LOGINDidiagnosis compulsive sexual behaviour, Kila bersumpah menutup diri dari asmara. Namun, satu kekhilafan menyeretnya ke dalam permainan kendali bersama Aksara—bosnya yang pemarah. Kila melakukannya murni karena kondisi psikologisnya, bukan cinta. Saat Aksara menuntut kesepakatan intim tanpa status, Kila menolak tegas. Namun, di bawah dominasi sang bos, pertahanan Kila runtuh. Di saat Kila mencoba lari, Aksara justru memperketat kendali dan mengklaim Kila sebagai miliknya.
View More***
"Astaga! Aku terlambat!" Bus pergi tepat saat perempuan dengan blouse biru dan celana kulot khaki itu mencapai halte. Kila menahan umpatan di ujung bibirnya. Ia melirik Jam di pergelangan tangannya, pukul 7 pagi. Jika memesan ojek online sekarang, setidaknya 50.000 rupiah akan melayang. Jumlah yang cukup menyakitkan untuk seseorang yang baru tiga hari lalu menerima tagihan kontrakan! "Mau bagaimana lagi?!" Kila menepuk pipinya. Dengan enggan, akhirnya dikeluarkan ponselnya dari dalam tas. Namun sebelum aplikasi itu terbuka, sebuah bus lain terlihat dari kejauhan. Kila menatap nomor rute di kaca depan dan menghela napas lega. "Wah, untung saja!" Kila segera naik begitu pintu otomatis bus terbuka, menyambut udara AC yang langsung mendinginkan kulitnya yang gerah. Beruntung, di antara barisan penumpang yang padat pagi ini, masih tersisa satu kursi kosong di baris tengah. Rupanya pagi ini belum sepenuhnya buruk. Kila bergegas mengambil tempat di sana. Tepat di samping kursi itu, duduk seorang pria berbaju hitam yang sedang fokus membaca buku. "Permisi," sapa Kila. Pria itu mengangkat wajahnya lalu tersenyum ketika Kila mendekatinya. Kila terdiam sesaat. "Ah... Raynar?" Pria itu tampak sama terkejutnya. Pandangannya sempat berhenti di rambut Kila yang sedikit berantakan sebelum akhirnya tersenyum kecil. "Kila? Benar?" "Ya, hehehe." Kila segera duduk, berusaha terlihat santai meski entah kenapa tawanya terdengar sedikit canggung duduk di samping Raynar. "Dari mana? Kok naik bus?" "Habis dari Solo kemarin, cari beberapa barang antik di Pasar Triwindu," jawab Raynar sambil menutup bukunya. "Tapi mobilku mendadak rewel di sana dan harus masuk bengkel. Jadi, terpaksa deh pulang naik bus." "Oh, pantesan," sahut Kila manggut-manggut paham. Memang, Raynar punya mobil VW jadul berwarna kuning. Raynar tersenyum lalu kembali fokus ke bukunya. Ujung siku pria itu tak sengaja menyentuh lengan Kila seiring guncangan bus. Kila buru-buru menjauhkan lengannya. Raynar adalah pemilik toko barang antik di dekat tempatnya bekerja. Setiap kali Kila melewati toko itu, mereka kadang saling menyapa singkat. Kila belum pernah masuk ke dalam toko yang kelihatannya menyeramkan itu. Dari luar etalasenya gelap, penuh benda-benda tua yang membuatnya tak pernah benar-benar berani masuk. Tapi pemiliknya… ternyata tidak seseram tokonya. Bus masih bergerak. Mereka diam. Tidak ada topik , dan justru itu membuat jarak di antara mereka terasa lebih sempit. Kila mengusap lengannya, memastikan detak jantungnya. Ini terlalu dekat. Di sampingnya ada seorang laki-laki—situasi yang biasanya langsung membuat tubuhnya menegang, mual, atau panik. Namun, kali ini semuanya terasa normal. Tidak ada yang bergejolak dari dalam dirinya. Bus melewati beberapa blok jalanan kota yang mulai ramai. Kila melirik jam tangannya. Lima belas menit lagi ia akan terlambat masuk kerja. "Kamu sudah terlambat masuk kerja?" tanya Raynar tiba-tiba. Kila tersentak kecil. "Hah? Hm… semoga tidak." Ia buru-buru mengecek ponselnya. Tidak ada notifikasi apa pun, setidaknya kalau ada email masuk ia