LOGINSemuanya bermula ketika retakan misterius muncul di langit dan perlahan mengubah dunia yang selama ini dikenal Kenzo. Dari balik retakan itu, makhluk-makhluk asing bermunculan tanpa diketahui dari mana asalnya. Setiap kemunculan selalu meninggalkan kehancuran, membuat manusia mulai menyadari bahwa apa yang terjadi bukan sekadar bencana biasa. Kenzo awalnya hanya seseorang yang kebetulan berada di tengah salah satu insiden tersebut. Namun, setelah kejadian itu, hidupnya mulai berubah. Dia mengalami mimpi-mimpi aneh, mendengar bisikan yang tidak bisa didengar orang lain, dan menemukan tanda-tanda misterius pada tubuhnya. Yang paling mengganggu adalah kenyataan bahwa energi dari retakan seolah memiliki hubungan dengan dirinya. Keadaan semakin sulit dijelaskan ketika sebuah benda misterius ditemukan dan menunjukkan reaksi aneh saat berada di dekat Kenzo. Divisi Penjaga Retakan yang selama ini berusaha memahami fenomena tersebut mulai menyadari bahwa perubahan yang terjadi pada Kenzo mungkin berkaitan langsung dengan retakan. Di tengah usaha mencari jawaban, Kenzo perlahan merasakan sesuatu yang asing di dalam dirinya. Sesuatu yang terkadang mengambil alih pikirannya, muncul dalam mimpi, dan seolah berusaha berkomunikasi dengannya. Semakin dia mencoba memahami apa yang terjadi, semakin banyak pertanyaan yang muncul tentang masa lalu, retakan, dan makhluk-makhluk yang berada di baliknya. Sementara retakan terus bermunculan di berbagai tempat, kemunculan makhluk-makhluk asing juga semakin sering terjadi. Anehnya, beberapa dari mereka menunjukkan reaksi berbeda ketika berada di dekat Kenzo, seakan-akan mengenali keberadaannya. Kini Kenzo harus menemukan jawaban sebelum perubahan dalam dirinya menjadi sesuatu yang tidak bisa dihentikan. Dia ingin tetap menjadi dirinya sendiri, tetapi semakin jauh dia mencari kebenaran, semakin jelas bahwa hubungan antara dirinya dan retakan bukanlah sebuah kebetulan. Sesuatu telah bangkit di dalam dirinya. Dan Kenzo tidak tahu apakah dia sedang berusaha mengendalikannya... atau justru sedang menunggu saat ketika sesuatu itu mengambil alih dirinya sepenuhnya.
View More“Jangan lari, Kenzo.” Ucap mahluk tersebut dengan nada tinggi.
Kenzo terus berlari meskipun suara itu terdengar jelas dari belakangnya. Lorong panjang yang dipenuhi kabut seakan tidak memiliki ujung.
“Aku tahu, kau dengar suara aku.” Suara itu terdengar lagi, kali ini begitu dekat sampai Kenzo bisa merasakan hawa dingin menyentuh bagian belakang lehernya.
Dia mempercepat langkahmya dan berbelok ke lorong sempit di sebelah kiri, berharap bisa menemukan jalan keluar. Namun baru beberapa meter berlari, dinding di depannya tiba-tiba berubah menjadi permukaan hitam yang menutup seluruh jalan.
Kenzo mendadak berhenti, menoleh ke belakang dan mendapati sosok itu sudah berdiri di ujung lorong.
Tubuhnya tinggi dan kurus dengan lengan yang terlalu panjang, sedangkan wajahnya tertutup kegelapan. Hanya sepasang mata merah yang terlihat jelas dari balik kabut.
“Si… siapa kamu?” Kenzo bertanya dengan suara gemeteran.
Makhluk itu berhenti beberapa langkah di depannya, masih dengan tatapan yang sulit dibaca. Sengaja memberi Kenzo waktu untuk mengenali sosok yang berdiri di hadapannya.
“Kau masih belum ingat?” tanyanya dengan suara rendah yang terdengar aneh di lorong tersebut.
Kenzo menggelengkan kepalanya, dia sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya diinginkan makhluk itu darinya.
“Aku nggak pernah kenal kamu,” jawabnya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa pun yang dikatakan makhluk tersebut hanyalah sesuatu yang tidak masuk akal.
“Bohong!.”
Satu kata itu membuat badan Kenzo terasa membeku sesaat, matanya tidak pernah lepas dari sosok di depannya.
“Aku bahkan nggak tahu ini tempat apa…,” katanya, kali ini dengan suara yang lebih tegas,
Meskipun jauh di dalam dirinya mulai muncul perasaan aneh seolah-olah pernah berada di lorong itu sebelumnya. Makhluk itu memiringkan kepalanya dengan gerakan yang aneh.
“Kau selalu datang ke sini, Kenzo. Hanya saja setiap kali kau bangun, kau memilih untuk melupakannya.”
