LOGINAku benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi, setelah terbangun di kamar majikan, yang kuingat terakhir kali adalah tabrakan yang menyebabkan tubuhku dan Nyonya Intan terkapar tak sadarkan diri.
Bagaimana bisa setelah tersadar jiwa kami tiba-tiba tertukar? Apalagi di hadapan sudah ada lelaki tampan, tapi kelakuan kayak setan yang sudah siap menerkam! Untuk sekarang tak ada yang bisa kulakukan selain kabur dari Tuan Stevan. Mengurung diri di kamar mandi, antara bingung dan frustrasi. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Lagian Tuan Stevan bener-bener kebangetan. Bini abis kecelakaan dia malah ngajak anuan. Keterlaluan. Sekarang aku sedikit paham, kenapa Nyonya Intan katakan hidup yang dia jalani tak seenak kelihatannya. Bersuamikan lelaki tampan dengan muka blasteran ditambah harta bergelimangan, ternyata itu bukan ukuran kebahagiaan. Percuma tampan kalau kelakuan macam siluman, 'kan? Sekali lagi kutampari pipi berharap ini mimpi, tapi semua tampak terlalu nyata adanya untuk ditampik sebagai sebuah fatamorgana. Jadi, faktanya ini bukan mimpi, apalagi halusinasi. Aku beneran berubah jadi Ibu Peri! Tok! Tok! Tok! Seketika aku terlonjak saat mendapati ketukan pintu yang lebih seperti gedoran itu terdengar, diikuti suara nyalang dari seberang. "Intan! Apa yang kamu lakukan di dalam? Dua hari aku merawat dan menunggumu sampai tersadar, apa ini yang kudapatkan, hah? Sebuah penolakan!" "Bentar, Tu-- eh, Sayang. Kalau kebelet banget kamu bisa pake aja sabun di laci!" Tuhan ... bagaimana lagi aku harus coba menghindar? Walaupun kenyataan dalamnya Milah Jamilah, tapi fisik yang tampak dari luar ini tetap saja Intan Permata yang cantik, putih, langsing, dan glowing. Kuempaskan bokong di atas closet yang tertutup. Sesekali memerhatikan tubuh indah yang hanya terbalut sehelai pakaian tipis. Insekyur sendiri melihat betapa sempurnanya fisik wanita ini. "Intan ...!" "Iya, oi sabar napa!" teriakku tak kalah lantang, sembari membuka pintu toilet dengan kasar. Jdug! "Aargh ...!" "Ya, maaf. Siapa suruh berdiri depan pintu?" Dia hanya meringis sembari melotot ke arahku. *** "Kamu beneran datang bulan? Jangan bohong, Intan!" Kuputar bola mata saat mendengar ocehannya sejak keluar dari kamar mandi tadi, sampai saat aku duduk di sofa panjang yang ada di ruang kamar luas ini. Memikirkan apa yang akan terjadi nanti. "Iya, kenapa? Masih nggak percaya? Mau liat!" tantangku sembari menyibak gaun tidur tipis yang dikenakan. Membuatnya sontak mengernyitkan dahi, masih dengan sesekali menguruti keningnya yang terbentur pintu tadi. "Nggak usah," sahutnya dingin. "Ya udah. Nggak usah ngeyel makanya!" Dia hanya terdiam menanggapi dengan tatapan yang sama tajam. Akhirnya setelah memutar otak memikirkan dan mencoba menyiapkan beberapa planing ke depan, untuk sementara aku punya cukup alasan untuk menghindarinya. Ya, datang bulan adalah satu dari sekian cara untuk menyakinkan suami bahwa untuk sementara istri tak boleh disentuh. Suka atau tidak, pertukaran ini tetap harus kuterima. Ketika jiwa perawan segelan yang terperangkap di dalam tubuh perempuan dewasa berumur dua puluh lima, yang