Share

Bab 03. Penginapan

Jeta dibawa menjelajah dan melintasi sepanjang Taman Nasional Kinabalu yang menakjubkan. Tidak terhitung lagi ragam hayati dan hewani yang mereka jumpai di sepanjang petualangan.

Terbaca board petunjuk bahwa jalan turun yang sedang mereka lalui adalah jalur daki Kiau View yang indah. Rasanya tidak ingin pergi hanya untuk terus mengagumi isi taman yang sungguh fantastis dan beragam.

"Apa kita tidak akan tersesat?" Jeta mulai khawatir lagi saat dibawa pada jalan yang acak. Sangat banyak jalan setapak yang bercabang dari jalur Kiau View dan lelaki itu memilih salah satu.

"Tidak akan. Semua jalan kecil ini akan terhubung pada jalan aspal di luar Taman Kinabalu. Kamu akan disambut rambu-rambu saat menghabiskan jalan setapak. Semua jalan aspal juga akan menuju di satu pos jaga saja," terang lelaki itu dengan gamblang.

Jeta melirik. Kian penasaran dengan lelaki tenang dan sudah memberi ancaman serius. Yang sebenarnya, lelaki banyak wawasan dan pengalaman di alam itu cukup menakjubkan.

"Istirahat dulu!" Lelaki melirik Jeta yang terlihat sudah payah. Wajah cantik itu kemerahan diterpa sinar jingga saat senja. Keringat mengalir deras dari segala penjuru wajah dan kepala.

"Makan ini sementara," ucap lelaki sambil mengulur batang coklat yang masih tersegel. Jeta terbelalak sambil menyambar.

"Kamu … kamu pun ada makanan enak begini … tapi, ah … Kamu kedekut (pelit) sekali jadi lelaki, hah!" Jeta merutuk sebab teramat kesal. Pengalaman miris memakan ulat-ulat kaku dalam mangkuk tidak akan lupa dari kepala sepanjang waktu.

"Kamu itu naik gunung. Bukan bersantai ria dengan hanya makan coklat. Jadikan survive-mu ini sebagai pengalaman emas yang belum tentu bisa kamu lakukan lagi hari esok," respon lelaki itu dengan santai. Mulutnya juga sudah mengulum dan mengunyah coklat milik sendiri.

Jeta tidak menyahut. Kembali bersikap layaknya seorang pendaki sejati yang tangguh dan manis. Ulasan si lelaki memang benar. Kini coklat enak mulai dikulum dalam mulut.

"Setelah ini akan sampai di keramaian. Jangan coba berulah dan lari. Kamu tidak memiliki apa pun, bukan? Sementara tidak akan ada yang mencarimu hingga dua hari ke depan. Kecuali keluargamu sangat peduli denganmu. Tetapi kurasa tidak mungkin, keluargamu sibuk," ucap si lelaki. Telah mengangkat ransel kembali di punggung. Batang coklat masih berada di tangannya.

"Lalu aku harus bagaimana?" Jeta memandang bingung. Merasa heran dengan kepahaman lelaki itu mengenai seluk beluk keluarganya.

"Sudah kubilang, ikuti saja dan jangan lari dariku," ucap lelaki itu dingin. Telah berjalan lagi menyusuri setapak jalur aspal. Perjalanan menuruni Gunung Kinabalu sebentar lagi berakhir.

👣

"Sudah?" Lelaki itu berdiri di belakangnya, bertanya dengan nada tidak sabar.

"Dia sudah turun … dia tidak ada menungguku …." Jeta bergumam sembari mundur menepi. Matanya tidak tahan lagi dan berair.

"Bergeser ke sebelah sana. Barangkali nama yang kamu cari juga ada keterangan di papan," ucap lelaki itu sambil berjalan mendahului.

Begitu banyak antrian untuk melihat papan update dari korban pendakian di puncak Kinabalu akibat musibah longsor dan angin. Bersyukur sekali, belum ada laporan jatuh korban jiwa. Hanya beberapa korban luka dan hipotermia sudah dilarikan ke bangsal perawatan Kinabalu.

"Dia terluka ringan, seharusnya dia menungguku hingga aku terlihat turun dan selamat …," ucap Jeta sambil termangu-mangu memandangi data dengan tajuk korban luka ringan dan sudah dijemput keluarga. Ada nama Azrul di sana. Tetapi nama Zeta belum ada ....

"Tapi tidak mengapa, itu lebih baik. Daripada melihatku seperti ini," keluh Jeta lagi dengan lirih.

"Melihatmu bgaimana?" Lelaki itu bertanya menyambar, dua telinganya ternyata juga tajam.

"Kepalaku terbuka, satu-satunya kerudung yang kupakai itu dibawa angin," sahut Jeta tampak kikuk. Seperti mengingatkan sendiri tentang aib yang menimpa.

