LOGIN***Kila mendengus ketika memeriksa peta di layar ponselnya. Ternyata alamat rumah Zhein cukup jauh dari pusat kota. Dari kantor, ia harus menaiki bus kota menuju terminal utama, lalu melanjutkan perjalanan dengan bus antar-kota ke arah pinggiran.Kila menurunkan ponselnya sejenak. Haruskah ia meminta bantuan sopir kantor? Namun, risiko rahasia masa lalunya terbongkar membuat Kila berpikir dua kali.Ia kembali menggeser layar ponselnya. "Mungkin taksi online jauh lebih aman?" batinnya seraya melangkah menuruni anak tangga depan gedung kantor.Sebelum ia pergi, staf HRD sempat mengabarkan bahwa nomor Zhein belum bisa dihubungi sama sekali. Kemungkinan besar memang ada masalah serius yang menimpa pria itu. Karena Aksara meminta mengurus ini, Kila tidak ingin terus-menerus mengira-ngira tanpa kepastian."Kila!"Kila menghentikan langkahnya tepat di depan toko milik Raynar."Mau cari makan siang?" tanya Raynar yang berdiri di depan pintu tokonya. Pria bermata indah itu mengenakan kemeja t
***Kila menguap lebar seraya menekan tombol lift.Pagi itu rintik hujan masih membasahi kota. Semalam ia baru tiba di rumah pukul sebelas malam usai mengurus MCU di laboratorium. Saking lelahnya, begitu sampai di kamar ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang tanpa sempat berganti pakaian."Aduh, ngantuk sekali... mana pagi ini harus video conference lagi," gumam Kila pelan seraya memeluk erat tas kerjanya, menatap deretan angka lantai di atas pintu lift yang bergerak naik.Ting!Pintu lift terbuka."Pagi, Kila!" sapa Lina yang berpapasan dengannya di koridor. Aroma manis kopi hangat yang dibawanya seketika menyeruak ke indra penciuman."Pagi... Hmm, harum sekali kopimu," puji Kila seraya menyamakan langkah kaki mereka menuju area kubikel."Mau? Kopi saset di pantry tuh.""Mau, tapi lagi malas buatnya," keluh Kila lesu."Kok tumben..." Lina menghentikan langkah sejenak, melirik wajah Kila yang tampak sedikit pucat. "Dimarahi Pak Bos ya?""Enggak, kok. Cuma ngantuk berat aja..
***"Tim, karena aku di luar kota, jika ada sesuatu yang urgent bisa di-follow up ke Kila. Budget dan approval bisa langsung lewat Kila."Email Pak Aksara kepada tim."Baik, Pak. Kila, terlampir cek pengadaan safety shoes untuk manpower baru. Mereka mulai masuk site Senin."Balas salah satu staf HRD."Ya."Balas Kila.Kila langsung memeriksa email tersebut. Jumlah safety shoes yang diajukan sebanyak dua puluh pasang.Dia kemudian membuka daftar nama yang terlampir.Matanya langsung tertuju pada satu nama.Zhein Nugraha.Ukuran sepatu: 40. Ya, itu cukup besar …Kila berkedip, menyadarkan dirinya sebelum otaknya semakin nakal memutar kenangan masa lalu itu."Saya sudah baca. Harap kirimkan quotation."Ketik Kila cepat."Kila mau makan siang di luar?" tanya Lina dari mejanya."Enggak deh. Aku mau selesaikan kerjaan dulu. Biar telat sedikit makan siangnya.""Oke. Mau nitip minum?""Es dawet boleh deh," sahut Kila, laku mengeluarkan uang 20.000."Oke."Beberapa staf mulai keluar untuk makan
***"Kecapean? Masa, sih?"Suara rendah dari seberang ponsel itu terdengar penuh nada bercanda.Kila meletakkan piring dan gelas yang baru diselesaikannya ke rak piring dengan helaan napas panjang. Benjol di kepalanya sudah kempes."Memangnya tidak percaya, Pak? Kan aku sudah kasih lihat foto tumpukan botol vitaminnya tadi," sungut Kila seraya berjalan kembali dan mendudukkan dirinya di kursi meja makan.Aksara yang sedang duduk santai di sudut sebuah cafe di Jakarta hanya menaikkan satu alisnya, menyesap kopi hitamnya."Yang jelas aku kecapean karena belakangan ini kita bercinta diporsir!" sambung Kila blak-blakan."Seks itu bukannya malah bikin tubuh sehat dan awet muda?" kilah Aksara santai, menyunggingkan senyum miring yang menyebalkan."Sehat kalau dosisnya wajar, Pak Aksara!" seru Kila gemas sambil menggigit bibir bawahnya. "Bukannya maraton setiap malam sampai subuh! Di rumah sakit tadi, aku sampai ngaku ikut lari maraton malam!""Lari maraton malam?" ulang Aksara tertawa geli.
***"Oh...?"Jantung Kila seolah berhenti saat mendengar gumaman Aksara dari balik ponsel. Hanya satu kata. Singkat, datar, dan dingin—namun efeknya terdengar jauh lebih berbahaya daripada bentakannya di kantor.Klik.Sambungan video call itu terputus sepihak. Ayah Kila mengerutkan dahi kebingungan menatap layarnya yang seketika menghitam."Lho, kok mati?" gumam Ayah heran."Ayah, berikan ponselnya sini!" pinta Kila. Dia langsung bangkit berdiri dan mengambil alih tisunya sendiri dari tangan Andrian.Andrian makin kebingungan melihat reaksi itu. "Kila? Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang?""Tidak usah," tolak Kila seraya bergegas melangkah lebar keluar rumah."Kila! Mau ke mana lagi kamu? Masih mimisan begitu malah keluar!" seru Ibu khawatir.Kila memilih mengabaikan kekhawatiran ibunya. Fokusnya kini sepenuhnya teralih pada kepanikan di dadanya. Dia berdiri di teras rumah kontrakan seraya menekan nomor Aksara.Sambungan telepon terdengar tersambung, bernada panggil berul
***"Nih, kompres pakai es dulu!""Aawww! Pelan-pelan, Bu!""Kamu ini grogi ya kami datang mendadak?" tanya Ibu sedikit ketus. "Atau takut karena rumahmu berantakan seperti kapal pecah?!"Kila menggelengkan kepala lalu meringis sejadi-jadinya saat kantung berisi es batu ditempelkan tepat di dahinya yang benjol. Kepalanya terasa sedikit pusing dan cenat-cenut.Entah apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai tersandung saja bisa jadi sekonyol ini.Mungkin ini kualat atau pelajaran buatku karena belakangan ini jarang di rumah sendiri, gumam Kila meratapi nasib dalam hati."Kok bisa sih kusen pintu sebesar itu kamu hantam pakai kepala?" omel Ibu Kila keheranan seraya menatap benjolan yang sudah membesar mirip telur ayam di dahi anak gadisnya."Apa perlu kita ke rumah sakit saja?" tanya Andrian cemas. "Biar kuantar sekarang, yuk?""Tidak usah … cuma benjol dikit," erang Kila menolak seraya menahan rasa pening."Kamu ini jelas kurang olahraga, Kila. Makanya jangan cuma duduk melulu di kursi







