Inicio / Romansa / Hasrat Terlarang Kakak Ipar / [100] Merasa Dikecewakan

Compartir

[100] Merasa Dikecewakan

Autor: Kim Meili
last update Última actualización: 2026-03-08 09:57:21

“Sial!”

Sean yang berada di mobil masih memaki dengan ekspresi kesal. Setiap kali mengingat perkataan Elsa yang begitu meremehkannya, Sean ingin sekali menghabisinya. Hingga dia memukul kemudi, meluapkan emosi yang sejak tadi ditahan.

“Aku benar-benar ingin menghabisimu, Elsa,” gumam Sean.

Namun, dia tidak mungkin melakukannya. Negaranya adalah negara hukum. Kalau dia melakukan hal itu, jelas dia akan masuk jeruji. Hingga dia menarik napas dalam dan membuang kasar. Sean berusaha mengendalikan d
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [101] Ingin Berubah Sepenuhnya

    “Olivia, aku bisa menjelaskan semuanya.”Simon yang melihat Olivia hendak meninggalkan ruangan langsung membuka mulut. Dia pun bangkit dan menatap ke arah wanita yang saat ini tengah membelakanginya. Meski begitu dia bisa merasakan kekecewaan yang Olivia rasakan. Hal yang membuatnya menjadi salah tingkah, juga ada sedikit penyesalan dalam hatinya. ‘Kenapa aku harus menyembunyikannya dari Olivia? Sebenarnya apa yang aku inginkan?’ batin Simon. Namun, Olivia tidak membalikkan tubuh sama sekali. Tangan yang masih menggenggam gagang pintu mengerat dengan sempurna. Rahangnya tampak mengeras, menahan air mata yang sejak tadi hendak jatuh. Kekecewaannya begitu dalam, membuatnya merasa hatinya hancur. “Aku tidak bermaksud menyembunyikan ini darimu. Aku hanya merasa perlu memilih waktu yang tepat untuk mengatakannya denganmu,” ucap Simon kembali. Meski Olivia tidak menatap ke arahnya, tetapi dia yakin wanita itu mendengarkan, terbukti dari Olivia yang tidak berpindah dari tempatnya sama sek

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [100] Merasa Dikecewakan

    “Sial!”Sean yang berada di mobil masih memaki dengan ekspresi kesal. Setiap kali mengingat perkataan Elsa yang begitu meremehkannya, Sean ingin sekali menghabisinya. Hingga dia memukul kemudi, meluapkan emosi yang sejak tadi ditahan.“Aku benar-benar ingin menghabisimu, Elsa,” gumam Sean.Namun, dia tidak mungkin melakukannya. Negaranya adalah negara hukum. Kalau dia melakukan hal itu, jelas dia akan masuk jeruji. Hingga dia menarik napas dalam dan membuang kasar. Sean berusaha mengendalikan diri. Hingga dia teringat sebuah nama yang membuatnya semakin terdiam.Olivia. Sean yang mengingat hal itu langsung menelan saliva pelan. Wajahnya memucat, mengingat semua yang sudah dilakukannya terhadap wanita itu. Bukan hanya menghina, dia bahkan sering mengabaikannya.“Bagaimana aku harus menghadapinya nanti?” tanya Sean dengan diri sendiri.Sean terdiam sejenak, memikirkan cara untuk menebus semua kesalahan yang sudah diperbuatnya. Dia sudah melakukan begitu banyak kesalahan terhadap wanita

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [99] Jangan Pernah Muncul Lagi

    “Sean, dengarkan aku dulu.”Sean yang mendengar teriakan itu tidak mempedulikan sama sekali. Rahangnya tampak mengeras dengan kedua tangan mengepal, menunjukkan urat yang begitu jelas. Ditambah tatapan tajam yang menyimpan kekesalan. Hingga seseorang meraih pergelangan tangan, membuat Sean menghentikan langkah.“Sean, dengarkan aku dulu,” kata Elsa dengan suara tersengal. Sejak tadi dia mencoba mengejar pria itu. Dia bahkan berlari, mengabaikan luka di kakinya karena sempatterkulir.Namun, bukan perhatian dan tatapan lembut yang didapat. Dia malah melihat Sean yang menatapnya penuh emosi. Jelas terlihat kebencian dari sorot mata pria tersebut. Hingga Sean menyingkirkan tangan Elsa dengan asar, membuat Sean semakin tersentak kaget.“Jangan sentuh tanganku dengan tangan kotormu itu, Elsa,” kata Sean dengan nada suara tajam.Deg.Elsa yang mendengar hal itu benar-benar dibuat bungkam. Ini pertama kali Sean memperlakukannya dengan buruk. Hatinya pun merasa sakit, tetapi ini bukan waktu ya

