ログイン“If someone ever told me that having a crush on someone could bring unbearable pain in the end, I would believe them because I have gone through that”. Since college, I have always had a crush on Nathan, one of the most popular and handsome guys in school. But, of course, he never for once noticed me. Even after we graduated from college. He became a hotshot CEO while I was a jeweler who worked in his company. They say an opportunity comes but once, and that was the truth. Nathan's father seemed to notice me, and because of him, I was able to get married to Nathan. But little did I know that that was the beginning of my nightmare. I am Adira, and welcome to my story…
もっと見るGadis dengan nama lengkap Richelle Aurelia Chanez, yang kerap dipanggil Richalle itu, kini dalam perjalanan menuju kantor tunangan nya dengan hati yang gembira. Karena Hari ini adalah hari ulang tahunnya sekaligus hari, dimana mereka resmi menjadi sepasang kekasih dalam ikatan pertunangan.
Sepanjang perjalanan ia tersenyum membayangkan bima memberinya suprise seperti adegan di drama-drama Korea. Ia memegangi dadanya yang berdebar, "Kenapa perasaan gue ngak enak gini?" Ada rasa aneh merambat dalam hatinya, firasat buruk memenuhi kepalanya namun ia mencoba menepisnya. pamandangannya jatuh pada bekal yang ia bawa, "Pasti bima suka deh sama masakan gue," Senyumannya merekah, sambil melirik bekal yang ia bawa untuk tunangannya itu. Sebagai bentuk perayaan anniversary sebagai pasangan, Richalle inisiatif membuat makanan kesukaan Bima. Beberapa hari ini bima bekerja dengan keras membuat hati mungilnya tak tega. Calon suaminya itu bekerja siang dan malam demi untuk menghalalkan nya. Sementara dia hanya duduk diam Saja dirumah tanpa melakukan apapun. Tiga puluh menit berlalu, akhirnya ia tiba di depan kantor Bima. Dengan hati yang riang dan langkah ringan, Sebuah senyuman kecil muncul di wajahnya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, begitu ia melangkah masuk ke dalam kantor yang sudah cukup sunyi, suara bisikan lirih itu terdengar—tajam seperti pecahan kaca yang menusuk telinganya. Tatapan sinis, dan bisikan karyawan mengenai penampilannya terdengar. suara mereka mungkin pelan, tapi cukup jelas untuk membuatnya berhenti sejenak. Tapi, Richalle tidak mempedulikan nya. ia mengangkat wajahnya kembali, melanjutkan langkahnya ke depan tanpa mempedulikan tatapan dan komentar mereka. ia melangkah dengan percaya diri seolah didalam ruangan itu Tidak ada siapa-siapa. Saat langkah nya mulai mendekati pintu ruang kerja Bima, Richalle merasa semangatnya kembali menyala. Bagaimanapun, di balik ketidaksukaan beberapa orang terhadapnya, ia yakin ada satu orang yang benar-benar menerima dirinya apa adanya—Bima. Saat hendak mengetuk pintu, Richalle mendengar suara menjijikan dari sela pintu yang tidak terkunci. "Yah, terus. begitu sayang....." Suara menjijikan itu memasuki indra pendengarannya, membuatnya mual. "Sungguh keterlaluan!" Richalle mengepalkan kuat tangannya. Tidak salah lagi, ia sangat mengenal suara itu. Keringat dingin mulai membanjiri wajahnya, dengan emosi yang menggebu-gebu, tanpa berfikir panjang Richalle mendorong pintu itu dengan kasar. Ia terpaku di tempat, tubuhnya membeku, tidak mampu bergerak. Di depan matanya, ia menyaksikan tunangannya tengah berhubungan intim dengan seorang wanita. bahkan, posisi mereka masih menyatu. Pandangannya memburam, hatinya yang sebelumnya dipenuhi harapan kini remuk dalam sekejap. Tidak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan rasa sakit ini, tetapi dalam keheningan itu, ia tahu satu hal: dunianya baru saja runtuh.. Disana, wanita itu sibuk membenarkan kancing bajunya. Sementara bima menegakkan tubuhnya, menampilkan wajah tak bersalah. Dadanya naik turun