INICIAR SESIÓN***⚠️ CONTENT WARNING (21+):Bab ini memuat adegan intim dewasa eksplisit (explicit spicy/sexual content).Harap bijak dalam membaca.****"Ngh! Ahh..."Kila terus bergerak tanpa henti. Pinggulnya terayun naik dan turun dengan luwesnya. Leher jenjangnya berkilau basah oleh keringat, peluh mengalir melewati dadanya yang padat dan ikut memantul seiring pergerakannya, dengan puncaknya yang sudah mencuat tegang.Kedua tangan Kila mencengkeram leher Aksara. Semakin ketat rasa nikmat di bawah sana, semakin kuat pula cengkeraman jemarinya pada tubuh Aksara.Aksara senang, matanya menyala penuh gairah menatap wanita di atasnya. Ia membiarkan Kila mengambil kendali penuh dan memuaskan dirinya sendiri. Tapi sudah hampir tiga puluh menit berlalu, tetapi tidak ada satu pun di antara mereka yang menunjukkan tanda-tanda akan menyerah pada rasa lelah.."Hm! Kamu pakai penguat, ya?" Kila merendahkan wajahnya, jemarinya semakin rapat mencengkeram leher Aksara."Penguat apa, Sayang? Aku kan sehat," bi
***“Tim, FYI aku sudah menemukan pengganti mekanik yang mengundurkan diri. HRD dan HSE mohon bantu proses MCU dan perlengkapannya secepatnya.”Membaca email singkat dari Aksara membuat beban di pundak Kila terasa sedikit terangkat. Masalahnya dengan Zhein memang belum selesai, tetapi setidaknya krisis pekerjaan di kantor ini menemukan jalan keluar.Kila meletakkan ponselnya, lalu melirik ke arah ruangan kerja Aksara . Lusa kekasihnya itu akan kembali dari Jakarta. Ada ide terlintas di kepalanya—bagaimana kalau ia merapikan ruangan itu dan memberi sedikit kejutan? Memasang tirai baru di pembatas kaca itu, mungkin?Kila terkekeh pelan. Ia bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika itu tertutup sepenuhnya dari luar..."Ah, tidak usah aneh-aneh. Aku belikan kue kesukaannya saja nanti," bisik Kila pada dirinya sendiri."Dih, kenapa senyum-senyum sendiri begitu? Ngelamun jorok ya?"Kila mendelik kaget saat teguran itu membubarkan lamunannya. Lina sudah berdiri di depan mejanya."Apaan?"
⚠️ CONTENT WARNING / PERINGATAN KONTEN:Bab ini mengandung konten dewasa (21+), termasuk adegan phone sex, dirty talk, dan aktivitas intim secara verbal/materi sensual eksplisit.Harap bijak dalam membaca.***"Kila... aku benar-benar terangsang."Kila memicingkan mata, berusaha menahan kemerahan di pipinya yang terasa panas."Sudah ah… memangnya mau ngapain, kita kan berjauhan."Aksara mendekatkan wajahnya ke kamera ponsel, dia menjilat ujung bibirnya. "Jarak tidak pernah membatasi imajinasi, Sayang," bisik Aksara serak."Hehe. Imajinasi?" Balas Kila. Dia sendiri tidak tahu Aksara sedang bercanda atau tidak. "Mau apa sih?" Suaranya setengah mengalun."Sedang tidak mood, Ya? Tidak mau bermesraan?" tanya Aksara."Hmmm… tergantung," desah Kila lalu beranjak."Mau kemana?" "Setelah ini mau mandi." Kila menyalakan lampu di kamarnya. Lalu meletakkan ponselnya berdiri di nakas."Sudah makan?""Belum," kila ke arah lemari lalu memilih piyama, "tapi ada rendang ibu di kulkas, nanti aku panas
***"Aku ingin memberitahumu sesuatu."Balasan Kila di layar ponsel membuat jemari Aksara terhenti di atas papan ketik."Iya, aku telepon, ya?" ketik Aksara balik.Namun sebelum Aksara sempat menekan tombol panggilan suara, Kila kembali mengirim sebaris pesan singkat."Aku mau memberitahumu... sebuah pengakuan yang... gila."Aksara mengerutkan dahi, bingung. Tanpa buang waktu lagi, ia langsung menekan video call."Hei? Mood-mu sedang jelek?" tanya Aksara begitu sambungan terhubung dan wajah Kila muncul di layarnya.Dari balik layar, raut wajah Kila tampak begitu sendu. Gadis itu duduk bersandar di sofanya, masih mengenakan seragam kerja yang agak kusut dengan jejak sembab di matanya."Sedikit..." sahut Kila lirih.Aksara berbaring sambil menopang kepalanya, menatap Kila dengan pandangan hangat. "Kenapa, Sayang? Jangan terlalu memikirkan masalah mekanik baru yang mengundurkan diri itu. Biarkan saja, nanti aku minta bantuan Pak Pawit di site untuk cari gantinya."Kila menghela napas pan
80"Lepas! Lepaskan aku! Biar kubunuh wanita biadab itu! Lepas!" Zhein menjerit histeris. Air matanya menetes, bercampur dengan debu di lantai teras."Tenanglah! Kau, tenang!" bentak Raynar seraya menahan bahu Zhein yang masih memberontak.Kila menelan ludah yang terasa membakar tenggorokannya. Kakinya seolah terpaku di lantai.Di bawah himpitan Raynar, Zhein terus meronta. Tangisnya pecah, jeritannya menyayat—campuran dendam, ketakutan, dan luka lama yang ternyata belum pernah benar-benar sembuh."Lepaskan aku! Biarkan aku bunuh dia! Lepas!""Hentikan! Kamu perlu pertolongan!" seru Raynar. "Aku bisa membantumu!"Zhein masih memberontak. Tangannya meraih cangkul yang tadi terlempar ke lantai, hendak mengayunkannya ke arah Raynar.Raynar segera menyentak pergelangan tangannya hingga cangkul itu kembali terlepas dan jatuh jauh dari jangkauan Zhein."Jangan sentuh benda itu!" bentaknya.Raynar kembali mengunci kedua tangan Zhein agar pria itu tidak bisa bergerak bebas."Kau tahu? Aku men
***Pintu kayu bercat cokelat itu perlahan terbuka.Di balik celah pintu yang terbuka separuh, sosok Zhein berdiri.Pupil mata Zhein mengecil seketika. Tubuhnya mundur setengah langkah."Ki-Kila...?"Begitu melihat wajah Kila, Zhein spontan menarik pintu itu hendak menutupnya dengan kasar."Zhein, tunggu!"Kila menahan pintu dengan sebelah tangannya."Tolong, dengarkan aku sebentar saja.""Pergi... Kila, tolong pergi!" Suara Zhein gemetar. "Jangan mendekat... aku mohon...""Zhein, kita perlu bicara. Aku tidak akan masuk," ucap Kila sambil menjauhi pintu, seolah memberikan ruang untuk bernapas."Aku tidak akan melakukan apa pun... tapi Pak Aksara memintaku untuk menemuimu."Zhein terengah-engah dari balik pintu yang kini sedikit terbuka. Matanya menatap Kila dengan penuh kewaspadaan, seolah keberadaan wanita itu saja sudah cukup membuatnya kembali mengingat masa lalu."Aku cuma mau membahas soal surat pengunduran dirimu," lanjut Kila pelan. "Pak Aksara dan tim HRD bingung karena kamu m







