LOGIN
"Milah ...!"
Bergegas aku lari tergopoh-gopoh dari dapur menuju ruang makan, kala panggilan yang lebih nyaring dari toa masjid itu terdengar. Kenapa demikian? Karena kalau telat dua detik saja, piring dan sendok yang tak bersalah akan jadi sasarannnya. "Iya, Tuan." Di samping meja berbentuk persegi panjang dengan kursi yang muat menampung sepuluh orang itu aku berdiri, tertunduk dalam memperhatikan ubin yang dipijak, kadang menghitung setiap sisinya kala diri mulai dilanda bosan mendengar ocehan majikan. "Saya, kan sudah bilang berkali-kali kalau masak itu ikat rambutmu. Lihat sekarang! Rambut menjijikan ini tercecer di dalam kuah opor. Mana saya nggak yakin kamu keramas rutin lagi." Tuan Stevan-- nama majikanku sudah memulai omelannya secepat Mak-Emak uber barang diskonan. Perlahan aku mendongak. "Tap-tapi, Tu--" "Jangan tatap wajah saya. Kamu nggak pantas melihatnya. Menunduk lagi!" Ya, Gusti .... "Lah, kalau saya nunduk gimana bisa mastiin kalau yang Tuan sodorin itu beneran rambut atau jem--" "Nggak usah nyela!" Astagfirullah, Tuhan ... mungkin ini yang dinamakan paras surgawi tapi kelakuan tak manusiawi. Dan anehnya kenapa aku bisa tahan sampai setahun lagi. Sabar, Mil. Kadang betah itu kalah sama butuh. Duit emang bukan everything, tapi everything butuh duit. Nggak ada duit nggak ada masa depan. Itu kuncinya. "Udahlah, Sayang. Wajar kalau Milah keteteran. Dia melakukan semua hal sendiri di rumah besar ini." Wanita cantik yang duduk berhadapan dengan lelaki ja hanam itu menyela. Aku bersyukur setidaknya selain iblis berwujud malaikat di rumah ini juga ada sosok penyeimbang yaitu Ibu Peri Intan--istri Tuan Stevan. Lain dengan suaminya yang kelakukannya udah macam mantan, sama seperti namanya-- Nyonya Intan justru ramah kebangetan. Dia cenderung pendiam dan penurut sama lakinya yang nggak ada akhlak dan semena-mena ini. Setahun sejak mulai kerja di rumah yang lebih gede dari kantor kecamatan ini. Cuma Nyonya Intan yang paling mengerti diriku. Kadang kalau suaminya telat pulang dia yang bantu beres-beres atau siapin makan. "Kan semua pekerjaannya itu sebanding sama gajinya, Intan!" Nah, nah, dia mulai dengan jurus andalan. Ya, memang, sih. Walaupun pekerjaanku udah kayak Rodi di zaman Belanda dengan majikan blasteran bule Bojong Soang. Setidaknya dia kasih gaji yang sebanding. Itulah yang membuatku bertahan sampai sekarang tanpa ngeluh minta pulang ke Emak di Cikarang. "Tapi setidaknya, kan kamu bisa cari jasa koki buat bantu-bantu Milah. Kasian. Dia ngerjain semuanya sendiri." Alapyu Nyonyah. Kapan-kapan Anda akan saya nobatkan sebagai majikan of the year. "Terus apa gunanya kamu!" Ebusyet. Sumpah bagian sini aku terperangah kaget. Sama bini yang cakepnya masyaAllah aja dia begitu. "Si Milah aja udah cukup. Lagian nambah lagi pembantu cuma bikin pengeluaran tambah banyak. Kamu yang kerjanya cuma ngabisin duit tahu apa?" Oemjih. Zolim sekali kau jadi laki, Bang. Sumpah baru kali ini aku denger mereka berantem depan muka sendiri. Biasanya mereka berantem di kamar. Tuan Stevan teriak-teriak sampai beberapa menit, abis itu yang kedengeran cuma suara derit ranjang. Au dah mereka ngapain. Fix, dua anak ini adalah korban kawin paksa. Pokoknya tidak diragukan lagi. Mereka dijodohkan. Orang selama setahun ini aku nggak pernah lihat keduanya mesra-mesraan kecuali pas ada Tuan besar alias Bapaknya Nyonya Intan. "Kamu bisa balik lagi ke belakang, Mil. Yang ini biar saya bereskan." Setelah semua yang terjadi aku masih bisa melihat Nyonya Intan tersenyum. Namun, tetap saja. Mata tak bisa bohong, sepertinya dia tertekan. "Nggak! Saya belum selesai. Milah tetap di sini!" Seketika gerakanku yang baru saja