menandakan emosi sedang menguasai dirinya. "Lo! dasar wanita murahan! menjijikan!" Tanpa belas kasih Richalle langsung menjambak rambut panjang wanita itu. "Arghh... lepaskan SIALAN!" Pekik wanita itu meringis memegangi rambutnya yang ditarik kuat oleh Richalle. Bima menarik tangan Richalle agar menjauh dari wanita itu, "Apa yang kau lakukan disini? Bukankah aku sudah bilang kalau aku lembur?" Tangannya dicengkeram kuat. Dengan kasar Richalle menarik tangannya dari cengkraman bima. "Kalau Gue nggak datang hari ini, gue nggak akan mengetahui kelakuan bejat Lo ini dibelakang gue!" pekik Richalle dengan menggebu. kemudian ia tertawa kecut, "Kau bilang Lembur? maksud Lo lembur bersama jalang ini, iya?" tatapan tajam menyorot kearah wanita itu. "Menjijikan!" Wajahnya tertoleh kesamping, Telinganya berdenging, rasa panas menjalar di pipinya saat bima menamparnya. "Lo mukul Gue? demi wanita jalang ini?" Richalle menatapnya sambil memegangi pipinya yang terasa panas. Wanita itu mendekat dengan langkah percaya diri sambil melenggokkan pinggulnya. jemarinya dengan lancang meraba dada bidang Bima yang dibiarkannya terekspos tanpa rasa bersalah. Kemudian, dia berbalik ke arahnya, dengan mata yang penuh hinaan. "Aku adalah pacarnya," katanya dengan suara manis yang berubah menjadi racun. Tatapannya menjelajahinya dari ujung kepala hingga kaki seperti ia ini tidak lebih dari debu yang terinjak. Tangan Richalle mengepal kuat, dadanya naik turun menandakan emosi sedang berkobar di dalam sana. Wanita itu melanjutkan ucapannya, "Pantas saja Bima meninggalkanmu. Lihatlah dirimu! Kau bahkan tidak tahu cara merawat diri. Mana mungkin Bima betah sama model pembantu seperti ini," ejeknya dengan senyum sinis menelisik penampilan Richalle. Amarah di dadanya memuncak. Tangannya bergerak cepat memberikan tamparan keras diwajahnya. "Bahkan baju Gue ini lebih mahal dari harga diri Lo!" Desis Richalle dengan tatapan tajam. "KAU!" wanita itu hendak melayangkan tamparan padanya, namun dengan cepat di tangkap olehnya. Richalle menghempaskan kuat tangan wanita itu hingga tubuhnya terhuyung. "Satu lagi.... Lo bukanlah pacarnya, lebih tepatnya selingkuhan dia!" lalu, Richalle menatapnya tajam, namun bukan wanita itu yang paling melukai hatinya. Matanya beralih pada Bima, lelaki yang berdiri kaku di tempatnya, hanya diam tanpa satu kata pun keluar dari mulutnya. Suaranya bergetar, penuh emosi. Napasnya tersengal, dadanya naik turun seperti ada bara api yang membakar di dalamnya. "Ternyata benar kata, Papa, Lo adalah lelaki brengsek! gila selangkangan!" "Seharusnya Gue tidak memberikan hati Gue sama cowok brengsek kaya Lo!" sentak nya dengan suara bergetar. Matanya mulai terasa panas, berkaca-kaca menahan semua gejolak yang mendidih di dadanya. Lalu, dengan enteng, kalimat itu keluar dari mulut Bima, tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Itu salahmu sendiri. Lihatlah penampilanmu itu? Kau lebih pantas menjadi pembantuku daripada pasanganku," katanya, tanpa hati, suaranya tajam seperti silet, langsung menorehkan luka di hatinya, menusuknya, menghancurkan semua kebanggaannya dalam sekejap. Satu tamparan mendarat di pipinya, darahnya mendidih mendengar ucapan itu. "Kalau gue berpakaian cantik dan berpenampilan menarik! selera gue bukan Lo lagi!" cetusnya tajam "Ternyata ini alasan kenapa harus berpasangan dengan orang yang selevel. bukan gue yang ngak pantas buat Lo, tapi elo yang ngak pantas buat gue!"We have come to the end of this book's episode, readers. My special thanks for sticking with me to the end. I appreciate and love you all (≧▽≦). Continuation of this book will hopefully begin next month, with an exciting storyline, as the drama isn't yet over. There's still so much to be done. 8th March, 2026.