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [98] Kebenaran yang Terungkap

    “Aku harus benar-benar minta maaf dengan Elsa. Jangan sampai dia marah dan menganggapku tidak tahu terima kasih.”Sean yang sudah berada di depan gedung apartemen Elsa langsung membuang napas kasar. Dia menatap buket bunga yang sudah disiapkan khusus untuk meminta maaf. Dia pun langsung membuka pintu mobil dan bersiap keluar. Namun, di waktu yang sama dia melihat Elsa yang baru saja keluar dan memasuki sebuah mobil. Melihat wanita itu pergi bersama sahabatnya, Sean mengurungkan niat. Dia mengerutkan kening dalam saat melihat Elsa yang terlihat baik-baik saja. Senyum wanita itu bahkan tampak jauh lebih mengembang daripada waktu bersama dengannya. “Apa dia tidak merasa sakit hati karena aku perlakukan seperti itu kemarin?” tanya Sean dengan diri sendiri. Sejenak, Sean berpikir, menatap mobil yang perlahan mulai menjauh. Tapi hal itu hanya berlangsung sejenak. Dia yang menyadari kesalahannya langsung menjalankan mobil dan meninggalkan tempat tersebut. Sean terus mengikuti mobil yang b

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [97] Memberi Pelajaran

    “Elsa, dari tadi ponselmu berbunyi. Kamu yakin tidak mau mengangkatnya?”Elsa yang masih menghabiskan sarapan di meja makan pun hanya diam. Dia hanya melirik ke arah ponsel yang menunjukkan nama Sean tertera di layar. Jangankan berniat mengangkat, memegang ponsel saja Elsa rasanya enggan. “Elsa, itu Sean,” kata Keisha lagi. “Biarkan saja. Aku sedang tidak ingin berbicara dengannya,” sahut Elsa dengan enteng. Dia bahkan seperti tidak merasa ragu saat mengatakannya.Keisha yang mendengar hal itu benar-benar dibuat terkejut. Setahunya dulu Elsa sangat mementingkan pendapat Sean. Wanita itu bahkan takut kehilangan, tetapi sikap cueknya hari ini benar-benar membuat Keisha geleng-geleng kepala. “Sebenarnya apa yang sudah terjadi sampai kamu begitu cuek dengan Sean? Setahuku dulu kamu selalu menjadikannya prioritas,” tanya Keisha dengan tatapan menyelidiki. Dia benar-benar penasaran dengan alasan sahabatnya itu. Elsa menghentikan acara sarapannya, meneguk susu dan menjawab, “Sean sudah s

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [96] Melakukan dengan Sengaja

    “Kamu yakin tidak mau menginap di rumahku saja?”Olivia yang hendak membuka pintu langsung berhenti ketika mendengar pertanyaan Simon. Dia mengurungkan niatnya sejenak, memperhatikan pria yang tengah menatapnya penuh harap. Melihat Simon begitu menantikan jawabannya, Olivia tersenyum tipis. Sebelah tangannya terulur, mengelus pipi Simon dan menggelengkan kepala.“Tidak. Aku harus pulang. Kalau aku sering menginap di rumahmu, mereka pasti curiga. Apalagi tadi aku perginya dengan Sean. Di sana tidak ada taksi yang lewat. Jadi, aku tidak mau membuat mereka semakin mencurigai ku,” jawab Olivia.“Kalau mereka sampai curiga dan mempersulitmu, aku yang akan membalas mereka. Aku yang akan mengurus meeka,” ucap Simon dengan tegas.Olivia membuang napas kasar. Dia tahu kalau Simon pasti bisa menyelesaikan semua dengan mudah, tetapi dia juga cukup sadar diri. Sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Olivia tidak akan mengambil sikap apa pun. Dia akan tetap menjadi menantu dan anak seperti

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status