MasukMang Bowo sempat bercita-cita ingin jadi tentara walaupun akhirnya dia selalu gagal. Skill menembak dan membunuhnya dia tuangkan di dalam PB dan PUBG.
Meski fisik dan wajahnya tidak meyakinkan, tapi Mang Bowo sangat jago dalam berbagai permainan di warnet miliknya sendiri. Pas ‘mabar’, para bocil di sana dibuat terkagum-kagum berkat skill kelas dewa miliknya. Para bocil di sana kerap berteriak : “Mang Bowo GG!” “Mang Bowo GG!” Ketika mendengar lolongan dan pujian para pendengarnya, Mang Bowo langsung menyetel musik disko haram yang dilarang MUI lalu berjoget ria ala pecandu media sosial di T****k. Dulu nama warnetnya adalah Warnet Bowo. Tapi sudah berubah nama mungkin sejak lebih dari tiga tahun lalu. Jauh sebelum adanya program makan gratis yang diadakan pemerintah, entah siapa nama presiden Konoha yang punya ide itu. Warnet MBG tidak begitu terkenal di Palembang. Kendati begitu, pelayanan di sini dapat rating 4,9. Pelayanannya cukup bagus dan jarang terjadi kendala. Para bocil jarang mengeluh soal perangkat dan jaringan karena semua akan aman jika Aden yang jaga warnet. Kecuali hari ini agak beda. Suasana hati Mang Bowo agak kurang bagus lantaran semalam habis ribut sama istrinya. Dan Aden yang jadi sasaran amarahnya. “DEN! Kenapa semua orang pada ribut? Ada masalah apa ini?” Aden memutar kursi gaming jelek yang dia duduki. Layar yang berisi portal The Carbon langsung hilang. Tanpa menyentuh tetikus, Aden membuka terminal MikroTik AceOS miliknya dan mengeksekusi pembersihan paket data sampah secara serentak. ===== # Cleansing MBG Local Gateway /ip dns cache flush /ip firewall connection remove [find reply-dst-address=192.168.1.0/24] /queue simple set [find name=Game_Priority] max-limit=100M/100M ===== Data sampah serangan botnet yang menyumbat bandwidth lokal langsung tersapu bersih dalam tempo 1 detik. Agar bocil-bocil tidak rewel, Aden menyuntikkan packet priority khusus ke IP PC mereka. Dalam sekedip mata, indikator ping di monitor para bocil berubah warna dari merah menjadi hijau pekat: 5 ms!!! Mereka melonjak kegirangan “Asyik gak patah-patah lagi!” Suara hantaman dan hentakan langsung mereda. Lolongan para bocil hilang seketika. Mang Bowo mengernyitkan alis dan berkata dengan nada sinis, “Apa lagi Aden? Main hacker-hacker-an lagi? Berhenti nonton film hacker dan tidak usah berkhayal jadi Joker_Hitam!” Mang Bowo sangat mengidolakan Joker_Hitam, sang penyandang tier tertinggi di The Carbon : Diamond! Hanya satu level di bawah Black Diamond dan itu tidak akan dicapai oleh siapa pun lantaran Black Diamond hanya milik sang Owner sekaligus Leader The Carbon. Tier tertinggi bagi para anggota yang bisa dicapai hanyalah Diamond. Ada tiga tier lagi di bawahnya : Gold, Silver, dan tentu saja Bronze. Tier Diamond hanya ada 10 member. Gold 100 member, silver 1000 member, dan sisanya adalah Bronze yang diperkirakan lebih dari sepuluh ribu member. Karena sistem rangking berdasarkan level dan poin maka posisi setiap member pasti akan selalu berubah. Mang Bowo sangat terinspirasi dari kehebatan Joker_Hitam dalam hal apa pun terkait hacking. Dia pikir, Aden juga mengidolakan Joker_Hitam secara diam-diam mengingat beberapa tahun terakhir Aden sering berlagak layaknya hacker. Mang Bowo menuding malas sambil mengeluarkan senyum miring. “Den! Sebaiknya kau menyelesaikan kursus tiga bulan microsoft office. Teknik copy-paste mu masih payah. Sekarang lagi musim skripsi. Kita akan banyak orderan.” Mang Bowo lalu memutar wajah dan perut buncitnya ke arah deretan bilik warnet, mengawasi suasana yang baru saja tenang selepas keributan tadi. “Den, sebaiknya kau berhenti bicara soal peretasan-peretasan yang terjadi di dunia, apalagi yang terkait dengan The Carbon, terutama Joker_Hitam. Tetaplah dengan pekerjaan mu di sana. Haha. Kau akan naik gaji bulan depan. Tenang saja.” Aden melepaskan tudung hoodie dari kepalanya, lalu menyandarkan punggungnya di kursi gaming jelek di belakangnya. ‘Palingan naik lima puluh ribu,’ batin Aden, ‘Jadi sejuta dua ratus lima puluh ribu.’ Mang Bowo membalik badan. Sebelum masuk dan menutup pintu, dia masih saja mengoceh, “Den, nanti kau perbaiki keyboard di bilik sebelas, aku lihat ada dua tombol yang copot.” Aden tidak mengangguk tapi membalas, “Oke, Mang.” Katanya sambil mengacungkan jempol. Ketika bayangan Mang Bowo sudah hilang, monitor utama langsung kembali terbelah dua : sebelah kiri layar antarmuka billing dan sebelah kanan tentu saja siaran langsung presentasi Devy. Ketika sore hari sebelum matahari terbenam saatnya ganti shift, Aden mengganti sistem operasi komputer dari AceOS ke Linux kadang juga Windows, seperti normal biasa, lalu mencabut Ace-Chip. “Selamat tinggal duniaku,” lirihnya kemudian beranjak pulang.===== [THE CARBON - BOUNTY BOARD :: TIER BRONZE] MISSION ID : #BRZ-8809-PLM TARGET : Devy [K-AI Corp - Lead Product Manager] VECTOR : Physical Reconnaissance & Local Sniffing LOCATION : Palembang, Indonesia (Local Coordinates Attached) ----------------- OBJECTIVE : 1. Deploy local Bluetooth ARP Spoofing / Wi-Fi MitM at target's proximity. 2. Intercept & exfiltrate local authentication tokens from target's device. 3. DO NOT ENGAGE SPEECH OR PHYSICAL CONTACT. REWARD : 0.05 BTC (~$3,200 USD) STATUS : CLAIMED BY [USER: BRONZE_BLUEX] ======= Aden kembali masuk ke rombongan. Riko tak henti ketawa sampai memegangi perut. “Astaga! Den, Den. Apa pula kau ini? Ada-ada aja! Rupanya kau ya anak kecil yang suka berdiri di pinggir jalan sambil teriak ‘Om Telolet Om’. Hahaha.” Seseorang menimpali. “Memang badut. Seperti jam tangannya. Lucu.” Seperti biasa, ketika terpojok dan tertekan, Aden berusaha tidak ambil hati. Sakit, tapi tetap dibawa hepi. Dia malah berdiri di samping Devy
Dan waktu itu pun tiba. Sabtu malam di pelataran Benteng Kuto Besak. Sebuah kawasan yang ramai kalau tiba libur akhir pekan. Di sana air Sungai Musi beriak-riak, menimbulkan gelombang kecil, menghanyutkan perahu ketek yang sedang melawan arus. Tak jauh di sana, Jembatan Ampera menjulang gagah, ikon kota yang sangat terkenal dan melegenda. Aden berjalan di tengah kerumunan orang-orang, menuju salah satu restoran ternama di Palembang : Riverside. Ketika di parkiran, tiga orang berbadan besar mengawasi Aden dengan pandangan penuh curiga. Mereka berpakaian serba hitam, berkaca mata, dan mungkin menyimpan senjata api. Melirik sekilas, Aden segera masuk ke area restoran. Suara ombak kecil terdengar saat Aden melewati jembatan besi yang menghubungkan lorong restoran menuju kapal terapung. Di sana lah Devy dan belasan teman SMA lainnya sudah berkumpul di satu meja bundar besar. Riko berdiri sambil bertelekan pinggang. Dengan raut wajah angkuh Riko berkata dengan nada menyindir, “Oh, t
