INICIAR SESIÓN“Apa Jeevi ikut Om pulang?” “Kenapa? Mau ganggu istriku lagi?” Satya berdecak, menatap malas pamannya. “Dasar suami posesif,” gerutu Satya melengos. “Kalau aku nggak posesif, serigala macam kamu bisa mengganggunya lagi.” Wima tampak belum mau menyudahi pembahasan tentang istrinya. “Aku sudah minta maaf loh, Om. Bahkan aku udah jelasin semua ke Shara dan Willa. Juga…” Satya menatap pelan neneknya. “Juga nenek.” Wima ikut menatap Devana yang sibuk membereskan kotak P3K. “Bun… “ Sepertinya wanita yang paling dia cintai itu pura-pura tidak mendengar. “Bunda, bisa pahami posisi Jeevi kan?” tanya Wima hati-hati. Berharap sikap keras bundanya bisa lunak. Namun Devana terlihat tak ingin merespons. “Sebentar lagi dr. Syam datang. Bunda cuma kasih pertolongan pertama. Nanti suruh dokter cek luka kamu lagi,” ujar Devana mengalihkan topik pembicaraan. Wanita itu masih enggan berkomentar tentang masalah Jeevi. Dia bahkan langsung beranjak berdiri. “Bun…,” panggil Wima dengan nada memoh
Seraya membersihkan darah yang mengalir dari kepala putranya, Bunda menceritakan semuanya. “Kita nggak pernah tahu masa depan itu akan seperti apa. Yang jelas ayah kamu, berani membawa bunda yang saat itu terpuruk ke tempat yang lebih baik dan nyaman. Mbak kamu masih dua tahun saat bunda bertemu ayah kamu. Dan Bunda bahagia bisa menikah dengan ayah kamu. Apalagi setelah itu kamu lahir.” Bunda meringis melihat luka Wima yang cukup dalam. “Sepertinya ini perlu dijahit. Biar bunda bersihin dulu. Mungkin sebentar lagi dr. Syam datang.”“Ini nggak apa-apa, Bun. Cuma luka kecil.”“Bukan luka kecil, bunda curiga ada pecahan kecil kaca yang nempel di lukanya.” Darah di luka Wima belum mau berhenti juga. Devana terus menyekanya dengan kapas. “Bunda, aku nggak apa-apa.” Devana menghela napas berat. Dia tahu Wima masih ingin mendengar ceritanya tentang Ratih. “Menikah sama ayah membuat hidup bunda dan kakak kamu berubah. Masuk rumah besar ini tidak pernah terlintas di benak bunda sama sek
Semua asisten rumah tangga tampak kaget melihat kemunculan Wima di rumah besar keluarga Sagara. Mereka menyapa sopan saat majikannya itu melewati mereka. Alih-alih ke paviliun utara ataupun ke ruang pribadi Devana, langkah Wima memutar ke koridor paviliun barat. Beberapa yang melihat langsung putar balik dan mungkin bergegas memberitahu sang nyonya besar. Memberitahu bahwa anak yang dirindukannya pulang. Rafli melaporkan sejak suaminya pergi Ratih jarang ke kantor. Wanita itu lebih banyak berdiam diri di rumah. Bahkan untuk sekedar makan bersama dengan keluarga pun tidak. Pintu paviliun mewah itu terbuka ketika Wima mendorongnya. Sepatu mahalnya yang mengkilat menapaki lantai marmer dengan mantap. Menerobos masuk ke setiap sudut, untuk mencari sang kakak. Hunian ini terlihat begitu sepi, tapi Wima bisa pastikan Ratih ada. Dan benar, dia menemukan wanita itu berada di bar rumahnya. “Mbak!” seru Wima memanggil. Wanita 45 tahun itu menoleh. Ini masih sore tapi Ratih sudah berhadapan
“Urus suamimu dulu. Sepertinya dia sangat syok,” ucap Jenan ketika mereka berpisah di lobi mal. Wima sudah lebih dulu masuk ke mobil. Sementara Rafli ditugaskan untuk mengurus Rani. Tinggal Jeevi yang masih bertahan di lobi untuk berbincang dengan kakaknya.“Maafin aku, Kak. Kalau kamu masih lama di Jakarta kita bisa mengatur waktu buat ketemuan lagi.” “It’s ok, Jeevi. Aku memang ada sedikit urusan di sini terkait usaha yang mau aku buka. Kamu bisa hubungi aku kapanpun kamu mau.” Di balik kacamata tanpa bingkainya, Jenan menatap teduh sang adik. “Kamu baik-baik saja?” tanya Jenan saat Jeevi menyentuh perutnya sendiri. “Aku nggak apa-apa, Kak.”“Ya sudah, jangan biarkan suami kamu menunggu lama.” “Hu-um.”Sebelum pergi, Jenan sempatkan memeluk perempuan itu. Jeevi membuang napas pelan melihat punggung Jenan menjauh. Dia terpaksa mengesampingkan kehadiran pria itu lagi. Wima lebih membutuhkannya. Setelah mengetahui penyebab kegugurannya, suaminya tampak sangat terpukul. Wima past
“Kamu di mal barat atau mal timur?” “Dia mal timur, Mas. Kapan kamu ke sini?” “Sebentar lagi, Sayang.” “Jangan lama-lama, bosen banget di mal sendirian. Coba kamu bolehin aku ajak Brina.” Jeevi ingin mencari hadiah untuk ulang tahun Nenek. Tidak dirayakan, tapi dia ingin memberi wanita tua itu kado spesial. “Brina kerja, Sayang. Sudah nemu kado nenek?” “Belum.” Rasanya sulit memberi seseorang yang sudah memiliki segalanya. “Kasih aku ide dong, Mas.” “Nenek suka apa aja yang kamu kasih. Percaya sama aku.” Mata Jeevi mengedar. Mengelilingi penjuru gedung yang berisi ratusan toko dari brand lokal hingga internasional itu. Tak lama dia mendesah. “Bingung.” Di sana Wima tertawa. “Oke, tunggu aku sebentar. Sebentar lagi aku sampai.” Saat sambungan telepon berakhir, Jeevi kembali berkeliling mal. Dulu Jeevi dan mama sering mengunjungi mal ini. Berbeda dengan dirinya, mama sangat suka barang-barang berkelas dan mewah. Miris karena barang-barang itu ikut disita saat papa kena kasus
Wima mendesah panjang ketika melihat setumpuk dokumen ada di meja kerjanya yang berada di salah satu ruangan penthouse. Rafli benar-benar tidak mau membiarkan dirinya tenang sejenak. Beberapa hari tidak ke kantor, pria itu langsung membawa pekerjaan ke rumah. Benar-benar asisten pribadi yang ‘baik’. “Jangan bikin saya tambah repot, Pak. Besok pagi itu sudah harus kembali ke tangan mereka. Saya juga sudah membantu Anda menyortir mana yang perlu dan tidak perlu Anda tanda tangani.” “Hm, terima kasih, Rafli. Kamu memang asisten pribadi yang teladan.” Daripada pujian, itu lebih mirip sebuah makian. Dan Rafli hanya menanggapinya dengan senyum kecil. “Sore tadi, Willa ke kantor mencari Anda.” Wima mendengar meski dirinya tetap menyibukkan diri di depan tumpukan kertas bersampul tebal. “Kenapa?” “Dia tanya kapan Anda pulang ke rumah.” Bukan hanya Willa, Bunda pun meneleponnya tapi tidak Wima angkat. Pun dengan beberapa pesan masuk, dia tidak membalasnya. Herannya, tidak ada satu







