Share

Sindiran

Author: Falisha Ashia
last update Last Updated: 2026-02-12 22:29:24

Matahari pagi menembus tirai jendela kamar, tapi rasanya aku ingin matahari itu meledak saja.

Aku bangun dengan perasaan ingin menghilang dari muka bumi. Kejadian semalam berputar ulang di kepalaku seperti kaset rusak: Aku, dengan gagahnya menendang pintu ruang kerja Ayah, berteriak menuduh dia berselingkuh, hanya untuk menemukan Ibuku sedang duduk manis di sana minum teh.

Kebodohan macam apa itu?

Dengan langkah berat seperti terpidana mati yang berjalan menuju tiang gantungan, aku turun ke rua
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Ambil Kendali

    Darah yang mengalir di nadiku bukanlah darah pahlawan. Itu darah kelainan. Fetish kekuasaan, rasa sakit, dan dominasi ini adalah warisan genetik keluarga Morales.Dan aku baru saja menyadari, perang melawan Ruben di luar sana adalah permainan anak-anak dibandingkan dengan monster-monster yang bersembunyi di dalam keluargaku sendiri.Aku menatap pantulan wajahku di cermin besar kamar mandi. Mataku merah karena kurang tidur, tapi ada ketajaman baru di sana. Rasa takut dan ragu yang selama ini membayangiku, rasa bahwa aku tidak akan pernah bisa melampaui kebesaran Lucas Morales, kini menguap tak berbekas.Ayahku adalah Raja, tapi dia menyerahkan mahkotanya di atas ranjang.Jika dia bisa berlutut, maka aku bisa berdiri lebih tinggi darinya.Aku merapikan kerah kemeja hitamku, mengambil pistol Glock dari laci, dan menyelipkannya ke sarung bahu. Aku melangkah keluar kamar tanpa membangunkan Amanda dan Livia. Mereka butuh istirahat untuk perang yang akan kupimpin hari ini.Aku berjalan menyu

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Rahasia Ayah Dan Ibu

    Pagi itu datang lebih cepat dari yang kuharapkan.Cahaya matahari pucat menembus tirai kamar utamaku. Aku terbangun dengan kepala yang sedikit pening. Di sisi kiri dan kananku, Amanda dan Livia masih tertidur pulas. Tubuh mereka saling bertumpuk di bawah selimut sutra yang berantakan.Mengingat pergumulan gila semalam, dan bagaimana Livia menikmati dominasi merendahkan dari Amanda, membuatku sadar bahwa kewarasan di rumah ini sudah lama mati.Ponselku di nakas bergetar hebat. Pesan enkripsi dari Paman Julian.‘Tuan Muda. Darurat. Ruben membalas. Dua kasino legal kita di Distrik Utara dibom subuh tadi. Kerugian finansial masif. Saya butuh otorisasi Tuan Besar Lucas untuk mencairkan dana darurat.’Sialan. Ruben tidak membuang waktu.Aku segera bangkit, mengenakan celana panjang dan kemeja hitam secara asal, lalu bergegas keluar kamar. Ayah harus tahu soal ini sekarang juga.Aku berjalan cepat menyusuri lorong marmer menuju Sayap Barat mansion. Area ini adalah wilayah terlarang. Kamar ut

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Dominasi Amanda

    Udara di kamar utama Mansion Morales terasa semakin menipis. Pendingin ruangan yang menyala senyap tidak mampu meredam hawa panas yang menguar dari tubuh kami bertiga.Aku masih terbaring di atas seprai sutra hitam, ditindih oleh Amanda. Ciumannya brutal, menuntut, dan penuh dengan kepemilikan. Dia menciumku bukan seperti sepasang kekasih yang saling merindu, melainkan seperti predator yang sedang menandai buruannya agar hewan lain tidak berani mendekat.Tangan Amanda meremas dadaku, kuku-kuku panjangnya yang bercat merah sesekali menggores kulitku. Napasku memburu, terseret ke dalam pusaran gairah gelap yang selalu berhasil dia bangkitkan. Obat di dalam darahnya membuat setiap gerakannya liar dan tak terprediksi.Di sudut mataku, aku bisa melihat Livia.Gadis itu meringkuk di tepi ranjang. Lututnya ditarik ke dada, matanya basah oleh air mata yang tertahan. Dia memalingkan wajah, tidak sanggup menatap pergumulan panas di depannya. Kepintarannya di gudang logistik tadi seolah menguap,