hendak beranjak, terhenti, lalu kembali berdiri di tempat semula. Bisa kulihat Nyonya Intan menghela napas panjang, setelah itu dia bangkit dari posisi duduk. "Stev!" Nahloh kagak dipanggil sayang lagi. "Kenapa kamu selalu melampiaskan amarah pada Milah? Kamu ingin membentakku, kan? Lakukan! Aku sudah terbiasa dengan caci makimu. Perkara sehelai rambut saja dibesar-besarkan. Kalau memang keberatan kita bisa pergi ke restoran sekarang. Aku yang bayar!" Bisa kulihat Tuan Stevan diam terbungkam. Lelaki berkulit putih itu tampak mengepalkan tangan. Aih, baru nyaho dia marahnya cewek pendiam itu macam apa. Mati kutu pan lu. Lagian jadi laki, kok sempurna banget lucnutnya. Udah kikir, galak, pemilih, dan suombong nauzubillah. Yang terselamatkan dari dirinya itu cuma cakep sama tajir. Kalian bayangin aja setiap hari dia cuma kasih uang belanja lima puluh rebu tapi kepengen makan macem-macem. Lama-lama aku masakin endomi all varian aja dah. Brak! Astagfirullah. Aku memegangi dada sawan, melihat meja yang tak berdosa, Tuan Stevan jadikan pelampiasan. Setelah itu dia berlalu sembari menyambar jas dan kunci mobilnya di meja. Meninggalkan Nyonya Intan yang diam terpaku sembari menangkup wajah. Sementara aku, aku .... Aku kenapa? *** Lahir di Cikarang sembilan belas tahun silam dengan perekonomian yang pas-pasan ... Milah Jamilah adalah nama kebanggan yang Bapak berikan agar kelak aku bisa menjadi anak yang membanggakan dan sukses dunia akhirat. Namun, faktanya setelah lulus SMA nasibku justru tak semulus Mulan Jamilah yang terlahir sebagai makhluk Tuhan paling seksi yang bersuamikan musisi, aku justru terlahir sebagai makhluk Tuhan paling absurd. Dengan modal nekad, setahun lalu aku merantau ke Jakarta untuk cari kerja dan memperbaiki nasib. Namun, nahasnya aku malah nyasar plus kerampokan. Sempurna sekali kemalangan ini, bukan? Tak cukup sampai di situ, pertemuan dengan Tuan Stevan karena tragedi nyolong bakwan akibat kelaperan pun menjadi satu dari sekian takdir Tuhan yang harus kuterima. Ya, setidaknya. Selain dapat makan dan tempat tinggal aku juga digaji tiap bulan, walaupun pekerjaanku lebih sering jadi pelampiasan. "Mil ...!" "Ah, iya, Nya?" Suara lembut itu seketika menarikku dari lamunan. Setengah jam sepeninggal Tuan Stevan-- masih di tempat yang sama aku melihat Nyonya Intan duduk di sisi meja makan sembari menatap kosong ke depan. Ah, rupanya hidup orang kaya itu tak selalu menyenangkan. Nyonya Intan contohnya. Walaupun cantik, langsing putih, dan glowing dia tetep saja disakitin. "Bisa antar saya ke klinik?" Aku mengangguk mantap, lalu berjalan menghampirinya. "Bisa, bisa, Nyonya. Kita naik taksi, kan?" Nyonya Intan menggeleng pelan. "Naik mobil saja, Mil. Saya masih kuat nyetir, kok. Lagian Pak Halim sedang cuti, 'kan?" Aku mengangguk mengiyakan. "Ya udah, saya bawa dulu sweater sama dompet Nyonya, ya." Nyonya Intan hanya menanggapinya dengan anggukan. Beberapa menit mempersiapkan, setelah kembali aku sudah melihat mobil terparkir di depan pelataran dan Nyonya Intan terlihat sudah duduk di balik kemudi. Setelah memastikan pintu terkunci, listrik tak menyala dan alarm berfungsi sempurna. Bergegas aku menyusulnya dan duduk di kursi penumpang. "Nyonya beneran bisa nyetir? Tapi keliatannya pucet banget, loh." Aku memulai percakapan di tengah perjalanan menuju klinik. Kulihat wanita jelmaan Ibu Peri ini hanya terdiam sepanjang perjalanan. "Kuat, kok, Mil. Saya cuma kurang enak badan aja akhir-akhir ini." "Mual sama pusing nggak, Nya?" "Sedikit." Mendengar itu seketika pikiranku melayang. "Ah, jangan-jangan Nyonya hamil!" terkaku seketika. Sumpah aku nggak bisa ngebayangin gimana bentukannya anak mereka