Masuk“Lisa!” Endah segera kejar dia.Namun ketika ia tiba di halaman, Lisa sudah lebih dulu setir mobilnya dan menghilang dari pandangan.Ia ingin susul, tetapi nggak berani buat ayah mertuanya tahu kalau Lisa baru saja hilang kendali lagi.“Indra, adikmu itu cuma sedang marah. Jangan kamu anggap serius.”Ucapan Lisa barusan bukan hanya menusuk Indra, tapi juga robek hati Endah.Kecelakaan yang renggut nyawa suaminya dan hampir bawa putranya ikut mati adalah luka yang nggak pernah sembuh untuknya.Baik suami maupun putranya, ia nggak bisa bayangkan kehilangan salah satu dari mereka.Namun langit nggak beri belas kasihan, suaminya harus gunakan tubuhnya sendiri untuk lindungi anak itu. Jika bukan karena perlindungan itu, Indra dan ayahnya mungkin sudah pergi bersama hari itu juga.Ucapan Lisa barusan benar-benar seperti garam yang ditaburkan ke luka yang terus menganga.Sorot mata Indra meredup, gelap dan dalam, pikirannya nggak terbaca.Ia nggak tanggapi kata-kata adiknya, hanya berkata pel
Setiap kali lihat putranya nggak jaga dirinya dengan baik, Endah selalu teringat Puspa.Gimanapun, dalam hal rawat orang, gadis itu memang melakukannya dengan sangat baik, hingga Indra benar-benar terurus. Hal itu harus ia akui.Namun Puspa sudah nggak ada. Lima tahun telah berlalu. Seharusnya semuanya sudah dilepas pergi.Indra tahu arah pikiran ibunya.Ia berkata, “Di rumah kita nggak kekurangan pembantu. Dan aku bukan orang tolol, aku nggak sebodoh itu sampai bisa mati karena nggak rawat diri. Sudah, daripada khawatirkan aku, kenapa nggak pergi urus Lisa saja.”Begitu sang putri disebut, hati Endah langsung makin suntuk.Putranya buat dia cemas, tapi putrinya buat dia pusing tujuh keliling.Lisa semakin besar semakin liar. Pulang dari luar negeri, bukannya berubah jadi lebih baik, ia justru makin nggak punya arah, tiap hari buat keluarganya naik darah.Ia benar-benar nggak tahu ia punya dosa apa, sampai punya anak-anak yang begitu sulit diatur.Seperti panggil setan, setannya pun mu
Wira mengorek cukup banyak barang berharga dari saku Indra untuk anaknya, baru setelah itu ia puas dan pergi dengan wajah berbunga-bunga.Sebelum melangkah keluar, ia masih sempat berkata, “Makan telur merah anakku yang banyak yah, buat tambah keberuntunganmu.”Indra terdiam.Kenapa kalimat itu terdengar sangat nggak enak di telinganya? Setelah ia pergi, kantor luas itu kembali tenggelam dalam keheningan.Indra melirik telur-telur merah yang tampak segar itu, ia ambil satu dari keranjang bambu, lalu letakkan itu di depan foto Puspa.“Bukannya dulu kalian berdua dekat banget? Sekarang dia sudah punya anak, kenapa kamu nggak kembali tengok dia sekali saja.”'Juga tengok diriku.'Ia ambil satu telur merah lagi, kupas kulitnya, lalu makan itu pelan-pelan.Telurnya dingin, rasanya hambar, namun ia tetap habiskan itu....Di bawah gedung Cahaya Sukses. Saat mobil Wira keluar dari parkiran basement, dari sudut matanya ia lihat Sonya berdiri di pinggir jalan.Perempuan itu hanya berdiri terpak
Wajah Indra seketika menegang. Sementara itu, wajah Wira dipenuhi ekspresi bangga, persis seperti seseorang yang merasa, punya anak berarti hidupnya sudah lengkap.Ia terus menyombong, “Pesta sebulan anakku, kamu nggak perlu datang. Istriku nggak mau lihat kamu. Aku kasih kamu satu keranjang telur merah ini saja sudah cukup sebagai hadiah untuk kamu.”Tatapan Indra beralih dari telur-telur itu ke wajahnya. Keterkejutannya tersapu cepat oleh ekspresi datarnya.“Tania nikah dengan kamu?”Senyum bangga Wira sempat membeku, namun ia segera kembali angkuh.“Kami sudah punya anak.”Indra letakkan bingkai foto perlahan, sesuaikan posisinya agar senyum Puspa selalu menghadap ke dirinya. Baru kemudian ia berkata pelan, “Anak sudah punya, tapi nggak ada status. Apa yang mau dibanggain?”Sebenarnya hati Wira juga perih. Sudah punya anak, tapi Tania masih tolak untuk catatkan nama bersama. Kalau bukan karena ia rendahkan diri, tahan ego-nya, dan nggak tunjukkan sisi macho-nya sedikit pun, mungkin
“Ngapain kamu datang?” Nada Indra datar, suaranya tenang tanpa gelombang.Orang yang datang bukan siapa-siapa, melainkan Sonya.Sonya letakkan termos makanan yang dibawanya, suaranya lembut.“Aku antarin kamu makanan.”Indra berkata, “Bukannya aku sudah bilang, biar Cakra yang urus makananku. Lain kali, nggak usah antar lagi.”Sonya seperti nggak dengar penolakannya. Sambil buka kotak makanan, ia berkata perlahan, “Aku minta ahli gizi khusus siapkan makanan ini untuk kamu.”Indra jawab dengan nada dingin, “Nggak perlu.”Namun Sonya nggak ambil hati atas sikap dinginnya. Ia tetap berkata lembut, “Aku sudah telanjur siapkan. Sekarang makan saja dulu, yah? Habis ini aku nggak akan antar lagi, oke?”Indra menatapnya tanpa berkata apa-apa. Sonya sudah katakan kalimat itu berkali-kali, tapi pada akhirnya, tetap saja ia muncul dengan termos makanan di tangannya.Ia tahu, itu semua adalah niat baik. Tapi, itu nggak perlu.Indra berkata, “Bawa kembali saja makanannya.”Kali ini, ia nggak lembut
Ia nggak hanya buat sedikit kesalahan, tapi benar-benar parah salahnya, sampai-sampai buat ia kehilangan Puspa, kehilangan istrinya sendiri.Sakit di dadanya menusuk begitu hebat hingga ia sulit bernapas. Tubuhnya limbung dan jatuh, penglihatannya tiba-tiba kabur dan serasa melihat kabut. Dalam kabut putih itu, ia lihat sosok yang sangat ia kenal. Ia ulurkan tangan, panggil dengan suara gemetar, “Puspa, istriku.”Wira sama sekali nggak nyangka kalau kata-katanya tadi buat Indra pingsan. Keluar dari Vila Asri, ia langsung menuju rumah Tania.Karena orang yang hampir mati akibat kepergian Puspa nggak hanya Indra, Tania pun nggak kalah hancurnya.Dan justru karena ia peduli ke Tania, maka tadi ia ucapkan semua kata itu ke Indra. Karena keangkuhan, keegoisan, dan keras kepala Indra sendiri yang tuntun itu semua ke tragedi yang dialami Puspa, buat Tania ikut tanggung rasa sakit, bayar harga untuk kesalahan yang bukan miliknya.Di kamar, Wira menatap Tania yang matanya bengkak, wajahnya penu