Kenzo menatap sekeliling. Dinding retak, lantai yang basah, kabut yang bergerak perlahan di antara kakinya. Semua terasa begitu nyata, sampai dia tidak yakin apakah dirinya sedang bermimpi atau benar-benar berada di tempat tersebut.
“Apa yang kau mau?” tanya Kenzo sambil tetap menjaga jarak.
Tatapannya tidak lepas dari makhluk yang berdiri beberapa langkah di depannya, mencoba mencari tahu apa sebenarnya yang diinginkan sosok itu darinya.
Makhluk itu tersenyum. Bentuk senyumnya perlahan melebar hingga membuat wajahnya terlihat semakin tidak manusiawi.
“Aku ingin menunjukkan siapa dirimu sebenarnya.”
Kenzo merasakan bulu kuduknya berdiri. “Aku tahu siapa diriku.”
“Tidak!,” jawab makhluk itu. “…kau hanya tahu nama yang diberikan kepadamu.”
Kenzo terdiam sesaat. Perkataan itu membuatnya bingung, tapi sebelum sempat bertanya lebih jauh, makhluk tersebut tiba-tiba bergerak. Tubuhnya melesat ke depan dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Kenzo langsung berbalik dan berlari sekuat tenaga. Kali ini tidak lagi peduli ke mana lorong itu membawanya. Dia menoleh ke belakang dan melihat bayangan hitam itu masih mengejarnya.
“Kenzo! Berhenti! Atau kau akan menanggung akibatnya…”
Kenzo berbelok tajam yang hampir membuatnya terjatuh ketika lantai di bawah kakinya tiba-tiba retak. Dia terus berlari sampai melihat cahaya putih samar di kejauhan seperti menemukan jalan keluar.
Namun ketika tangannya hampir mencapai cahaya itu, tiba-tiba ada sesuatu mencengkeram bahunya. Kenzo menjerit dan berusaha melepaskannya.
“Sudah kubilang,” bisiknya, “kau tidak bisa lari dari sesuatu yang ada di dalam dirimu sendiri.”
Kenzo menghantam tangan makhluk itu dengan siku. Cengkeramannya terlepas dan kembali bisa berlari menuju cahaya. Di belakangnya terdengar suara geraman yang membuat seluruh lorong bergetar.
Makhluk itu kembali menerjangnya. Namun, rasa sakit tiba-tiba menjalar dari bahunya hingga ke dada membuatnya terjatuh berlutut sambil menahan bahunya ketika tiga garis merah perlahan muncul di kulitnya, menyerupai bekas cakar yang baru saja menggores tubuhnya.
“Bagus,” katanya pelan setelah memperhatikan luka di tubuh Kenzo. “Tanda pertama sudah muncul.”
Kenzo mengangkat wajahnya dengan susah payah. “Apa yang kau lakukan padaku?”
Makhluk itu tidak menjawab justru berjalan mendekat dan menundukkan wajahnya hingga jarak mereka semakin dekat.
“Bukan aku yang melakukan itu...” jawab mahluk tersebut.
“Lalu siapa?” Kenzo menatapnya dengan bingung, berusaha mengatur napas di tengah rasa sakit yang masih menusuk dadanya.
“Dia.” Makhluk itu mengangkat tangannya dan menunjuk tepat ke dada Kenzo.
“Dia siapa?” Kenzo mengikuti arah jarinya, tetapi tidak melihat apa pun selain tubuhnya sendiri.
Belum sempat mendapatkan jawaban, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah lain. Suara itu tidak berasal dari lorong dan bukan pula suara makhluk yang berdiri di hadapannya. Melainkan dari dalam tubuhnya.
“Bangun!” Ucap suara tersebut.
Suara itu terdengar lagi dari dalam kepalanya. Kenzo spontan menutup kedua telinganya, meskipun tahu tindakan itu tidak akan membuat suara tersebut menghilang.
“Diam!” bentaknya. “Berhenti ngomong di kepalaku!”
“Hahaha! sekarang kau mulai mendengarnya.” Makhluk di hadapannya justru tertawa kecil.
Kenzo menatapnya dengan napas yang masih terengah-engah. “Siapa dia?”
“Kalau kau ingin tahu, buka matamu.”
“Aku nggak percaya sama kau.” Kenzo langsung menggeleng keras.
“Tidak masalah,” jawab makhluk itu tanpa terlihat terganggu. “…kau akan mengerti ketika semuanya sudah terlambat.”
Cahaya putih yang sejak tadi berada di belakangnya perlahan berubah menjadi merah. Bersamaan dengan itu, suara seperti ribuan orang berbisik mulai memenuhi kepalanya. Kenzo memejamkan mata dan mencoba menutup telinganya lagi, tapi bisikan tersebut justru terdengar semakin jelas.
“Bangun, Kenzo...”
Kenzo menggeleng sambil menahan rasa sakit yang kembali muncul di kepalanya.
“Kenzo, bangun!!”
Kali ini suara itu terdengar jauh lebih dekat, seolah seseorang benar-benar berada tepat di samping telinganya.
“BANGUNN!!”
BRAK!
