HE LEFT ME FOR MY STEPSISTER, I MOVED ON TO THE NEXT

HE LEFT ME FOR MY STEPSISTER, I MOVED ON TO THE NEXT

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-08-27
Oleh:  SelomeTamat
Bahasa: English
goodnovel16goodnovel
9.6
12 Peringkat. 12 Ulasan-ulasan
534Bab
11.1KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Betrayed, broken, but never defeated. When Jasper cast Elena aside for her sister, she thought her world had ended. Left heart-shattered and humiliated, she becomes determined to heal the wounds his betrayal carved into her soul. But Elena is not a woman who stays broken. Out of her pain rises a bold, breathtaking queen, fierce, radiant and unstoppable. Her beauty turns heads, her strength commands respect, and suddenly the very man who once overlooked her now craves her. Yet among the powerful men drawn to her light, one stands apart, Nathan. Mysterious, protective, and everything Jasper was not. His presence awakens a love, Elena thought she had lost forever… but with enemies circling and Jasper refusing to let go, her heart is now both her greatest weapon and her greatest risk. A secret about her later comes to light and it changes her whole life she thought she knew, find out what it is!!!!!!!!!!

Lihat lebih banyak

Bab 1

The wrong door

Aku terbangun dengan pening yang luar biasa. Entah, aku tertidur dari jam berapa. Seingatku, selesai makan malam tadi aku langsung ke kamar dan tak ku ingat lagi aktivitas apa yang ku lakukan.

Ku lirik jam dinding yang terpasang pada tembok sisi kiriku, masih jam satu tengah malam rupanya. Tanganku meraba samping kananku, tak ku rasakan apapun disana. Benar saja, saat kepala ini menoleh, memang tidak ada mas Amar yang selalu tidur di sebelahku itu.

Kaki jenjang ku menyentuh lantai keramik, mencari-cari dimana sandal tidur yang pasti selalu ku taruh di bawah ranjang. Setelah menemukannya, aku beranjak pergi ke dapur. Kerongkonganku terasa sangat kering, air minum yang selalu tersedia di dalam kamar ternyata sudah habis.

Krieeet

Krieeet

Krieeet

Seperti tak asing dengan bunyi itu. Mirip seperti bunyi saat aku dan mas Amar sedang bertempur di malam hari. Tapi, suara dari mana itu? Tidak mungkin dari rumh tetangga yang berjarak di samping rumah ini.

"Nghhh... M-mas."

Astaga, suara apa itu? Sepertinya berasal dri kamar Ayu, adikku.

"Ssshhh, aku ham-pir sampai, M-mas."

"Tahan sebentar, ya. Kita keluar bersama."

Tanganku refleks menutup mulut. Meskipun tak terlalu keras, tapi aku sangat mengenali suara itu. Suara lelaki yang sudah menikahiku selama lima tahu. Tapi, apakah mungkin?

"Nnnghhh ...."

"Aaahh, leganya. Kamu hebat, Sayang. Lebih hebat dari pada kakakmu."

DEGH

Aku tidak bisa terus menguping pembicaraan laknat di dalam sana. Aku berniat menendang pintu berwarna coklat itu dengan tendangan mautku. Meski saat ini aku sudah tidak pernah berlatih, tapi aku masih ingat teknik-teknik dapam bermain silat karena semasa SMP hingga SMA aku adalah atlet pencak silat.

Sudah ku kerahkan seluruh tenaga dalamku, tapi, nyatanya pintu itu terbuka dengan sangat mudahnya. Rupanya mereka tidak mengunci pintu kamar yang mereka gunakan untuk berbuat maksiat

Keduanya menoleh ke arahku yang menahan amarah hingga wajahku merah padam. Kedua manusia bejat yang masih berpelukan dengan pusaka suamiku masih tertanam pada liang kenikmatan adikku itu terlihat kaget dan buru-buru melepas tautannya.

"S-Salma?"

Tak peduli dengan mas Amar yang masih bertubuh polos karena pakaiannya berserakan di lantai dan ia kesulitan memungutnya, aku langsung memberinya bogem mentah tepat mengenai rahang kirinya.

"Mas Amar! Mbak Salma apa-apaan, sih?"

Ayu yang sudah mengenakan kaos dan celana pendeknya segera mendekati mas Amar yang tengah terduduk di lantai dengan tangan yang memegangi rahangnya. Mungkin saja rahangnya bergeser, aku tidak peduli.

"Kenapa? Kamu mau juga mendapatkan apa yang lelaki bejat ini dapat?"

Tanganku sudah melayang hendak memberi pelajaran pada Ayu, tapi mas Amar justru mendorong perutku hingga aku mundur dan nyaria terjengkang.

"Cukup aku saja, Salma. Jangan sakiti Ayu," ucapnya memelas. Aku geram setengah mati. Di saat seperti ini, ia masih bisa membela Ayu yang jelas-jelas sama salahnya dengan dia.

"Kamu melarang aku menyakitinya, tapi kamu sudah menyakitiku, Mas. Lihat! Jika saja aku tidak berpegangan, aku yang akan terjatuh atau bahkan membentur tembok."

"Tapi kamu tidak hamil seperti Ayu!" sentaknya membuat aku terdiam. Kakiku lemas rasanya. Apa yang baru saja ku dengar itu sungguhan?

"Katakan sekali lagi, Mas. Katakan sekali lagi jika kamu ingin rumah tangga kita berakhir sampai disini!"

