Mag-log inNiken itu sekilas nampak sebagai wanita biasa yang misterius dan tidak banyak dikenal saat memutuskan untuk tinggal di sebuah unit rumah susun biasa. Perkenalan dengan Dimas dan kejadian-kejadian aneh yang menyertai membuat rahasia masa lalunya perlahan terkuak bahwa dirinya adalah sosok yang tengah dikejar oleh sekelompok bandit dibawah pimpinan Nikolai, seorang penjahat jenius. Yang lebih mengagetkan Dimas, saat hubungan mereka makin meningkat ke tahap lebih serius, wanita itu juga ternyata bukan orang sembarangan termasuk dalam arti harfiah. Niken itu gadis bionic dan ada sekelompok mafia bersenjata yang memburunya.
view moreJika ada yang mengatakan i hate Monday, maka aku akan menyetujuinya. Senin selalu saja dimulai dengan keriuhan seisi rumah, mulai dari berebut memakai kamar mandi, saling meminjam baju untuk ke kampus, serta saat sarapan. Selalu saja ada hal seru yang kadang mengesalkan semangat di pagi hari.
Dua kembaranku sudah dijemput pacarnya masing-masing. Aleta dijemput Valdo dengan motor Vespanya, Andrea dijemput Rusli dengan Mogenya. Lalu aku? Terakhir dijemput James dengan mobil baru nan mewahnya, tetapi aku malah memuntahkan isi sarapanku di jok mobil. Tanpa menunggu sampai di kampus, aku pun sudah diputuskan.Semalam, Noah mengirimkan WA. Teman kelas paduan suaraku itu mengatakan, bahwa ia tak bisa terlalu dekat denganku, karena pacarnya tidak menyukaiku. Okelah. Memang sudah nasibku, sejak PAUD sudah punya pacar, tapi tak bertahan lama. Jangan dicontoh, nanti kualat."Andini, kenapa masih bengong di depan teras? Siapa yang jemput kamu hari ini? James, Noah, atau Herdi?" tanya ibuku saat menghampiriku yang masih memakai sepatu di teras rumah. Aku menoleh pada wanita paruh baya yang cantiknya bak artis Aura Kasih, yang katanya sangat mirip denganku. Wanita yang selalu membuat hati dan hariku penuh senyuman dan tawa. Kalian tidak percaya? Nih, sebentar lagi.Baik telingaku, otakku, nasibku, wajahku, benar-benar mirip dengan ibuku;Parmi. Walau begitu, aku sangat menyayanginya. Kami kembar tiga yang dua orang lebih mirip papa, sedangkan aku lain daripada yang lain, karena mirip ibuku. Entahlah, kadang aku ragu, apakah kedua saudara kembali keluar dari rahim yang sama denganku?"Yaaah ... Budeg deh! masih pagi ditanya malah bengong! Bontot Ibu, dijemput siapa hari ini?" tanya ibuku lagi membuyarkan lamunanku."Ojol," jawabku cepat. Aku pun berdiri sambil menggendong tas ranselku."Oh, ojol. Rumahnya di mana?" tanya ibuku lagi."Gak tahu, Bu. Mana Andini tahu rumah ojol di mana?""Loh, gimana? Masa sama pacar sendiri gak tahu di mana rumahnya?" balas ibuku dengan kening mengerut."Andini gak sendiri, Bu. Naik ojol!""Duh, belum sah kok udah mau naik aja. Jangan sayang! Belum muhrim!" ujar ibu lagi padaku.Tak banyak yang bisa aku lakukan, selain banyak istighfar dan mengukur tensi darahku setelah sampai di kampus nanti. Memiliki ibu yang serupa denganku benar-benar sebuah berkah.****Seorang pria tengah berusaha menenangkan putranya yang masih saja menangis dalam gendongannya. Peluh lelaki itu sudah membanjiri kening dan juga sebagian kemeja kerjanya. Hal itu tentulah menjadikannya pusat perhatian seluruh mahasiswa, termasuk aku yang kini duduk di bangku paling belakang.Dosen baru yang menyusahkan menurutku. Hari pertama saja sudah bawa bayi? Memangnya istrinya ke mana? Siapa sih yang menerima lelaki itu mengajar di sini? Udah tua, cupu, gak ada senyumnya lagi. Entah kenapa pada saat mata kuliah manajemen bisnis, mataku selalu saja ingin tertutup. Baik dengan dosen lama, atapun dosen baru.Ditambah lagi, dosen baru sibuk dengan bayinya dan pelajaran belum juga dimulai."Siti, gue merem sebentar. Nanti kalau Pak Dosen rempong udah mulai penjelasan, bangunin gue!" pesanku pada Siti, teman yang duduk persis di sampingku."Iya." Siti menganggukkan kepala.Aku pun meletakkan kedua tangan di atas meja dengan posisi menekuk, lalu aku letakkan secara perlahan kepalaku yang mulai terasa berat karena menahan kantuk."Kamu, yang lagi enak-enak ngences di sana, sini ke depan!"****Veily menyadari sesuatu yang lain lagi. Alex tidak lagi mengenakan kalung akik merah padam. Benda yang dulu diberikan khusus untuk pria itu kini tak ada lagi di lehernya. Sebersit rasa kecewa seketika menyeruak dalam batinnya....Bagi Veily, Alex bukan pria biasa. Ia pernah mendapat perhatian khusus dalam diri Veily yang seiring berjalannya waktu mulai berani menyalakan bara api dalam hatinya. Dan kala Alex menyambut, bara api itu – cinta, tentu saja – makin memuai. Menyalakan rindu, perhatian, dan ketertarikan yang terus bergejolak. Sampai kemudian terjadi sebuah kesalahpahaman yang belakangan ia sesali hingga saat itu. Kesalahpahaman yang membuat tersingkirnya Alex dari lembar hidupnya. Andai bisa membalik waktu, ingin rasanya ia jatuh dalam rengkuhan pria itu. Menumpahkan maaf. Mencurahkan sesalnya yang nyaris tak berujung.Dan kini. Tidak bukan kini - tapi kemarin pagi tepatnya – secara tak terduga