“Aku punya info lain lagi…. Kau sampai memakai NIK KTP anggota keluarga mu supaya dapat pinjaman online.” Aden mengoles dagu. “Apakah ini lebih baik dari pada penjaga warnet?”Mereka berempat tercengang. Dari mana Aden tahu semua informasi itu?Kalau Aden mengarang cerita, seharusnya Ujang marah dan protes, tetapi Ujang malah kikuk dan diam seribu bahasa.Lagipula semua teman tongkrongan tahu bahwa Ujang memang penjudi dan pelaku pinjol. Hanya saja mereka tidak tahu sampai sedetail itu.Aden tidak perlu menekan tombol atau mengusap layar agar layar menampilkan data baru.Hebatnya, dia cukup memberikan perintah lewat pikirannya saja. Cukup bicara dalam hati, data terenkripsi langsung terbaca otomatis di jam tangan plastik murahan bermotif badut di tangannya.“Apa perlu aku sebutkan riwayat judi dan pinjol selama dari awal main sampai hari ini?”Ujang sontak bereaksi. “Jangan! Jangan! Jangan! Dek Aden, kau tidak perlu bicara lagi. Cukup. Aku minta maaf atas ucapanku tadi.”“Juga yang ke
Aden benci media sosial, tapi lebih benci lagi terhadap dunia nyata.Baginya, keduanya sama-sama menyeramkan dan menyakitkan.Di media sosial terlalu banyak penipuan, pamer, kebohongan, sandiwara, kesombongan, kemunafikan, hoaks, kedengkian, ironi, dan rasa haus validasi.Media sosial menyetir orang-orang agar mereka selalu tampil bagus. Menutupi aib dan celah, lalu menggantinya dengan kesempurnaan yang padahal itu hanyalah konten palsu.Mereka terjebak di dalam kehendak kosong yang sebenarnya tidak berguna. Memamerkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dipamerkan.Aden benci Facebook, Instagram, apalagi Tiktok.Sedikit sekali pelajaran dan manfaat yang bisa diambil di sana, kecuali menimbulkan iri dan mematahkan semangat.Ah, Aden tidak suka berlomba-lomba untuk jadi yang terbaik hanya demi validasi dan popularitas.Tapi sebenci-bencinya Aden dengan dunia maya, dia lebih benci dengan kehidupan nyata.Jika di media sosial orang-orang bisa bersembunyi untuk melakukan kejahatan, maka d
Mang Bowo sempat bercita-cita ingin jadi tentara walaupun akhirnya dia selalu gagal. Skill menembak dan membunuhnya dia tuangkan di dalam PB dan PUBG.Meski fisik dan wajahnya tidak meyakinkan, tapi Mang Bowo sangat jago dalam berbagai permainan di warnet miliknya sendiri.Pas ‘mabar’, para bocil di sana dibuat terkagum-kagum berkat skill kelas dewa miliknya.Para bocil di sana kerap berteriak :“Mang Bowo GG!”“Mang Bowo GG!”Ketika mendengar lolongan dan pujian para pendengarnya, Mang Bowo langsung menyetel musik disko haram yang dilarang MUI lalu berjoget ria ala pecandu media sosial di Tiktok.Dulu nama warnetnya adalah Warnet Bowo. Tapi sudah berubah nama mungkin sejak lebih dari tiga tahun lalu. Jauh sebelum adanya program makan gratis yang diadakan pemerintah, entah siapa nama presiden Konoha yang punya ide itu.Warnet MBG tidak begitu terkenal di Palembang. Kendati begitu, pelayanan di sini dapat rating 4,9. Pelayanannya cukup bagus dan jarang terjadi kendala.Para bocil jaran
====== [SUDO] CARBON_NET_SINKHOLE :: INITIATED BY ACE OF SPADES ====== [+] PURGING 42.8 Gbps BOTNET TRAFFIC... [SUCCESS] [+] REVERSE ROUTING TO NULL INTERFACE... [DONE] [+] TARGET [K-AI_SEOUL_NODE_01] RESTORED [100%] ===== [ALL ATTACK VECTORS NEUTRALIZED] MESSAGE TO ATTACKERS: "Amateur DDoS. Traffic rerouted, nodes incinerated. Go back to school." -- ACE OF SPADES -- ===== Saluran yang tadi macet kini jadi normal kembali. Suara Devy mampu terdengar lagi. Dan layar Big Tech raksasa yang menampilkan presentasi di belakang Devy muncul tulisan : [SYSTEM SECURE] Ace of Spades Lalu layar menampilkan foto dan tulisan tentang Hexa AI. Para tim ahli menyampaikan pada para petinggi perusahaan bahwa semua sudah benar-benar terkendali. Tim media mengangkat dua jempol lalu kembali bertugas. Di atas panggung mewah, Devy menghela napas lega sambil mengelus dada. Tadi adalah dua puluh detik yang sangat amat menegangkan dalam hidupnya. “Syukurlah. Terimakasih, Tuhan, sud







