LOGINPada makan malam keluarga hari Minggu lainnya di kediaman Brahmani, asisten Luca Brahmani, Eva Miskandar, sedang duduk di kursiku. Tempat itu adalah kursi pertama di sebelah kanan Luca di meja makan panjang dari kayu walnut. Kursi itu diketahui semua orang di dunia mafia Kota Chicandi sebagai milik Nyonya Brahmani. Eva duduk di sana seolah-olah kursi itu memang terlahir untuknya. Pergelangan tangannya yang pucat, sesekali menyentuh lengan baju Luca saat dia menuangkan anggur untuk pria itu. Aku berdiri di ambang pintu dan menatapnya. "Dia duduk di kursiku. Nggak ada yang ingin kamu katakan?" Luca mengangkat pandangan. "Kamu terlambat. Jangan salahkan orang lain karena duduk duluan. Masih ada kursi kosong di sana. Kalau mau, duduklah. Kalau nggak, keluar." Ruang makan itu langsung sunyi senyap. Bahkan sebelum sempat menjawab, isi pikirannya sudah masuk ke telingaku. 'Vivian, jangan pergi. Duduklah di sampingku. Katakan pada mereka itu kursimu. Katakan kalau kamu masih ingin menjadi istriku.' 'Tolong marah. Tolong bersikap peduli. Katakan kalau kamu butuh aku dan aku akan memberikan seluruh dunia untukmu.' Dulu, pikiran yang lembut itu telah membuatku merasa lebih dari cukup. Aku pasti akan menerima penghinaan ini dan tetap tinggal di sisinya seperti anjing setia yang tidak tahu kapan harus pergi. Namun kali ini, aku tidak melakukannya. Aku melepaskan cincin pernikahan dari jariku dan meletakkannya di atas meja. "Kalau Keluarga Brahmani bahkan nggak bisa mempertahankan kursi seorang Nyonya untukku, kurasa keluarga ini sudah nggak butuh seorang Nyonya lagi. Luca, mari kita bercerai."
View MoreTiga bulan setelah kembali ke Neyark, akhirnya aku terbiasa menjalani hidup tanpa Luca.Kantorku yang baru terletak di sebuah gedung tinggi di Mahatan, dengan pemandangan sungai yang terbentang luas dari jendelanya. Pekerjaanku di cabang Perusahaan Pelayaran Aurelia di Neyark pun membuatku begitu sibuk hingga aku tak punya waktu untuk terus mengorek luka lama.Aku belajar menyetir sendiri, menegosiasikan kontrak sendiri, dan menghadiri jamuan makan tanpa perlu memeriksa ekspresi seseorang terlebih dahulu.Tak ada lagi yang mempermalukanku di depan banyak orang. Tak ada lagi yang menjebakku di antara kata-kata kejam dan perasaan yang lembut.Kadang-kadang Nisya mengirimkan manisan dari Kota Chicandi. Surat-suratnya singkat dan terkesan menjaga jarak, hanya menanyakan apakah aku baik-baik saja.Luca tidak pernah menggangguku. Dia hanya mengirim satu dokumen melalui pengacaranya yang menyatakan bahwa dia membebaskanku dari utang 450 miliar, dengan sebuah catatan pendek yang disertakan.[
Tanggal satu bulan berikutnya, aku kembali ke Kota Chicandi.Luca yang mengenakan mantel hitam sudah menungguku di tangga luar balai kota.Bahu laki-laki itu masih tegap seperti biasa, tetapi wajahnya pucat, dengan lingkar hitam pekat di bawah mata.Saat melihatku, seberkas cahaya melintas di matanya, tetapi dia langsung menyembunyikannya."Sudah lama nggak ketemu."Aku mengangguk. "Iya, sudah lama ya."Keheningan di antara kami terasa seperti pengakuan bahwa semuanya telah berakhir.Aku memberi isyarat ke arah pintu. "Ayo masuk."Luca menundukkan pandangan. "Oke."Prosesnya sangat cepat. Tanda tangan, konfirmasi, lalu stempel.Sepuluh tahun pernikahan telah resmi diakhiri oleh beberapa lembar kertas.Saat kami keluar, salju tipis mulai turun di atas Kota Chicandi. Aku memasukkan berkas perceraian ke dalam tas dan hendak pergi ketika Luca memanggilku."Vivian." Dia menyebut namaku dengan pelan, seolah-olah takut membuatku terkejut.Aku menoleh.Kemudian, dia mengeluarkan sebuah kotak b
Luca melaju kembali ke kediaman Brahmani secepat mungkin. Di ruang tamu, Nisya duduk di sofa dengan mata memerah. Satrio berdiri di dekat perapian dengan cerutu yang sudah habis terbakar, tetapi tak pernah diisap.Di atas meja kopi tergeletak setumpuk dokumen. Luca hampir menerjangnya. Di halaman pertama, tulisan itu tampak jelas.[ Permohonan Pembubaran Pernikahan. ]Aku tidak meminta apa pun. Tidak ada harta Keluarga Brahmani. Tidak ada aset pernikahan. Tidak ada perhiasan. Tidak ada saham. Tidak ada tunjangan.Karena gelang zamrud itu bernilai 450 miliar, aku setuju melepaskan seluruh harta bersama sebagai gantinya. Yang kuminta hanyalah satu tanda tangan darinya.Setiap kata ditulis dengan tenang. Setiap kata terasa sebagai keputusan yang mutlak.Tangan Luca mulai gemetar.Detik berikutnya, dia merobek dokumen itu hingga berkeping-keping. "Nggak. Aku nggak akan menceraikannya. Vivian adalah satu-satunya istriku. Nggak ada seorang pun yang bisa memaksaku menandatangani ini."Suarany
Luca menatap taksi itu menghilang di tengah lalu lintas. Tangannya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dulu, tidak peduli sekejam apa pun kata-katanya, aku selalu berbalik dan kembali.Dia mengira cinta memang bekerja seperti itu. Semakin keras dia mendorongku menjauh, semakin keras aku akan membuktikan bahwa aku tidak akan pergi.Namun kali ini, aku benar-benar pergi. Dia tidak tahu bagaimana cara meminta maaf.Lebih dari 20 tahun harga diri dan ketakutan yang tercekat di tenggorokannya, membuatnya bahkan tidak mampu mengucapkan, "jangan pergi".Pada akhirnya, dia teringat gelang zamrud yang telah hancur. Kalau gelang itu diperbaiki, apakah aku akan mau mendengarkannya?Luca menggenggam harapan terakhir itu lalu mengemudi kembali ke apartemen. Dia berlutut di lantai ruang tamu dan memunguti setiap pecahan gelang yang berserakan.Seorang pria yang biasanya bahkan mengernyit karena debu di ujung manset bajunya sama sekali tidak menyadari ketika pecahan tajam itu meluk






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.