Home / Romansa / Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku. / Part 72: Tiba-tiba Andrian datang

Share

Part 72: Tiba-tiba Andrian datang

Author: Ersula
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-28 22:56:18

***

Kila menguap lebar seraya berkacak pinggang. Dia diam memandangi isi rumah kontrakannya yang tampak berantakan. Sudah beberapa malam dia tak pulang karena menginap di apartemen Pak Aksara.

Dan di hari Sabtu ini. Akhirnya dia bisa kembali menikmati rumahnya sendiri.

Ping!

Layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah pesan masuk.

“Aku terbang dulu, Sayang.”

Pesan singkat dari Aksara. Pria itu harus bertolak ke Jakarta hari ini untuk urusan pekerjaan, membuat rencana mereka mencari cincin tunan
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 79: Trauma

    ***Pintu kayu bercat cokelat itu perlahan terbuka.Di balik celah pintu yang terbuka separuh, sosok Zhein berdiri.Pupil mata Zhein mengecil seketika. Tubuhnya mundur setengah langkah."Ki-Kila...?"Begitu melihat wajah Kila, Zhein spontan menarik pintu itu hendak menutupnya dengan kasar."Zhein, tunggu!"Kila menahan pintu dengan sebelah tangannya."Tolong, dengarkan aku sebentar saja.""Pergi... Kila, tolong pergi!" Suara Zhein gemetar. "Jangan mendekat... aku mohon...""Zhein, kita perlu bicara. Aku tidak akan masuk," ucap Kila sambil menjauhi pintu, seolah memberikan ruang untuk bernapas."Aku tidak akan melakukan apa pun... tapi Pak Aksara memintaku untuk menemuimu."Zhein terengah-engah dari balik pintu yang kini sedikit terbuka. Matanya menatap Kila dengan penuh kewaspadaan, seolah keberadaan wanita itu saja sudah cukup membuatnya kembali mengingat masa lalu."Aku cuma mau membahas soal surat pengunduran dirimu," lanjut Kila pelan. "Pak Aksara dan tim HRD bingung karena kamu m

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 78: Harus Dihadapi

    ***Kila mendengus ketika memeriksa peta di layar ponselnya. Ternyata alamat rumah Zhein cukup jauh dari pusat kota. Dari kantor, ia harus menaiki bus kota menuju terminal utama, lalu melanjutkan perjalanan dengan bus antar-kota ke arah pinggiran.Kila menurunkan ponselnya sejenak. Haruskah ia meminta bantuan sopir kantor? Namun, risiko rahasia masa lalunya terbongkar membuat Kila berpikir dua kali.Ia kembali menggeser layar ponselnya. "Mungkin taksi online jauh lebih aman?" batinnya seraya melangkah menuruni anak tangga depan gedung kantor.Sebelum ia pergi, staf HRD sempat mengabarkan bahwa nomor Zhein belum bisa dihubungi sama sekali. Kemungkinan besar memang ada masalah serius yang menimpa pria itu. Karena Aksara meminta mengurus ini, Kila tidak ingin terus-menerus mengira-ngira tanpa kepastian."Kila!"Kila menghentikan langkahnya tepat di depan toko milik Raynar."Mau cari makan siang?" tanya Raynar yang berdiri di depan pintu tokonya. Pria bermata indah itu mengenakan kemeja t

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 77: Mengundurkan Diri

    ***Kila menguap lebar seraya menekan tombol lift.Pagi itu rintik hujan masih membasahi kota. Semalam ia baru tiba di rumah pukul sebelas malam usai mengurus MCU di laboratorium. Saking lelahnya, begitu sampai di kamar ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang tanpa sempat berganti pakaian."Aduh, ngantuk sekali... mana pagi ini harus video conference lagi," gumam Kila pelan seraya memeluk erat tas kerjanya, menatap deretan angka lantai di atas pintu lift yang bergerak naik.Ting!Pintu lift terbuka."Pagi, Kila!" sapa Lina yang berpapasan dengannya di koridor. Aroma manis kopi hangat yang dibawanya seketika menyeruak ke indra penciuman."Pagi... Hmm, harum sekali kopimu," puji Kila seraya menyamakan langkah kaki mereka menuju area kubikel."Mau? Kopi saset di pantry tuh.""Mau, tapi lagi malas buatnya," keluh Kila lesu."Kok tumben..." Lina menghentikan langkah sejenak, melirik wajah Kila yang tampak sedikit pucat. "Dimarahi Pak Bos ya?""Enggak, kok. Cuma ngantuk berat aja..

