Share

Bab 8

Author: Eternity
Luca melaju kembali ke kediaman Brahmani secepat mungkin. Di ruang tamu, Nisya duduk di sofa dengan mata memerah. Satrio berdiri di dekat perapian dengan cerutu yang sudah habis terbakar, tetapi tak pernah diisap.

Di atas meja kopi tergeletak setumpuk dokumen. Luca hampir menerjangnya. Di halaman pertama, tulisan itu tampak jelas.

[ Permohonan Pembubaran Pernikahan. ]

Aku tidak meminta apa pun. Tidak ada harta Keluarga Brahmani. Tidak ada aset pernikahan. Tidak ada perhiasan. Tidak ada saham. Ti
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hatinya Memohon, Tangannya Merusak   Bab 10

    Tiga bulan setelah kembali ke Neyark, akhirnya aku terbiasa menjalani hidup tanpa Luca.Kantorku yang baru terletak di sebuah gedung tinggi di Mahatan, dengan pemandangan sungai yang terbentang luas dari jendelanya. Pekerjaanku di cabang Perusahaan Pelayaran Aurelia di Neyark pun membuatku begitu sibuk hingga aku tak punya waktu untuk terus mengorek luka lama.Aku belajar menyetir sendiri, menegosiasikan kontrak sendiri, dan menghadiri jamuan makan tanpa perlu memeriksa ekspresi seseorang terlebih dahulu.Tak ada lagi yang mempermalukanku di depan banyak orang. Tak ada lagi yang menjebakku di antara kata-kata kejam dan perasaan yang lembut.Kadang-kadang Nisya mengirimkan manisan dari Kota Chicandi. Surat-suratnya singkat dan terkesan menjaga jarak, hanya menanyakan apakah aku baik-baik saja.Luca tidak pernah menggangguku. Dia hanya mengirim satu dokumen melalui pengacaranya yang menyatakan bahwa dia membebaskanku dari utang 450 miliar, dengan sebuah catatan pendek yang disertakan.[

  • Hatinya Memohon, Tangannya Merusak   Bab 9

    Tanggal satu bulan berikutnya, aku kembali ke Kota Chicandi.Luca yang mengenakan mantel hitam sudah menungguku di tangga luar balai kota.Bahu laki-laki itu masih tegap seperti biasa, tetapi wajahnya pucat, dengan lingkar hitam pekat di bawah mata.Saat melihatku, seberkas cahaya melintas di matanya, tetapi dia langsung menyembunyikannya."Sudah lama nggak ketemu."Aku mengangguk. "Iya, sudah lama ya."Keheningan di antara kami terasa seperti pengakuan bahwa semuanya telah berakhir.Aku memberi isyarat ke arah pintu. "Ayo masuk."Luca menundukkan pandangan. "Oke."Prosesnya sangat cepat. Tanda tangan, konfirmasi, lalu stempel.Sepuluh tahun pernikahan telah resmi diakhiri oleh beberapa lembar kertas.Saat kami keluar, salju tipis mulai turun di atas Kota Chicandi. Aku memasukkan berkas perceraian ke dalam tas dan hendak pergi ketika Luca memanggilku."Vivian." Dia menyebut namaku dengan pelan, seolah-olah takut membuatku terkejut.Aku menoleh.Kemudian, dia mengeluarkan sebuah kotak b

  • Hatinya Memohon, Tangannya Merusak   Bab 8

    Luca melaju kembali ke kediaman Brahmani secepat mungkin. Di ruang tamu, Nisya duduk di sofa dengan mata memerah. Satrio berdiri di dekat perapian dengan cerutu yang sudah habis terbakar, tetapi tak pernah diisap.Di atas meja kopi tergeletak setumpuk dokumen. Luca hampir menerjangnya. Di halaman pertama, tulisan itu tampak jelas.[ Permohonan Pembubaran Pernikahan. ]Aku tidak meminta apa pun. Tidak ada harta Keluarga Brahmani. Tidak ada aset pernikahan. Tidak ada perhiasan. Tidak ada saham. Tidak ada tunjangan.Karena gelang zamrud itu bernilai 450 miliar, aku setuju melepaskan seluruh harta bersama sebagai gantinya. Yang kuminta hanyalah satu tanda tangan darinya.Setiap kata ditulis dengan tenang. Setiap kata terasa sebagai keputusan yang mutlak.Tangan Luca mulai gemetar.Detik berikutnya, dia merobek dokumen itu hingga berkeping-keping. "Nggak. Aku nggak akan menceraikannya. Vivian adalah satu-satunya istriku. Nggak ada seorang pun yang bisa memaksaku menandatangani ini."Suarany