bersuamikan bule gagah perkasa yang semena-mena kelakuannya. Pendek kata aku tak bisa langsung menyimpulkan bahwa akan mendapat banyak keuntungan yang diterima setelah pertukaran jiwa. Karena entah esok atau lusa siapa yang bisa menjamin nasib mujur ini akan bertahan lama. Bisa-bisa keuntungan hilang, nyawa pun melayang. Amit-amit. "Kuyakin kecelakaan itu menyebabkan otakmu terbentur, Intan!" Sejenak suara bariton itu mengalihkan pandangku dari layar yang tengah menunjukkan tayangan sinetron. "Cara bicara, gestur, bahkan sikapmu jauh berbeda dengan sosok Intan yang kukenal!" Deg! Mampus, dia sadar. "Ya, terus?" Demi menutupi rasa gugup dan tubuh yang tiba-tiba gemetar karena melihatnya berjalan menghampiri. Kucengkeram remote di tangan dengan kuat, lalu membaca ayat kursi. "Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta'khudzuhuu sinatuw walaa--" "Kamu pikir aku setan, hah?" bentaknya yang membuatku terlonjak seketika. "Ya, sejenislah." "Intan!" "Y-ya!" Kupalingkan pandangan sembari melanjutkan ayat kursi dalam hati. Tak sanggup menatapnya matanya yang demikian mengintimidasi. "Tatap mata saya!" Nggak mau, Tuan. Takut kehipnotis entar. "Tatap, Intan!" Astagfirullah .... Karena tak ada pilihan, akhirnya kualihkan pandangan pelan-pelan. Hanya butuh dua detik bersamaan dengan jantung yang sudah kasidahan, aku dibuat jatuh terpesona menatap lekat sosok Tuan Stevan dari dekat. Satu tahun bekerja dengannya baru sekarang aku bisa memperhatikannya seperti ini. Dulu mah boro-boro, natap dari radius lima meter saja aku sudah dibuat tertunduk mendengar kata-kata tajamnya. Ternyata Tuan Stevan mempunyai mata biru gelap yang sangat indah, alis tebal dan rapi, hidung tinggi macam prosotan anak TK, juga bibir yang cip*kable. Fix, semua kesempurnaan fisik seorang lelaki ada padanya. Mereka--Nyonya Intan dan Tuan Stevan benar-benar gambaran pasangan yang serasi yang sebenarnya. Lalu, aku? Si cewek kentang ini, tiba-tiba saja terperangkap dalam tubuh salah satunya-- why? Why? "Seberapa keras pun usahamu mengubah sikap untuk mengambil perhatianku. Semua itu tak berguna, Intan. Aku hanya membutuhkan tubuhmu, tapi tidak dengan jiwa sok polos yang kubenci itu!" *** "Pakai mantelmu, kita ke rumah sakit malam ini!" Suara bariton itu mengejutkanku yang sejak tadi asik ngemilin kuaci. Sudah beberapa jam berlalu sejak ucapan misteriusnya tadi, aku masih terjaga di sini. Rebahan dan leha-leha sambil nonton TV Rahasia Ilahi, mencoba mengabaikan apa yang coba dia ungkapkan tentang pandangannya terhadap sang istri. "Mau ngapain?" tanyaku penuh selidik. Jangan-jangan diamau memastikan kalau aku benar-benar datang bulan. Eh, tapi mana mungkin, sih sampai sebegitunya? "Memang kamu nggak penasaran bagaimana kondisi si Milah setelah kecelakaan? Menurut saksi mata dia yang melindungi tubuhmu saat itu." Ah, iya juga, ya. Bagaimana bisa aku sampai lupa sama badan sendiri yang entah di mana rimbanya, karena terlalu menikmati nasib mujur terbangun dalam tubuh seorang manusia setengah bidadari. Tanpa basa-basi lagi, aku langsung beranjak bangkit dari posisi terlentang, meletakkan bungkus kuaci di atas meja depan muka