Share

Bab 347

Author: Rina Safitri
Karena Wulan pingsan, satu keluarga itu pun langsung numpang masuk, seolah dapat izin tinggal secara resmi di rumah orang.

Hasilnya sama sekali nggak buat Puspa kaget, ia sudah bisa tebak akhir cerita. Begitu mereka melangkah lewati gerbang Vila Asri, Wulan pasti akan tetap tinggal di sini, meski harus merajuk atau pura-pura lemah.

Sementara Keluarga Hasmita sibuk tata barang-barang, Indra kembali ke kamar utama.

Di sana, ia lihat Puspa sedang bereskan koper. Ia bertanya dengan dahi berkerut,

“Kamu ngapain?”

Puspa nggak berhenti sedikit pun. Tangannya cekatan masukkan pakaian ke dalam koper, suaranya tenang tapi penuh nada tekanan.

“Jelas, kosongkan tempat untuk kalian.”

Satu koper pun hampir penuh. Indra langsung tarik Puspa yang masih jongkok di lantai.

“Ini rumahmu. Apa yang harus kamu kosongkan?”

Puspa menatapnya dengan senyum tipis yang penuh sindiran.

“Kamu yakin tempat ini masih bisa disebut rumahku?”

Keluarga kandungnya saja nggak pernah injakkan kaki di sini, tapi Keluarga Has
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 676

    Semua hal yang sebelumnya luput dari perhatian Indra kini mendadak jadi sangat jelas.Pantas saja Wira bisa kenal Eric, bahkan makan sama dia. Dan setiap kali lihat Indra, kenapa wajahnya selalu seperti pencuri yang ketahuan?Ternyata akar dari semuanya ada di sini.Amarah membakar Indra tanpa kendali. Tinju-tinjunya mendarat semakin keras, seolah-olah Wira itu karung pasir miliknya.Kata-katanya buat Wira tertegun. Sekilas rasa bersalah melintas di matanya.‘Gimana pria ini bisa tahu?’Namun rasa panas yang membakar pipinya dan rasa darah di mulutnya buat rasa bersalah itu menguap.Lagian, ini semua bukan salahnya. Kenapa dia yang harus jadi sasaran empuk gini?Dan yang benar saja, orang kalau berkelahi biasanya nggak bakal pukul wajah. Tapi Indra? Justru wajahnya yang dihantam terus!Wira akhirnya naik darah. Ia balas pukul. Di tengah jalan, keduanya saling lontarkan pukulan, buat keributan yang sangat heboh.Orang-orang yang lewat hanya menonton dari jauh, nggak ada yang berani lera

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 675

    Udara di luar sangat dingin, setiap helaan napas rasanya dipenuhi udara dingin. Namun dinginnya cuaca tetap nggak sebanding dengan dingin yang mencengkeram hatinya.Nggak tahu sudah berapa lama Indra nyetir, sampai akhirnya ia hentikan mobil di pinggir jalan. Ia nyalakan sebatang rokok, cahaya merah menyala redup terang di antara jari-jarinya.Indra hubungi Cakra.Cakra yang akhirnya menikmati pulang cepat di hari itu, sedang duduk santai sambil minum bir, rasakan nikmatnya hidup tanpa lembur.Tapi manusia memang nggak bisa hidup terlalu nyaman, karena begitu nyaman masalah pun tiba.Deretan nada dering HP-nya memecah keheningan, langsung akhiri waktu santainya.Lihat nama penelepon, Cakra merasa dirinya pasti utang karma ke Indra di kehidupan lalu, kalau nggak, mana mungkin ia harus kerja begitu keras untuk Indra di kehidupan ini?Ia sungguh ingin pura-pura nggak dengar. Namun, ingat gaji bulanan yang tebal dan bonus akhir tahun yang menggoda, Cakra putuskan untuk terus berjuang hidup

