LOGIN===== [THE CARBON - BOUNTY BOARD :: TIER BRONZE] MISSION ID : #BRZ-8809-PLM TARGET : Devy [K-AI Corp - Lead Product Manager] VECTOR : Physical Reconnaissance & Local Sniffing LOCATION : Palembang, Indonesia (Local Coordinates Attached) ----------------- OBJECTIVE : 1. Deploy local Bluetooth ARP Spoofing / Wi-Fi MitM at target's proximity. 2. Intercept & exfiltrate local authentication tokens from target's device. 3. DO NOT ENGAGE SPEECH OR PHYSICAL CONTACT. REWARD : 0.05 BTC (~$3,200 USD) STATUS : CLAIMED BY [USER: BRONZE_BLUEX] ======= Aden kembali masuk ke rombongan. Riko tak henti ketawa sampai memegangi perut. “Astaga! Den, Den. Apa pula kau ini? Ada-ada aja! Rupanya kau ya anak kecil yang suka berdiri di pinggir jalan sambil teriak ‘Om Telolet Om’. Hahaha.” Seseorang menimpali. “Memang badut. Seperti jam tangannya. Lucu.” Seperti biasa, ketika terpojok dan tertekan, Aden berusaha tidak ambil hati. Sakit, tapi tetap dibawa hepi. Dia malah berdiri di samping Devy
Dan waktu itu pun tiba. Sabtu malam di pelataran Benteng Kuto Besak. Sebuah kawasan yang ramai kalau tiba libur akhir pekan. Di sana air Sungai Musi beriak-riak, menimbulkan gelombang kecil, menghanyutkan perahu ketek yang sedang melawan arus. Tak jauh di sana, Jembatan Ampera menjulang gagah, ikon kota yang sangat terkenal dan melegenda. Aden berjalan di tengah kerumunan orang-orang, menuju salah satu restoran ternama di Palembang : Riverside. Ketika di parkiran, tiga orang berbadan besar mengawasi Aden dengan pandangan penuh curiga. Mereka berpakaian serba hitam, berkaca mata, dan mungkin menyimpan senjata api. Melirik sekilas, Aden segera masuk ke area restoran. Suara ombak kecil terdengar saat Aden melewati jembatan besi yang menghubungkan lorong restoran menuju kapal terapung. Di sana lah Devy dan belasan teman SMA lainnya sudah berkumpul di satu meja bundar besar. Riko berdiri sambil bertelekan pinggang. Dengan raut wajah angkuh Riko berkata dengan nada menyindir, “Oh, t
“Aku punya info lain lagi…. Kau sampai memakai NIK KTP anggota keluarga mu supaya dapat pinjaman online.” Aden mengoles dagu. “Apakah ini lebih baik dari pada penjaga warnet?”Mereka berempat tercengang. Dari mana Aden tahu semua informasi itu?Kalau Aden mengarang cerita, seharusnya Ujang marah dan protes, tetapi Ujang malah kikuk dan diam seribu bahasa.Lagipula semua teman tongkrongan tahu bahwa Ujang memang penjudi dan pelaku pinjol. Hanya saja mereka tidak tahu sampai sedetail itu.Aden tidak perlu menekan tombol atau mengusap layar agar layar menampilkan data baru.Hebatnya, dia cukup memberikan perintah lewat pikirannya saja. Cukup bicara dalam hati, data terenkripsi langsung terbaca otomatis di jam tangan plastik murahan bermotif badut di tangannya.“Apa perlu aku sebutkan riwayat judi dan pinjol selama dari awal main sampai hari ini?”Ujang sontak bereaksi. “Jangan! Jangan! Jangan! Dek Aden, kau tidak perlu bicara lagi. Cukup. Aku minta maaf atas ucapanku tadi.”“Juga yang ke
Aden benci media sosial, tapi lebih benci lagi terhadap dunia nyata.Baginya, keduanya sama-sama menyeramkan dan menyakitkan.Di media sosial terlalu banyak penipuan, pamer, kebohongan, sandiwara, kesombongan, kemunafikan, hoaks, kedengkian, ironi, dan rasa haus validasi.Media sosial menyetir orang-orang agar mereka selalu tampil bagus. Menutupi aib dan celah, lalu menggantinya dengan kesempurnaan yang padahal itu hanyalah konten palsu.Mereka terjebak di dalam kehendak kosong yang sebenarnya tidak berguna. Memamerkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dipamerkan.Aden benci Facebook, Instagram, apalagi Tiktok.Sedikit sekali pelajaran dan manfaat yang bisa diambil di sana, kecuali menimbulkan iri dan mematahkan semangat.Ah, Aden tidak suka berlomba-lomba untuk jadi yang terbaik hanya demi validasi dan popularitas.Tapi sebenci-bencinya Aden dengan dunia maya, dia lebih benci dengan kehidupan nyata.Jika di media sosial orang-orang bisa bersembunyi untuk melakukan kejahatan, maka d
Mang Bowo sempat bercita-cita ingin jadi tentara walaupun akhirnya dia selalu gagal. Skill menembak dan membunuhnya dia tuangkan di dalam PB dan PUBG.Meski fisik dan wajahnya tidak meyakinkan, tapi Mang Bowo sangat jago dalam berbagai permainan di warnet miliknya sendiri.Pas ‘mabar’, para bocil di sana dibuat terkagum-kagum berkat skill kelas dewa miliknya.Para bocil di sana kerap berteriak :“Mang Bowo GG!”“Mang Bowo GG!”Ketika mendengar lolongan dan pujian para pendengarnya, Mang Bowo langsung menyetel musik disko haram yang dilarang MUI lalu berjoget ria ala pecandu media sosial di Tiktok.Dulu nama warnetnya adalah Warnet Bowo. Tapi sudah berubah nama mungkin sejak lebih dari tiga tahun lalu. Jauh sebelum adanya program makan gratis yang diadakan pemerintah, entah siapa nama presiden Konoha yang punya ide itu.Warnet MBG tidak begitu terkenal di Palembang. Kendati begitu, pelayanan di sini dapat rating 4,9. Pelayanannya cukup bagus dan jarang terjadi kendala.Para bocil jaran
====== [SUDO] CARBON_NET_SINKHOLE :: INITIATED BY ACE OF SPADES ====== [+] PURGING 42.8 Gbps BOTNET TRAFFIC... [SUCCESS] [+] REVERSE ROUTING TO NULL INTERFACE... [DONE] [+] TARGET [K-AI_SEOUL_NODE_01] RESTORED [100%] ===== [ALL ATTACK VECTORS NEUTRALIZED] MESSAGE TO ATTACKERS: "Amateur DDoS. Traffic rerouted, nodes incinerated. Go back to school." -- ACE OF SPADES -- ===== Saluran yang tadi macet kini jadi normal kembali. Suara Devy mampu terdengar lagi. Dan layar Big Tech raksasa yang menampilkan presentasi di belakang Devy muncul tulisan : [SYSTEM SECURE] Ace of Spades Lalu layar menampilkan foto dan tulisan tentang Hexa AI. Para tim ahli menyampaikan pada para petinggi perusahaan bahwa semua sudah benar-benar terkendali. Tim media mengangkat dua jempol lalu kembali bertugas. Di atas panggung mewah, Devy menghela napas lega sambil mengelus dada. Tadi adalah dua puluh detik yang sangat amat menegangkan dalam hidupnya. “Syukurlah. Terimakasih, Tuhan, sud






