แชร์

Part. 2

ผู้เขียน: Dwrite
last update วันที่เผยแพร่: 2024-06-02 17:16:55

Aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi, setelah terbangun di kamar majikan, yang kuingat terakhir kali adalah tabrakan yang menyebabkan tubuhku dan Nyonya Intan terkapar tak sadarkan diri.

Bagaimana bisa setelah tersadar jiwa kami tiba-tiba tertukar? Apalagi di hadapan sudah ada lelaki tampan, tapi kelakuan kayak setan yang sudah siap menerkam!

Untuk sekarang tak ada yang bisa kulakukan selain kabur dari Tuan Stevan. Mengurung diri di kamar mandi, antara bingung dan frustrasi.

Bagaimana ini?

Apa yang harus kulakukan?

Lagian Tuan Stevan bener-bener kebangetan. Bini abis kecelakaan dia malah ngajak anuan. Keterlaluan.

Sekarang aku sedikit paham, kenapa Nyonya Intan katakan hidup yang dia jalani tak seenak kelihatannya. Bersuamikan lelaki tampan dengan muka blasteran ditambah harta bergelimangan, ternyata itu bukan ukuran kebahagiaan.

Percuma tampan kalau kelakuan macam siluman, 'kan?

Sekali lagi kutampari pipi berharap ini mimpi, tapi semua tampak terlalu nyata adanya untuk ditampik sebagai sebuah fatamorgana.

Jadi, faktanya ini bukan mimpi, apalagi halusinasi. Aku beneran berubah jadi Ibu Peri!

Tok! Tok! Tok!

Seketika aku terlonjak saat mendapati ketukan pintu yang lebih seperti gedoran itu terdengar, diikuti suara nyalang dari seberang.

"Intan! Apa yang kamu lakukan di dalam? Dua hari aku merawat dan menunggumu sampai tersadar, apa ini yang kudapatkan, hah? Sebuah penolakan!"

"Bentar, Tu-- eh, Sayang. Kalau kebelet banget kamu bisa pake aja sabun di laci!"

Tuhan ... bagaimana lagi aku harus coba menghindar?

Walaupun kenyataan dalamnya Milah Jamilah, tapi fisik yang tampak dari luar ini tetap saja Intan Permata yang cantik, putih, langsing, dan glowing.

Kuempaskan bokong di atas closet yang tertutup. Sesekali memerhatikan tubuh indah yang hanya terbalut sehelai pakaian tipis.

Insekyur sendiri melihat betapa sempurnanya fisik wanita ini.

"Intan ...!"

"Iya, oi sabar napa!" teriakku tak kalah lantang, sembari membuka pintu toilet dengan kasar.

Jdug!

"Aargh ...!"

"Ya, maaf. Siapa suruh berdiri depan pintu?"

Dia hanya meringis sembari melotot ke arahku.

***

"Kamu beneran datang bulan? Jangan bohong, Intan!"

Kuputar bola mata saat mendengar ocehannya sejak keluar dari kamar mandi tadi, sampai saat aku duduk di sofa panjang yang ada di ruang kamar luas ini. Memikirkan apa yang akan terjadi nanti.

"Iya, kenapa? Masih nggak percaya? Mau liat!" tantangku sembari menyibak gaun tidur tipis yang dikenakan. Membuatnya sontak mengernyitkan dahi, masih dengan sesekali menguruti keningnya yang terbentur pintu tadi.

"Nggak usah," sahutnya dingin.

"Ya udah. Nggak usah ngeyel makanya!" Dia hanya terdiam menanggapi dengan tatapan yang sama tajam.

Akhirnya setelah memutar otak memikirkan dan mencoba menyiapkan beberapa planing ke depan, untuk sementara aku punya cukup alasan untuk menghindarinya.

Ya, datang bulan adalah satu dari sekian cara untuk menyakinkan suami bahwa untuk sementara istri tak boleh disentuh.

Suka atau tidak, pertukaran ini tetap harus kuterima. Ketika jiwa perawan segelan yang terperangkap di dalam tubuh perempuan dewasa berumur dua puluh lima, yang bersuamikan bule gagah perkasa yang semena-mena kelakuannya.