bisa cepat meresponnya. Kila bersandar kembali di kursi. Di sampingnya, Raynar juga memandang ke luar jendela. Cahaya pagi menyorot wajahnya sesaat—Kila menyadari, tenyata Raynar memiliki warna mata yang berbeda. Perbedaannya cukup terlihat karena tersorot cahaya matahari yang menembus kaca jendela bus. Garis muka, hidungnya yang mancung dan rahangnya yang tegas mengatakan dia orang yang rupawan. Raynar menoleh, dan tatapan mereka bertemu. Kila cepat-cepat mengalihkan pandangan. "Kita hampir sampai," kata Raynar, tersenyum kecil. Kila tersadar dan segera berdiri, menyampirkan tali tasnya ke bahu. Raynar mengikuti di belakangnya. Bus berhenti tepat di depan halte. Suasana di sana cukup padat, memaksa mereka ikut mengantre menunggu penumpang lain turun satu per satu. Kila menghela napas pelan. Setidaknya sudah sampai. Tapi jam di kepalanya terus berdetak lebih cepat dari biasanya, entah tinggal berapa menit lagi, yang dia jelas akan terlambat! Ternyata Raynar berjalan lebih dulu di depannya. Kila bingung berapa panjangnya kaki pria itu, hingga langkahnya lebih cepat padahal pria itu ada di belakangnya tadi. "Aku duluan, selamat bekerja." Raynar berhenti di depan tokonya. "Selamat bekerja..." Kila melambaikan tangannya kepada Raynar sambil akhirnya berlari-lari kecil. Pintu masuk kantornya sudah nampak, dan jam di atas pintu itu menunjukkan angka kalau Kila tidak telat! "Ah…," Kila menghela napas lega, akhirnya mulai berjalan santai. Beberapa karyawan juga ada yang baru datang, mereka juga sama tampak tergesa-gesa seperti Kila. "Selamat pagi, Kila," sapa petugas keamanan saat ia melewati pintu detektor. "Selamat pagi," balas Kila sambil tersenyum kecil, lalu memakai kartu lanyard ID karyawannya. Ia pun buru-buru menuju lift. Saat tangannya hampir menyentuh tombol, seseorang lebih dulu menekannya. Kila menoleh, lalu menelan napasnya. Ternyata Pak Aksara. Pria 180 cm itu berdiri di sampingnya—membuat Kila begitu kecil di bawah bayangannya. Pria itu hanya menatap lurus ke depan dengan ekspresi datar seperti biasa. "Ah… ma-maaf, Pak!" Kila refleks mundur setengah langkah. Resahnya mulai menggeliat, pagi ini mulai terasa membebaninnya. "Kamu sibuk?" Tanya Aksara tiba-tiba. Kila diam, menunduk, dan memandangi sepatu bosnya itu. "Saya harus mempersiapkan bahan rapat siang ini," jawabnya pelan. "Oh." Aksara tidak bertanya lagi. Tak lama, denting lift berbunyi. Ketika pintunya terbuka, mereka melangkah masuk bersamaan. Kila sengaja mengambil posisi di sudut paling belakang, berdiri sedikit menjauh demi menjaga jarak amannya. Pintu lift menutup perlahan, mengurung mereka dalam kotak keheningan. "Kamu belum jawab pertanyaanku minggu lalu." Suara pria itu menggema berat di sekitar dinding lift. Kila diam. Telapak tangannya mulai terasa dingin. "Aku masih menunggu jawabanmu," lanjut Aksara tanpa menoleh. Atmosfer di dalam lift terasa makin mencekam bagi Kila. Ia berusaha tenang, tapi kembali bersumpah tidak akan pernah menjawab apa pun. Jelas, minggu lalu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya! Kila terkesiap. Tiba-tiba menyadari tangan Aksara bergerak, berniat menyentuh tangannya. Panik itu menjalar seketika, Kila melipat tangannya segera menghindari kontak fisik itu. Jantungnya berdetak cepat, matanya menatap lekat angka-angka lantai di atas pintu. Dalam hati, dia berharap setengah mati agar pintu lift sialan itu segera terbuka. Ding! Begitu pintu lift terbuka, Kila buru-buru melesat mendahului atasannya itu tanpa menoleh lagi. Kila Damaya, seorang sekretaris. Di umurnya yang menginjak 26 tahun ini, ia