MasukBetrayed, broken, but never defeated. When Jasper cast Elena aside for her sister, she thought her world had ended. Left heart-shattered and humiliated, she becomes determined to heal the wounds his betrayal carved into her soul. But Elena is not a woman who stays broken. Out of her pain rises a bold, breathtaking queen, fierce, radiant and unstoppable. Her beauty turns heads, her strength commands respect, and suddenly the very man who once overlooked her now craves her. Yet among the powerful men drawn to her light, one stands apart, Nathan. Mysterious, protective, and everything Jasper was not. His presence awakens a love, Elena thought she had lost forever… but with enemies circling and Jasper refusing to let go, her heart is now both her greatest weapon and her greatest risk. A secret about her later comes to light and it changes her whole life she thought she knew, find out what it is!!!!!!!!!!
Lihat lebih banyak“Ahh, enak, Gus. Lebih keras lagi, Gus. Hnghh.…”
“Tante yakin? Mau lebih keras lagi?”
“Iya, Gus. Ahhh… makin keras makin enak… uhhh…”
Walaupun ragu, aku tetap menuruti permintaan Tante Miya. Aku tekan punggungnya lebih kuat dengan tangan kasarku yang biasa kerja kasar di desa.
Sebenarnya aku takut tenaga dalamku ini akan menyakitinya, tapi melihat Tante Miya yang malah makin mendesah keenakan, sepertinya dia sangat menikmati servis gratis ini.
Akhir-akhir ini Tante Miya memang sering mengeluh badannya gampang pegal. Sebagai keponakan yang menumpang hidup, aku cukup tahu diri. Menawarkan jasa pijat adalah bentuk balas budi paling minimal yang bisa kulakukan.
“Harusnya kamu buka jasa pijat aja, Gus. Soalnya pijatanmu enak banget. Bikin badan Tante yang awalnya tegang jadi rileks,” puji Tante Miya sambil tiba-tiba berbalik posisi, berbaring menghadapku.
Tante Miya baru saja selesai mandi. Tubuhnya hanya dibalut handuk putih yang lilitannya sengaja dilonggarkan— katanya sih, supaya kulitnya bisa bernapas. Tapi aku yang justru sesak napas melihat belahan dan gundukan yang menyembul di balik kain itu.
Aku menelan ludah susah payah melihat pemandangan ini.
Perlu kuakui, di usia 40 tahun, tubuh Tante Miya masih seperti gadis 20 tahunan. Semok, mulus, dan wangi bunga semerbak yang bikin otak mungilku ini mendadak korsleting.
Aku yakin pria manapun tidak akan sanggup menolak pesona Tante Miya.
“Saya nggak ahli mijet, Tan. Lagian kerjaan yang sekarang juga sudah enak, gajinya UMR. Lumayanlah buat ditabung,” balasku, berusaha mengalihkan pandangan agar pikiranku tidak makin liar. Tanganku mulai bergerak perlahan, memijati bahu Tante Miya yang kaku.
“Eh, jangan salah, Gus. Penghasilan jadi terapis pijat juga gak sedikit loh. Apalagi kalau pelanggan puas sama pelayanan kamu, kemungkinan bisa dapat tip banyak. Tapi ya terserah kamu saja, toh kamu yang menjalani.”
Minggu lalu, aku diterima jadi Office Boy di perusahaan ternama. Walaupun cuma jadi OB, gaji UMR Jakarta bagiku yang orang desa ini sudah terasa sangat tinggi.
Maklum, sejak lulus SMA aku cuma kerja serabutan di kampung. Orang tuaku meninggal karena kecelakaan saat aku masih SMP, membuatku hidup tanpa dukungan materi.
Beruntung, Paman Karyo, saudara almarhum ayahku, mau menampungku di rumah mewahnya ini. Aku jadi bisa menghemat uang kos dan makan. Ditambah lagi, aku bisa masuk ke perusahaan itu berkat rekomendasi langsung Paman Karyo. Jalur orang dalam. Itulah sebabnya aku merasa sangat berutang budi padanya.
Dan di sinilah aku sekarang, duduk di pinggir kasur memijati istri pamanku sendiri.
Paman Karyo sedang di luar kota dan ketiga sepupuku juga ada urusan di luar. Rumah ini benar-benar sunyi, kecuali suara desahan Tante Miya yang makin lama makin terdengar aneh.
Saat aku sedang fokus memijat bahunya, tiba-tiba tangan lembut Tante Miya memegang tanganku, lalu menariknya ke atas bagian paling kenyal menawan tubuhnya.
“Ehh??”
Aku tersentak. Ini kali pertama aku memegang bukit wanita. Meski terhalang kain handuk, sensasi kenyalnya terasa sangat nyata di telapak tanganku.
“Pijat di bagian sini juga, Gus...” bisiknya serak. Tangannya menuntun tanganku untuk meremas bagian kenyal itu.
Aku benar-benar tak berkutik. Otakku mendadak lumpuh, dan tanganku bergerak mengikuti kemauan Tante Miya, mulai meremas bukit itu dengan perlahan.
‘Anjrit... kenyal banget woiii!’ batinku menjerit histeris.
Aku pun meremas untuk kedua kalinya, hendak memastikan bahwa ini bukan mimpi.
“Argus…” panggilnya lagi. Suaranya kian serak, sementara matanya yang sayu menatapku cukup dalam.
