Share

Bab 02. Video Asusila

Jalan terjal dan curam serta lembah ngarai pun sudah dilintasi. Namun, Jeta merasa perjalanan turun yang biasanya lebih cepat, kini terasa sangat jauh dan lambat. Selisih jarak beda jauh dengan jalur saat naik. Bahkan, tidak dijumpai satu orang pun pendaki di sepanjang jalan turun.

Lewat mana mereka semua? Apakah lelaki itu telah sengaja membawanya tersesat? Waswas sekali rasanya.

"Apa kamu juga ingin mandi?" Lelaki itu berjalan sedikit cepat meninggalkannya. Seperti teguran agar Jeta tidak lagi mengikuti.

Lalu berhenti dan menurunkan carrier dari punggung. Melepas sweater hangat dengan cepat di bawah sana. Menampakkan punggung cerahnya yang sempurna terpahat. Jeta tercekat, tergesa memalingkan wajah dan pandangan agar tidak melihat.

Rupanya ada sumber air di sana. Jadi lelaki itu sudah sangat hapal medan di Kinabalu. Kini terdengar riuh kecipukan, mungkin dia sedang berenang di kolam sumber air. Meski ingin tahu, Jeta sama sekali tidak berani mendekat. Memilih terus duduk dan menikmati keindahan alam di sekitar. Yang kemungkinan adalah kawasan komersil dari Taman Nasional Kinabalu.

Terkejut sekali, seekor kera tiba-tiba meluncur dari atas pohon dan menghampiri Jeta yang sedang duduk di sebongkah batu. Berusaha diusirnya dengan ayun tangan tetapi tidak ada takut sama sekali, apalagi menjauh dan pergi.

"Haaaaa … tolong!"

Kera itu telah menyambar di mata kaki. Menggelayuti Jeta di bagian betis yang berlapis celana jins tipis.

Jeritan Jeta membahana ke penjuru gunung belantara. Merasa kepanikan yang sangat. Merasa sungguh takut luar biasa. Sebab dirinya sedang sendiri tanpa seorang pun di ssekitarnya. Tubuh Jeta serasa kaku sebab ngeri dan panik.

"Hush … Hei!" Terdengar seruan.

Suara hardikan lelaki itu sudah sangat dihapal oleh telinga Jeta. Membuat lega dengan ketegangan yang lumayan berkurang.

Cengkeraman kera terasa melonggar, tetapi masih menggayut di kaki dengan tatapan ke depan. Kini lelaki itu sedang mendekat dengan membawa sebuah bungkus kwaci yang diambil dari ransel.

Kera segera melepas kaki Jeta dan menyambar segenggam kwaci yang diulur ke arahnya. Menjerit ngik-ngik sambil lari menjauh dan kembali menggelayut menuju atas pohon. Mungkin akan menikmati segenggam kwaci dengan bersantai di atas sana. Jeta merasa lega dengan nafas panjang dan lapang.

"Kamu punya makanan, tapi memberiku makanan menjijikkan …," protes Jeta sambil melirik lelaki itu sekilas. Tidak kuat memandang lama, dada dan perut yang menggoda masih terbuka tanpa baju. Namun, lelaki itu sudah sempat bercelana panjang dan kering.

"Kamu hampir mati. Makanan seperti ini tidak ada guna dimakan saat genting. Kamu akan hipo sebelum sempat menelan. Memangnya sekarang sudah lapar?" Lelaki tampan berbicara, juga tidak memandang Jeta.

Si gadis sedang menyingkap betis putihnya yang berdarah. Gayutan kera tadi telah meninggalkan goresan panjang di betis mulusnya yang kanan

"Rasanya memang selalu kenyang hingga sekarang. Tapi tolong, jangan beri makanan seperti itu lagi padaku," ucap Jeta serius.

"Pikirkan manfaatnya. Jangan mengejar yang enak-enak saja!"

Lelaki itu berbicara dan beranjak pergi menuju ransel, mengambil baju untuk cepat dipakai di badan. Meski matahari bersinar, hawa gunung tetap dingin.

Kemudian menyambar sebotol kecil berwarna hitam untuk diberikan pada Jeta.

"Oleskan ini," ucap si lelaki bernada dingin.

"Tidak usah, hanya goresan. Ini akan cepat kering sendiri," tolak Jeta dengan ketus.

"Apa kamu tidak tahu, kera gunung tidak ada yang divaksin rabies," ucapnya santai dan berlalu.

"Apa …?!" Pekik Jeta yang seketika berdiri. Menghampiri lelaki itu yang akan memasukkan kembali botol ke dalam ransel. Tapi Jeta cepat menyambarnya.