Tubuhnya terbangun dengan tersentak dari tempat tidur. Keringat dingin membasahi lehernya. Tangannya langsung meraih bahu yang terasa sangat sakit membuat terdiam ketika melihat darah menempel di telapak tangannya.
Kenzo berusaha bertahan. Napasnya mulai tersengal dan kedua lengannya terasa seperti akan terlepas dari bahunya. Dia bisa merasakan sesuatu di dalam tubuhnya ikut berteriak, seolah energi yang selama ini dia tahan sedang berusaha keluar melalui perisai tersebut.“Aku... belum selesai,” gumam Kenzo sambil memaksa tubuhnya tetap berdiri. Dia menekan kedua tangannya lebih kuat ke depan.Terdengar suara retakan dari perisainya di tengah gemuruh energi yang menghantam dan dalam hitungan detik, retakan itu menyebar hingga ke seluruh permukaan.Kemudian perisai tersebut pecah.BRAKK!!Ledakan energi langsung menghantam tubuh Kenzo tanpa perlindungan. Tubuhnya terlempar keras dan menghantam sebuah kendaraan yang terparkir di pinggir jalan. Benturan itu membuat kendaraan itu terbelah menjadi dua dan akhirnya tubuh Kenzo mendarat di dinding bangunan dibelakangnya.“Kenzo!” Raga berteriak panik.Makhluk itu menatap Kenzo. Kemudian terdengar tawa rendah dari dalam bayangan yang menyelimuti wajahn
Kenzo masih berdiri berdiri tapi kedua kakinya bergeser sedikit ke belakang akibat tekanan serangan barusan.“Menarik, jadi sekarang kau sudah mulai membuka dirimu.” Sosok bermata merah itu berdiri tepat di depannya tanpa mengalami luka sedikit pun.“Aku tidak membuka apa pun. Kekuatan ini muncul karena aku terpaksa melindungi diriku sendiri.” Kenzo menjawab sambil berusaha mengatur energi hitam di tangannya yang justru bergerak semakin liar, seolah menolak untuk dikendalikan.Suara di dalam kepalanya kembali terdengar.“Kau masih menyangkalnya. Lihat keadaanmu sekarang. Bahkan kau sendiri sudah tidak bisa membedakan mana kekuatanmu dan mana kekuatanku.” Bisikan itu terasa semakin dekat di dalam pikirannya.Kenzo memejamkan mata sesaat karena kepalanya mulai terasa sakit akibat suara tersebut.“Berhenti mengatakan seolah-olah kau adalah bagian dari diriku. Aku tidak akan membiarkanmu mengambil alih tubuhku.” Kenzo mengatakannya sambil membuka mata kembali. Kemarahan membuat energi hit
Kenzo, Ardan, dan Raga tiba di lokasi kekacauan ketika matahari pagi baru mulai naik di balik gedung-gedung kota.Namun suasana pagi itu sama sekali tidak terasa seperti biasanya. Jalan yang seharusnya mulai dipenuhi kendaraan justru berubah menjadi tempat kepanikan. Orang-orang berlari menjauh dari bangunan yang sebagian telah runtuh, beberapa kendaraan berhenti di tengah jalan, sementara suara sirene terdengar bersahutan dari kejauhan.Kenzo turun dari kendaraan dan langsung memperhatikan retakan yang berada tidak jauh dari bangunan yang rusak, baru beberapa detik mengamatinya dadanya berdenyut tiba-tiba.“Ada sesuatu di dalam sana. Rasanya seperti sedang menungguku datang.” Kenzo mengatakan itu sambil menekan dadanya dengan satu tangan.Ardan yang berdiri di sampingnya langsung memperhatikan perubahan tersebut.“Kau merasakan sesuatu yang berbeda dari retakan sebelumnya?” Ardan bertanya dengan suara rendah sambil mengamati wajah Kenzo. Dia tidak ingin membuat kesimpulan terlalu cep
Pagi datang dengan cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai kamar.Kenzo membuka mata perlahan. Tubuhnya masih terasa berat ketika dia bangkit dari tempat tidur dan mencoba duduk di tepi. Pandangannya tertuju pada tangan kanannya.Cahaya hitam yang semalam muncul sudah menghilang, menyisakan kulit yang terlihat normal. Kenzo menggerakkan jari-jarinya beberapa kali, memastikan tidak ada sesuatu yang aneh.“Setidaknya pagi ini engga muncul lagi,” gumamnya sambil menghela napas lega.Seperti hari-hari sebelumnya, tidak ada siapa pun di ruang tengah maupun dapur. Orang tua angkatnya belum kembali sejak terakhir kali pergi dan Kenzo suda terbiasa dengan keadaan tersebut. Dia mengambil air minum lalu duduk sebentar di meja makan.”Sesuatu yang besar sebentar lagi akan terjadi” Ucap entitas yang ada di dalam diri Kenzo.“Aku engga punya waktu buat omong kosongmu.” Kenzo mengerutkan kening, lalu meletakkan gelasnya.Kenzo bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kamar untuk mengambil j
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews