LOGINMobil taktis hitam itu membelah jalanan sepi Lunaris dengan kecepatan setan. Jarum speedometer menunjuk angka yang nyaris menyentuh batas, seirama dengan detak jantungku yang berpacu melawan waktu.Aku tidak mempedulikan lampu merah. Pikiranku hanya tertuju pada satu titik: Presidential Suite di lantai teratas The Royal Crown.Tiga puluh menit kemudian, aku sudah berlari keluar dari lift pribadi, langsung menekan kode akses pintu kamar.Cklek.Pintu terbuka. Hawa dingin AC langsung menyambutku, kontras dengan hawa panas sisa kebakaran di klub malam Madam Rosa yang masih menempel di kulitku."Tuan Rey?"Livia bangkit dari sofa dengan wajah cemas. Dia masih mengenakan kemeja kerjanya yang kusut, sisa pergumulan kami tadi sore. Matanya merah karena kurang tidur."Bagaimana kondisinya?" tanyaku tanpa basa-basi sambil meletakkan kotak pendingin di meja."Amanda masih tidur, Tuan. Tapi..." Livia menggigit bibirnya, menunjuk ke arah ranjang. "Sejak sepuluh menit yang lalu, keningnya berkerin
“Jangan! Jangan biarkan mereka menyentuhku!"Tubuh Madam Rosa meronta-ronta di bawah cengkeraman anak buah Alfonso, seperti ikan yang menggelepar di daratan."Kodenya! Aku kasih kodenya!" teriaknya histeris saat salah satu anak buah Alfonso mulai menarik kakinya kasar. "19-08-45! Di balik lukisan abstrak itu! Cepat suruh mereka mundur!"Aku mengangkat tangan kanan, memberikan isyarat berhenti.Seketika, gerakan anak buah Alfonso terhenti. Namun, mereka tidak mundur. Mereka tetap mengelilingi sofa itu, menatap Rosa dengan tatapan lapar yang dibuat-buat, menjaga tekanan psikologis tetap tinggi.Aku menatap Alfonso dan mengangguk ke arah lukisan besar di dinding."Periksa," perintahku singkat.Alfonso bergerak cepat. Dia menurunkan lukisan itu dengan kasar, membiarkannya jatuh berdebam ke lantai. Di balik dinding itu, tertanam sebuah brankas baja digital. Alfonso menekan kombinasi angka yang diteriakkan Rosa tadi.Bip. Bip. Bip.Klik.Pintu brankas terbuka perlahan.Aku berjalan mendekat
Laras pistol Beretta itu masih menempel erat di dahi Madam Rosa, meninggalkan bekas merah melingkar di kulitnya yang keriput dan tertutup bedak tebal.Namun, di luar dugaan, wanita tua itu tidak gemetar."Kamu pikir masalahnya ada pada obatku, Rey?" tanyanya dengan suara serak yang penuh racun. "Kamu pikir B-25 yang membuat istrimu menjadi liar dan tak terkendali?""Tutup mulutmu," geramku, jariku semakin menekan pelatuk. "Berikan penawarnya, atau kutembak!"Rosa tertawa. Tawa yang kering, pendek, dan menyakitkan telinga."Oh, betapa naifnya kamu, anak muda," desisnya. "Obatku hanya pembuka kunci. Dia hanya melepaskan rem yang ada di otak manusia. Kalau istrimu menjadi seliar itu... mendesah, meminta lebih, bahkan menginginkan pria lain... itu karena jauh di lubuk hatinya, dia memang menginginkannya."Kata-kata itu menghantam dadaku lebih keras daripada pukulan fisik manapun."Bohong!" teriakku."Nggak percaya?" Rosa mencondongkan wajahnya, menantang maut. "Lihat matanya saat dia lagi
Kalimatku menggantung di udara, dingin dan tajam, memotong kebisingan musik yang samar-samar terdengar dari lantai bawah.Madam Rosa tidak langsung menjawab. Dia meletakkan gelas wine-nya perlahan, lalu menatapku dengan sorot mata yang menyelidik. Senyum mengejek di bibirnya perlahan berubah menjadi seringai licik.Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatapku seperti seekor kucing yang sedang mempermainkan tikus yang terjebak di sudut."Kamu pikir aku bodoh, Rey?" kekehnya pelan, suara seraknya terdengar menjijikkan. "Atau kamu pikir aku wanita pikun yang tidak punya mata dan telinga di kota ini?"Aku diam, membiarkannya bicara.Rosa berdiri perlahan, memutari meja marmer itu sambil memainkan kipas bulu di tangannya."Awalnya, aku memang mengira kamu cuma pelayan hotel miskin yang beruntung menikahi putri Wijaya," ucapnya sambil berjalan mendekatiku. "Tapi setelah insiden di klinikku, dan caramu lolos dari anak buahku... aku mulai mencari tahu."Dia berhenti tepat di sampingku, memb
Aku melangkah keluar dari lobi The Royal Crown. Setiap langkahku meninggalkan jejak "Rey si Suami Penyayang" di belakang. Wajahku yang tadi penuh kehangatan saat mencium kening Amanda, kini berubah menjadi topeng batu yang dingin. Tatapanku lurus, tajam, dan memancarkan aura membunuh yang selama ini kusembunyikan di balik senyum ramah room service.Di depan lobi, sebuah sedan hitam matte sudah menunggu. Mesinnya menderu halus. Ini bukan mobil mewah Jonathan yang biasa kupakai. Ini adalah mobil taktis berlapis baja anti-peluru milik operasional Veleno.Pintu belakang terbuka. Guntur duduk di kursi pengemudi, wajahnya serius."Ke markas Alfonso," perintahku singkat saat aku menghempaskan tubuh di jok belakang."Siap, Tuan Muda," jawab Guntur tegas, langsung menginjak pedal gas. "Alfonso sudah mengumpulkan 'anak-anak'. Mereka siap bergerak."Mobil melaju membelah malam kota Lunaris. Kami meninggalkan kerlap-kerlip lampu kota, menuju kawasan bisnis di pinggiran yang lebih sepi.Kami berhe
Tok. Tok. Tok.Suara ketukan halus di pintu menyentakku dari lamunan gelap tentang Madam Rosa.Amanda yang masih menggeliat di atas kasur dengan tubuh polos langsung menegakkan kepala. Matanya yang tadi sayu kini kembali menyala terang."Itu siapa, Rey?" tanyanya antusias, suaranya serak dan penuh harap. "Livia bukan? Dia udah dateng?"Aku tidak langsung menjawab. Aku bangkit dari tepi ranjang, merapikan celana boxer-ku seadanya, lalu melangkah cepat menuju pintu. Aku mengintip lewat lubang peephole.Livia berdiri di sana. Wajahnya tenang, tapi ada kilatan antisipasi di matanya. Di tangannya, dia menggenggam erat kotak beludru kecil, obat penawar.Aku membuka pintu sedikit, cukup untuk bicara tapi menghalangi pandangan ke dalam."Obatnya?" tanyaku langsung.Livia menyodorkan kotak itu. "Ini, Tuan. Guntur baru saja memberikannya."Di belakangku, suara Amanda terdengar lagi, lebih nyaring. "Rey! Siapa itu? Livia kan? Suruh masuk dong!"Aku menghela napas panjang, menatap Livia lekat-lek