"Lukaku harus dioles, aku tidak ingin tiba-tiba kena rabies. Aku belum kawin …," omel Jeta sambil menyingsing kembali celana hingga lutut. Mengoles buru-buru dengan obat sejenis minyak dari botol.

"Pria mesum yang menodaimu itu pasti akan membuangmu jika kamu kena rabies," sahut lelaki itu sambil mengangkat carriernya.

"Dia bukan mesum. Hanya mencium tangan dan mencium dua pipiku. Sebab aku ulang tahun!" Jeta menghardik dengan kesal. Lelaki itu sungguh tidak jelas apa niatnya.

"Di video rekaman, bibirmu kena juga," sahut lelaki itu santai. Kini duduk di bongkah batu dengan ransel tetap di punggung.

"Hanya sekilas, hanya tiga detik …!" Jeta menyanggah dengan kesal. Menatap penuh api pada lelaki yang telah mencuri rekam pada moment bahagianya bersama Gus Azrul menjadi sebuah video.

"Tetapi kamu sudah sangat takut, kan?" Senyum sinis dan mengejek di wajah tampan lelaki itu sangat memuakkan bagi Jeta.

"Sebab dia keluarga pesantren, dia Gus …! Sedikit saja kesalahan, sudah jadi aib besar baginya!" Jeta memekik dan sangat ingin menangis. Mengingat sang kekasih yang dia tidak tahu bagaimana nasibnya.

Mereka terpisah saat musibah, Jeta telah ditarik dengan sambaran cepat oleh lelaki itu yang mengaku sebagai tim penyelamat. Tanah yang terus bergeser dengan mendung tebal dan hujan mulai jatuh, membuat panik dan percaya begitu saja.

Yang kini rasa curiganya pun terbukti benar dan nyata. Lelaki itu mengancam dengan rekam video buatannya. Menginginkan Jeta untuk terus mengikuti turun dengan sikap manis di belakangnya.

"Kamu takut dituduh merayu seorang Gus?" Lelaki itu tersenyum masam. Kini berdiri dari duduknya.

"Bukan diriku yang kupikir! Tetapi, nama baik kekasihku akan tercoreng!" Jeta menjerit marah.

"Jika hanya untuk merayakan ulang tahun disertai asusila, sebaiknya di hotel saja!" Lelaki itu menghardik agak keras. Jeta menoleh kian marah.

"Itu bukan asusila, hanya spontanitas! Kami tidak pernah berbuat hal yang seperti itu sebelumnya …!" Jeta meralat. Matanya terasa panas ingin menangis.

"Sebenarnya siapa kamu … apa rencanamu? Apa yang kamu inginkan dari mengancamku?" Jeta bertanya dengan emosi. Lebih kesal lagi, lawan bicaranya tidak menunjukkan ekspresi apa pun.

"Apa botol obat itu sudah?" Lelaki bertanya sambil menunjuk botol di tangan Jeta. Mengabaikan kemaraha yang sedang meluap.

"Apa ini minyak burung but-but?" Jeta tiba-tiba bertanya datar dan memandang lelaki bersweater hangat di depannya yang kemudian mengangguk.

"Berikan padaku. Akan kuoles sesering mungkin, aku takut tiba-tiba rabies," ucap Jeta mengalah. Menyadari tiada guna menunjukkan emosi dan marah di gunung. Bagaimanpun, dirinya masih berharap pada lelaki itu untuk turun dan pulang dengan selamat. Tidak ada sepeser pun uang lagi di genggaman.

Jeta menyimpan botol di dalam saku celana yang dipinjam. Memang sangat panjang dan longgar, size lelaki. Tetapi telah dipotong oleh yang punya sebatas mata kaki. Bagian pinggang pun diikat dengan tali akar yang panjang. Lelaki itu juga yang sudah menguruskan segalanya.

"Ikuti aku!" Perintah lelaki yang bersikeras tidak menyebutkan namanya. Hal itu juga membuat Jeta merasa kian geram. Untung saja dia sangat tampan dan waras, hingga Jeta sedikit abai sementara pada ancamannya yang meresahkan.

Jeta kembali berjalan mengikuti dengan perasaan yang enggan. Lelaki gagah dan tegap dengan carrier begitu besar yang tentu berat, melangkah cepat dan ringan. Seolah tidak membawa beban apa-apa di tubuhnya!

🙏🍎🙏

Komen (3)
goodnovel comment avatar
Dina0505
hati2 jeta. bahaya ada kera rabies
goodnovel comment avatar
nur ofie
aduh, kera ada rabies?
goodnovel comment avatar
MyMelody
iiihhh, ngeri digelantungi si kera. coba klo kera sakti, kan bisa dpt harta dan ilmu..hihihi
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status