TV, lalu mengangguk pelan. "Sebentar, aku ganti baju dulu!" Kuraih sebuah mantel bulu berbahan wol yang tergantung di lemari. Karena terbiasa membereskan dan membersihkan kamar ini, aku jadi tahu pasti letak-letak barang di sini, terutama yang berhubungan dengan Nyonya Intan. Dari sudut mata, bisa kulihat Tuan Stevan tengah berdiri memperhatikan di ambang pintu kamar. Suara ketukan sepatu yang beradu dengan ubin sudah menjelaskan kalau dia tak suka menunggu. Tapi ... siapa yang peduli? Sekali-sekali bikin dia kesel nggak apa-apa kali. Jangan aku aja yang sering dibikin jengkel sama kelakuannya yang semena-mena itu. Lagian kapan lagi bisa nyoba barang-barang orang kaya, yakan? Lipen setipnya, bedak, sepatu, tas--Ya, Gusti ... ini semua nggak akan kebeli walaupun setahun aku kerja rodi. "Yuk!" "Kita mau ke rumah sakit bukan kondangan, Intan! Hapus lipstik merahmu!" protes Tuan Stevan sesaat setelah aku berdiri tepat di hadapannya. "So ... why?" Aku memasang wajah tengil sembari menyengir lebar. Bisa kulihat tangannya mengepal di sisi tubuh dengan rahang yang mengetat. "Sejak kapan kamu suka membantah ucapanku, hah? Sepertinya otakmu benar-benar terbentur dan harus diperiksa!" Mendengar itu aku pura-pura tuli dan memilih mengalihkan pandangan menatap adegan cicak kawin yang berada tepat di atas kepala Tuan Stevan. "Intaaan!" Dia menyentak tanganku yang asik terulur menghitung jumlah cicak di dinding. "Apa, sih?" Aku hanya menanggapinya dengan santai. "Ada apa denganmu?" Geram pertanyaan itu dia lontarkan dengan gemelatuk gigi yang seolah bergesekan. Merasa pertanyaannya sama dengan lirik lagu Peterpen Band kesukaan, aku pun berinisiatif melanjutkan. "Ku tanya malam, dapatkah kau lihatnya perbedaan, tapi mengapa kau tak berubah ... tarik, sis, Semong--" Plak! Aku melongo, begitu shock sampai mulut ternganga setelah menyaksikan apa yang dilakukan lelaki jaha nam ini pada pipi mulus Nyonya Intan. "Maaf, Intan. Aku cuma berpikir kamu kerasukan makanya berinisiatif melayangkan tamparan." Kerasukan gundulmu, Stevan! "Nggak sakit, 'kan?" Pake bilang nggak sakit lagi. Perih, Set--eh nggak boleh ngomong kasar. Segera kutepis tangannya yang hendak mengelus pipi. "Nggak usah pegang-pegang!" . . . Bersambung."Jadi istri yang baek, ya, Mil. Nurut sama suami. Kalau ada apa-apa jangan selesain pake emosi, tapi bicara dari hati ke hati," pesan Emak dengan bercucuran air mata setelah melerai pelukan kami, sebelum benar-benar melepasku untuk menempuh hidup yang baru. Aku mengangguk patuh. Menyeka air mata Emak sementara air mataku dibiarkan lolos begitu saja. "InsyaAllah, Mak. Doain kita samawa terus langgeng sampe kakek-nenek, ya. Jaga kesehatan Emak sama Bapak. Kalian boleh datang kapan aja. Rumah kita akan selalu terbuka." "Aamiin, aamiin, aamiin ...." Emak kembali menarikku dalam pelukan. Setelah selesai berpamitan pada semua keluargaku beserta keluarga Haji Yahya. Mama Laras yang menjemput sudah membunyikan klakson agar kami bergegas. Dengan berat hati akhirnya kuapit tangan Bang Stevan, lalu dadah-dadah manja pada semuanya. Sedih rasanya nggak bisa manja-manjaan lagi di pangkuan Emak, ndusel di ketek Bapak yang selalu menjadi tempat ternyaman, juga berantem dengan Ahmad cuma karena
