LOGIN***"Pak, minum dulu..."Kila menyodorkan segelas air hangat. Setelah kabur lari tunggang-langgang dari toko Raynar, wajah pria itu benar-benar masih pucat pasi."Kamu tahu? Aku rasanya ingin meninju muka si Raynar itu!" seru Aksara berapi-api seraya menghempaskan tubuhnya ke atas kursi kerja."Ya, kenapa tadi tidak Bapak tonjok saja? Kenapa malah kabur?" seloroh Kila terkekeh. Dia masih ingat betul Raynar sampai tertawa terbahak-bahak hingga keluar air mata. Siapa yang sangka, pria bernapas dingin dan segagah Aksara bisa dibuat trauma berat hanya gara-gara alat kelamin imitasi?"Aku jijik dengan pria itu! Apa dia gay?!"Kila susah payah menahan tawanya agar tidak meledak. "Tidak, Raynar itu bukan gay. Dia punya kekasih perempuan."Aksara tidak menyangka Kila bisa tahu sejauh itu tentang Raynar. "Lihatlah, kamu bahkan membelanya!" dengus Aksara ketus, kerut di bibirnya bertambah.Kila hanya menaikkan kedua bahunya santai. "Pak Aksara lebih baik menenangkan diri dulu. Ini sudah sore da
***Ujung alis Aksara menekuk tajam.Dia ingat betul siapa pria itu.Andrian.Pria yang dulu pernah dijodohkan dengan Kila oleh kedua orang tuanya.Dibanding Kandi, pria bernama Andrian ini pernah membuatnya cemburu setengah mati. Bahkan jika diingat-ingat kembali, Kila dulu terlihat cukup serasi bersanding di sampingnya. Kini, kehadiran pria itu kembali membakar kegelisahan di dada Aksara.Aksara menegakkan punggungnya. Pandangannya mengunci tajam sosok yang mendekat dari arah belakang Kila."Halo, apa semuanya sudah cukup nyaman? Jaringannya bisa tersambung lancar?"Barisan gigi Andrian yang putih dan rapi tampak dipamerkan dengan penuh percaya diri."Masih kami coba," balas Kila ramah.Dada Aksara rasanya seperti dihimpit sesuatu yang sangat berat. Gadisnya membalas senyuman itu—senyuman yang menurutnya terlalu manis untuk diberikan pada pria lain. Aksara sangat tidak menyukai pemandangan itu.Andrian kemudian menoleh ke arah Aksara. Matanya sedikit melebar ketika menyadari siapa s
***"Kila?!"Baru saja Kila memutar badan hendak meninggalkan area bank berlogo biru itu, seseorang memanggil namanya.Seorang pria berperawakan tegap dengan seragam bank berdiri di depan pintu. Sebuah name tag bertuliskan jabatan Manager tersemat di dadanya.Kila mengenal pria berwajah campuran oriental itu."Andrian?"Pria yang dulu pernah dijodohkan oleh kedua orang tuanya."Kamu mau mengantre?" tanya Andrian. "Sekarang lagi tidak bisa. Jaringannya sedang gangguan."Kila menghela napas kecewa. Berarti tidak ada bantuan internet di sini."Apa kabar, Kila? Kamu kerja di dekat sini?""Kabar baik," jawab Kila. "Kantorku sekitar 300 meter dari sini.""Wah, dekat berarti."Kila mengangguk. "Aku baru tahu kamu kerja di bank sini.""Ah, aku baru rotasi. Baru satu minggu di sini.""Oh …" Kila kembali mengangguk, lalu spontan melihat ponselnya. Melihat jam dan internet mati."Ayo, masuk saja. Biar ngadem," ajak Andrian."Tidak usah, Andrian. Aku harus keliling lagi," tolak Kila berdengus."K
***Kila mengacak rambutnya. Internet kantor sedang bermasalah sejak pagi. Kemarin dia sempat membaca berita tentang kabel jaringan optik bawah laut yang putus hingga koneksi internet di berbagai wilayah ikut terdampak. Bahkan sinyal di ponselnya pun kumat-kumatan."Gila, memangnya ini salah kita? Kenapa kena imbasnya?" keluh Kila."Ya, mau bagaimana lagi," celetuk Lina dari meja seberang. "Mana seminggu lagi gajian. Masa aku harus ngurus penggajian secara manual, sih?"Kila bisa membayangkan betapa rumitnya pekerjaan Lina. Beruntung, pekerjaannya sendiri tidak berhubungan dengan uang, hanya saja dia harus memastikan email dan komunikasi dengan vendor tetap berjalan."Ya, semoga cepat diperbaiki, deh.""Coba kamu minta pasang Starline sama Pak Aksara.""Starline?""Iya, yang punya Spaceeks itu, loh. Internet satelit," sahut Lina."Oh, site biasa pakai itu, tapi harus jauh-jauh hari ordernya."Kila menoleh ke arah ruang kerja Aksara. Dari balik kaca, pria itu tampak tak kalah kusut. Ak
⚠️CONTENT WARNING:Bab ini mengandung unsur Explicit Sexual Content yang intens, BDSM/Kink, FemDom (Female Dominance), Kekerasan Fisik, Masokisme, Borgol, manipulasi, Sensory Erotic Stimulation. Mohon pertimbangkan kebijakan Anda sebelum melanjutkan membaca.***Begitu suara borgol jatuh di lantai, Aksara yang terbebas langsung menyambar tubuh Kila dan menariknya kasar ke atas pangkuan. Pria itu tak membuang kesempatan untuk merebut kendalinya."Waktumu sudah habis, Sayang," gumam Aksara serak.Lengan kekatnya langsung melingkar kencang, mengunci tubuh telanjang Kila agar tak bergeser dari pangkuannya. Tatapan Aksara sempat tertahan sejenak pada bekas gigitan Kandi. Sebenarnya, amarahnya membakar hebat, tapi dia memilih tak ingin merusak momen intim ini.Aksara tak lagi menahan diri. Pria itu merunduk, melumat puncak dada Kila seraya menghirup dalam-dalam wangi kulit wanita itu yang bercampur sabun dan keringat. Aroma itu seperti racun, menyulut habis seluruh gairah yang sejak tadi di
⚠️CONTENT WARNING:Bab ini mengandung unsur Explicit Sexual Content yang intens, BDSM/Kink, FemDom (Female Dominance), Kekerasan Fisik, Masokisme, Borgol, manipulasi, Sensory Erotic Stimulation. Mohon pertimbangkan kebijakan Anda sebelum melanjutkan membaca.***"Anak kucingku, aku sudah bilang permainan kita baru saja mulai," bisik Kila sementara ujung jarinya masih mengusap area paling sensitif Aksara yang berdenyut.Kila berdiri tegak, menyapu ke belakang beberapa helai rambut basah yang menempel di dahinya. Dengan tatapan bak seorang pemenang, dipandanginya tubuh Aksara yang terkulai lemas pasca klimaks—posisi bokongnya terangkat, dengan paha yang gemetar dan terbuka lebar."Hadiahku ternyata cepat sekali keluar, hm?" bisik Kila sambil terkekeh.Kila menikmati ketidakberdayaan pria itu. Tanpa mengalihkan pandangannya dari Aksara, jarinya mulai meloloskan satu per satu kancing pakaiannya. Piyama itu jatuh di atas lantai—isyarat bahwa permainan ini akan naik ke level berikutnya.Kila