Aku tak kalah emosi, nada suaraku bahkan naik beberapa oktaf. Mas Amar terlihat mengusap wajahnya kasar. Sedangkan Ayu, dari ekor mataku, aku bisa melihat dia menyeringai. Apa maksudnya itu?

"Maafkan aku, Salma. Tapi, Ayu memang sedang mengandung anakku."

***

Mentari pagi sudah menyingsing, jam 06.15 dan aku sudah rapi dengan koper besar yang ku seret di belakang. Hari ini aku mau pergi ke rumah ibu. Aku tidak tahu lagi pada siapa aku harus mengadu selain pada Allah. Jika saja yang menjadi selingkuhan mas Amar adalah orang lain, mungkin tak akan sesakit ini rasanya. Tapi Ayu, adik yang sudah ku tampung di rumahku setahun terakhir selama dia menempuh pendidikannya di kota ini.

Awalnya aku sudah menolak saat ibu mengatakan bahwa aku harus menerima Ayu untuk tinggal bersamaku dan mas Amar. Aku tidak ingin menutup mata, banyak kejadian dimana seorang ipar akan menjadi maut dalam rumah tangga saudaranya. Bukan berarti aku tidak percaya dengan adikku sendiri. Tapi, yang namanya bisikan setan bisa menghampiri siapa saja.

Akhirnya, aku terpaksa menerima kehadiran Ayu di tengah-tengah keluarga kecilku. Ibu bilang, jika Ayu ngekos, itu akan memakan banyak biaya dan ibu yang seorang janda cukup terbebani dengan hal itu. Padahal, aku sudah memberi jatah bulanan pada ibu, juga sebuah toko sembako kecil-kecilan yang aku modali di rumah tentu akan cukup untuk biaya pendidikan sekaligus biaya hidup Ayu di luar kota. Tentu saja jika gaya hidup Ayu biasa-biasa saja.

Kalau begini, aku menjadi yang paling terbebani. Memberi jatah ibu dan menanggung biaya hidup Ayu serta suamiku. Ya, meski mas Amar sudah bekerja, tapi seluruh kebutuhan rumah tangga diambil dari uangku. Gaji mas Amar sendiri aku tidak tahu berapa jumlahnya. Ia bilang kalau gajinya kecil dan hanya cukup untuk membantu biaya hidup ibu dan adiknya yang masih duduk di bangku SMA.

"Salma, kamu mau kemana?"

Mas Amar menahan lenganku dan ia terkejut saat ku sentak dengan cukup kuat tanganku hingga cengkeramannya terlepas.

"Aku mau pulang ke rumah ibu. Aku mau bilang, bagaimana kelakuan anak kesayangannya itu disini. Dan aku akan segera mengurus perceraian kita."

Suaraku sengaja ku keraskan saat melihat Ayu mengintip dari ruang tamu. Posisiku kini sedang berada di depan teras, tepat saat aku hendak memasukkan koperku ke dalam mobil.

"Salma, tolong jangan begini. Kita bicarakn ini semua baik-baik, ya. Ayu itu adikmu."

"Justru itu, Mas. Justru karena Ayu adalah adikku. Rasa sakit ini justru berlipat-lipat. Aku tidk menyangka, dia tega melakukan ini pada kakaknya sendiri."

"Tapi kamu bukan kakakku, Mbak," ucap Ayu tiba-tiba yang kini sudah berdiri di belakang mas Amar.

Aku benar-benar jijik melihat kedua manusia di depanku itu. Terbayang saat kedua kemaluan mereka masih saling bertaut. Mendadak tubuhku terasa gatal karena rasa jijik yang amat sangat. Sudah berapa lama mereka berhubungan hingga Ayu sekarang tengah hamil. Benda pusaka yang pernah ku kagumi keperkasaannya rupanya bukan hanya aku yang menikmati.

"Apa maksud kamu, Ayu? Kamu boleh merebut suamiku, tapi kamu jangan tutup mata jika aku ini memang saudaramu. Meski aku juga saat ini sudah malu mengakuimu sebagai adikku."

"Pergi saja ke rumah ibu jika Mbak Salma ingin tahu yang sebenarnya. Satu pesanku, Mbak, jangan kaget apalagi sampai serangan jantung kalau sudah tahu kebenarannya."

Mataku mendelik menatap wajah cantik yang mirip dengan ibu itu. Entahlah, aku merasa Ayu sangat berbeda denganku. Dari segi watak dan juga wajah.

"Ayu, jangan buat suasana semakin panas," lirih mas Amar dengan suara yang amat lembut.

"Biarin, Mas. Biar semuanya jelas. Biar kita cepat-cepat bisa bersatu tanpa ada penghalang."

Tak ku pedulikan mas Amar yang terus memanggil namaku. Mobil segera ku starter dan mulai meninggalkan pekarangan rumah.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Ulasan-ulasanLebih banyak

Selome
Selome
So guys this book is finally complete after everything. Do well to enjoy the journey and a special thanks to all my readers and supporters
2026-08-28 20:10:40
1
0
Angela
Angela
362 chapters. 6/25/26
2026-06-26 06:48:45
1
0
Angela
Angela
Will this story end soon? The updates are still slow.
2026-02-20 04:15:52
1
0
amour
amour
86 chapters 8-26-25
2025-08-27 00:14:26
2
0
ellajoel780
ellajoel780
This book is so good and I am in for all the twists to come. I give all thumbs to the author, this is a great book, please don't stop updating ...️...️...️...️...
2025-07-26 22:40:01
6
0
534 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status