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 76: Ketakutan Di Depan Mata

    ***"Tim, karena aku di luar kota, jika ada sesuatu yang urgent bisa di-follow up ke Kila. Budget dan approval bisa langsung lewat Kila."Email Pak Aksara kepada tim."Baik, Pak. Kila, terlampir cek pengadaan safety shoes untuk manpower baru. Mereka mulai masuk site Senin."Balas salah satu staf HRD."Ya."Balas Kila.Kila langsung memeriksa email tersebut. Jumlah safety shoes yang diajukan sebanyak dua puluh pasang.Dia kemudian membuka daftar nama yang terlampir.Matanya langsung tertuju pada satu nama.Zhein Nugraha.Ukuran sepatu: 40. Ya, itu cukup besar …Kila berkedip, menyadarkan dirinya sebelum otaknya semakin nakal memutar kenangan masa lalu itu."Saya sudah baca. Harap kirimkan quotation."Ketik Kila cepat."Kila mau makan siang di luar?" tanya Lina dari mejanya."Enggak deh. Aku mau selesaikan kerjaan dulu. Biar telat sedikit makan siangnya.""Oke. Mau nitip minum?""Es dawet boleh deh," sahut Kila, laku mengeluarkan uang 20.000."Oke."Beberapa staf mulai keluar untuk makan

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 75: Zhein

    ***"Kecapean? Masa, sih?"Suara rendah dari seberang ponsel itu terdengar penuh nada bercanda.Kila meletakkan piring dan gelas yang baru diselesaikannya ke rak piring dengan helaan napas panjang. Benjol di kepalanya sudah kempes."Memangnya tidak percaya, Pak? Kan aku sudah kasih lihat foto tumpukan botol vitaminnya tadi," sungut Kila seraya berjalan kembali dan mendudukkan dirinya di kursi meja makan.Aksara yang sedang duduk santai di sudut sebuah cafe di Jakarta hanya menaikkan satu alisnya, menyesap kopi hitamnya."Yang jelas aku kecapean karena belakangan ini kita bercinta diporsir!" sambung Kila blak-blakan."Seks itu bukannya malah bikin tubuh sehat dan awet muda?" kilah Aksara santai, menyunggingkan senyum miring yang menyebalkan."Sehat kalau dosisnya wajar, Pak Aksara!" seru Kila gemas sambil menggigit bibir bawahnya. "Bukannya maraton setiap malam sampai subuh! Di rumah sakit tadi, aku sampai ngaku ikut lari maraton malam!""Lari maraton malam?" ulang Aksara tertawa geli.

  • Hadiah: Bosku, Partner Rahasiaku.   Part 74: Gara-gara Marathon.

    ***"Oh...?"Jantung Kila seolah berhenti saat mendengar gumaman Aksara dari balik ponsel. Hanya satu kata. Singkat, datar, dan dingin—namun efeknya terdengar jauh lebih berbahaya daripada bentakannya di kantor.Klik.Sambungan video call itu terputus sepihak. Ayah Kila mengerutkan dahi kebingungan menatap layarnya yang seketika menghitam."Lho, kok mati?" gumam Ayah heran."Ayah, berikan ponselnya sini!" pinta Kila. Dia langsung bangkit berdiri dan mengambil alih tisunya sendiri dari tangan Andrian.Andrian makin kebingungan melihat reaksi itu. "Kila? Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang?""Tidak usah," tolak Kila seraya bergegas melangkah lebar keluar rumah."Kila! Mau ke mana lagi kamu? Masih mimisan begitu malah keluar!" seru Ibu khawatir.Kila memilih mengabaikan kekhawatiran ibunya. Fokusnya kini sepenuhnya teralih pada kepanikan di dadanya. Dia berdiri di teras rumah kontrakan seraya menekan nomor Aksara.Sambungan telepon terdengar tersambung, bernada panggil berul

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status