tidak memiliki pacar, bahkan tidak sedang menyukai siapa pun. Padahal, hampir setiap minggu kedua orang tuanya selalu menanyakan kapan dirinya akan membawa calon suami atau minimal seorang kekasih ke rumah. Dari kejauhan, tampak Pak Aksara berjalan ke arah meja kerjanya. Kila refleks menunduk, mencoba membuat tubuhnya tenggelam di balik sekat meja agar terhindar dari kontak mata dengan bosnya itu. Kila tahu, dia tidak mungkin bisa menghindari Aksara. Tapi dirinya benar-benar menyesali kejadian minggu lalu. Sebuah kesalahan membuatnya terbebani! "Hei, gimana kamu sudah siapin bahan buat rapat nanti?" Lina tiba-tiba menepuk pundaknya dari belakang. Kila hampir saja meloncat dari kursinya. "Astaga, kamu mengejutkanku!" Kila menepuk lengan Lina, teman sekantornya yang bekerja di bagian HRD. "Su-sudah selesai dari kemarin, sih. Tapi aku mau cek lagi materi presentasiku," tambah Kila sambil menyalakan komputernya yang ternyata sudah selesai diperbaiki. "Eh, jam berapa meetingnya?" "Benar-benar ganteng Pak Aksa," gumam Lina yang ternyata tidak mendengarkan Killa. Tatapannya justru teralih ke arah ruang kerja Pak Aksara yang berdinding kaca transparan. Dari kubikel, sang bos memang bisa dengan mudah mengawasi para pekerja dari balik jendela-jendela besar itu. "Hm?" Kila pun menyahut sekenanya. Ia berpura-pura sibuk membuka bahan presentasi untuk mengalihkan gugupannya. "Eh, tau kan ada gosip kalau dia lagi punya hubungan spesial sama seseorang. Sepertinya salah satu staf di kantor ini." Kila seketika menoleh. Matanya melebar, menatap Lina. "Go-gosip?" "Iya, minggu lalu sempat bikin heboh, kan? Beberapa orang melihat ada bekas cupang di leher Pak Aksara," bisik Lina misterius. CUPANG? Kila membesarkan matanya lagi. Jantungnya seolah merosot ke perut. Ternyata bekas gigitan itu terlihat orang?! "Ba… bagaimana bisa menggosipkan Pak Aksara punya hubungan spesial dengan orang kantor ini?" Kila mencoba menormalkan suaranya yang mulai bergetar. "Entahlah, namanya juga gosip. Lagian kamu tahu sendiri kan, minggu kemarin Pak Aksara stay terus dan suka lembur karena dia baru saja dipindahkan ke sini. Makanya pas ada bekas kayak gitu di lehernya, orang-orang langsung mikir kejadiannya pasti pas dia lagi lembur-lemburnya!" Lina melipat tangan di dada. Ia mendadak diam dan menatap Kila lekat-lekat. Kila membalas tatapan itu dengan wajah gugup. Jantungnya berdebar-debar ekstrem. Jangan-jangan… "Tapi ya... yang pasti pelakunya bukan kamu, sih!" Lina tiba-tiba tertawa renyah, lalu melenggang pergi meninggalkan Kila yang masih membeku. Kila memaksakan diri ikut tertawa hambar. Begitu Lina menjauh, ia langsung menelungkupkan kepala ke atas meja kerjanya. "Haaah…!" Kila tahu dirinya telah bertindak sangat bodoh karena kurang hati-hati! Betapa tajamnya mata orang-orang di kantor ini. Kila bahkan sama sekali tidak menyadari... kalau ia sampai meninggalkan bekas itu di tubuh bosnya! Aksara Kalandra. Pria itu jelas sangat menawan, gagah, mapan, dan usianya juga lebih dari cukup untuk membangun rumah tangga. Sayangnya, Kila sama sekali tidak berminat membangun hubungan dengan bosnya itu! ******"Aku tidak tahu, ternyata ramai juga yang mengunjungi dokter Psikiater?" Aksara melihat antrian pasien di lobi. Aksara melirik Kila yang tampak duduk melamun dan dia melipat tangannya."Kila?"Kila masih terdiam. Aksara menjentikan jarinya, Kila tersadar."Maaf... Maafkan aku melamun.""Maaf? Ada apa, sayang?" Aksara mendekatkan wajahnya.Kila membalas tatapan Aksara. "Tidak apa-apa.""Kamu yakin?""Hmm, ya." Kila menghela napas. "Sedikit gugup. Aku sudah lama tidak kemari.""Minumlah dulu." Aksara menyodorkan botol minumannya."Tidak, aku tidak haus."Aksara menegangkan punggungnya. "Kamu baik-baik saja, Sayang. Jangan Khawatir.""Kila Damaya?"Seseorang memanggil dari balik pintu.Kila segera berdiri dan memasuki ruangan konsultasi. Dia memperhatikan sekelilingnya. Ruangan itu sudah banyak berubah sejak terakhir kali dia datang. Bahkan, dia hampir lupa sudah berapa tahun berlalu sejak sesi terapinya berakhir."Hai, Kila! Apa kabar?""Saya baik, Dok."Kila menyambut sapaan dokter