Aku bukan anak kecil lagi. Aku pria 25 tahun yang normal. Kalau dilihat dari tatapannya, Tante Miya mungkin ‘kepengen’ main denganku. Tapi aku buru-buru menepis pikiran jorok itu.
Aku menghormati Tante Miya sama seperti aku menghormati almarhum ibuku. Apalagi Paman Karyo sudah sangat baik. Tidak mungkin kan aku 'pagar makan tanaman'?
Buru-buru aku menarik tanganku.
“Kenapa, Gus? Capek?” tanya Tante Miya lembut.
“Eng-enggak, Tan... tapi anu... saya kebelet! Perut saya mendadak mules, permisi!” alibiku sambil ngibrit keluar kamar.
Aku kabur dari kamar itu seolah dikejar setan. Bisa gila aku kalau lama-lama di sana.
Di balik celana, 'adik kecilku' sudah bangun sepenuhnya, bahkan sudah di ujung tanduk.
“Aduh, duhhh, jangan keluar sekarang dong! Masa baru pegang yang kenyal-kenyal aja sudah mau muncrat!” bisikku pada diriku sendiri sambil memegangi selangkangan yang menegang hebat.
Aku memang punya penyakit aneh: burungku gampang sekali terangsang kalau melihat cewek cantik. Dan gara-gara memegang 'bukit' Tante Miya tadi, si LUKMAN— begitu kunamai burungku yang artinya LUcu, Kuat, dan MANja— sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.
Aku harus mengeluarkannya sekarang juga!
Karena mengira para sepupuku masih di luar, aku tanpa ragu membuka ritsleting celana bahkan sebelum sampai di toilet belakang.
Sambil berjalan, tanganku sudah mulai bekerja mengelus-elus si Lukman.
Tepat di depan toilet, tanganku sudah siap membuka pintu. Namun, pintu itu terbuka sendiri sebelum sempat kusentuh. Seseorang membukanya dari dalam dengan cepat.
“Akhhh!!”
Aku teriak kaget, tapi orang di dalam jauh lebih kaget.
Mbak Masha, sepupuku berdiri di sana dengan wajah syok.
Dan si Lukman? Dia berdiri dengan gagah tepat di depan mata Mbak Masha yang membelalak sempurna.
Chapter 534Her presence still carried something bittersweet for me. There had been a time when I couldn't imagine having a relationship with her that wasn't poisoned by the circumstances surrounding us. But people could change. Families could change.Sometimes healing didn't mean pretending the past had never happened. Sometimes it meant deciding that the past would no longer control the future.Cass caught my eye. She smiled and I smiled back. That was enough.Nathan suddenly lifted his glass."Everyone."The conversations gradually faded.The children didn't pay much attention. Athena was already chasing Luca again while the twins followed behind them.Nathan looked around the garden."I know we've all had enough speeches over the years," he said, making several people laugh. "But I think we deserve one more."I smiled.He continued."We have all lost something."The garden became quieter."Some of us lost people. Some lost years. Some lost trust. Some lost pieces of ourselves."Hi
Chapter 533She was sitting beneath one of the garden lights, watching Carmen and Lucian's son race around with Athena.She looked peaceful. Healthy. Happy.There was something deeply beautiful about seeing her like that. After everything she had endured, she deserved this. She deserved ordinary evenings. She deserved laughter. She deserved grandchildren running around her. She deserved a life that wasn't defined by what had been taken from her.Nathan noticed where I was looking, "She's happy," he said quietly.I nodded, "She is.""And so are you."I looked at him."I am."He smiled."Good."I leaned my head against his shoulder.Happiness was ordinary. And after everything I had survived, ordinary felt extraordinary.I looked toward Athena again. She had stopped running.Luca stood beside her, apparently explaining something very important."What are you two talking about?" I called.Athena looked toward me."Mommy!"She immediately ran toward me. I set my glass on the nearby table
Chapter 532Athena turned around while still moving and laughed."I won't!""You always say that!""I won't fall this time!"Luca shook his head with the seriousness of a little man twice his age.From where I stood, I couldn't stop myself from smiling.A few steps behind them, Ava and Liam's three-year-old twins were struggling to keep up. Their tiny legs moved as quickly as they could, their laughter filling the garden whenever one of them stumbled and the other stopped to wait.Carmen stood nearby, watching Luca with an amused expression."That's your son," I teased her.She looked at me and laughed softly. "Unfortunately, yes. He has decided he's responsible for everyone."Lucian slipped an arm around her shoulders."He's your son when he's being protective," he said. "When he starts causing trouble, suddenly he's mine."Carmen gave him an incredulous look."You have been saying that for five years.""And I'll continue saying it for another five."They laughed.I watched them for
Chapter 531I slipped my hand into Nathan's. He held it. And for a few quiet seconds, we simply watched.I thought about my father. About everything he had lost. About everything he had hoped his family would one day become.His hospital had grown beyond anything he had built during his lifetime. I had expanded it internationally, carrying his name and his vision into places I had once never imagined reaching.People now knew me as one of the most respected surgeons in the city. They knew my work. They knew the hospital. They knew the success.But when I stood in my garden and watched my daughter laughing with the people she loved, none of those achievements mattered as much as this moment.My greatest accomplishment wasn't the hospital. It wasn't my career. It wasn't the wealth that had come with everything we had built. It was standing here.Alive. With my family.Nathan gently squeezed my hand."What are you thinking about?"I looked at him and smiled."How lucky I am."His express


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasanLebih banyak