  • Hatinya Memohon, Tangannya Merusak   Bab 7

    Luca menatap taksi itu menghilang di tengah lalu lintas. Tangannya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dulu, tidak peduli sekejam apa pun kata-katanya, aku selalu berbalik dan kembali.Dia mengira cinta memang bekerja seperti itu. Semakin keras dia mendorongku menjauh, semakin keras aku akan membuktikan bahwa aku tidak akan pergi.Namun kali ini, aku benar-benar pergi. Dia tidak tahu bagaimana cara meminta maaf.Lebih dari 20 tahun harga diri dan ketakutan yang tercekat di tenggorokannya, membuatnya bahkan tidak mampu mengucapkan, "jangan pergi".Pada akhirnya, dia teringat gelang zamrud yang telah hancur. Kalau gelang itu diperbaiki, apakah aku akan mau mendengarkannya?Luca menggenggam harapan terakhir itu lalu mengemudi kembali ke apartemen. Dia berlutut di lantai ruang tamu dan memunguti setiap pecahan gelang yang berserakan.Seorang pria yang biasanya bahkan mengernyit karena debu di ujung manset bajunya sama sekali tidak menyadari ketika pecahan tajam itu meluk

  • Hatinya Memohon, Tangannya Merusak   Bab 6

    Aku tidak tahu berapa lama aku tidak sadarkan diri. Saat membuka mata, ruang penyimpanan anggur itu masih gelap. Namun, rasa sakit di perutku telah mereda. Itu malah membuatku lebih takut daripada rasa sakit itu sendiri. Rasanya seperti sebuah akhir yang sunyi.Aku memaksakan diri duduk dan melihat noda gelap yang besar di lantai. Ketika kunci pintu berputar, aku bahkan tidak mengangkat kepala.Luca berdiri di ambang pintu dengan membelakangi cahaya, suaranya terdengar seolah sedang menguji keadaan. "Sudah tenang?"Tampaknya dia mengira satu malam sudah cukup untuk membuatku luluh seperti dulu.Aku mengangguk. "Ya."Aku tidak pernah setenang ini. Cukup tenang untuk mengetahui bahwa pernikahan ini benar-benar telah mati.Luca terlihat lega. Bahkan ada sedikit senyum di wajahnya. "Aku tahu mendinginkan kepalamu akan berhasil. Keluarlah."Aku berpegangan pada kusen pintu dan melangkah ke bawah sinar matahari. Darah yang menodai rokku akhirnya terlihat oleh matanya. Senyumnya langsung memb

  • Hatinya Memohon, Tangannya Merusak   Bab 5

    "Luca." Aku memukul pintu sambil berusaha menjaga suaraku tetap stabil. "Luca, aku berdarah. Buka pintunya. Aku harus ke rumah sakit."Tidak ada jawaban. Aku hanya mendengar Eva terisak pelan, Luca bertanya apakah lukanya sakit, dan suara kotak P3K yang dibuka.Aku kembali memukul pintu. Rasa sakitnya begitu hebat hingga aku hampir tidak bisa berdiri."Luca, aku nggak bohong. Perutku sakit. Aku benar-benar berdarah."Kali ini dia menjawab. Suaranya terdengar datar dari balik pintu kayu, "Vivian, aku sudah mengenalmu selama sepuluh tahun. Aku nggak pernah tahu kalau ternyata kamu sepintar itu berakting.""Eva yang terluka. Aku hanya mendorongmu sekali dan sekarang kamu berteriak soal darah. Menstruasimu masih minggu depan."Aku hampir hancur mendengarnya.'Ya. Jadwal haidku minggu depan. Jadi kenapa aku berdarah sekarang?'Aku bahkan tidak berani memikirkan jawabannya. Aku sudah menginginkan seorang anak selama bertahun-tahun, sampai-sampai harapan itu sendiri terasa menakutkan.Beberap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status