nanti. Orang Emak-Bapaknya aja blasteran makhluk khayangan. "Ah, nggak mungkin kayaknya." Senyum kecut tampak tersungging di bibir Nyonya Intan. "Kenapa? Wajar, kok suami istri yang masih anget-angetnya punya anak," sahutku kemudian. "Dia tak menginginkannya, Mil. Apalagi kalau benihnya terlahir dari rahim saya." Loh, kok? "Eh, bentar. Maaf kalau saya agak kurang ajar, ya, Nya. Anu ... apa, kalian nggak bahagia? Tapi, kalau iya apa yang kurang?" "Perasaan itu tak bisa diukur dari apa yang orang lihat atau miliki, Milah. Tapi, kebahagiaan itu dirasakan tanpa disadari, itu baru namanya kebahagiaan yang sesungguhnya." Aku terdiam seketika. Sebenarnya apa yang disembunyikan dari senyum wanita cantik ini sebenarnya? "Seandainya bisa ... aku ingin rasanya sebentar saja kita bertukar nasib." Cetar! Seketika aku terperanjat saat mendengar bunyi petir di siang bolong seperti ini. Nggak ada angin nggak ada hujan nggak ada ojek, eh. Tiba-tiba ada petir. Kan horor. "Saya ingin merasakan bagaimana hidup menjadi orang biasa sepertimu." Blarr! Kali ini aku benar-benar terlonjak sampai menaikan kedua kaki ke atas jok mobil. Suara guntur itu benar-benar nyaring dan memekakkan telinga. Kutolehkan kepala menatap Nyonya Intan yang pandangannya tampak lurus ke depan. Apakah dia juga sawan? Entah. Mari kita tanyakan. "Nya! Nyonya!" Kuguncang tubuhnya pelan, tapi wanita ini tetap bergeming. "Nyonya awasss ...!" Bergegas aku menarik seat belt sampai terlepas, lalu memeluk tubuh Nyonya Intan. Tin ... Tin ... Tinn .... Bersamaan dengan teriakan, sebuah mini bus yang berjalan dari arah yang berlawan hendak menghadang mobil yang kami tumpangi. Sebuah cahaya yang menyilaukan tiba-tiba terlihat. Sebelum semua benar-benar gelap, sempat terdengar bunyi keras yang bertabrakan. Aku pun kehilangan kesadaran. *** Aku terbangun di sebuah ruangan luas dengan cat berwarna putih bersih. Sebuah selimut hangat dan wangi dengan kasur empuk seolah menemani istirahat panjangku ini. Rasanya bugar, tak ada rasa pegal atau memar seperti biasa dirasakan korban tabrakan. Aku seolah baru saja terbangun dalam wujud yang baru. Sebentar? Ini di mana? Perasaan kamarku nggak kayak gini. Selimut juga wangi nggak bau jigong. Apa aku sudah mati? Ini surga? "Akhirnya sadar juga? Dua hari aku menunggumu." Aku terperanjat seketika saat melihat siapa orang yang berdiri di hadapan saat ini. "Tuan Stevan. Ngapain Anda nungguin saya? Kalau mau makan, kan tinggal nge-gopud." Lelaki tampan tapi kelakuan kayak siluman itu tiba-tiba mengernyitkan dahi. Dia merangkak naik ke atas ranjang, lalu menempelkan punggung tangannya di dahiku. "Kondisi tubuhmu baik-baik saja? Atau ada yang salah dengan otakmu?" Yang bermasalah itu otak situ, Tuan. Ngapa nungguin pembantu sampe ke kamar cuma karena kepengen makan. Manja banget dah. Eh, ngomong-ngomong Nyonya Intan ke mana? "Oke, diammu aku anggap sebagai jawaban. Karena hanya otakmu yang bermasalah, kurasa tubuhmu tak apa-apa. Berati kau bisa melakukannya." Eh, bentar. Melakukan apa maksudnya? "Lepaskan pakaianmu sekarang!" Seketika mataku terbelalak. Sembari beringsut mundur kututupi tubuh dengan selimut. "Mohon maaf, Tuan. Saya cuma jual jasa tenaga, bukan jual diri. Kalau Tuan emang kurang jatah bisa minta baek-baek sama Nyonya Intan, jangan cari pelarian, ya!" "Apa maksudmu, Intan?" Lah, ini mah bukan Intan, Bang. Tapi ketan. Eh, sebentar. Apa dia bilang? Intan? Ya Tuhan. Jangan bilang .... "Intan kamu dengar saya, ka--" Sebelum sempat dia melanjutkan kalimat, aku sudah lebih dulu loncat dari ranjang, dan berlari menghampiri cermin. Menatap pantulan diri di dalam sana tak kutemukan sosok gadis berkulit sawo matang dengan rambut ikal