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 674

    Di sebuah kawasan hunian mewah, di dalam parkiran bawah tanah.Baru saja Puspa mau buka sabuk pengamannya, pandangannya tiba-tiba gelap. Dalam sekejap, tubuhnya sudah ditarik masuk ke dalam sebuah pelukan yang hangat dan sangat familiar.Lampu-lampu di parkiran menyala terang, buat interior mobil ikut bermandikan cahaya.Puspa tertegun satu detik, lalu tanya dengan bingung, “Kenapa?”Dagu Eric bertumpu lembut pada bahunya, bayangan gelap tutupi sorot matanya yang sulit dibaca.“Nggak apa-apa. Aku cuma pingin peluk kamu.”Puspa tahan tawa, bibirnya terangkat tipis.“Kamu pikir kamu ini Toni?”Eric menggeram pelan. “Kamu lagi hina aku, ya?”Puspa balik tersenyum.“Bagian mana yang kedengarannya seperti hinaan?”Eric mendengus.“Bukannya maksudmu aku ini seperti anak tiga tahun?”Puspa mengoreksi dengan santai, “Toni itu empat setengah tahun.”Eric manyun. “Sama saja. Tetap anak kecil.”Puspa menatapnya geli.“Lihat kelakuanmu sekarang, nggak jauh beda dari dia.”Eric merintih manja.“Mes

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 673

    Sambil bicara, pandangan Eric melewati Indra, langsung tertuju ke arah Sonya yang baru saja susul dia dari belakang.Tatapan dingin Eric buat langkah Sonya terpaku, tubuhnya spontan mundur seperti pencuri yang tertangkap basah, nggak berani lagi intip sesuatu yang bukan miliknya.Eric mengejek, nadanya dingin sekaligus kejam.“Wanita milikmu ada di belakang. Jangan rakus dong. Jaga matamu baik-baik.”Indra seolah baru sadar dengan keberadaan Eric dan ia lihat pria itu dengan sorot mata yang penuh rasa benci dan ketidaksenangan yang menumpuk.Bagi Indra, Eric hanyalah seorang pencuri, seorang pencuri bodoh yang berani rampas harta paling berharga miliknya.Warna mata Indra menggelap, jelas sekali ia ingin menghabisi Eric.Namun Eric hanya tersenyum sinis, nggak takut sedikit pun. Bahkan ia balas tantang Indra dengan sorot matanya.Saat ketegangan memuncak, tangan lembut Puspa genggam tangan besar Eric, dan ia berkata dengan suara yang lembut, “Ayo pulang. Toni sudah tungguin kita di rum

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 672

    “Kak Indra, kamu datang tepat waktu! Mereka tindas aku, ayo cepat bantu aku!”Lisa langsung teriak manja, cari perlindungan.Namun sandaran yang ia inginkan, sama sekali nggak seperti yang dia harapkan.Saat ini ia bahkan sama sekali nggak masuk dalam pandangan kakaknya.Semua perhatian Indra hanya tertuju ke Puspa, matanya nggak berkedip, seolah jika ia berkedip saja, wanita itu akan lenyap begitu saja.Indra memandang Puspa tanpa gerak sedetik pun, sudut bibirnya bergerak naik, seperti senyum yang ditujukan ke sahabat lama yang amat dirindukan, atau pada harta berharga yang ia jaga bertahun-tahun.Indra tahan getaran di dadanya, jakunnya bergerak naik turun, suaranya terdengar terkendali.“Kamu sudah kembali. Beberapa tahun ini kamu hidup baik-baik saja, kan?”Puspa masih hidup. Kalau gitu kenapa nggak datang cari dia? Apa Puspa nggak tahu kalau selama ini ia kangen banget?Puspa tersenyum tipis, ekspresinya tenang, nadanya santai seperti bicara dengan teman lama yang kebetulan berte

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 671

    Meskipun wajahnya Kakek Budi hampir nggak bisa tahan malu, tapi di depan begitu banyak orang, mau nggak mau ia tetap harus jaga sikap. Nggak mungkin ia bersikap nggak sopan ke Paul. Jadi ia tetap paksakan diri untuk tersenyum.“Iya, ini memang takdir.”Tatapan Kakek Budi jatuh ke Puspa, nadanya penuh makna.“Kamu ini beneran sangat beruntung.”Puspa tersenyum samar, nggak jelas apa karena gembira atau mengejek.“Semua keberuntungan ini dari kamu.”Di antara keduanya, ada ketegangan nggak terlihat yang mengalir perlahan.Dengan gurauan Paul dan sikap menenangkan Kakek Budi, kemunculan Puspa yang tiba-tiba hanya jadi kejutan sesaat, gejolak itu tinggal berputar dalam hati para tamu, nggak ada seorang pun yang berani benar-benar melangkah ke depan untuk cari gara-gara.Gimanapun, hari ini tokoh utamanya adalah Kakek Budi, mereka harus jaga martabatnya.Winda yang dari tadi berada di luar lingkaran, bahkan lebih kaget ketimbang ketika lihat kakek buyutnya yang sudah meninggal.“Gimana bisa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status