Pendek kata aku tak bisa langsung menyimpulkan bahwa akan mendapat banyak keuntungan yang diterima setelah pertukaran jiwa. Karena entah esok atau lusa siapa yang bisa menjamin nasib mujur ini akan bertahan lama. Bisa-bisa keuntungan hilang, nyawa pun melayang. Amit-amit.

"Kuyakin kecelakaan itu menyebabkan otakmu terbentur, Intan!" Sejenak suara bariton itu mengalihkan pandangku dari layar yang tengah menunjukkan tayangan sinetron.

"Cara bicara, gestur, bahkan sikapmu jauh berbeda dengan sosok Intan yang kukenal!"

Deg!

Mampus, dia sadar.

"Ya, terus?" Demi menutupi rasa gugup dan tubuh yang tiba-tiba gemetar karena melihatnya berjalan menghampiri. Kucengkeram remote di tangan dengan kuat, lalu membaca ayat kursi.

"Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta'khudzuhuu sinatuw walaa--"

"Kamu pikir aku setan, hah?" bentaknya yang membuatku terlonjak seketika.

"Ya, sejenislah."

"Intan!"

"Y-ya!" Kupalingkan pandangan sembari melanjutkan ayat kursi dalam hati. Tak sanggup menatapnya matanya yang demikian mengintimidasi.

"Tatap mata saya!"

Nggak mau, Tuan. Takut kehipnotis entar.

"Tatap, Intan!"

Astagfirullah ....

Karena tak ada pilihan, akhirnya kualihkan pandangan pelan-pelan.

Hanya butuh dua detik bersamaan dengan jantung yang sudah kasidahan, aku dibuat jatuh terpesona menatap lekat sosok Tuan Stevan dari dekat.

Satu tahun bekerja dengannya baru sekarang aku bisa memperhatikannya seperti ini. Dulu mah boro-boro, natap dari radius lima meter saja aku sudah dibuat tertunduk mendengar kata-kata tajamnya.

Ternyata Tuan Stevan mempunyai mata biru gelap yang sangat indah, alis tebal dan rapi, hidung tinggi macam prosotan anak TK, juga bibir yang cip*kable.

Fix, semua kesempurnaan fisik seorang lelaki ada padanya. Mereka--Nyonya Intan dan Tuan Stevan benar-benar gambaran pasangan yang serasi yang sebenarnya.

Lalu, aku? Si cewek kentang ini, tiba-tiba saja terperangkap dalam tubuh salah satunya-- why? Why?

"Seberapa keras pun usahamu mengubah sikap untuk mengambil perhatianku. Semua itu tak berguna, Intan. Aku hanya membutuhkan tubuhmu, tapi tidak dengan jiwa sok polos yang kubenci itu!"

***

"Pakai mantelmu, kita ke rumah sakit malam ini!"

Suara bariton itu mengejutkanku yang sejak tadi asik ngemilin kuaci. Sudah beberapa jam berlalu sejak ucapan misteriusnya tadi, aku masih terjaga di sini. Rebahan dan leha-leha sambil nonton TV Rahasia Ilahi, mencoba mengabaikan apa yang coba dia ungkapkan tentang pandangannya terhadap sang istri.

"Mau ngapain?" tanyaku penuh selidik.

Jangan-jangan diamau memastikan kalau aku benar-benar datang bulan.

Eh, tapi mana mungkin, sih sampai sebegitunya?

"Memang kamu nggak penasaran bagaimana kondisi si Milah setelah kecelakaan? Menurut saksi mata dia yang melindungi tubuhmu saat itu."

Ah, iya juga, ya.

Bagaimana bisa aku sampai lupa sama badan sendiri yang entah di mana rimbanya, karena terlalu menikmati nasib mujur terbangun dalam tubuh seorang manusia setengah bidadari.

Tanpa basa-basi lagi, aku langsung beranjak bangkit dari posisi terlentang, meletakkan bungkus kuaci di atas meja depan muka TV, lalu mengangguk pelan.

"Sebentar, aku ganti baju dulu!"