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Kecemburuan Amanda

    Setelah krisis di ruang medis teratasi, aku membawa Livia kembali ke kamar utama kami di lantai dua. Gadis itu kelelahan secara mental dan fisik. Telapak kakinya lecet dan sedikit berdarah karena nekat berlari tanpa sepatu di atas lantai marmer dan beton demi mengambil cairan kimia dari gudang teknisi tadi.Aku duduk di tepi ranjang berseprai sutra hitam, meletakkan kaki Livia di pangkuanku, dan mengoleskan salep antiseptik dengan hati-hati menggunakan kapas.Livia mendesis pelan menahan perih, tapi ada senyum tipis di bibirnya yang pucat."Rey..." bisik Livia, matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong yang dipenuhi rasa tak percaya. "Tuan Besar Lucas... ayahmu... dia benar-benar memujiku tadi."Aku mengangguk, membalut telapak kakinya dengan perban putih. "Dia bilang pikiranmu cepat. Percayalah, Liv, Ayahku nggak pernah memuji orang hanya untuk basa-basi. Dia mengakui kemampuanmu."Livia tertawa kecil. Tawa yang terdengar sangat lega. "Aku merasa... aku bukan lagi sek

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Ayah Turun Tangan

    Herman telah diseret keluar oleh Julian. Suara tangisannya memudar di ujung lorong, meninggalkan bau pesing samar di karpet ruang kerjaku.Namun, tidak ada waktu untuk merayakan kemenangan psikologis ini.Radio komunikasi di sabukku berbunyi nyaring. Suara Kepala Tim Medis Veleno, Dokter Hans, terdengar panik memecah keheningan."Tuan Muda Rey! Tim Bravo sudah dievakuasi ke Sayap Medis Utama. Kondisi mereka kritis! Tiga orang sudah henti jantung. Kami tidak tahu penawar pastinya, racun ini campuran neurotoksin yang sangat agresif!"Aku mengumpat kasar, memukul meja mahoni hingga cangkir kopi Herman bergetar."Sialan!" geramku.Aku bisa menghabisi seratus anak buah Ruben dengan tangan kosong. Aku bisa menembak kepala musuh dari jarak dua ratus meter. Tapi menghadapi racun yang menggerogoti darah anak buahku dari dalam? Aku tidak berdaya. Otot dan peluru tidak berguna di ruang gawat darurat."Ayo, Liv!" Aku menyambar tangan Livia.Kami berlari menyusuri lorong mansion menuju Sayap Medis

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Herman Bersujud

    Ruang kerjaku di lantai dua mansion bermandikan cahaya matahari siang yang menembus jendela kaca besar. Suasananya hangat dan tenang, sangat kontras dengan badai yang sedang berkecamuk di kepalaku.Aku duduk bersandar di sofa kulit Chesterfield hitam, menyilangkan kaki dengan santai. Di atas meja mahoni di depanku, terhidang tiga cangkir porselen berisi kopi Espresso premium.Di sebelah kananku, Livia duduk dengan postur tegak sempurna. Dia memangku sebuah komputer tablet, jari-jarinya yang lentik mengetuk bagian belakang layar secara ritmis.Tok. Tok. Tok.Suara ketukan pintu yang sopan terdengar."Masuk!” seruku ramah.Pintu terbuka. Herman melangkah masuk. Pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih di bagian pelipis itu mengenakan seragam keamanan Veleno yang disetrika rapi. Wajahnya menyiratkan campuran antara rasa hormat dan kegugupan yang berusaha disembunyikan.Dia mungkin mengira dipanggil untuk diinterogasi soal Borris, atau lebih baik lagi... promosi."Tuan Muda memang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status