"Jadi lelaki mesummu tidak pernah melihatmu begini?" Lelaki itu berbicara sambil memandang rambut dan kepala Jeta sekilas.

"Aku sering juga tidak menutup kepala. Tapi tidak jika bertemu dengannya," sahut Jeta dengan jujur.

"Muslimah palsu," celutuk lelaki itu dengan raut sinis dan masam. Mengingat seorang wanita yang sangat tidak dia sukai dan Jeta sudah pasti adalah hasil didikannya.

"Terserah pendapatmu," sahut Jeta dengan wajah abai yang kesal.

"Bertambah satu lagi videoku. Kamu sedang tidak berkerudung," ujar lelaki itu lirih. Kini berjalan kembali meninggalkan Jeta yang termangu di depan board update korban.

"Kapan lagi kamu merekamku?!" Jeta hampir memekik.

"Saat makan coklat!" Lelaki itu telah melangkah menjauh.

"Lelaki licik, psikopat!" Jeta mengumpat dengan kaki yang terpaksa berayun mengikuti. Lelaki itu tidak peduli.

Kini sedang menerima panggilan selular dari seseorang sambil menghampiri satu taksi. Memberi kode untuk segera masuk dan Jeta pun mengikuti.

Taksi berhenti di depan sebuah lobi penginapan yang tidak jauh dari kaki Kinabalu. Tampak asri dan alami dengan kolam ikan mengalir memutari penginapan. Entah ikan jenis apa yang bisa hidup di air super dingin gunung Kinabalu, Jeta tidak tahu.

"Cepat, Jeta!" Lelaki yang telah berjalan cepat sedikit berbalik badan demi berseru menegur pada Jeta.

Gadis itu seperti tersangkut di mata dan kaki sebab terpesona dengan indahnya taman penginapan. Sebelas dua belas dengan versi mini di Taman Nasional Kinabalu.

"Ini punyamu," tegur lelaki itu pada Jeta. Mengulur sebuah kartu kunci di depan deretan pintu kamar.

"Itu kamarmu," lelaki itu menunjuk ke pintu kamar di sebelah. Bermakna kamar di depan mereka adalah miliknya. Kedua pintu kamar mereka tepat bersebelahan.

"Terima kasih," sahut Jeta tanpa sadar. Lelaki itu tanpa sahutan kata telah lenyap di balik pintu kamar.

Jeta menghembus nafas panjang. Baru kali ini terbit senyum di wajah cantiknya. Merasa sungguh lega tiba-tiba. Telah mendapat privasi dengan kamar yang akan dimiliki sendiri. Raga yang kehabisan daya saat berjuang keras menuruni Kinabalu, serasa akan impas dengan istirahat nyaman seorang diri di ranjang.

Tok Tok Tok

"Ada apa?" Jeta memegangi pintu dengan wajah masam. Niat merebah badan setelah mandi puas ditahankan sebab ketukan memberondong.

"Ikutlah aku sebentar," sorot tajam mata lelaki itu bagai gendam. Jeta mengekor begitu saja tanpa sempat menyahut dan mengangguk. Bahkan pintu kamar hampir lupa ditutup. Meski tidak memiliki apa pun di dalam, akan tampak konyol jika membiarkan pintu terbuka lebar saat ditinggal.

"Kenapa ke sini?" Jeta heran saat diminta masuk ke dalam ruangan yang penuh baju, bisa jadi butik pribadi milik penginapan.

"Masuklah. Wanita itu akan memberimu pilihan baju yang sesuai. Jangan lupa ambil kerudung untuk menutup kepalamu."

"Jangan ke mana-mana. Kita akan makan setelah aku kembali." Lelaki memberi pesan.

Jeta mengerti maksudnya saat si lelaki menunjuk seorang wanita dengan dagu berjambang tipisnya yang menawan.

"Mari, Nona. Ada banyak baju wanita koleksi terbaru yang sepaket juga dengan kerudung. Silahkan cuba ikuti saya untuk memilihnya," ucap wanita dalam butik dengan logat Melayu yang hangat.

Jeta merasa ambigu dan menoleh ke samping. Namun, lelaki itu telah lenyap di ujung lorong penginapan. Meninggalkan Jeta yang lagi-lagi tidak menyahut atau mengangguk. Hanya termangu dengan arahan mendadak dari lelaki yang sama sekali tidak dia sangka dan harapkan.

🙏🍎🙏

Comments (3)
goodnovel comment avatar
Dina0505
akhirnya bisa kembali si Jeta
goodnovel comment avatar
nur ofie
ikut lega, udah turun
goodnovel comment avatar
MyMelody
akhirnya tidur di kamar juga, dan dapat kamar sendiri yeeyyy
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status