***"Kamu mau ke psikiater lagi?"Aksara mengernyit. Dia tidak mengerti apa yang masih dikhawatirkan Kila. Seminggu setelah kembali dari Jakarta, mereka sedang sibuk mempersiapkan rencana pernikahan.Kila terbaring dalam pelukannya. Sejak tadi wanita itu tampak melamun, sementara Aksara menopang kepala dengan satu tangan dan memperhatikan wajahnya."Apa yang kamu pikirkan, Sayang?" tanyanya. "Kamu ragu menikah denganku?""Hm, tidak. Semuanya baik-baik saja, kecuali ….""Kecuali?"Kila mengangkat wajahnya. "Aku pikir, aku harus memeriksakan diri lagi. Terutama soal diagnosis compulsive sexual behaviour yang pernah kuceritakan kepadamu."Aksara merapikan rambut yang menutupi pipi Kila."Ya? Lalu? Apa kamu merasa gejala itu muncul lagi?.""Aku masih mengkhawatirkannya dan aku ingin berkonsultasi lagi.."Aksara terdiam sejenak. Selama ini, dia memang melihat Kila lebih mudah terangsang ketika mereka bersentuhan. Hanya dengannya. Namun, dia juga tahu bahwa kondisi Kila tidak sesederhana it
⚠️ CONTENT / ADULT WARNING:Bab ini mengandung konten dewasa ****Kila membuka mulut lebih lebar, perlahan memasukkan batang Aksara lebih dalam. Jelas tidak muat seluruhnya. Lidahnya bergerak di bagian bawah, mengusap dan menekan, sementara bibirnya menghisap pelan.Aksara mengerang rendah. Jari-jarinya yang tadi hanya menahan tepi wastafel kini naik, menyusup ke rambut Kila. Tidak memaksa, hanya mengikuti gerakan kepala wanita itu."Nggh… Kila…" suaranya serak.Kila menatap ke atas sebentar, mata mereka bertemu. Lalu dia mulai bergerak—naik turun dengan tempo pelan tapi dalam. Kadang berhenti di puncak untuk menghisap lebih kuat, kadang membiarkan lidahnya bermain di ujung sebelum menelan lagi.Air liur mulai membasahi dagu dan tangannya. Sesekali dia menarik kepala, bibirnya mengecup ujung batang Aksara yang mengkilap. Suara kuluman basah memenuhi kamar mandi, bercampur dengan napas Aksara yang semakin berat.Aksara menunduk, seolah memantau setiap gerakan Kila. Rahangnya mengeras.
⚠️ CONTENT / ADULT WARNING:Bab ini mengandung konten dewasa ****"Aksara, sudah!"Kila berusaha menahan Aksara yang hendak kembali memukuli Xavi."Pak, mohon jaga emosi." Entah sudah berapa kali polisi berkumis itu memperingatkan Aksara.Mereka batal makan steak. Setelah mengetahui apa yang terjadi, Aksara kembali menghajar Xavi. Xavi tentu saja tidak tinggal diam. Keduanya pun kembali terlibat baku hantam.Sekuriti segera melerai mereka dan membawa semuanya ke kantor polisi terdekat.Istri Xavi yang sedang hamil sampai histeris melihat kondisi suaminya."Kenapa kalian memukuli suamiku?!" jeritnya. Dia duduk di samping Xavi yang pipinya sudah bengkak."Sudah kubilang, suamimu itu mengganggu calon istriku!" sahut Aksara keras sambil menahan tisu di hidungnya."Sekretarismu yang menendangku duluan! Dia yang menyerangku!""Bukan sekretarisku!" Aksara langsung menyela. "Kila ini calon istriku.""Dan kakakku tidak mungkin menyerang orang tanpa alasan!" Nathan ikut menimpali."Sudah, suda












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.