“Sialnya aku tiba di medan pertempuran antara pasukan Jepang dengan tentara sekutu. Aku langsung berada dibawah todongan salah seorang tentara Jepang. Penjelasan bahwa aku dari masa depan tentu saja tidak membuatnya percaya. Ia hampir saja membunuhku sampai kemudian kubuktikan kebenaran ucapanku melalui Jetpack yang kubawa. Tentara Jepang itu, Letnan Hamada namanya, memaksaku untuk memakaikan Jetpack padanya. Di bawah todongan, aku menurut. Aku hanya menge-set agar benda itu terbang naik, melayang di ketinggian tertentu, dan mendarat kembali. Semua tak lebih dari lima menit. Tapi itu memang berdampak signifikan. Dalam gelap malam, dengan mitraliurnya dan dengan sekali pukul ia melumpuhkan sekutu di tempat persembunyian dari udara. Pertempuran berakhir dengan kemenangan di pihak Jepang.”Alex menyimak rangkaian cerita menakjubkan tadi sementara Profesor tetap meneruskan.“Kami kemudian pulang ke barak Jepang yang ternyata me
Profesor Senjaya menatap tajam. “Aku ingin benda itu dihancurkan. Kendati perang dingin antara blok barat dan timur tak lagi muncul ke permukaan akan muncul hegemoni lain yang sama membahayakannya. Tak sulit membayangkan bencana macam apa yang terjadi jika sampai Jetpack diproduksi masif di masa ini.”Penjelasan Profesor terdengar masuk akal. Alex berpikir dan menimbang-nimbang sekian lama di tempat duduknya. Gelas berisi minuman jus jeruk yang ia pesan dari tadi sudah lama tandas. Kendati demikian, ia tetap saja mengaduk-aduk gelas yang kini hanya tersisa es batu saja.“OK,” katanya kemudian. Nyaris tanpa suara. “Aku di pihakmu.”Profesor nampak lega.“Namun sebelum kuserahkan padamu, tolong jawab pertanyaan terbesarku. Bagaimana ceritanya benda itu bisa berada di goa Jepang, teronggok bersama barang-barang peninggalan Perang Dunia kedua, sementara Prof send
Pada sepuluh detik pertama Alex masih bisa menahan. Tapi ketika sudah dua puluh detik, wajahnya mulai berubah. Alex mulai meringis ketika cubitan Tessa berlangsung hingga lebih tiga puluh detik.“Ampun,” desisnya.“Nggak!” cetus Tessa galak. Rona kemenangan terpancar di wajahnya melihat Alex yang mulanya sok kuat kini mulai meringis kesakitan.“Ampun.”“Nggak. Bilang dulu seperti tadi kubilang. Ayo, cepetan!”Dalam sengatan nyeri Alex dengan cepat mengingat sesuatu. “I miss youuuu... ouch!”Tessa melepaskan cubitannya. “Koq milih kalimat yang itu dan bukan yang satunya?”Alex tidak menjawab. Saat menarik tangannya kembali tanpa sengaja ia menyentuh ujung botol saus yang terbuka yang langsung mengotori jari-jarinya.“Tuh, kamu sih.”
Seiring kepergian Alex dan seiring pula berjalannya waktu, penyesalan yang sebelumnya menghinggapi Alex, kini mulai menyapa dirinya. Setelah berpikir lebih dalam, perlahan ia mulai menyadari bahwa Alex tidaklah seburuk yang ia sangka.Yang kemudian timbul dalam jiwanya adalah r
Laporan beban fiskal perusahaan yang menggelayuti pikiran Tessa segera ia buang jauh-jauh dan diabaikan begitu saja ketika Alex hadir di pintu ruang kerjanya siang itu.“Maaf terlambat,” kata Alex sesopan mungkin sesaat setelah diijinkan Tessa untuk duduk di depanny
Oleg memasuki boks telepon, memutar nomor, dan mulai berbicara dengan seseorang di ujung sana. Mulutnya sibuk mengunyah permen yang sejak ia di Jakarta menjadi kesukaannya.“Letnan, aku masih belum bisa melacak keberadaan Profesor. Tapi sudah mendapatkan informasi mengenai Alex. Info itu benar.” Jeda
“Hacker, tepatnya. Aku memperbaiki misalnya sistim perbankan yang kacau, seperti transaksi derivatif, pengamanan data cyber, phone banking, dan semacamnya. Yah, itu untuk biaya hidup sehari-hari.”“I see.”“Sekarang langsung ke intinya. Jadi
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.