Bicara tentang harapan dan pencapaian mungkin tak akan habis seharian kuceritakan. Lahir dalam keluarga dengan perekonomian yang rendah membuatku sejak kecil sudah menikmati asam-garamnya kehidupan. Namun, meskipun begitu aku maupun Ahmad selalu diajarkan untuk menjungjung tinggal adab dan budaya ketimuran. Sejak memutuskan untuk menginjakkan kaki di Jakarta sebagai asisten rumah tangga, tak ada tujuan lain yang kupikirkan selain cari uang dan membantu perekonomian keluarga. Sama sekali tak tercetus di dalam benak ini untuk mencari kesempatan menggoda majikan dengan tubuh yang aduhai seperti beberapa oknum pembantu muda di luar sana. Lagian, nggak ada modal juga. Udah muka seadanya, dada rata, badan pendek kecil dengan kulit yang nggak ada cerah-cerahnya. Tapi, balik lagi sama rezeki. Ternyata dari sekian populasi lelaki di Indonesia raya ini, masih ada cowok langka yang nggak mandang fisik, dan jatuh cinta hanya pada karakter seorang wanita. Tak perlu menggadaikan semua onde
"Woylah Jamileh! Bisa-bisanya lu diem-diem kawin sama produk luar tanpa ketahuan pedekatean.""Sumpah gue hampir meninggoy saat nerima undangan.""Syalan ... begimana bisa lo dapet laki model begitu, Milah? Padahal dulu anti banget sama orang tampan!"Teriakan heboh teman-teman seperjuangan saat masih duduk di bangku sekolahan, hampir memecahkan gendang telingaku hanya beberapa saat setelah siraman selesai dilakukan. Masih dengan kain jarit yang melilit di tubuh, kuseret ketiga teman sesat yang dulu mengajarkanku gimana ngambil bakwan lima tapi ngaku dua itu masuk ke belakang rumah. "Sssttt ... heboh beud, dah kalian. Heran. Dari dulu gue bukannya anti orang tampan, tapi cuma menghindari biar nggak sakit sendirian. Lagian dia nggak fure produk luar, kok. Masih turunan. Emaknya aja asli orang Cikarang Timur. Lagian cowok-cowok bule itu lebih aduhai dan lebih bisa menghargai. Susah sama orang Indo, mah, kalau mau jalin hubungan yang diliat fisiknya duluan," terangku yang membuat tiga
Oh, shit!Konspirasi macam apa lagi ini?Nggak ada hujan, nggak ada angin, setelah ngilang tanpa kepastian, tahu-tahu dia datang tanpa diundang. Jelangkung bukan, Halte Bus bukan, seenaknya aja dia jadiin hatiku sebagai tempat persinggahan.Hati? Eh, sorry maksudnya rumah. Efek sering kebaperan tuh orang bawaannya hati melulu. Maklum anak perawan yang baru ketiban lope ya begini."Duduk sini, Neng!" Bapak menepuk kursi di sisinya, saat melihatku hanya berdiri diam menatap Tuan Stevan.Aku hanya mengangguk untuk jawaban, lalu dengan tak tahu dirinya justru duduk di samping Tuan Stevan.Ya, antara percaya diri sama nggak tahu malu itu sudah menjadi sifatku sejak dulu."Ngapain Tuan ke sini? Kondangannya, kan masih dua hari lagi," cibirku sinis, padahal dalem hati kegirangan.Memang tak bisa dipungkiri. Rindu itu berat, bener kata si Dahlan.Hampir dua pekan nggak liat muka Tuan Stevan, rasanya bener-bener kelabakan. Suaranya, tatapannya, bahkan kata-kata tajamnya tanpa sadar sudah menja
