MasukMobil yang dikemudikan Adrian melambat tepat di depan lobi gedung PT. Fast Track Logistic. Olivia melepaskan seatbelt, tubuhnya condong sedikit ke kanan. Ia mengecup pipi Adrian dengan lembut.“Makasih, Pak Suami,” katanya sambil tersenyum. “Hati-hati ya. Kabari aku kalau udah sampai Solaire.”Adrian tertawa kecil, meraih tangan Olivia dan mengecup punggungnya. “Siap, Sayang. Happy working, Nyonya Adrian.”Olivia membuka pintu, turun dengan langkah ringan sambil membawa paperbag berisi oleh-oleh. Ia melambaikan tangan sekali lagi sebelum mobil itu kembali melaju.Begitu melangkah masuk ke lobi, Rayhan, dengan tas selempang menggantung di bahu, mengangkat tangan tinggi-tinggi.“Hai, Via!” godanya nyaring. “Pengantin baru, gimana bulan madunya?”Olivia tersenyum sambil mempercepat langkah. “Menyenangkan,” jawabnya singkat, lalu menoleh dengan senyum nakal. “Kamu kapan nyusul? Buruan cari perempuan baik-baik, Ray.”Rayhan terkekeh, ikut berjalan di sampingnya melewati pemeriksaan keamana
Olivia terbangun oleh dentuman petir yang memecah langit, begitu dekat hingga kaca jendela bergetar pelan. Matanya langsung terbuka, napasnya tercekat sesaat sebelum ia sadar ada lengan yang melingkar erat di pinggangnya. Lengan itu milik Adrian. Kehangatan tubuh suaminya membuat jantungnya perlahan tenang. “Ya Tuhan,” bisiknya lirih, suara hujan seperti tumpah dari langit. “Deres banget. Pantes petirnya serem.” Olivia mengangkat tangan Adrian dengan hati-hati, melepaskan diri pelan-pelan agar tak membangunkannya. Ia turun dari tempat tidur, melangkah mendekat ke jendela. Tirai tipis tersibak sedikit, memperlihatkan kilatan cahaya putih yang membelah langit pagi. “Kenapa, Sayang?” suara Adrian terdengar serak dari atas ranjang. Matanya menyipit, mengikuti siluet Olivia. Olivia menoleh, senyum kecil mengembang. Ia kembali mendekat, naik ke ranjang, lalu merebahkan diri kembali di samping Adrian. “Aku cuma mau nutup tirai. Tadi petirnya kelihatan jelas banget. Serem.” “Oh…” Adrian
Adrian menata pakaian mereka satu per satu ke dalam koper yang terbuka di atas ranjang. Kaosnya dilipat rapi, celana disusun sejajar, lalu gaun Olivia ia ratakan pelan. Bulan madu yang manis terasa seperti baru dimulai, padahal koper sudah kembali terbuka dan siap menelan kenangan. Dari balik pintu kamar mandi, terdengar suara air berhenti. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Aroma sabun bercampur uap hangat menyusup ke kamar. “Udah kamu rapihin pakaian kita, Mas?” suara Olivia muncul lebih dulu, lembut. Ia berdiri di ambang pintu, rambutnya basah dan dibalut handuk kecil. Tetesan air masih jatuh ke lantai saat ia melangkah masuk. “Udah, meringankan tugas istri,” jawab Adrian tanpa menoleh. Olivia tersenyum. Ia berjalan mendekat, lalu tanpa banyak kata, duduk di pangkuan Adrian. Berat tubuhnya ringan, tapi kehadirannya langsung memenuhi ruang. “Sweet banget suami aku,” ujarnya sambil menyenderkan kepala sebentar. Adrian tertawa pelan. Tangannya refleks melingkar di p
Adrian melajukan mobilnya perlahan menuju Puncak, menembus jalanan hijau yang berliku. Di kursi depan sedan itu, dua hati yang baru sehari disatukan dalam pernikahan menikmati perjalanan pertama mereka sebagai suami istri. “Mas, habis dari Puncak, ada rencana ke tempat lain?” tanya Olivia. Adrian menoleh sekilas, lalu meraih tangan Olivia dan meletakkannya di depan dadanya. “Sejauh ini belum ada, Sayang. Kamu masih pengen jalan-jalan?” “Pengen sih, tapi aku cuma cuti satu minggu, Mas,” jawab Olivia. Adrian tersenyum hangat. “Lain kali kita atur waktu, ya.” “Iya, Mas. Tempat yang lebih jauh, gimana? Aku mau ke Nusa Penida,” bisik Olivia. “Boleh. Aku juga pengen banget ke sana.” “Asiiik! Nanti aku coba cari tahu trip ke sana.” Mereka terus berbincang ringan sepanjang perjalanan. Udara cerah meski langit Bogor sempat meneteskan gerimis di atas kaca mobil Adrian. Tak lama, mobil yang membawa mereka akhirnya melambat, lalu berhenti mulus di depan sebuah bangunan kecil yang tersemb
Olivia terbangun perlahan, bukan oleh suara atau cahaya, melainkan oleh sensasi lembut yang menyusup di sela tidurnya. Hembusan napas hangat menyentuh kulit, disusul kecupan ringan di pundaknya yang terbuka. Ia meremang, jari-jarinya refleks mencengkeram seprai.“Eungh…” lenguhnya lirih, kelopak matanya bergetar.Ia membuka mata pelan dan mendapati Adrian sedang mencium lembut pundaknya yang terbuka. Tatapannya hangat, bibirnya masih menyisakan senyum kecil seolah ia baru saja melakukan sesuatu yang sangat ia nikmati.Tatapan mereka bertemu, "Apa aku membangunkanmu?"“Iya, Mas.”Adrian tertawa pelan. “Maaf … aku nggak bisa menahan diri.”Tangannya melingkar di pinggang Olivia, menarik tubuh itu lebih dekat ke dadanya. Pelukan Adrian terasa kokoh, menenangkan, membuat Olivia kembali ingin menutup mata.“Ciuman kamu bikin aku kegelian, Mas,” gumamnya, wajahnya bersandar di dada Adrian.“Tidur lagi,” bisik Adrian sambil mengusap rambut Olivia dengan gerakan yang sabar, nyaris protektif.
Olivia menaruh air putih yang disiapkan Adrian setelah dia selesai mengisi perutnya. Rasa nyaman segera menjalar setelah perutnya kosong sejak resepsi pernikahannya siang tadi.Olivia mengeratkan tali handuk kimononya kemudian bergerak ke depan wastafel untuk mencuci tangan sementara suaminya merapikan meja makan di depan sofa.Ketika Olivia keluar dari kamar mandi, Adrian yang juga terbalut handuk kimono, berdiri di tepi jacuzzi sambil memutar tombol air. Seketika suara gemericik air memenuhi kamar. Olivia menelan salivanya, sebentar lagi momen panas akan dia lalui bersama suaminya."Kenapa, Sayang?" Adrian menoleh dengan tatapan penasaran saat melihat Olivia gugup."Eh, e-enggak, Mas," jawab Olivia, suaranya terdengar ragu.Adrian tersenyum tipis, menggoda. "Pengen buru-buru ya?""Kata siapa?""Aku barusan. Pasti kamu habis ini nggak mau buka handuk," ledek Adrian.Merasa tertantang, Olivia tersenyum samar dan membuka handuk kimononya. Dia mendekat dengan langkah yang dibuat menggod







