur akhir pekan. Di sana air Sungai Musi beriak-riak, menimbulkan gelombang kecil, menghanyutkan perahu ketek yang sedang melawan arus. Tak jauh di sana, Jembatan Ampera menjulang gagah, ikon kota yang sangat terkenal dan melegenda. Aden berjalan di tengah kerumunan orang-orang, menuju salah satu restoran ternama di Palembang : Riverside. Ketika di parkiran, tiga orang berbadan besar mengawasi Aden dengan pandangan penuh curiga. Mereka berpakaian serba hitam, berkaca mata, dan mungkin menyimpan senjata api. Melirik sekilas, Aden segera masuk ke area restoran. Suara ombak kecil terdengar saat Aden melewati jembatan besi yang menghubungkan lorong restoran menuju kapal terapung. Di sana lah Devy dan belasan teman SMA lainnya sudah berkumpul di satu meja bundar besar. Riko berdiri sambil bertelekan pinggang. Dengan raut wajah angkuh Riko berkata dengan nada menyindir, “Oh, t

  • Hacker Jenius Sang Penakluk   8. Undangan

    “Aku punya info lain lagi…. Kau sampai memakai NIK KTP anggota keluarga mu supaya dapat pinjaman online.” Aden mengoles dagu. “Apakah ini lebih baik dari pada penjaga warnet?”Mereka berempat tercengang. Dari mana Aden tahu semua informasi itu?Kalau Aden mengarang cerita, seharusnya Ujang marah dan protes, tetapi Ujang malah kikuk dan diam seribu bahasa.Lagipula semua teman tongkrongan tahu bahwa Ujang memang penjudi dan pelaku pinjol. Hanya saja mereka tidak tahu sampai sedetail itu.Aden tidak perlu menekan tombol atau mengusap layar agar layar menampilkan data baru.Hebatnya, dia cukup memberikan perintah lewat pikirannya saja. Cukup bicara dalam hati, data terenkripsi langsung terbaca otomatis di jam tangan plastik murahan bermotif badut di tangannya.“Apa perlu aku sebutkan riwayat judi dan pinjol selama dari awal main sampai hari ini?”Ujang sontak bereaksi. “Jangan! Jangan! Jangan! Dek Aden, kau tidak perlu bicara lagi. Cukup. Aku minta maaf atas ucapanku tadi.”“Juga yang ke

  • Hacker Jenius Sang Penakluk   7. Benci media sosial

    Aden benci media sosial, tapi lebih benci lagi terhadap dunia nyata.Baginya, keduanya sama-sama menyeramkan dan menyakitkan.Di media sosial terlalu banyak penipuan, pamer, kebohongan, sandiwara, kesombongan, kemunafikan, hoaks, kedengkian, ironi, dan rasa haus validasi.Media sosial menyetir orang-orang agar mereka selalu tampil bagus. Menutupi aib dan celah, lalu menggantinya dengan kesempurnaan yang padahal itu hanyalah konten palsu.Mereka terjebak di dalam kehendak kosong yang sebenarnya tidak berguna. Memamerkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dipamerkan.Aden benci Facebook, Instagram, apalagi Tiktok.Sedikit sekali pelajaran dan manfaat yang bisa diambil di sana, kecuali menimbulkan iri dan mematahkan semangat.Ah, Aden tidak suka berlomba-lomba untuk jadi yang terbaik hanya demi validasi dan popularitas.Tapi sebenci-bencinya Aden dengan dunia maya, dia lebih benci dengan kehidupan nyata.Jika di media sosial orang-orang bisa bersembunyi untuk melakukan kejahatan, maka d

  • Hacker Jenius Sang Penakluk   6. Joker Hitam

    Mang Bowo sempat bercita-cita ingin jadi tentara walaupun akhirnya dia selalu gagal. Skill menembak dan membunuhnya dia tuangkan di dalam PB dan PUBG.Meski fisik dan wajahnya tidak meyakinkan, tapi Mang Bowo sangat jago dalam berbagai permainan di warnet miliknya sendiri.Pas ‘mabar’, para bocil di sana dibuat terkagum-kagum berkat skill kelas dewa miliknya.Para bocil di sana kerap berteriak :“Mang Bowo GG!”“Mang Bowo GG!”Ketika mendengar lolongan dan pujian para pendengarnya, Mang Bowo langsung menyetel musik disko haram yang dilarang MUI lalu berjoget ria ala pecandu media sosial di Tiktok.Dulu nama warnetnya adalah Warnet Bowo. Tapi sudah berubah nama mungkin sejak lebih dari tiga tahun lalu. Jauh sebelum adanya program makan gratis yang diadakan pemerintah, entah siapa nama presiden Konoha yang punya ide itu.Warnet MBG tidak begitu terkenal di Palembang. Kendati begitu, pelayanan di sini dapat rating 4,9. Pelayanannya cukup bagus dan jarang terjadi kendala.Para bocil jaran

  • Hacker Jenius Sang Penakluk   5. Misi selesai

    ====== [SUDO] CARBON_NET_SINKHOLE :: INITIATED BY ACE OF SPADES ====== [+] PURGING 42.8 Gbps BOTNET TRAFFIC... [SUCCESS] [+] REVERSE ROUTING TO NULL INTERFACE... [DONE] [+] TARGET [K-AI_SEOUL_NODE_01] RESTORED [100%] ===== [ALL ATTACK VECTORS NEUTRALIZED] MESSAGE TO ATTACKERS: "Amateur DDoS. Traffic rerouted, nodes incinerated. Go back to school." -- ACE OF SPADES -- ===== Saluran yang tadi macet kini jadi normal kembali. Suara Devy mampu terdengar lagi. Dan layar Big Tech raksasa yang menampilkan presentasi di belakang Devy muncul tulisan : [SYSTEM SECURE] Ace of Spades Lalu layar menampilkan foto dan tulisan tentang Hexa AI. Para tim ahli menyampaikan pada para petinggi perusahaan bahwa semua sudah benar-benar terkendali. Tim media mengangkat dua jempol lalu kembali bertugas. Di atas panggung mewah, Devy menghela napas lega sambil mengelus dada. Tadi adalah dua puluh detik yang sangat amat menegangkan dalam hidupnya. “Syukurlah. Terimakasih, Tuhan, sud

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status