Kuraih sebuah mantel bulu berbahan wol yang tergantung di lemari. Karena terbiasa membereskan dan membersihkan kamar ini, aku jadi tahu pasti letak-letak barang di sini, terutama yang berhubungan dengan Nyonya Intan.

Dari sudut mata, bisa kulihat Tuan Stevan tengah berdiri memperhatikan di ambang pintu kamar. Suara ketukan sepatu yang beradu dengan ubin sudah menjelaskan kalau dia tak suka menunggu.

Tapi ... siapa yang peduli? Sekali-sekali bikin dia kesel nggak apa-apa kali. Jangan aku aja yang sering dibikin jengkel sama kelakuannya yang semena-mena itu.

Lagian kapan lagi bisa nyoba barang-barang orang kaya, yakan? Lipen setipnya, bedak, sepatu, tas--Ya, Gusti ... ini semua nggak akan kebeli walaupun setahun aku kerja rodi.

"Yuk!"

"Kita mau ke rumah sakit bukan kondangan, Intan! Hapus lipstik merahmu!" protes Tuan Stevan sesaat setelah aku berdiri tepat di hadapannya.

"So ... why?" Aku memasang wajah tengil sembari menyengir lebar.

Bisa kulihat tangannya mengepal di sisi tubuh dengan rahang yang mengetat.

"Sejak kapan kamu suka membantah ucapanku, hah? Sepertinya otakmu benar-benar terbentur dan harus diperiksa!"

Mendengar itu aku pura-pura tuli dan memilih mengalihkan pandangan menatap adegan cicak kawin yang berada tepat di atas kepala Tuan Stevan.

"Intaaan!" Dia menyentak tanganku yang asik terulur menghitung jumlah cicak di dinding.

"Apa, sih?" Aku hanya menanggapinya dengan santai.

"Ada apa denganmu?" Geram pertanyaan itu dia lontarkan dengan gemelatuk gigi yang seolah bergesekan.

Merasa pertanyaannya sama dengan lirik lagu Peterpen Band kesukaan, aku pun berinisiatif melanjutkan.

"Ku tanya malam, dapatkah kau lihatnya perbedaan, tapi mengapa kau tak berubah ... tarik, sis, Semong--"

Plak!

Aku melongo, begitu shock sampai mulut ternganga setelah menyaksikan apa yang dilakukan lelaki jaha nam ini pada pipi mulus Nyonya Intan.

"Maaf, Intan. Aku cuma berpikir kamu kerasukan makanya berinisiatif melayangkan tamparan."

Kerasukan gundulmu, Stevan!

"Nggak sakit, 'kan?"

Pake bilang nggak sakit lagi.

Perih, Set--eh nggak boleh ngomong kasar.

Segera kutepis tangannya yang hendak mengelus pipi. "Nggak usah pegang-pegang!"

.

.

.

Bersambung.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (2)
goodnovel comment avatar
Etty Prameswari
asli baru gw baca novel yg bikin gw ngakak sendiri
goodnovel comment avatar
Nunu Nugraha nursyamsi
ngajak woii Minah as intan
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 52 (Stevan)

    Tiga hari sebelumnya ...."Jadi, dia juga nggak sadar?" Aku mengulangi ucapan Brian. Lelaki yang berbeda sembilan tahun denganku itu berjalan menghampiri dan duduk di kursi yang semula kududuki. "Ya. Tadi pagi aku berniat nyusul Mama sama Bertrand untuk datang ke Cikarang memenuhi undangan, tapi katanya akad tiba-tiba ditunda karena mempelai wanita pingsan. Sial, kenapa kakak nggak pernah bilang kalau Saeful sepupu kita dan cewek yang kakak suka dari dulu itu si Milah?" protes Brian. Alis pemuda itu berkerut dengan rahang yang mengeras. "Kenapa cuma aku yang keliatan bodoh di sini? Bahkan sejak kapan Kakak tahu kalau jiwa mereka tertukar?" tambahnya dengan nada suara tinggi yang belum berubah. Aku terdiam, dan hanya bisa menghela napas panjang.Kemarahan Brian tentu bukannya tak berdasar. Hampir sepanjang waktu sebelum hubunganku dengan Berlian maupun Intan berjalan, percakapan kami tak pernah lepas dari tipe wanita idaman juga kekagumanku pada gadis kelahiran Cikarang, tanpa pernah

