Short
Kamu Hanya Beban, Mati Saja

Kamu Hanya Beban, Mati Saja

By:  ShirleyCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
11Chapters
2.8Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Di lounge VIP sebuah kasino bawah tanah, Maura, putri keluarga Fontana, telah dicekoki terlalu banyak minuman keras. Didorong oleh alkohol, seseorang pancing dia untuk ungkapkan hal paling nggak tahu malu yang pernah dia lakukan demi menangkan hati sang ketua mafia. Maura putar gelas di tangannya, lalu tunjuk ke arahku yang sedang bagikan kartu di balik meja, sebelum dongakkan kepalanya dan tertawa lepas. “Tujuh tahun lalu, waktu Doni koma setelah baku tembak, aku ambil HP-nya. Dan aku hapus pesan minta tolong yang dikirim jalang itu. Sampai nggak tersisa sedikit pun. Lalu aku balas atas namanya Doni: Kamu cuma beban. Pergi mati saja.” “Kalian nggak akan pernah bisa tebak apa yang terjadi setelahnya. Si bodoh itu sepanjang malam berdiri di luar rumah persembunyian dalam hujan deras, seperti anjing liar. Aku hampir mati ketawa .…” Ruangan itu meledak oleh tawa penuh ejekan. Hanya pria yang duduk bak raja di ujung meja yang tetap diam. Gelas wiski kristal di tangannya pecah dengan suara retakan tajam. Darah bercampur dengan cairan alkohol, mengalir lewati urat di punggung tangannya sebelum menetes ke karpet. Tatapannya yang merah penuh amarah terkunci ke arahku. Dengan tenang, aku bagikan kartu terakhir di hadapannya, lalu sodorkan saputangan sutra putih yang bersih. “Ketua Doni, sebaiknya kamu bersihkan tanganmu. Darah di meja itu bawa sial.” Lagian, ada noda yang nggak pernah bisa dihapus.

View More

Chapter 1

Bab 1

Tujuh tahun lalu, aku, Sonya Hanza pernah mohon ke kekasihku, Doni Faudi, untuk selamatkan nyawa ayahku. Saat kami ketemu kembali, dia sudah jadi ketua mafia termuda di kota ini, sementara aku hanyalah perempuan yang bagikan kartu untuknya.

Ada orang yang nantang tunangannya, sang putri Maura Fontana, untuk ceritakan hal paling memalukan yang pernah dia lakukan demi rebut hati Doni.

Maura menunjuk ke arahku dan tertawa, dengan bangga ceritakan gimana dia hapus pesan minta tolongku ke Doni, biarkan aku sepanjang malam tunggu dengan sia-sia di bawah hujan. Semua orang tertawa, kecuali Doni. Dia duduk bak raja di ujung meja, matanya memerah.

“Itu beneran? Jadi sebenarnya kenapa kamu tinggalkan aku?”

Dengan tenang, aku bagikan kartu miliknya.

“Karena kamu suruh aku mati.”

Kasino bawah tanah paling eksklusif di kota malam ini dipesan untuk acara privat. Desas-desus beredar, seorang ketua mafia baru yang merangkak naik di atas banyak korban, telah kembali ke kota dan sedang menguasai panggung. Saat manajer serahkan daftar meja ke aku, ada sebersit rasa iba di matanya yang sulit aku pahami.

“Sonya, kalau malam ini kamu nggak mau pergi ke lounge, aku bisa atur orang lain.”

Aku tarik kerah rompi kerjaku yang berpotongan rendah dan paksakan senyum tipis.

“Nggak apa-apa, Pak. Itu meja dengan taruhan tertinggi yang kita punya. Tipnya besar. Aku butuh uang, kamu tahu itu.”

Manajer itu menghela napas, nggak berkata apa-apa lagi, hanya tepuk pelan bahuku.

Saat aku dorong troli chip menuju lounge VIP, asap tajam cerutu Kuba bercampur dengan aroma parfum yang pekat serang indra penciumanku. Itu adalah bau khas uang kotor dan ketakutan yang samar-samar menghilang.

Pria yang nggak kulihat selama tujuh tahun itu duduk bersandar di sofa kulit di ujung ruangan. Dia telah banyak berubah. Anak jalanan yang aku ingat, dengan jaket kulit usang dan kebengisan yang meresap hingga ke tulang telah lenyap.

Sebagai gantinya, sekarang duduk seorang raja yang genggam kuasa hidup dan mati atas kerajaan mafia ini. Kepalanya noleh, dengarkan seseorang melapor dengan seringai dingin dan acuh di bibirnya.

Dan di sampingnya, bersandar manja seorang putri mafia yang bertahun-tahun lalu telah rebut dia dariku. Maura mengenakan gaun mewah dengan belahan dada rendah, tubuhnya menempel pada dada bidang Doni. Kalung rubi merah darah yang tergantung di lehernya sangat menyilaukan. Dia putar gelas anggur merah di tangannya, duduk dengan angkuh, mainkan peran sebagai nyonya rumah.

“Setelah Doni bersihkan Distrik Selatan, kami akan nikah. Penyatuan dua keluarga.”

Ucapan selamat segera banjiri ruangan.

“Ketua mafia kita dan sang Putri. Pasangan berkuasa yang sejati.”

“Ketua Doni sekarang adalah legenda di seluruh dunia mafia. Maura, kamu wanita yang beruntung!”

“Itu baru cinta sejati yang ditempa penderitaan. Nggak seperti perempuan pengecut yang jual diri ke pria lain demi selamatkan dirinya sendiri. Biarkan saja dia membusuk di selokan.”

Seorang preman teriakkan hinaan itu, dan suhu ruangan seketika jadi membeku. Semua mata, seolah dikomando, beralih ke aku yang sedang mengocok kartu di balik meja poker. Aku bagai mesin, mengocok, membagi, lalu letakkan kartu As sekop di atas meja.

“Kartu pertama, tanpa batas. Silakan pasang taruhan, Tuan-tuan.”

Aku dorong dua kartu ke arah Doni. Gerakanku rapi, sempurna.

Akhirnya Doni angkat pandangannya. Tatapan seperti apa itu? Penghinaan, jijik, dan kebencian yang nggak berujung.

Dia nggak lihat kartunya, hanya menatapku tembus kabut asap cerutu. Pergelangan tanganku yang lelah karena berjam-jam kerja sedikit bergetar.

“Sonya?” Suaranya rendah dan serak saat akhirnya bicara.

“Aku dengar kamu kabur dengan ketua grup dari keluarga saingan. Jadi, pria tua itu bosan dan buang kamu? Sekarang kamu cuma jadi pembagi kartu di kasinoku?”

Ruangan yang dipenuhi para prajurit itu terdiam, tunggu langkah berikutnya dari ketua mereka.

Maura menutup mulutnya dengan pura-pura terkejut, menatapku dengan ekspresi yang dibuat-buat.

“Astaga, ini beneran Sonya! Gimana bisa kamu berakhir seperti ini? Kalau kamu sangat butuh pekerjaan, bilang saja. Meski dulu kamu tinggalkan Doni demi uang saat dia bukan siapa-siapa, aku masih bisa carikan tempat untuk kamu, bersihkan toilet di rumahku.”

Maura sengaja tekankan kata-kata tinggalkan Doni demi uang.

Para pria di sekitar kita langsung mengejek.

“Mampus. Lihat Doni sekarang, dia sudah kuasai setengah dunia mafia kota ini. Dan wanita ini? Cuma mesin pembagi kartu.”

“Sekali pelacur, tetap pelacur. Nggak peduli kartu apa yang dia bagi. Mungkin dia bisa dapat tip lebih banyak kalau lepas seragam itu.”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Darniati Zain
Darniati Zain
Doni kan sedang koma, jadi memang ga bisa ngapa12in. kenapa tetap disalahkan sampai akhir????
2026-06-07 17:14:52
0
0
Ambar Tanti
Ambar Tanti
kok ga nyambung,ktnya 7 th lalu doni koma dan ga prnh tau sonya kirim pesan,eh di bab lain sonya lihat maura sm doni berdiri di jendela..yg bener koma atau engga...nyesel bacanya..rugi buang koin kl penulisnya ga konsisten sm apa yg ditulis..rugiiii koin rugiii waktu
2026-05-22 10:19:08
0
0
11 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status