gantung dan wajah bulat. Yang terlihat justru manusia setengah bidadari yang tak lain tubuh sang majikan Ibu Peri! "HUAAA ... APA INI?" . . . . Bersambung."Jadi istri yang baek, ya, Mil. Nurut sama suami. Kalau ada apa-apa jangan selesain pake emosi, tapi bicara dari hati ke hati," pesan Emak dengan bercucuran air mata setelah melerai pelukan kami, sebelum benar-benar melepasku untuk menempuh hidup yang baru. Aku mengangguk patuh. Menyeka air mata Emak sementara air mataku dibiarkan lolos begitu saja. "InsyaAllah, Mak. Doain kita samawa terus langgeng sampe kakek-nenek, ya. Jaga kesehatan Emak sama Bapak. Kalian boleh datang kapan aja. Rumah kita akan selalu terbuka." "Aamiin, aamiin, aamiin ...." Emak kembali menarikku dalam pelukan. Setelah selesai berpamitan pada semua keluargaku beserta keluarga Haji Yahya. Mama Laras yang menjemput sudah membunyikan klakson agar kami bergegas. Dengan berat hati akhirnya kuapit tangan Bang Stevan, lalu dadah-dadah manja pada semuanya. Sedih rasanya nggak bisa manja-manjaan lagi di pangkuan Emak, ndusel di ketek Bapak yang selalu menjadi tempat ternyaman, juga berantem dengan Ahmad cuma karena
Bicara tentang harapan dan pencapaian mungkin tak akan habis seharian kuceritakan. Lahir dalam keluarga dengan perekonomian yang rendah membuatku sejak kecil sudah menikmati asam-garamnya kehidupan. Namun, meskipun begitu aku maupun Ahmad selalu diajarkan untuk menjungjung tinggal adab dan budaya ketimuran. Sejak memutuskan untuk menginjakkan kaki di Jakarta sebagai asisten rumah tangga, tak ada tujuan lain yang kupikirkan selain cari uang dan membantu perekonomian keluarga. Sama sekali tak tercetus di dalam benak ini untuk mencari kesempatan menggoda majikan dengan tubuh yang aduhai seperti beberapa oknum pembantu muda di luar sana. Lagian, nggak ada modal juga. Udah muka seadanya, dada rata, badan pendek kecil dengan kulit yang nggak ada cerah-cerahnya. Tapi, balik lagi sama rezeki. Ternyata dari sekian populasi lelaki di Indonesia raya ini, masih ada cowok langka yang nggak mandang fisik, dan jatuh cinta hanya pada karakter seorang wanita. Tak perlu menggadaikan semua onde
"Woylah Jamileh! Bisa-bisanya lu diem-diem kawin sama produk luar tanpa ketahuan pedekatean.""Sumpah gue hampir meninggoy saat nerima undangan.""Syalan ... begimana bisa lo dapet laki model begitu, Milah? Padahal dulu anti banget sama orang tampan!"Teriakan heboh teman-teman seperjuangan saat masih duduk di bangku sekolahan, hampir memecahkan gendang telingaku hanya beberapa saat setelah siraman selesai dilakukan. Masih dengan kain jarit yang melilit di tubuh, kuseret ketiga teman sesat yang dulu mengajarkanku gimana ngambil bakwan lima tapi ngaku dua itu masuk ke belakang rumah. "Sssttt ... heboh beud, dah kalian. Heran. Dari dulu gue bukannya anti orang tampan, tapi cuma menghindari biar nggak sakit sendirian. Lagian dia nggak fure produk luar, kok. Masih turunan. Emaknya aja asli orang Cikarang Timur. Lagian cowok-cowok bule itu lebih aduhai dan lebih bisa menghargai. Susah sama orang Indo, mah, kalau mau jalin hubungan yang diliat fisiknya duluan," terangku yang membuat tiga
Oh, shit!Konspirasi macam apa lagi ini?Nggak ada hujan, nggak ada angin, setelah ngilang tanpa kepastian, tahu-tahu dia datang tanpa diundang. Jelangkung bukan, Halte Bus bukan, seenaknya aja dia jadiin hatiku sebagai tempat persinggahan.Hati? Eh, sorry maksudnya rumah. Efek sering kebaperan tuh orang bawaannya hati melulu. Maklum anak perawan yang baru ketiban lope ya begini."Duduk sini, Neng!" Bapak menepuk kursi di sisinya, saat melihatku hanya berdiri diam menatap Tuan Stevan.Aku hanya mengangguk untuk jawaban, lalu dengan tak tahu dirinya justru duduk di samping Tuan Stevan.Ya, antara percaya diri sama nggak tahu malu itu sudah menjadi sifatku sejak dulu."Ngapain Tuan ke sini? Kondangannya, kan masih dua hari lagi," cibirku sinis, padahal dalem hati kegirangan.Memang tak bisa dipungkiri. Rindu itu berat, bener kata si Dahlan.Hampir dua pekan nggak liat muka Tuan Stevan, rasanya bener-bener kelabakan. Suaranya, tatapannya, bahkan kata-kata tajamnya tanpa sadar sudah menja