"Dengan sadar diri aku tak akan memintamu untuk tak membenciku. Seberapa banyak pun kata maaf terucap kutahu hal itu tak akan cukup menebus semua kesalahan yang telah kulakukan padamu, Milah. Hari ini, terakhir kalinya aku cuma ingin meminta satu hal, tolong jangan tarik kata-katamu tentang hubungan dekat yang pernah terikat di antara kita."Aku bukanlah majikanmu lagi, Milah. Sejak pertama bertemu kamu sudah kuanggap seperti adik kandungku sama halnya seperti Berlian. Kumohon tetaplah seperti itu. Terima kasih sebanyak-banyaknya aku ucapkan khususnya padamu juga seluruh keluargamu. Seratus hari menjalani hidup sebagai dirimu entah kenapa rasanya lebih berharga daripada dua puluh lima tahun hidup yang kujalani sebagai seorang Intan."Berkatmu aku bisa melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Dari pertukaran ini juga mungkin kamu bisa belajar bahwa bulan tidaklah seindah apa yang terlihat, begitu pun hidup seorang Intan. Jadi, tetaplah bersyukur dengan apa yang kamu miliki."Kamu
Tiga hari sebelumnya ...."Jadi, dia juga nggak sadar?" Aku mengulangi ucapan Brian. Lelaki yang berbeda sembilan tahun denganku itu berjalan menghampiri dan duduk di kursi yang semula kududuki. "Ya. Tadi pagi aku berniat nyusul Mama sama Bertrand untuk datang ke Cikarang memenuhi undangan, tapi katanya akad tiba-tiba ditunda karena mempelai wanita pingsan. Sial, kenapa kakak nggak pernah bilang kalau Saeful sepupu kita dan cewek yang kakak suka dari dulu itu si Milah?" protes Brian. Alis pemuda itu berkerut dengan rahang yang mengeras. "Kenapa cuma aku yang keliatan bodoh di sini? Bahkan sejak kapan Kakak tahu kalau jiwa mereka tertukar?" tambahnya dengan nada suara tinggi yang belum berubah. Aku terdiam, dan hanya bisa menghela napas panjang.Kemarahan Brian tentu bukannya tak berdasar. Hampir sepanjang waktu sebelum hubunganku dengan Berlian maupun Intan berjalan, percakapan kami tak pernah lepas dari tipe wanita idaman juga kekagumanku pada gadis kelahiran Cikarang, tanpa pernah
Setelah menempuh kurang lebih satu setengah jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Cikarang-Bekasi. Karena halaman rumahku yang sempit terpaksa kami meminta izin untuk memarkir mobil di depan ruko Pak RT, lalu berjalan menuju rumah. Melalui ponsel Nyonya Intan tadi, aku sudah mengatakan pada Emak
"Nya ...."Di ambang pintu kamar aku melihat Nyonya Intan mengemasi barang-barangku ke dalam tas berukuran besar. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, sungguh aku tak mengerti. Demi Tuhan selama setahun terakhir aku tak pernah sekali pun melihatnya sampai semarah ini pada Tuan Stevan bahkan saa
Sejak obrolan dengan Tuan Stevan di ruang keluarga tempo hari, kudapati Nyonya Intan menjadi lebih pendiam. Tak ada lagi canda atau kekehan tawa bahkan setelah mati-matian kuajak becanda. Sikap Tuan Stevan juga tak jauh berbeda. Entah kesambet setan dari alam mana dia mendadak cool dan nggak bany
"Kita ngobrol dekat kolam, biar Stevan nggak dengar." Tepat ketika sampai di pelataran, Nyonya Intan langsung menarik tanganku menuju belakang rumah. Mengabaikan Tuan Stevan yang hanya bisa memerhatikan kami dari kejauhan dengan tatapan tajam yang menghunjam. Melihat responsnya barusan, kegelisahan