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 51

    "Mulanya mungkin kamu dan aku memang saling membenci, kita juga dipersatukan dengan cara yang berbeda. Semua sikap yang kutunjukkan selama ini sebenarnya semata-mata hanya untuk menutupi perasaan sebenarnya yang sering kali kusangkal. Aku mencintaimu.""Emak bangga sama kamu.""Ahmad beruntung punya Teh Milah.""Bapak yakin kelak nasibmu bakal lebih mujur dari Mulan Jamilah."..."Haaahh ...."Sebuah kenangan-kenangan yang datang sekelebatan sontak menyentakku dari ketidaksadaran. Kukerjapkan mata beberapa kali berusaha memfokuskan pandangan yang masih terasa berkunang-kunang. Sebentar. Aku siapa? Aku di mana? Aku kenapa? Bukannya terakhir kali aku kelelep dalem bed tub setelah ehem nganu sama Bang Stip? Refleks aku bangkit dari posisi berbaring saat sadar terbangun di tempat lain yang begitu familiar. Pemandangan langit-langit dengan corak tie dye yang diukir alami oleh air hujan, kasur busa berukuran empat dengan seprai motif bunga, lemari tua warisan turun temurun yang masi

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 50 (Stevan)

    Bugh!"Kembalikan jiwa mereka, Sialan!" Aku berteriak kesetanan di hadapan tubuh Dokter Antony yang tersungkur di lantai.Dokter muda yang baru saja datang untuk memeriksa keadaan jiwa Milah dalam tubuh Intan itu langsung kuhadang di tengah jalan. Sebenarnya aku sudah curiga pada Dokter Antony sejak kecelakaan Milah dan Intan. Operasi yang seharusnya berjalan di rumah sakit justru dia lakukan di laboratorium pribadinya. Tak ada yang boleh mengunjungi mereka berdua sebelum dipindahkan kembali.Dan dengan bodohnya aku percaya begitu saja karena berpikir hal itu dilakukan demi keselamatan mereka."Maaf, Tuan. Proses transfer jiwa hanya bisa dilakukan sekali pada setiap individu. Itupun hanya bisa dilakukan pada salah satu pasien yang sudah divonis segera meninggal atau sudah usia lanjut. Kanker yang diidap Nyonya Intan sudah memasuki stadium akhir. Jadi, mustahil bila dia bisa sadar setelah mengalami keluhan kekambuhan pasca operasi sumsum tulang belakang. Ap-apalagi bila dua bulan tera

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 49 (PoV Stevan)

    "Nggak terasa, udah dua tahun berlalu kamu mengorbankan kebebasanmu, Kak. Hidup bersama dengan perempuan yang nggak kamu cinta, hingga berencana untuk menua bersama, hanya demi bisnis Papa.""Cukup, Brian! Nggak baik membahas hal yang sudah lama berlalu. Lagi pula aku mulai menikmati semuanya. Meskipun pertunangan kita awalnya tak direncanakan, tapi aku mulai menyayangi Berlian sebagai calon istri.""Lalu bagaimana dengan janinnya? Sampai kapan kamu akan merahasiakan hal itu dari mereka? Selain kita dan Berlian tak ada lagi yang tahu bahwa Berlian sedang hamil saat ini, bahkan Intan-- saudara kembarnya sendiri pun tak tahu.""Janin yang Lian kandung anakku, Brian.""Jangan membodohiku, Kak. Semua orang tahu bagaimana kehidupan bebas Lian bahkan sebelum dekat denganmu.""Kalau begitu tutup mulutmu! Simpan rahasia itu sampai kamu mati, kalau masih ingin menjadi adikku.""Termasuk rahasia tentang gadis yang lima tahun lalu kamu temui di Cikarang? Gadis barbar yang kamu bilang sikapnya h