"Dengan sadar diri aku tak akan memintamu untuk tak membenciku. Seberapa banyak pun kata maaf terucap kutahu hal itu tak akan cukup menebus semua kesalahan yang telah kulakukan padamu, Milah. Hari ini, terakhir kalinya aku cuma ingin meminta satu hal, tolong jangan tarik kata-katamu tentang hubungan dekat yang pernah terikat di antara kita."Aku bukanlah majikanmu lagi, Milah. Sejak pertama bertemu kamu sudah kuanggap seperti adik kandungku sama halnya seperti Berlian. Kumohon tetaplah seperti itu. Terima kasih sebanyak-banyaknya aku ucapkan khususnya padamu juga seluruh keluargamu. Seratus hari menjalani hidup sebagai dirimu entah kenapa rasanya lebih berharga daripada dua puluh lima tahun hidup yang kujalani sebagai seorang Intan."Berkatmu aku bisa melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Dari pertukaran ini juga mungkin kamu bisa belajar bahwa bulan tidaklah seindah apa yang terlihat, begitu pun hidup seorang Intan. Jadi, tetaplah bersyukur dengan apa yang kamu miliki."Kamu
Tiga hari sebelumnya ...."Jadi, dia juga nggak sadar?" Aku mengulangi ucapan Brian. Lelaki yang berbeda sembilan tahun denganku itu berjalan menghampiri dan duduk di kursi yang semula kududuki. "Ya. Tadi pagi aku berniat nyusul Mama sama Bertrand untuk datang ke Cikarang memenuhi undangan, tapi katanya akad tiba-tiba ditunda karena mempelai wanita pingsan. Sial, kenapa kakak nggak pernah bilang kalau Saeful sepupu kita dan cewek yang kakak suka dari dulu itu si Milah?" protes Brian. Alis pemuda itu berkerut dengan rahang yang mengeras. "Kenapa cuma aku yang keliatan bodoh di sini? Bahkan sejak kapan Kakak tahu kalau jiwa mereka tertukar?" tambahnya dengan nada suara tinggi yang belum berubah. Aku terdiam, dan hanya bisa menghela napas panjang.Kemarahan Brian tentu bukannya tak berdasar. Hampir sepanjang waktu sebelum hubunganku dengan Berlian maupun Intan berjalan, percakapan kami tak pernah lepas dari tipe wanita idaman juga kekagumanku pada gadis kelahiran Cikarang, tanpa pernah
Matahari pagi menyelinap pelan ke dalam kamar, menimpa wajahku yang masih bersandar di dada Tuan Stevan. Aku belum bergerak. Hanya membiarkan detak jantungnya mengiringi langkah napasku yang kini semakin pendek dan tak teratur. Aku tahu dia belum sepenuhnya tidur. Dada bidangnya sesekali naik turu
"Udah dapet kabar tentang Milah? Kok akhir-akhir ini dia susah dihubungin, yak?" Aku bertanya pada Tuan Stevan yang baru saja masuk ke ruang kamar dengan segelas air putih di tangan. Lelaki itu menggeleng pelan, lalu meletakkan gelas tersebut di atas meja di hadapan, kemudian duduk di sampingku dala
Emak terdiam. Aku tak tahu apa yang beliau pikirkan saat ini. Tatapannya beralih ke arah lain."Oh, ya udah atuh." Emak meraih remote di atas meja yang kubeli sekitar dua minggu lalu satu set dengan kursi dan rak TV. "Tapi kamu udah pastiin undang mereka nanti, kan?" sambungnya kemudian." .... "Aku t
"Neng, Milah! Hei, kok ngelamun?"Sebuah tepukan pelan, seketika menarikku dari lamunan masa lampau. Keping demi keping kenangan yang semula datang sekelebatan, tiba-tiba tersusun kembali menjadi satu ingatan yang utuh, hingga mengakibatkan nyeri di ulu hati.Perjalanan hidup selama dua puluh lima tah