Valentina's pov, No. No. This can't be happening to me. This can't be! Ho-w. How did this happen?! I hid in one of the hospital’s rooms after learning of the appearance of the cops. I had seen the terrible news and videos about myself on the internet. But- but how was that possible?! And- I thought it was only me and Katherine who knew about the pill I took to terminate my baby. So, how?! With shaky hands, I dialed her phone number and called her, and the call was answered immediately, as if she had been waiting for my call. “Hello-”. I couldn't finish talking because she cut me off. “How do you like the present, bitch?”. I was completely taken aback after she said that to me. I even had to stare at the screen of my cell phone, because I wanted to confirm if it was truly her I was speaking with or someone else. But, I confirmed it, and it was her. “Katherine?”. I returned the cell phone close to my ear and whispered her name. I didn't want to be too
The remote town in Blenka City. Behind bashen local store. Barbara’s pov, I took a deep breath as I had decided. It was time for me to make things right. I had learned that two of them had died, so she wouldn't be able to do anything to me alone. She would not be able to do anything to me by herself. “I must report the case to the police”. I said, and felt nervous that they were going to blame me for not reporting the case sooner. Despite that, I knew that I had to go and not delay anymore. I left my desk and went out of my house. Upon shutting the door, I took a deep breath, before I made my way to the police station. The police station was not close to town, so it was going to take me a while to get there. Though on the way, I couldn't stop thinking about it. Why did she do that? Why did she get her hands stained?Was it because he tried to rape her? I thought about it, and thinking about it actually made me halt, and I began to rethink my decision. Was it right for me
“How- how is this possible? How did she become so popular?!”. I let out a pissed off groan as my eyes never left the screen of my cell phone. I did not understand why all I saw was Adira's face at the top of the charts. And, and- she was looking all beautiful and proud. That was enough to make my blood boil with anger. No. I can't let her continue to have such glory. I can't!I clenched my fists tightly and gritted my teeth because it hurt me so much that she was out there doing better than me, while I had to suffer in order to regain everything I used to have. It was annoying that she had it easy, while I had things very tough. How was any of that fair? My eyes darkened when I saw what her popularity was all about. She had won the Glizzy’s company jewelry contest, and won a huge sum of money. Not only that, her jewelry piece was bought by the Queen of Finyond, and there was this talk about her having dinner together with the Queen. My eyes turned bloodshot as I continued to
“Come in”. I said to her and grabbed her hand, leading her inside my apartment.I did not want anyone else seeing her like this. I closed the door after she got in, before I led her to the living room, where she took a seat on the sofa. She didn't stop crying, but it simply got worse. Her voice b
Adira's pov, We had arrived at my apartment and the second after I unlocked the door and entered the apartment, I went and sat down on the sofa with Vincent and did not say anything. Rather, I placed my palm on my forehead as I replayed what happened earlier inside my mind.After we left the hosp
“By the way, I have not heard anything from Mom and Dad. Didn't you tell them about my little Vincent yesterday?”. I asked him because I was curious. To be honest, when my cell phone rang earlier this morning, I had imagined the caller to be either my mother or my Dad, because I thought Kai must h
The next day, Adira's pov, I woke up, and the sight before me made me smile. It was an irresistible sight. Vincent was awake and was staring at me with those pretty eyes of his. If I had not woken up and saw his face, I would never have guessed that he had woken up. That was because of how qui






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
レビューもっと