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 48

    "Nih!" Aku mendongak menatap Brian yang tiba-tiba datang menghampiriku ke kamar membawa sepucuk surat undangan. "Undangan Milah Jamilah alias jiwa Intan dengan Saiful Bahtiar yang akan digelar besok," tambahnya seolah menjawab tanya yang tak sempat kulontarkan. "Kok, kita nggak diundang?" tanyaku saat melihat nama yang tertera di depan adalah Brian Alexander. Sudah lebih dari sebulan Brian tak datang berkunjung, ini pertama kalinya sejak terakhir dia datang ke resto. Sejak hari itu kita hanya bertegur sapa lewat pesan. Brian tampak menghela napas kasar, sebelum melontarkan kalimat yang membuatku mengernyit heran. "Kakakku di bawah, kan?" Aku mengangguk. "Ya, dia lagi nyuci dalaman." "Astaga. Seumur hidup baru kali ini aku tahu dia bersedia mencuci dalaman, apalagi punya orang." Mata Brian membelalak lebar. "Ya, siapa suruh punya abang pengeretan. Selain nggak mau ambil jasa asisten rumah tangga lagi, dia juga nggak mau keluarin duit buat laundry. Walhasil dia lakuin semua pek

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 47

    Matahari pagi menyelinap pelan ke dalam kamar, menimpa wajahku yang masih bersandar di dada Tuan Stevan. Aku belum bergerak. Hanya membiarkan detak jantungnya mengiringi langkah napasku yang kini semakin pendek dan tak teratur. Aku tahu dia belum sepenuhnya tidur. Dada bidangnya sesekali naik turun, dan tangannya masih menggenggam pinggangku erat, seperti takut aku akan menghilang begitu saja. Sialnya, itu bukan cuma ketakutan dia. Itu ketakutanku juga. Dari semalam, tubuhku mulai terasa aneh. Bukan cuma lemas atau pusing. Tapi ada rasa seperti kosong di bagian dalam... seperti ada yang mulai terlepas perlahan dari tubuh ini. Dan aku tahu, aku tak bisa ngelak lagi. Waktu 100 hari itu makin dekat. Tapi sebelum semua benar-benar berakhir, aku cuma pengin satu hal. Aku pengin bahagia. Bukan bahagia sebagai ‘nyonya rumah’, bukan juga bahagia sebagai Milah si pembantu, tapi sebagai... manusia yang akhirnya ngerasain dicintai dan mencintai balik. "Aku belum pengin bangun," bisikku ke

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 11

    Ya, begitulah bunda-bunda ... bila si kecil tak diberi ASI melainkan susu kuda liar. Akhlaknya tak tertanam, melainkan berceceran sampai-sampai mulut pun tak ikut disekolahkan. Bagaimana bisa orang yang baru siuman dengan seedak jidat dia hadapkan dengan cucian? Kesabaranku akhirnya benar-benar terk

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 10

    "Tan." "Intan." "Intan Pertiwi!" "Ape, sih?" Akhirnya kubanting tas ke atas kasur, kala mendengar Tuan Stevan tak berhenti memanggil. Sejak perdebatan di kolam tadi aku memutuskan untuk bergegas mandi, lalu bersiap pulang. Namun, sampai selesai berpakaian dan bersolek tadi, bule sompret ini masih t

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 9

    Jdug! Jdug! Jdug! Kubenturkan kepala ke dinding berharap bisa jatuh pingsan dan terbangun dalam keadaan masuk akal. Tak ada Tuan Stevan, Nyonya Intan atau situasi sialan ini. Aku hanya Milah anak Emak dan Bapak. Gadis kelahiran Cikarang yang hobi makan Kerang sambil ngehalu jadi bini Salman Khan. Su

  • Hasrat Terpendam Majikanku   Part. 8

    "Lagi apa, Bang?" "Punya mata, kan?" "Iya, tahu lagi masak telor buat sarapan." "Kalau tahu kenapa nanya?" Kupejamkan mata sesaat. Sejak kutinggal tidur semalam Tuan Stevan menjadi semakin uring-uringan, entah setan apa yang merasukinya? "Kok, cuma satu?" Dia menoleh, lalu mengerutkan kening. "Kam

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status